
“Tuanku, apakah anda bekerja semalaman lagi?”
Saat ia akan memulai pekerjaannya pada hari itu, Albert mendapati majikannya masih mengurus tumpukan dokumen di mejanya dengan mata lelah. Pakaian yang dikenakan Forde tidak berubah dari semalam ia melihatnya. Albert menghela napas.
“Kau tahu bahwa aku tidak bisa tidur terlalu lama. Daripada membuang waktu, bukankah lebih baik untuk mengerjakan apa yang belum selesai?” ucap Forde tanpa menoleh.
“Anda baru saja kembali dari misi penaklukan labirin, akan lebih baik jika anda beristirahat lebih lama.”
“…”
“Tuanku…”
Albert sudah terbiasa dengan kebiasaan majikannya yang bekerja tanpa henti. Tetapi kali ini ia merasakan deja’vu yang tidak biasa dan hal yang terlintas dipikirannya adalah mengenai Leana.
Melihat majikannya tidak bergeming, Albert memulai tugasnya hari itu dengan membantu mengurus dokumen yang bertumpuk di meja kerja lain.
Ia merasa permintaan dari masing-masing wilayah terus bertambah tanpa henti seiring berjalannya waktu.
Jika ia bisa meminjam kekuatan Leana, mungkin mereka dapat lebih cepat menyelesaikan tumpukan dokumen tersebut.
Tetapi majikannya bersikeras untuk mengambil alih seluruh dokumen mengenai Grandall seorang diri.
Ia tahu bahwa Forde sayang menyayangi istrinya tetapi melihat majikannya yang memaksakan diri hanya dapat membuat para pengikutnya menjadi cemas.
Ia selalu berharap majikannya itu mengerti perasaan mereka yang mengkhawatirkan keberadaannya.
Ditengah runtutan harapan yang tidak kunjung tercapai, Forde membuka suara.
“Apakah hari ini butler itu akan kembali ke Alphiella?”
Albert menoleh kearah Forde yang kini tengah menatap keluar jendela. Disana ia dapat melihat beberapa kereta kuda yang terparkir di depan pintu kediaman Grandall.
“Iya. Sepertinya hari ini adalah hari ia kembali ke Alphiella. Dari yang saya dengar, hanya Adde dan satu orang lainnya yang sekarang mengurus mansion Alphiella.” Albert menjelaskan.
“Jika itu masalahnya, aku dapat mengirimkan orang untuk bekerja di sana.”
“Maaf tuanku, tetapi nyonya bersikeras untuk memilih semua orang yang mengurus di Alphiella.”
“Begitukah… Hm?”
Di saat itu Forde menyadari sesuatu. Ia menemukan sosok istrinya yang tengah berbincang dengan Adde di depan kereta kuda.
Jika dilihat lagi, pakaiannya terlihat sangat rapi seperti ingin pergi ke luar. Ia merasakan kejanggalan.
“Kenapa istriku berada di luar sepagi ini?”
Albert menyadari bahwa saat ini hari masih cukup pagi dengan adanya kabut yang mengisi area taman. Ia juga merasa aneh menemukan Leana sepagi itu di sana.
“Tempo lalu saya diberitahukan bahwa nyonya akan pergi ke kota hari ini.”
“Sepagi ini?”
“Soal itu, saya kurang mengetahuinya tetapi nyonya bilang ia ingin mengambil suatu pesanan di kota.” Albert tersentak saat Forde memberinya tatapan tajam.
“Apakah harus dia yang pergi langsung mengambilnya? Kenapa tidak menyuruh orang saja?”
“Maaf tuanku, saya juga kurang tahu. Jika nyonya berencana mengambilnya sendiri, mungkin barang yang di pesan sangatlah penting.
Semakin merasakan adanya sesuatu yang tidak beres, Forde segera bangkit dari kursinya dan berjalan keluar ruang kerja dengan cepat.
Albert yang terkejut segera meletakan dokumen di tangannya dan mengikuti langkah Forde.
“Tuanku!? Anda mau kemana?!”
“Menjemput istriku.” Ucap Forde dengan nada sedikit berat. Albert kemudian mulai berdoa agar sesuatu yang buruk tidak terjadi kedepannya.
***
Adde memijit dahinya yang berkerut karena lelah harus menghadapi masalah di pagi hari buta. Dihadapannya tengah berdiri Leana yang berpakaian rapi seperti sudah siap untuk ikut pergi ke Alphiella bersamanya.
Dengan kesal, Adde bertanya seakan tidak tahu sembari memaksakan diri untuk tersenyum.
“Nyonya, apa yang anda lakukan?”
“Bukankah sudah jelas? Tentu saja ke Alphiella!”
“Apakah anda sudah memberitahu ini kepada marquis?”
“Aku sudah memberitahu Albert bahwa aku akan pergi ke kota untuk berbelanja hari ini.”
Albert menarik napas dan menutup wajahnya dengan satu tangan. Ia tidak meragukan kekuatan majikannya namun kali ini ia merasakan firasat tidak bagus dengan tindakannya saat ini.
Ia mencuri pandang pada jendela ruang kerja yang menyala sedari ia melihatnya saat keluar dari mansion. Kini perutnya seakan berputar.
Adde segera meraih lengan kiri Leana dan menggenggamnya dengan kuat. Jika sebagai butler ia tidak berhasil maka setidaknya ia ingin memohon sebagai rekannya yang kemungkinan akan menghadapi masalah.
“Nyonya Leana. Saya bersikeras menyarankan anda untuk tinggal. Saya akan berjanji untuk segera mengirimkan alat sihir itu kepada anda tanpa penundaan.”
“Aku sudah mematangkan rencanaku untuk ke Alphiella hari ini, jika kita tidak segera berangkat maka rencana ini akan gagal!”
“Kem.ba.li.lah!”
Leana menggenggam balik dengan tangan yang sama dan keduanya saling menguatkan genggaman seakan menguji kekuatan mereka. Kemudian suara yang familiar terdengar tidak jauh dari mereka.
“Apa yang kamu lakukan sepagi ini, Leana?”
Leana dan Adde segera menoleh kearah pintu masuk mansion dan mendapati Forde berjalan kearah mereka diikuti oleh Albert dibelakangnya. Keduanya menjadi pucat dengan tamu tak diundang tersebut, terutama Leana.
Merasakan pandangan tajam kearahnya, Adde segera menarik genggaman tangannya dari Leana.
Sementara Leana terkejut dan mulai panik, Adde menutup matanya dan berdoa dalam hatinya. Keduanya menyapa Forde
“Selamat pagi, Marquis.”
“Fo, Forde, apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
“Aku melihat istriku berada di luar sepagi ini jadi aku mencoba untuk menjemputnya.”
Mendengar hal tersebut, hati Leana semakin panik.
“Apakah ada yang salah?” Leana mulai berkeringat dingin dan Adde terus mendoakan keselamatan majikan disampingnya itu.
“Tidak ada…” Leana mengalihkan pandangannya.
“Aku lihat kamu berpakaian rapi sekali. Kamu mau pergi kemana sepagi ini?”
“Itu.. aku…”
“Jika kamu tidak punya keperluan untuk keluar, bagaimana kalau kita kembali masuk ke mansion? Aku tidak ingin kamu kedinginan diluar sini.”
Leana segera menatap Albert di belakang Forde untuk meminta bantuannya namun ia hanya menutup mata dan memalingkan muka.
Ia mungkin tidak dapat melihat ke arah Adde tetapi ia tahu bahwa Adde yang terdiam sedari tadi tidak berencana untuk membantunya keluar dari masalah ini. Leana mengutuk situasinya saat ini.
Tidak mendapatkan jawaban dari Leana, Forde segera mendekatinya dan mengangkat tubuhnya.
Leana membeku karena terkejut dan terlambat menyadari bahwa tubuhnya sudah digendong seperti tuan putri.
“Sepertinya istriku menghalangi kepergian kalian jadi aku akan membawanya pergi. Berhati-hatilah dalam perjalananmu, Adde.”
‘Cepat pergi dari sini. Segera.’ Adalah pesan yang diterima Adde dari pandangan Forde kepadanya.
“Saya mengerti. Terima kasih, Marquis.” Dengan cepat ia segera bersiap.
Forde pun segera bergerak membawa Leana masuk di pelukannya, diikuti oleh Albert. Dari dalam kereta, Adde dapat melihat Leana yang sepertinya tersadar dan segera meminta untuk diturunkan.
‘Dasar bodoh…’ Adde hanya menghela napas dan menikmati perjalanannya kembali ke Alphiella.