
Saat Leana membuka matanya, ia mendapati dirinya di sebuah ruangan yang gelap. Cahaya yang terlihat hanyalah yang datang dari balik jendela di belakangnya. Ia bisa mendengar suara hujan menyelimuti ruangan.
Dengan sedikit kesadaran yang dimilikinya, matanya berenang memperhatikan ornamen di ruangan tersebut. Sepertinya ia berada di kamarnya di Alphiella.
Ia tidak terlalu mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya terbangun di sini, namun rasa sakit di sisi tubuhnya membuatnya mengingat apa yang terjadi di labirin besar.
Setelah ia menyelamatkan Dean dari serangan monster yang tiba-tiba muncul, ia merasakan tubuhnya menjadi berat dan perlahan kehilangan kesadaran. Setelah itu ia tidak dapat mengingat apa yang terjadi selanjutnya.
Leana mengangkat tubuhnya dengan pelan, menahan rasa sakit yang semakin terasa nyata untuknya.
Saat ia berpikir untuk mengambil segelas air, suara yang familiar datang dari belakangnya.
"Leana."
Napasnya seketika terhenti. Tubuhnya membeku.
Ia dengan pelan membalikkan tubuhnya dan mendapati suaminya tengah duduk di sofa di samping kasurnya.
Karena cahaya menerangi dari belakangnya, ia tidak dapat melihat wajah suaminya yang tertutupi oleh bayangan pekat.
Sepasang mata giok menatap ke arahnya seakan mencoba untuk membuka isi pikirannya.
Leana hanya terdiam menatap Forde, tidak mengeluarkan satu kata pun sebagaimana ia mulai menyadari situasinya saat ini.
Ia tidak tahu mengapa ia bisa dalam situasi ini.
Tidak mendapatkan jawaban dari istrinya, Forde pun bangkit dan duduk di kasur menghadapnya. Sampai pada titik dekat pun, Leana masih tidak dapat melihat wajahnya.
Hujan adalah satu-satunya yang mengisi ruangan tersebut selain suara mereka. Keheningan diantara mereka membuat Leana hampir lupa caranya untuk bernapas.
"Bagaimana keadaanmu?"
Leana tersentak. Ia dengan ragu menjawab.
"Aku… baik-baik saja." Leana memberi jeda. "Bagaimana kamu bisa di sini? Apakah kamu ada keperluan di Alphiella?"
Leana berharap Forde tidak menyadari getaran dalam suaranya.
"Aku kembali dari misi penaklukan dan mendapati istriku tidak ada di rumah, jadi aku datang untuk menjemputmu."
Leana mengalihkan pandangannya. Ia tidak berani menatap langsung mata Forde.
"Begitukah…?"
"Iya."
Ia gagal dalam mencoba untuk mencairkan suasana begitu mendengar jawaban dari suaminya. Ia seketika merasa bersalah seakan telah melakukan hal yang salah dan telah ketahuan olehnya.
Ia menggenggam erat gaun tidurnya.
Leana mulai merasa canggung dengan topik pembicaraan mereka yang tidak dapat ia temukan.
Ditengah heningnya ruangan tersebut, suara Forde kembali terdengar.
"Istriku, Leana…"
Leana kembali mengalihkan pandangannya kepada Forde.
"Bukankah ada hal penting yang harus kamu katakan kepadaku?"
GLEGAR
Bersamaan dengan berakhirnya kata-kata itu, sebuah petir menyambar dari balik jendela di belakang Forde.
Hantaran cahaya yang dihasilkan membuat tubuh Leana semakin membeku.
Kejadian lama terbesit di kepalanya saat ia melihat pemandangan di hadapannya.
Otaknya mereka ulang kejadian di hari mereka bercerai.
Tatapan tenang tanpa emosi. Kata-katanya yang dingin seperti rantai dibawah hujan.
Meskipun ia tahu itu hanyalah sebuah ingatan, hari itu adalah hari yang tidak bisa dilupakan.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia sendiri takut pada hari terjadinya badai.
Leana kembali mencoba membuka mulutnya namun untuk kesekian kalinya, petir menyambar.
"Uwaaa!!"
Leana mencoba melarikan diri ke belakang namun ia tidak menyadari kalau ternyata dirinya sudah berada di sisi kasur. Saat ia sadar, tubuhnya sudah jatuh ke belakang.
Ia menutup matanya untuk menyambut hantaman yang akan datang namun yang dirasakannya adalah sesuatu yang menarik tubuhnya ke depan hingga ia jatuh kepada sesuatu yang menyelimuti tubuhnya.
Dengan perlahan ia membuka mata dan menyadari bahwa tubuhnya sudah berada di dekapan suaminya.
Tubuhnya kembali membeku. Tangannya melayang di udara tanpa bisa tahu harus menyentuh apa. Rasa sakit di tubuhnya pun tidak dapat ia rasakan.
Setelah berhasil menenangkan diri, Leana membenarkan posisi menghadap suaminya. Ia menunduk tidak berani menatap wajah Forde.
"Leana…"
Saat Leana tersentak mendengar kata-katanya, Mata Forde kian memancarkan rasa sakit.
Ia ingin melihat wajah istrinya itu apapun yang terjadi. Meskipun wajah itu menunjukan rasa takut kepadanya.
Forde pun meraih anting Leana dan membelainya. Tangan lainnya menggenggam tangan Leana seakan menghangatkannya.
"Leana, aku sudah mendengar semuanya dari Adde."
Forde dapat merasakan getaran di tangan Leana.
"Sepertinya kamu diam-diam membangun kekuatan dan membantuku ya…"
Ia mengelus tangan Leana dengan ibu jarinya.
"Dan sepertinya kamu memiliki rencana yang cukup besar hingga dapat membahayakan dirimu…"
Forde mengeratkan genggamanannya saat tangan istrinya semakin dingin. Dalam hatinya ia terus berharap agar kehangatan di tubuhnya dapat ia berikan kepadanya.
Detik demi detik berlalu, Leana masih tidak membuka mulutnya.
Hatinya semakin sakit melihat sosok istrinya seperti saat ini.
"Apakah… aku adalah orang yang tidak dapat kamu percayai?"
"Ti.. Dak!"
Aah, betapa bahagia dirinya saat Forde akhirnya bertemu dengan ungu widuri yang di dambakannya itu.
Tidak ada satupun orang yang akan mengerti bagaimana ia bisa sebahagia itu meski hanya memandangnya sesaat.
Saat Leana kembali menunduk, ia menyentuh pipinya dan mengelusnya lembut.
"Leana, aku ingin menjadi bagian dari kekuatanmu."
Kata-kata lemah dan lembut keluar dari mulut Forde.
"Aku ingin membantumu."
Semakin lama, suaranya semakin pekat hingga Leana tidak dapat berhenti untuk mendengarkannya.
"Aku tidak akan memaksamu, tapi…"
Leana menjadi sedikit khawatir saat Forde menarik napasnya dengan cepat, terdengar seperti kesakitan.
Ia ingin mengecek keadaanya, tetapi ia terlalu takut untuk menghadapinya.
"Leana."
Ibu jari yang mengelus pipinya sangat nyaman hingga ia sedikit demi sedikit kehilangan rasa takut dan cemasnya.
"Aku ingin mendengar semuanya dari mulutmu, Leana."
Ia tahu bahwa Forde tengah membujuknya namun ia tidak bisa berhenti berpikir bahwa suaminya telah bertindak curang.
Saat akhirnya ia membulatkan tekadnya untuk memberitahu suaminya, tubuhnya semakin bergetar hingga tidak dapat ia sembunyikan.
Namun ia tidak ingin bersembunyi lebih lama lagi dan ia pun menghadap Forde dengan tatapan lurus ke matanya.
Dengan gemetar Leana membuka suara.
"Aku akan menceritakannya padamu."
***
Leana menghela napas saat ia selesai bercerita. Dengan ekspresi takut ia kembali menundukan kepalanya.
Sekarang apa yang akan terjadi dengannya? Kini Forde sudah mengetahui semuanya.
Bahkan ia menceritakan kehidupan keduanya sebagai Riana, yang tidak ia ceritakan kepada siapapun.
Keheningan yang berlanjut menambah rasa putus asa di dalam dirinya, ia bahkan benar-benar berpikir untuk mengakhiri semuanya. Melepas apapun yang kini sedang ia pegang.
Hatinya terasa sakit saat memikirkan bagaimana Forde mungkin saja akan meninggalkannya.
Tidak. Ia tidak punya hak untuk meminta Forde tinggal. Sebagaimana dirinya adalah yang pertama kali telah berkhianat kepadanya.
"Leana, lihat aku."
Tangan Forde membimbing wajahnya kepadanya namun Leana memberi sedikit perlawanan.
Dengan penuh keraguan, mata mereka kembali bertemu dan betapa sakit hatinya saat melihat ekspresi Forde yang sangat jelas di hadapannya.
Ia terlihat sakit seperti orang yang telah di khianati. Leana pun akhirnya tidak dapat menahan ekspresinya.
"Leana…"
Jemarinya masih mengelus pipi Leana seperti barang berharga. Sementara Leana sendiri semakin takut dengan kata-kata yang akan dilontarkan.
Tetapi yang terjadi selanjutnya tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Apakah kamu membenciku?"
Leana melebarkan matanya. Ia segera menggeleng tanpa bisa mengeluarkan kata-kata.
Mulutnya yang terbuka tidak dapat mengeluarkan kata yang ingin ia ucapkan.
"Lalu… Apakah kamu menyukaiku?"
Kali ini Leana tertegun.
Melihat bagaimana ekspresi Forde yang sedikit membaik, perasaannya kian luluh dan mencair.
"Aku…"
Apa yang ingin disampaikan kepada Forde? Bagaimana perasaannya kepada dirinya?
Ia harus memberitahukannya.
"Aku… awalnya aku hanya ingin menebus dosa saja. Terlalu banyak hal yang telah ku lukai meskipun aku tidak melakukan apapun. Sedari awal berdiam diri saja sudah menjadi suatu kesalahan. Selain itu aku juga ingin membalas Grandall karena telah menyediakan tempat untukku."
Leana menarik napas.
"Kupikir setidaknya, meskipun hubungan kita bukanlah didasarkan dengan cinta, selama kita saling menghormati… kupikir semua akan baik-baik saja."
Leana mengingat dirinya di awal kehidupan ketiganya. Ia pada saat itu benar-benar lucu hingga ia ingin tertawa. Namun senyuman terlalu susah untuk dilukiskan di wajahnya.
"Kupikir, dengan membantumu, menarikmu keluar dari takdir buruk itu, aku akhirnya bisa membalas budi kepadamu."
Dengan airmata yang ingin tumpah dari matanya, ia membuat senyuman menyedihkan.
"Tetapi seiring berjalannya waktu, aku menjadi cemas. Selama ini tidak ada yang benar-benar berjalan sesuai keinginanku. Saat sesuatu benar berjalan dengan baik, aku tidak bisa berhenti paranoid."
Ahh, Leana tidak mampu menahan perasaannya lebih lama lagi. Ia ingin menumpahkannya.
"Oleh karena itulah… meskipun aku sudah mengumpulkan sekuat apapun pasukan untuk membantumu, pikiranku tidak bisa tenang…"
Pandangannya mulai kabur karena airmata. Satu demi satu berjatuhan dari kelopak matanya.
"Aku ingin menyelamatkanmu. Aku ingin membuatmu hidup dengan tenang dan bahagia."
Leana menggunakan tangannya untuk menutup matanya. Namun air matanya terus mengalir tanpa henti.
"Kupikir selama kau baik-baik saja, aku tidak berada di sampingmu juga tidak masalah. Karena aku tidak punya hak untuk itu…"
Isaknya mulai terdengar dengan jelas. Leana merasa malu karena menangis seperti anak kecil.
"Aku telah mengkhianatimu. Aku telah mengecewakanmu. Aku telah melukai perasaanmu…"
Perlahan Leana mengangkat kepalanya.
"Meski begitu… aku…"
Dengan matanya yang berkaca-kaca, airmata yang membasahi pipinya, ekspresi yang kacau itu, ia menghadap ke arah Forde.
"Forde… Aku mencintaimu."
Saat airmata turun dari kelopaknya, pandangannya perlahan menjadi jelas dan Leana melebarkan matanya, tertegun dengan pemandangan di hadapannya.
Sebuah air mata turun dari mata Forde yang terbuka sama lebar dengan dirinya.
Untuk sesaat, Leana hampir salah melihat bahwa air mata itu adalah kristal yang dibuat oleh mata gioknya.
Sesaat kemudian, kerutan terbentuk di antara mata suaminya.
Forde yang tidak dapat menahan perasaannya segera menarik Leana dalam rangkulannya. Menangkap kepala dan tubuhnya, memeluknya dengan erat seakan ia telah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.
Leana dapat mendengar isakan kecil dari atas kepalanya.
"Aah, Leana… istriku… Aku juga mencintaimu. Jauh sebelum kamu dapat menyadarinya."
Kata-kata manis nan tulus tersebut menggoyahkan hati Leana, membuat air matanya semakin turun.
"Aku selalu berpikir bahwa kamu terpaksa menikahiku. Jadi aku berjanji dalam diriku untuk memenuhi keinginanmu agar kamu dapat bahagia."
Leana meraih punggung Forde dan membalas pelukannya. Ia membenamkan kepalanya di dada suaminya, mendengar detak jantungnya.
"Tapi mendengar dari ceritamu, sepertinya tindakan yang kulakukan sama sekali tidak membuatmu bahagia. Maafkan aku, Leana. Sungguh, maafkan aku."
Leana menggelengkan pelan kepalanya. Forde tersenyum dengan jawaban dari istrinya itu.
"Leana, jika bukan karena kamu bergerak duluan, mungkin aku sudah mengulangi kesalahan yang sama."
Ia mendekatkan hidungnya ke kepala Leana dan mengecupnya pelan.
"Dan aku sangat senang kamu memilihku untuk menjalani kehidupanmu saat ini."
Forde melepas pelukannya dari Leana dan menghapus air mata di pipi manisnya.
"Oleh karena itulah Leana…"
Dengan senyuman terbaik yang dibuat seumur hidupnya, ia membuat sumpah dan janji yang tidak akan bisa dipatahkan oleh siapapun.
"Karena kamu telah memilihku, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Kamu yang telah memilih untuk berada di sampingku harus bertanggung jawab atas pilihan itu seumur hidupmu, Leana."
Dibalik kata-kata yang cukup menyeramkan tersebut, Leana hanya dapat menangkap betapa lucu suaminya.
Ia pun tertawa dan merangkul leher suaminya, mendekatkan keduanya hingga jarak di antara mereka menghilang.
"Iya. Aku berjanji akan bertanggungjawab atas dirimu, suamiku."
Bibir keduanya pun bertemu dan ciuman yang mereka bagi pada saat itu adalah yang termanis di kehidupan mereka.