This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
The Grand Plan



"Seperti yang telah saya katakan tadi, 'penglihatan' Marchioness yang anda sekalian ketahui bukanlah sekedar penglihatan tetapi perpindahan jiwa ke dunia yang berbeda."


Meskipun Leana adalah orang yang merasakannya, ia masih merasa gelisah ketika Telsia secara langsung mengatakannya.


Ia selalu berpikir bahwa ia memutar waktu tetapi pada nyatanya, dunia pertamanya telah benar-benar tiada.


Leana menuup matanya rapat untuk menghentikan pikiran buruk yang terlintas di benaknya.


"'Penglihatan' tersebut adalah sebuah catatan yang dibawa bersama jiwanya dan saat jiwa keduanya bersatu, Marchioness mendapatkan ingatan akan catatan tersebut."


Leana hanya merasa seperti baru bangun saat ia berada di dunia ketiganya. Meski begitu ia sama sekali tidak merasakan keanehan.


Ia hanya merasa bahwa ia kembali ke rumah setelah bertahun-tahun pergi berpetualang dan membentuk pribadi yang baru.


"Labirin sihir biasanya tidak bertindak seperti itu namun labirin sihir telah meminjamkan kekuatannya untuk membantu Marchioness dalam memyelamatkan dunia ini."


Telsia tidak pernah bertindak untuk dirinya sendiri dan terus mengikuti kehendak labirin. Tapi ia membuat harapan dan labirin sihir akhirnya menyetujui harapan tersebut.


"Oleh karena itulah saat ini saya berdiri di sini membantu anda menangani portal lima labirin sihir yang akan muncul. Tetapi untuk menghentikan sepenuhnya, harus anda sekalianlah yang melakukannya."


Aula kembali di isi dengan kebisingan dan delegasi kerajaan Diegofard pun mengangkat tangannya.


"Apakah anda tidak bisa menghentikannya saja? Anda penjaga labirin, bukan?"


"Kalian pikir apa yang terjadi jika saya menghalau kehendak labirin, sama seperti orang suci yang menghalau kehendak sang pencipta?


Telsia melirik kepada Saintess dan pihak kota suci.


Saintess tetap tenang namun pendeta disampingnya mengerutkan keningnya hingga Leana menjadi khawatir.


"--Itu..."


Delegasi Diegofard terdiam dan kembali duduk dengan tenang. Delegasi lain pun angkat suara.


"Anda bilang anda ingin membantu kami. Bantuan apa yang akan anda berikan kepada kami?"


"Saya mungkin tidak dapat menghentikan labirin secara langsung, tetapi anda sekalian mampu melakukannya."


Telsia mengangkat tangannya dan memunculkan informasi waktu mundur serta labirin di hadapan masing-masing delegasi.


Leana terbayang akan hologram di dunia modern.


"Informasi dan cara menghentikannya. Saya akan berikan kepada anda."


Mereka semua terkejut dan memperhatikan dengan seksama informasi yang baru mereka dapatkan.


"Portal labirin sihir bukanlah labirin biasa. Seperti namanya, kelima labirin itu muncul untuk membuka porta dan menyatukan dua dunia untuk sesaat."


"Mengapa labirin sihir melakukan hal tersebut?!"


"Jika mengambil kata-kata dari penghuni dunia lain, portal ini adalah 'ujian' bagi penghuni dunia yang di datangi labirin."


"Yang benar saja!!"


Pendeta Dough membanting tangannya ke meja dan suara gemuruh dari pendeta lain di belakangnya terdengar.


Satu per satu dari mereka mulai mengungkit hal negatif akan labirin sihir dan mencoba melimpahkan dosa kepada Telsia dengan seringai di wajah mereka.


"Ternyata benar! Anda bersekutu dengan iblis--"


"Pendeta Dough. Hentikan."


"Saintess! Tapi dia--"


"Ada kata bahwa terkadang kejahatan perlu dilawan dengan kejahatan."


"Ma-maksud Saintess, kita harus bersekutu dengan--"


"Beliau bukanlah di pihak yang jahat. Selain itu seharusnya kalian tahu bahwa kekuatan saya sebagai Saintess bukanlah untuk menyelamatkan dunia tetapi membuat harapan."


"Saintess..."


"Saya tidak punya kekuatan untuk menghidupkan manusia atau penyembuhan total dari segala macam penyakit. Tetapi kekuatan saya ini ditujukan untuk membedakan kejahatan dan kebaikan."


Leana menutup mulutnya karena terkejut terhadap pernyataan Saintess yang mengemukakan kekuatan aslinya.


"Lalu kalian pikir apa yang sedang saya lihat saat melihat sosok sang penjaga labirin sihir?"


Saintess menoleh kepada Telsia. Senyuman hangat dan penuh kepercayaan diri terlukis di wajahnya.


"Sang penjaga labirin sihir bukanlah berada di pihak kejahatan. Ia sama murninya dengan kita. Selain itu sungguh tidak sopan menyatukan sang oenjaga labirin sihir dengan para iblis seenaknya, pendeta Dough."


Dengan pernyataan ini, para pendeta begitu juga dengan mereka yang masih meragukan keberadaan Telsia pun terdiam.


Saintess yang memiliki kepercayaan tertinggi bagi setiap negara tentu dapat dengan mudah mengubah pikiran mereka.


Leana sangat beruntung karena Saintess berada di pihak mereka.


Telsia melihat kesekitarnya, menutuk matanya kemudian kembali membukanya dan melanjutkan.


"Harus saya katakan dengan jujur, dengan kekuatan anda sekalian, menaklukan portal labirin sihir sebelum kebangkitannya hanya akan menjadi mimpi belaka."


"Apa maksud anda?! Anda mau merendahkan kami?!"


Sekali lagi aula diisi dengan keributan. Kali ini dengan penuh amarah.


Telsia terus melanjutkan.


"Untuk menutupi kekurangan itu saya sebagai penjaga labirin sihir akan meminjamkan kekuatan kepada anda."


Telsia menampilkan sebuah gambar labirin sihir dengan bentuk yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Saya akan membuka 'labirin pengujian' kepada anda."


Seketika ruangan itu menjadi sepi.


"Labirin ini akan digunakan untuk anda taklukan sebagaimana labirin sihir pada umumnya, namun yang membedakannya adalah anda diharuskan untuk menemukan 'benda sejati' anda."


Telsia mengulurkan tangannya kepada Leana dan ia pun maju ke sampingnya.


Tangannya menyeka rambut ke kuping kanannya dan memperlihatkan antingnya kepada para audiens.


Telsia yang menaruh pandangannya kepada Forde juga membuatnya bangkit dari kursinya.


"Anting yang sekarang digunakan oleh Marchioness juga adalah salah satunya. Marquis Grandall yang menemukan batu indah dari labirin sihir membawanya pulang dan menjadikannya benda pusaka yang hingga kini terus membantunya."


"Tentu saja benda sejati yang saya maksudkan bukanlah sembarang benda. Benda sejati ini nantinya akan memilih majikannya begitu juga dengan sebaliknya."


"Benda sejati memiliki kekuatannya masing-masing dan mereka juga yang akan mendukung pemiliknya dengan kekuatan apapun yang dimilikinya."


"Harap diingat bahwa benda sejati ini dipilih dan terpilih hanya untuk anda sehingga tidak ada orang lain selain anda yang dapat menggunakannya."


"Keberadaan benda ini akan menghilang saat pemiliknya tiada. Tetapi jika benda tersebut tidak menghilang maka benda tersebut hanya akan menjadi sebuah benda biasa saja."


Telsia membuka Croselia. Matanya berjalan di setiap kata yang muncul di lebar kertasnya dan kemudian menutupnya rapat.


"Saya akan memunculkan labirin pengujian di masing-masing wilayah anda. Anda memiliki waktu setidaknya satu tahun untuk menyelesaikan labirin ini."


Sebelum satu pertanyaan keluar dari mulut para peserta rapat, Telsia melanjutkan.


"Anda sekalian juga tidak perlu khawatir karena di setiap lantai terdapat 'titik penyimpanan' dimana anda bisa kembali ke titik tersebut jika anda terbunuh."


Leana menahan ujung bibirnya yang semakin melebar karena mendengar kata yang membuatnya teringat akan 'save point' pada game di dunia modern.


Pihak kota suci kembali was was mendengar pernyataan tersebut namun mereka tidak memotong Telsia seperti sebelumnya dan hanya berbicara diantara mereka saja.


"Walaupun saya bilang bahwa anda tidak dapat 'mati'di labirin ini, rasa sakit akan tetap ada dan ada kalanya pula terbawa saat tubuh kalian di rekonstruksikan lagi."


Suara 'ah' singkat terdengar dari mulut Telsia seakan ia teringat sesuatu.


"Saya bilang kalau labirin pengujian harus ditaklukan tetapi anda sekalian boleh dipersilahkan untuk menghentikan perjalanan anda selama anda telah menemukan benda sejati anda."


"Karena terkadang ada pula orang yang baru menemukan benda sejati mereka di titik akhir perjalanan mereka."


Telsia mengangkat tangannya keatas dan gambar dihadapan peserta rapat menghilang bersamaan dengan turunnya tangan tersebut.


Saat telapaknya menghadap langit dan ia angkat ke atas, sebuah gulungan muncul dihadapan mereka.


"Gulungan di hadapan anda akan berisikan informasi mengenai rencana penaklukan portal labirin dan hanya dapat dibaca oleh satu orang terpecaya sebelum akhirnya menghilang dengan sendirinya."


"Orang tersebut nantinya yang akan menjelaskan kepada anda detail dari rencana yang tertera di sana."


Telsia menoleh kepada Kaisar.


"Tugas saya disini telah selesai. Saya akan mengundurkan diri."


Tanpa menunggu balasan Telsia menghilang ke dalam cermin sihir.


Leana menggantikan Telsia memberi hormat terakhir kepada para peserta rapat dan juga Kaisar sebelum akhirnya kembali ke tempatnya.


Kaisar mengetuk tongkatnya untuk menarik perhatian semua orang di aula.


Tangan kanan raja maju memberikan pengumuman jadwal mereka.


"Kita akan memasuki sesi diskusi pribadi selama satu jam setelah itu rapat besar akan segera dilanjutkan. Hidangan telah disediakan untuk anda sekalian di ruangan sebelah dan silahkan panggil para pelayan jika anda menginginkan ruangan pribadi untuk beristirahat."


Para peserta rapat pun bangkit dari tempat mereka dan bergabung bersama kelompoknya masing-masing.


Leana berencana untuk ikut bersama kaisar dan mendiskusikan kelanjutan rapat besar nanti namun ia berhenti saat matanya bertemu kembali dengan suaminya.


Kaisar terkekeh dan mendorongnya pelan.


"Pergilah sana. Mata kalian berdua terlalu berkilauan hingga saya tidak bisa fokus."


Kaisar pun berjalan pergi meninggalkan Leana yang tertegun. Matanya berkeding beberapa kali dan mulutnya gagal mengeluarkan kata-kata di pikirannya.


Cara bicara sang Kaisar yang terdengar ramah itu hampir mengingatkannya kepada Eclipse dan berpikir bahwa hubungan darah mereka mungkin sangat kuat lebih dari apa yang dibayangkannya.


Menepis teori yang kian muncul di otaknya, ia berjalan ke tempat Forde yang tengah menunggunya.


Tangan mereka kembali bersatu saat keduanya berhadapan satu sama lain.


"Kerjamu bagus, Leana."


"Aku hanya berdiam diri saja. Semua dikerjakan oleh Telsia."


Leana cemberut sementara Forde tersenyum melihatnya.


Ia melirik ke arah keempat pemimpin Lima Pilar yang sedang berdiskusi dan mulai merasa tidak enak karena Forde tidak bergabung dengan mereka.


Forde membuka mulutnya duluan sebelum Leana menyarankan Forde untuk bergabung dengan rekannya.


"Rapat selanjutnya hanya akan membahas opini dari pihak lain mengenai rencana ini. Lebih baik kamu kembali ke kamar dan beristirahat."


Leana mengernyit dengan kata 'hanya' pada kata-kata suaminya.


Ia masih tidak mengerti bagaimana suaminya dapat menganggap enteng rapat besar ini, tidak, bahkan dalam beberapa hal penting lainnya.


"Forde, aku--"


"Aku akan mewakilimu dalam melihat kelangsungan rapat ini. Lagi pula rapat ini tidak akan berakhir hari ini juga."


Leana masih tidak melepas kegelisahannya dan Forde menyadarinya. Ia pun memberikan tiga kata yang cukup untuk melelehkan sebagian kegelisahannya.


"Percayalah padaku, ya?"


Leana bukannya tidak mau Forde membantunya namun ia merasa gelisah jika ia tidak melihat diskusi mengenai rencana mereka secara langsung.


Di saat yang sama, ia ingin bergantung dan membagi bebannya bersama Forde. Leana pun mengangguk.


"Tunggulah di kamar. Aku akan segera kembali."


Forde mengecup tangannya dan perlahan melepasnya kemudian berjalan bergabung bersama rekannya.


Leana merasa sedikit kesepian namun ia segera pergi meninggalkan aula karena merasa seperti orang yang tidak cocok berada di sana.


Saat ia kembali, Adde sudah menunggu di kamarnya dangan tumpukan laporan di meja tamu. Di samping meja terdapat trey dengan kue dan juga teh yang ia suka.


Leana yang berpikir untuk beristirahat sejenak sebelum kembali menyusul Kaisar pun membatalkan rencananya itu dan menghela napas.


Ia pun disibukkan dengan laporan Alphiella serta laporan perintah yang diberikannya kepada bayangan Alphiella hingga tidak menyadari bahwa Forde telah sampai di kamar mereka.


Setelah bergantian membersihkan diri mereka, keduanya saling bertukar informasi dan berdiskusi sebelum akhirnya tidur dengan membagi kehangatan.


Keesokan harinya, rapat besar kembali dilanjutkan dan berlangsung hingga lima hari kedepan.


Leana sesekali datang untuk membawa Telsia untuk ikut berdiskusi dan di saat ia luang, Adde kembali menyibukkannya dengan tumpukan laporan yang terus muncul tanpa henti.


Lalu sehari kemudian setelah rapat besar resmi dinyatakan selesai, pesta besar kekaisaran pun diadakan pada sore harinya.