
Leana dan Forde akhirnya sampai di kota Donis.
Tidak seperti keempat kota yang mereka kunjungi sebelumnya, kota Donis terlihat damai dan ramai. Meskipun tidak semeriah kota Adreandel, namun Donis merupakan kota yang sangat ramah bahkan dengan para pendatang.
Masih ada dua hari lagi sebelum inspeksi terbuka, Leana berpikir untuk berkeliling bersama dengan Liam dan Eson untuk memgecek keadaan kota tetapi ia mengingat janjinya dengan Forde.
Dengan janji itu, Leana tidak dapat dengan mudah lepas dari pengawasan suaminya.
“Sepertinya kota ini lebih ramai dari biasanya.” Ucap Forde yang membenarkan tudung Leana.
“Begitukah? Aku tidak pernah ke sini jadi aku tidak tahu.” Jawab Leana.
“Iya. Aku bersyukur kota ini terlihat hidup seperti tahun-tahun sebelumnya.”
Nada yang dikeluarkan Forde terdengar lembut ketika membicarakan kota Donis. Sepertinya ia sangat menyukai kota ini.
Sebagai kota yang menjadi pengikut setia pertamanya, memang tidak aneh jika Forde menyimpan perasaan spesial untuk kota ini.
Forde mengambil tangan Leana dan mengajaknya memasuki pasar.
“Bagaimana kalau kita melihat-lihat pasar?”
Leana terkejut. “Eh?! Tidak apa-apa?”
Forde mengangguk. Ia menoleh ke arah kesatria yang bersama mereka dan memberi mereka instruksi.
“Kalian berpencarlah. Jika ada sesuatu segera
laporkan padaku.”
“Saya mengerti, komandan!”
Mereka pun pergi berpencar dan berbaur dengan orang-orang di pasar.
Forde kembali menoleh Leana dan menariknya.
“Kalau begitu, ayo Leana.”
Leana dengan senang mengikuti Forde memasuki pasar yang dipenuhi oleh banyak orang. Berbagai gerai yang menjual makanan dan macam-macam barang.
Di beberapa gerai, terdapat benda-benda yang tidak biasanya ditemukan di Kekaisaran Solfilyan.
Melihat Leana yang terus memperhatikan stan barang dengan serius, Forde mendekat kepada Leana dan berbisik.
“Kota Donis memiliki sebutan lain sebagai kota para pedagang jadi banyak gerai yang menjual barang dari kerajaan lain.” Jelas Forde.
Leana menatap dengan seksama barang-barang yang dijual di pasar.
Ia tidak pernah banyak pergi saat menjadi Leana dahulu, tapi kini ia dapat melihat banyak hal dengan menginjakan kaki ke luar dari lingkarannya.
Keduanya terus berjalan menyusuri pasar. Di setiap gerai makanan mereka lewati, Forde pasti akan membeli satu porsi makanan dan memberikannya kepada Leana.
Forde trus melakukannya hingga tangan Leana sudah penuh dengan makanan yang dibelinya. Leana sudah menjadi seperti hamster saat mencoba menghabiskan makanan tersebut.
Merasa terlalu berlebihan, Leana segera menghentikannya.
“Forde, berhenti!”
Forde yang ingin mendatangi gerai makanan lainnya pun menoleh ke arah istrinya. Leana menatapnya dengan kesal.
“Kamu itu mau membuatku gemuk atau bagaimana?! Aku tidak bisa makan sebanyak ini!” seru Leana.
Forde berkedip dan melihat tangan Leana yang penuh. Menyadari hal tersebut, ia mengambil sebagian makanan yang dibawa istrinya.
“Maaf, aku tidak bermaksud begitu tapi kamu perlu makan lebih banyak.” Ujar Forde dengan tenang.
"Tapi ini berlebihan!"
Leana mengembungkan pipinya dan mengalihkan pandangannya dengan kesal.
Forde yang melihat itu tertegun dan segera menutup mulut dengan tangannya untuk menutup mukanya yang memerah.
‘Apa-apaan itu… Lucu…’ pikirnya.
Liam dan Eson yang bersembunyi dibalik bayangan tengah mengamati kontraktor mereka yang sedang bertingkah lucu bersama dengan suaminya.
Eson menatap mereka dengan aneh.
“Huwa… apa-apa ini yang sedang kita lihat.” Komentar Eson.
“Tidak perlu memikirkan urusan orang lain. Fokus pada tugasmu sendiri.” Ucap Liam yang memukul pelan kepala Eson dengan sisi tangannya.
“Sakit! Apaan sih?!” Seru kesal Eson.
Liam mendengus dan kembali menjalankan tugasnya dalam memperhatikan kondisi kontraktornya.
Leana yang asyik melihat-lihat gerai kain tiba-tiba saja berpaku pada sebuah mantel yang tengah dipajam di sebuah butik. Ia kemudian melirik kearah Forde disampingnya.
Forde selalu menggunakan mantel setiap pergi ke luar. Bahkan saat ini ia sedang menggunakannya dan Leana mulai berpikir untuk memberikan sebuah mantel untuk suaminya itu.
Leana menatap ke sekelilingnya dan menemukan satu kain yang menarik perhatiannya. Saat ia mendatangi gerai tersebut, ia disambut oleh sang penjual dengan sangat ramah.
“Selamat datang nona! Silahkan lihat-lihat kain yang datang dari wilayah Zoxetain ini.” ucap sang oenjual dengan senyum lebarnya.
Leana memperhatikan setiap kain yang terjual di sana.
Berdasarkan cahaya dan posisi ia melihatnya, warna kain tersebut dapat berubah. Ini pertama kalinya ia melihat kain seperti itu di dunia ini.
“Oh! Nona, anda memiliki mata yang bagus. Warna ini sangatlah eksotik seperti warna laut yang memiliki aura misterius dan anggun. Coba anda lihat ini.”
“!”
Ketika kain berwarna giok tersebut terkena cahaya warnanya seketika berubah menjadi keunguan. Tuba-tiba saja warna ini mengingatkanya pada sesuatu…
“Hebat bukan? Sangat cocok dengan anda dan pasangan anda.”
Leana dan Forde dibelakangnya seketika terkejut. Leana berusaha untuk mengabaikan apapun pandangan yang sedang dibuat Forde kepadanya.
“Ka-kalau begitu saya mau yang ini...” ucap Leana dengan sedikit pelan. Ia seketika menjadi malu karena terhasut dengan kesan dari sang penjual.
“Ohh! Terima kasih telah berbelanja!” seru sang penjual dengan senang sambil melambaikan tangan saat keduanya bergi.
Leana memeluk bingkisan tersebut dengan erat. Forde yang berjalan di sampingnya pun membuka suara.
“Apakah kamu mau membuat baju baru dengan kain itu?”
Leana menoleh dengan panik. Ia masih belum menenangkan perasaannya.
“Bukan! Itu… aku ingin memberimu mantel…”
“Mantel?” Forde menatapnya bingung.
“Kamu selalu menggunakan mantel setiap kali keluar, jadi kupikir aku ingin sesekali membelikannya untukmu.” Jelas Leana dengan malu-malu.
Forde berkedip beberapa saat.
“Apakah kamu tahu, Leana? Alasan aku selalu menggunakan mantel adalah karena mantel ini memiliki fungsi sebagai perisai.”
“Perisai?”
“Mantel ini dibubuhi sihir pelindungan yang cukup kuat. Dengan begitu aku akan selalu merasa aman tanpa takut sesuatu menyerangku dari belakang.” Jelas Forde.
Leana baru saja mendengar fakta baru mengenai Forde. Awalnya ia pikir, Forde selalu menggunakan mantel karena ia menyukai style tersebut tetapi sepertinya mantel tersebut memiliki peran yang lebih besar dibanding dengan apa yang dipikirkannya.
“Itu ide yang sangat cerdik, Forde.” Jawab Leana. "Kupikir kamu suka denga mantel. Aku jadi malu..."
"Aku akan menunggu hadiah darimu, Leana."
Forde memikirkan betapa senang dirinya karena Leana memberikannya hadiah untuk kesekian kalinya.
Beberapa saat kemudian, Leana yang terlalu kenyang memberikan sisanya makanannya kepada Forde dan melanjutkan perjalanannya hingga mendekati ujung pasar.
Di sana terdapat sebuah taman yang cukup luas dan tenang untuk mereka istirahat.
“Bagaimana kalau kita beristirahat?”
Leana mengangguk dan mereka pun duduk di bangku taman dekat sebuah kolam besar.
Saat memperhatikan are taman, ia dapat melihat Hardie dan Iscan yang berjalan mengelilingi taman dari kejauhan.
Leana yang berfokus pada taman tersebut terkejut saat sesuatu menyentuh kakinya. Ia mendapati Forde berlutut di depannya dan memperhatikan kakinya.
Ia mencopot sepatu dan kaus kaki yang digunakannya. Kemudian saat Leana melihat kakinya sendiri, ia baru menyadari bahwa bagian belakang kakinya lecet hingga mengeluarkan darah.
“Eh?! Kakiku—”
“Kenapa kamu menahan rasa sakit seperti ini?”
Leana menghentikan tangannya yang mencoba meraih Forde. Nada yang dikeluarkannya sedikit berat, sepertinya ia marah.
“Maafkan aku… Aku sama sekali tidak menyadarinya…” Ucap Leana.
Forde menatap Leana dengan tajam dan alisnya berkerut dengan tidak senang. Leana berusaha sekuat tenaga untuk tidak berpaling dari pandangannya itu.
“Mu, mungkin aku terlalu senang berjalan-jalan di luar jadi aku tidak sadar…” ucap Leana dengan lemah.
Leana yang sadar akan kesalahannya tidak dapat mengelak tatapan menyalahkan dari suaminya dan hanya dapat menerima apapun hukuman darinya..
Forde menghela napasnya dengan pasrah dan meraih pipi Leana dengan lembut.
“Awalnya aku hanya ingin mengecek kondisimu, tapi aku merasa seperti mencium bau darah darimu jadi aku mulai khawatir.” Ucap Forde.
"Begitu ya... Terima kasih, Forde."
Saat Forde kembali mengecek kaki istrinya, Weiss datang dari kejauhan ke arah mereka.
“Komandan, apakah ada masalah?” Tanyanya.
“Masalah besar. Tolong segera bawakan kotak obat. Kaki istriku terluka.” Ucap Forde dengan nada jengkel.
“Saya mengerti.” Weiss pun pergi mengambil kotak obat dari salah satu kesatria.
Leana menatap heran sikap Forde yang melebih-lebihkan kondisinya namun ia merasa tidak dapat membuka suara untuk protes.
Leana menatap Forde yang tengah membersihkan luka di kakinya dengan serius. Ia pun meraih pundak Forde dan menyatukan kepala mereka seakan merayunya.
“Anu, Forde, maafkan aku…”
Ia merasakan Forde mengecangkan genggaman pada kakinya untuk sesaat.
“…”
Forde tidak menjawab dan terus memegang kakinya untuk tidak menyentuh lantai.
Saat Weiss kembali, Forde segera merawat luka Leana sendirian. Setelah lukanya ditutup oleh perban dengan rapi, ia memasangkan kembali sepatunya.
“Aku akan pergi sebentar untuk mencarikanmu sepatu yang lebih nyaman. Tunggu aku di sini. Weiss, panggil Iscan dan Hardie untuk ikut berjaga.”
“Dengan segera, komandan.”
Forde segera berlari kembali menuju pasar dan Weiss memanggil Iscan serta Hardie setelah memberikan siulan keras dengan kode.
Tidak lama keduanya pun datang.
“Wakil komandan Weiss! Apakah ada sesuatu?” tanya Iscan.
“Komandan menyuruh kalian untuk ikut menjaga nyonya Leana.” Jelas Weiss.
Hardie yang berjalan dibelakang Iscan menyadari kondisi kaki Leana terlebih dahulu dan ia bersimpuh di dekatnya.
“Nyonya, anda tidak apa-apa? Kenapa kaki anda bisa terluka begini? Apakah karena terlalu banyak jalan?” tanya Hardie yang dengan hati-hati menyentuh kakinya.
“Sepertinya saya terlalu senang berjalan-jalan sampai tidak menyadari kaki saya lecet.” Jelas Leana dengan senyuman yang kikuk.
“Anda harus lebih berhati-hati nyonya.” ucap Hardie dengan luwes.
“Hardie!” seru Iscan dan Weiss bersamaan. Hardie makin mengerutkan wajahnya.
“Maafkan saya nyonya.” ucap Hardie dengan cepat dan tenang. Leana hanya tersenyum melihat perubahan sikapnya yang tidak biasa itu.
“Tidak masalah, justru sekarang aku malah jadi merepotkan kalian…”
“Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu nyonya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.” Ucap Weiss.
Leana mengangguk dan dari sisi matanya ia dapat melihat Forde kembali dengan membawa sebuah kotak.
Hardie yang bersimpuh segera bangkit dan digantikan oleh Forde.
“Maaf membuatmu menunggu, Leana.” Ucapnya.
“Tidak apa-apa kok.”
Ia melepas sepatu yang digunakan Leana dan menggantinya dengan yang baru.
“Bagaimana?”
“Sudah lebih nyaman.” Jawab Leana.
Sepatu barunya sangatlah nyaman untuk dipakai. Namun seketika ia mulai bertanya-tanya bagaimana Forde bisa mengetahui ukuran kakinya.
Forde yang telah menerima reaksi positif dari istrinya kemudian mengangkat Leana dan menggendongnya seperti tuan putri.
Leana yang telat bereaksi segera memegang pundak Forde seakan tidak ingin dijatuhkan.
“Forde aku bisa jalan sendiri!” serunya.
“Kamu terluka jadi aku akan membawamu kembali ke penginapan. Weiss.”
Weiss mengangguk dan memanggil sisa kesatria lainnya yang terpencar di taman untuk kembali berkumpul.
Tidak dapat berbuat apa-apa, Leana dengan pasrah memeluk leher Forde dan membenamkan wajahnya.
Ia merasa ingin segera mengubur dirinya hidup-hidup akibat rasa malu.
"Jika ada sesuatu yang kamu inginkan besok, suruh saja orang lain untuk mengambilkannya."
Leana segera menarik dirinya dari Forde dan menatapnya terkejut.
"Aku bisa berjalan sendiri! Aku yakin besok pasti sudah sembuh!" Ujar Leana.
Forde menatap Leana dengan mata seram dan tersenyum ke arahnya. Ia seketika membeku.
"Maaf Leana, tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai lukamu sembuh. Jadi menyerahlah." Ucap Forde.
Leana yang kesal pun memeluk Forde dengan kuat dan kembali membenamkan wajahnya. Sementara itu Forde dengan suasana hati senang, memasang senyum penuh kemenangan diwajahnya.