This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
New Step



Seperti yang telah dijanjikan, Leana dan Forde mempersiapkan diri mereka untuk bertarung di area pelatihan. 


Hampir seluruh para penghuni Alphiella berkumpul untuk menyaksikan pertandingan di antara keduanya.


Forde dengan kapaknya dan Leana dengan belatinya.


Dalam pertarungan kali ini, Leana menggunakan celana agar mempermudah pergerakannya. Forde yang melihat hal tersebut beberapa kali mengalihkan pandangannya agar dapat menyembunyikan rasa malunya.


Adde berada di tengah mereka menjadi wasit. Ia memperhatikan keduanya yang sudah bersiap dalam posisi masing-masing.


"Kalau begitu, saya sebagai wasit akan menilai pertarungan ini. Pertarungan antara Marquis Forde Grandall dan Marchioness Leana Grandall. Harap dipersiapkan."


Forde mengeluarkan kedua kapaknya begitu juga dengan Leana dengan belatinya. Dua senjata yang memiliki corak dan warna yang sama itu membuat keduanya terlihat seperti pasangan yang serasi.


Tapi karena aura serius yang dikeluarkan keduanya, nuansa romantis tidak dapat para penonton bayangkan sepenuhnya.


Adde mengangkat tinggi tangannya.


"Baiklah. Harap Siap. MULAI!"


Bersamaan dengan turunnya tangan Adde dan dirinya yang mundur dari arena, Leana bergerak cepat ke arah Forde memberikan serangan pertama kepadanya menggunakan kedua belati panjangnya.


KACRANG


Forde dengan mudah menahan serangan Leana menggunakan kedua kapaknya dan mendorong mundur Leana.


Saat kaki Leana menyentuh tanah, ia kembali melaju kepada Forde, memberikannya serangan demi serangan.


Forde dengan lihai menghindari dan menangkis serangan Leana. Menunggu hingga saat yang tepat untuk memberikan balasan baik.


Kali ini Forde melangkah ke depan untuk memberikan serangan. Saat kapak diayunkan dari atasnya, Leana berhasil menahannya dengan kedua belatinya.


Dari sisi mata, ia dapat melihat kapak lainnya datang kepadanya.


Leana kemudian menarik badannya terlebih dahulu sebelum melepas penahanannya dari kapak Forde dan berhasil menghindari serangan lainnya.


Ia menarik napas dan kembali bergerak ke arah Forde. Dengan menggunakan shadow step, ia dengan cepat menghilang dari hadapan Forde dan menyerangnya dari belakang.


Forde dengan cepat menghalau belati Leana dengan kapaknya tanpa membalikan badan. Sekali lagi, Leana menarik mundur dirinya.


Mereka yang menonton terpukau dengan pertandingan tersebut. Meskipun tidak sehebat yang dibayangkan, intensitas yang tercipta diantara keduanya cukup untuk membuat bulu kuduk mereka berdiri. Mata mereka tidak dapat lepas dari pertarungan tersebut.


Terlebih saat mereka mulai menyadari bagaimana Forde sama sekali tidak melangkah maju memberikan serangan kepada kontraktor mereka, menambah kesan terhadapnya semakin tinggi.


Kontraktor mereka yang juga adalah pemimpin dan guru bagi ketua mereka memiliki jenis gaya bertarung yang "berat" dibandingkan dengan kecepatan.


Setiap serangan tidak menjanjikan keberhasilan langsung namun dapat secara bertahap melemahkan musuhnya.


Artinya pertarungan yang dilakukan Leana adalah pertarungan dalam mempertahankan stamina. Hanya mereka yang bertahanlah yang akan menang. 


Tetapi selain hal tersebut, terdapat hal lain lagi di dalam gaya bertarungnya. Adde sendiri yang melihat pertandingan tersebut dari dekat belum melihat "variasi" dari Leana.


Leana memutar badannya cepat dan mengayunkan belatinya cepat ke arah Forde. Serangan tersebut sekali lagi berhasil ditangkis oleh kapaknya dengan suara keras.


Jarak kembali tercipta di antara mereka. Leana mulai merasakan napasnya sedikit berat namun Forde masih terlihat baik-baik saja dengan hanya sedikit keringat.


Leana mulai menjadi kesal karena serangannya yang selalu berhasil ditangkis dan Forde yang tidak mau mengambil langkah maju menyerangnya.


Ia menegapkan posisinya dan menarik napas dalam-dalam sembari melihat langit-langit.


Are pelatihan di alphiella merupakan gedung tertutup, tidak seperti Grandall yang dimana memiliki atap terbuka.


Sampai pada saat Leana mengembalikan fokusnya kepada Forde, suaminya itu masih tidak menyerangnya yang membuka banyak celah besar.


Ia mulai mencurigai bahwa Forde meremehkan kemampuannya.


Leana menajamkan tatapannya dan Forde sedikit tersentak melihatnya.


Ia pun kembali maju namun kali ini ia memberikan serangan dari atas.


Belati itu meluncur cepat dari atas ke bawah hingga hampir menyentuh tanah. Seperti sebelumnya, Forde memasang posisi bertahan menggunakan kedua kapaknya.


Sebelum belatinya mampu menyentuh tanah, Leana membalikan posisi pegangannya dan melesatkan serangan dari bawah dan mengarahkannya kepada sisi di antara kedua kapak tersebut.


SRAANG


Gesekan memilukan terbentuk dari kedua senjata tersebut. Serangan terakhir Leana berhasil mendorong mundur Forde meski hanya sedikit.


Ketika keduanya masih di udara dalam posisi tubuh yang ditarik ke belakang oleh gravitasi, Forde mengambil cepat salah satu kapaknya yang terlepas dan memberikan serangan dari arah depan Leana.


Leana yang merasakan bahaya mendorong tanah dan berhasil menghindari serangan besar tersebut.


Saat ia membenarkan posisinya dan mengecek lokasinya tadi, sebuah kapak sudah tertancap ke tanah dengan retakan besar di sekitarnya. Debu tanah yang bertebaran yang hanya menampilkan siluet  Forde yang tengah tertunduk memperhatikan tangannya.


Leana maju selangkah untuk memberikan serangan baru namun tanpa ia sadari, Forde sudah berdiri di depannya dan membuat Leana terkejut.


Gebragh


Suara terdengar dari belakang Forde dan kemudian Leana menyadari bahwa tubuhnya, lebih tepatnya tangan kanannya, tidak dapat ia gerakan.


Ia menoleh mendapati tangan kiri Forde sudah menangkap tangannya.


Beberapa saat, abu tanah pun menghilang dan hanya ada sosok keduanya yang terdiam di arena pelatihan.


Leana menatap heran Forde yang tidak membuka mulutnya dan terus menunduk.


Setelah beberapa saat, Forde akhirnya mengangkat wajahnya.


"Leana, mari kita hentikan sampai di sini. Aku tidak bisa melukaimu apapun yang terjadi."


Leana mengedipkan matanya beberapa kali saat Forde memasang ekspresi memelas. Hatinya sempat terguncang namun pikirannya tidak dapat lepas dari tangannya yang masih terkunci oleh Forde.


'Aku rasa kamu tidak mungkin terluka oleh seranganku…"


Leana mereka ulang pertarungannya tadi dengan cepat dan mengernyit kepada Forde dengan sedikit kesal.


Ia akhirnya menghela napas.


"Baiklah kita hentikan sampai di sini. Lagi pula aku belum cukup kuat untuk memberikan goresan padamu." Ujar Leana dengan nada kesal.


Di tengah kata-katanya Leana menunjuk ke arah tangannya, memberi isyarat kepada Forde untuk melepaskannya.


Melihat kekesalan istrinya, Forde perlahan melepaskan tangannya dan ia mendekatkan wajahnya ke telinga Leana kemudian berbisik.


"Kau sangat kuat kok. Jika aku tidak mengerahkan seluruh fokusku, aku bisa terluka parah karena seranganmu." 


Forde melirik tangan kanannya yang sedikit bergetar, namun Leana tidak menyadari hal tersebut.


Leana dengan cepat menutup telinganya dan menarik mundur tubuhnya namun tangan Forde segera menangkapnya dan mengangkatnya dalam gendongan seperti tuan putri.


Leana mulai panik.


"Turunkan aku! Forde!"


Tidak menghiraukan kata-katanya, Forde mengeratkan pegangannya pada tubuh Leana dan berjalan keluar arena dengan wajah cerahnya yang diam-diam menyembunyikan sesuatu.


"Sepertinya kita perlu bicara lebih dalam, ya Leana?"


Leana seketika membeku dan menjadi pucat. Ia pun teringat akan undangan pesta yang didapatnya dan mencoba untuk mengubah topik mereka.


"Fo, Forde! Ada undangan pesta dari Grand Duke Volfelance…"


Wajah Forde semakin menggelap saat topik itu diangkat dan Leana seketika tidak dapat melanjutkan kata-katanya.


Dengan senyuman kecil di wajahnya, Forde pun membalas.


"Mari kita sekalian membahas soal itu."


Leana menutup rapat mulut dan matanya, menerima nasibnya sembari menahan air matanya.


Penghuni Alphiella yang ditinggal di area pelatihan hanya dapat menutup mata mereka dan l kembali ke posisi masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


***


Beberapa minggu kemudian, Forde dan Leana datang ke pesta yang diadakan oleh Grand Duke Volfelance di kediamannya.


Keduanya menggunakan pakaian berpasangan yang memiliki perpaduan antara warna biru, ungu dan hitam. 


Seperti biasa, Forde menggunakan mantel di sisi kanannya sementara Leana menggunakan selendang dengan warna yang sama melingkari bahunya.


Karena mendapatkan undangan eksklusif dari sang Grand Duke, mereka dapat memasuki aula pesta tanpa perlu mengantri.


Kedatangan mereka pun diumumkan kepada para tamu undangan.


"Telah hadir, Marquis Forde Grandall dan Marchioness Leana Grandall!"


Sosok keduanya yang memasuki aula dengan anggun membuat para tamu undangan melihat mereka dengan pandangan tertegun dan takjub.


Leana mengencangkan genggamannya pada tangan Forde untuk menahan rasa gugup karena pandangan yang datang dari berbagai arah kepadanya.


Forde mengelus tangan yang merangkul di lengannya untuk menenangkan istrinya.


Merasakan hal tersebut, Leana tersenyum senang dengan sikap suaminya itu dan perlahan ia mulai dapat dengan tenang menikmati pesta tersebut.


Leana memperhatikan sekitarnya. Ia mencari sosok Eclipse yang tidak dapat ditemukannya. Mereka seharusnya datang ke pesta itu sebelum waktu yang ditentukan jadi tidak aneh jika sang Grand Duke belum menampakan dirinya.


"Selamat malam, Marquis Grandall dan Nyonya Leana."


Dari samping mereka, Countess Sylvie Vivaldi datang menyapa keduanya. Ia menatap Leana dan Forde bergantian sebelum akhirnya berseri kepada mereka.


Leana yang merasakan sesuatu segera membalas sapaannya.


"Saat ini suamiku sedang memiliki pekerjaan besar yang tidak dapat dilepas jadi ia tidak bisa hadir. Sebagai gantinya saat ini saya hadir dengan putra sulung saya."


"Begitukah? Kami baru saja tiba di sini jadi belum melihat ke sekeliling."


"Jika anda tidak keberatan, bagaimana kalau kita berbincang mengenai hal 'itu'?"


Sylvie mengedipkan sebelah matanya kepada Leana yang mengedipkan beberapa kali matanya. 


Sylvie selalu bersemangat setiap bertemu dengan Leana karena mereka dapat berbincang mengenai topik yang membuatnya penasaran dan tertarik.


"Hal apa yang anda maksudkan?"


Kali ini Forde yang membuka suara membuat Leana seketika panik. Ia segera memotong pembicaraan mereka.


"Maaf nyonya Sylvie, tapi kami ada urusan dengan seseorang jadi saya tidak dapat menemani anda hari ini."


Itu bukanlah kebohongan. Mereka datang ke sini karena ingin berdiskusi dengan sang Grand Duke.


"Oh, begitukah? Sangat di sayangkan sekali. Saya sangat ingin berbincang dengan anda mengenai berbagai macam hal." Ujar Sylvie.


Entah kenapa, Leana seketika merasakan sesuatu yang dingin dibelakangnya, tetapi itu pasti hanya perasaannya saja.


Sylvie yang sepertinya tertarik dengan ekspresi Forde pun melebarkan senyumannya dan lekas mengundurkan diri.


"Kalau begitu saya akan berada di area para gadis, jika anda ingin bergabung silahkan datang saja. Selamat menikmati pesta ini, Marquis, Leana."


"Anda juga, nyonya Sylvie."


Sylvie pun meninggalkan keduanya. 


"Leana, apakah masih ada yang belum kamu beritahukan kepadaku?"


Topik pembicaraan dengan Sylvie tidaklah dirahasiakan, namun ia tidak dapat menahan perasaan paniknya seakan seperti seorang anak kecil yang ketahuan berbuat sesuatu.


Ia tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana tetapi mereka harus pindah tempat terlebih dahulu untuk membahas hal tersebut.


"Forde, bagaimana kalau kita–"


"Duke Leon Gwertivare dan Nona muda Diana Wordlock telah hadir!"


Leana tersentak dan tanpa sadar mengeratkan genggaman tangannya pada Forde. 


Pandangannya tanpa sadar ditarik ke arah pintu aula dan menangkap sosok Duke Leon yang sedang bersama Diana.


Keduanya berjalan dengan percaya diri kedalam aula dan menebarkan pesona mereka kepada orang-orang di sekitarnya.


Tentu saja. Bagaimana Leana bisa melupakan fakta bahwa Duke Leon adalah salah satu bangsawan tinggi di kekaisaran Solfilyan.


Jadi seharusnya tidak aneh jika ia diundang ke pesta yang diadakan oleh sang Grand Duke. 


Meskipun Leana dapat membaca pergerakan Eclipse yang memang sengaja mengundang Duke Leon sebagai bentuk kamuflase agar dapat menghindari radarnya. 


Leana memasang mata jengkel mengingat bahwa orang yang mengadakan pesta ini saja belum menunjukan sosoknya.


Matanya kemudian jatuh kepada sosok Diana. 


Seperti biasa, penampilannya sangat mewah dan menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Sekali lihat saja ia juga tahu bahwa penampilannya itu adalah bentuk yang ditujukan untuk memperlihatkan kekayaan dan kecantikannya.


Leana seketika teringat akan kehidupan di masa lalunya.


Ia ingat bahwa dahulu Duke Leon memiliki kekasih meskipun ia sudah menikah dengan Leana. 


Walaupun Leana tersakiti karena hal tersebut, pada saat itu ia merasa tidak dapat kehilangan Duke Leon di kehidupannya.


Mengingatnya kembali, Leana menjadi kesal kepada dirinya dan menggigit bibir untuk menahan emosinya.


"Leana, hentikan. Bibirmu bisa terluka."


Jemari Forde menyentuh bibir Leana dan mengelusnya. Dibalik ekspresi khawatirnya, suatu emosi menyala di dalam mata gioknya.


Forde mendekatkan wajahnya dan berbisik di samping telinganya.


"Leana, istriku. Saat ini yang berada di sampingmu adalah aku. Jadi lupakan si brengsek itu dan berfokuslah kepadaku, ya?"


Leana melebarkan matanya dan Forde tersenyum ke arahnya. Senyuman itu sempat membuatnya merinding namun ia mengangguk dan menyandarkan kepalanya kepada Forde karena lelah. 


"Selamat malam, Marquis Grandall dan juga Marchioness Grandall."


Leana mengerutkan keningnya mendengar suara yang menjengkelkan tersebut. Ia menghela napas berat dan kemudian menoleh dengan senyuman di wajahnya.


Ia memperhatikan wajah Duke Leon yang terlihat ramah serta Diana yang terlihat tengah menatap merendahkan kepada dirinya.


Sungguh pasangan yang serasi.


Leana pun membalas sapaan mereka dengan senyuman.


"Selamat malam juga, Duke Gwertivare dan nona Diana."


"Bukankah terakhir kali kita bertemu adalah pada saat di taman istana?"


"Ah, iya…"


'Apa yang sebenarnya pria ini bicarakan…'


Dalam hatinya, Leana melotot kesal kepada Duke Leon.


"Apakah kalian bertemu, Leana?"


Diana membuka kipasnya dan menutup setengah wajahnya. Leana dapat melihat bagaimana Diana menyeringai melihat reaksi Forde. 


"Oh ya ampun? Leana, kau bertemu dengan Duke di taman istana? Apakah kalian membicarakan sesuatu? Aku penasaran dengan apa yang kalian bicarakan di sana." ujar Diana, masuk dalam percakapan.


"Benar. Aku bertemu dengan Duke Gwertivare di taman istana saat aku berbincang dengan Grand Duke."


Situasi ini sangat menyebalkan tetapi Leana tidak ingin membuat kesalahpahaman yang tidak perlu untuk kedepannya.


Kerutan sedikit terbentuk di dahi Diana, namun ia terus melanjutkan.


"Kau bertemu dengan Grand Duke?" Tanya Diana dengan nada memancing.


"Saat aku sedang menunggu Forde. Benar." Jawab Leana dengan datar.


Diana masih tidak hentinya memancing sesuatu dari percakapan mereka.


"Bagaimana pendapat anda, Marquis?"


Forde yang sedari tadi diam dengan tenang menjawab.


"Saya bertemu keduanya saat ingin kembali. Selain itu tidak ada suatu hal yang aneh. Ada apa?"


Forde menatap kesal Diana yang terus meluncurkan kata-kata demi kata-kata seakan mencoba untuk mempermalukan Leana.


Diana tersentak dengan jawaban Forde dan kemudian terdiam.


Duke Leon yang berada di sampingnya memasang muka tidak tertarik kepadanya.


Ia pun melepaskan genggaman Diana darinya dan mengulurkan tangannya kepada Leana.


"Ini mungkin masih terlalu dini, tetapi bagaimana kalau saya mendapatkan kehormatan untuk berdansa dengan anda nanti?"


Leana melebarkan matanya, begitu juga dengan Diana. Ekspresinya terkejut dan ia menjadi sedikit pucat.


'Apa yang sebenarnya dipikirkan pria brengsek ini?'


Sebagai bangsawan tinggi, mungkin tidak aneh jika Duke Leon meminta dansa pertamanya dan Leana akan dianggap tidak sopan jika menolaknya. 


Tapi saat ini Duke Leon membawa pasangannya sendiri dan Leana sedang bersama dengan suaminya.


Leana pikir pandangannya terhadapan Duke Leon tidak dapat lebih huruk, namun kenyataannya ia masih dapat turun lebih dalam hingga pada dasar yang tidak diketahuinya.


Leana yang semakin tidak enak melirik ke arah Forde dan terkejut saat melihat ekspresinya yang sangat gelap seperti akan membunuh seseorang.


Ia menarik sedikit lengan Forde untuk memberikan kode kepadanya dan segera mengakhiri percakapan mereka.


"Maaf Duke Leon, tetapi sepertinya saya sedikit sesak berada di dalam kerumunan pesta terlalu lama. Jadi kami akan permisi duluan."


Senyuman Duke Leon sedikit berdenyut dan ia perlahan menarik tangannya.


"Begitukah? Sangat di sayangkan sekali. Kalau begitu kami akan pergi untuk menikmati pesta malam ini."


Duke Leon dan Diana pergi membaur bersama kerumunan. Sementara Itu Leana dan Forde pergi ke balkon untuk menghirup udara segar.


Saat mereka sudah berada di balkon, Leana berjalan sedikit lebih cepat dari Forde dan berencana untuk meregangkan tubuhnya. Tapi tangan Forde tidak lepas darinya dan Leana pun dengan heran menoleh ke arahnya. Forde membuka mulutnya.


"Leana, apakah kau baik-baik saja?"


Forde mendekatinya dan jemarinya dengan lembut mengelus pipi Leana. 


Leana pun mendekatkan pipinya pada jemari itu seperti anak kecil. Forde sedikit tersentak melihat hal tersebut.


"Aku baik-baik saja. Tapi aku memang butuh istirahat setelah pertemuan tadi. Itu adalah sesuatu yang tidak dapat kuperkirakan." Ucapnya.


'Terutama untuk menyembuhkan mentalku kembali.' Leana menghela napas lelah.


"Kalau begitu beristirahatlah. Kita datang karena urusan dengan Grand Duke, jadi kau tidak perlu menghiraukan soal pesta ini."


Leana pun tersenyum dan menjawab.


"Iya, terima kasih. Aku akan melakukannya."