This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Turning Point



Esok harinya Forde pergi ke istana untuk mendiskusikan misi penaklukan labirin dengan dengan pilar lainnya.


Sementara itu Leana mengumpulkan Iscan, Hardie dan juga Adde untuk membicarakan rencana fase ketiga.


“Tuan Iscan, pergilah dalam misi penaklukan kali ini bersama dengan Forde.” Ucap Leana sembari mengesap tehnya.


Pada fase ketiga, Leana berencana mengirim Iscan untuk mengawasi Forde dengan selalu berada disampingnya.


Sebagaimana ia dahulu merupakan orang yang mewariskan jejak wakil komandan Weiss setelah kemariannya, Leana percaya bahwa Iscan dapat menolong Forde dari belakang meski dalam kondisinya sekarang.


Ini hanya perasaannya saja, namun ia tahu kemunculan labirin di Orzxenberg bukanlah kemunculan biasa. Ia merasa bahwa sesuatu sedang terjadi tanpa sepengetahuannya.


Iscan yang terkejut dengan perintah dari Leana segera membuka suara untuk protes.


“Nyonya, tugas saya saat ini adalah untuk menjaga anda. Saya sendiri juga tidak yakin bahwa kekuatan saya saat ini cukup untuk menaklukan labirin.”


Benar. Saat ini Iscan belum cukup kuat untuk menghadapi labirin Orzxenberg.


Weiss gugur pada lima tahun mendatang dalam misinya dan labirin Orzxenberg sendiri seharusnya muncul pada dua tahun setelahnya.


Semua kejadian yang terjadi terlalu dini ini seakan menjadi suatu peringatan akan sesuatu. Leana yang telah bergerak dalam jalur berbeda sangat merasakan hal tersebut.


Dunia ini bukanlah novel, melainkan kenyataan. Tetapi Leana tisak dapat menepis perasaan bahwa seseorang seakan tengah mengawasinya.


Rencana yang telah ia bangun seakan dipermainkan dengan munculnya kejadian-kejadian diluar ingatannya.


Tidak. Lebih tepatnya, ia seperti terikat kepada sesuatu yang tak kasat mata. Mengikutinya dan perlahat mencoba untuk meraihnya.


Leana mulai khawatir jika suatu saat ia tidak dapat bertindak saat apapun itu yang mengikutinya, menangkap dirinya.


“Nyonya, saya tahu anda mempunyai rencana besar tetapi bukankah saya berada di sini adalah untuk menjaga tirai anda dari dekat?” ujar Iscan.


Leana tidak mengerti mengapa Iscan sangat terobsesi dengan tugasnya saat ini dibandingkan dengan misi penaklukan yang dapat meningkatkan derajatnya.


Apakah itu memang sifatnya ataukah itu adalah kebanggaan yang tidak ingin di coreng?


“Saya tahu ini adalah permintaan yang tidak masuk akal, tetapi tuan Iscan, apakah anda ingat mengenai kata-kata saya yang menyatakan bahwa saya melihat potensi anda?”


"Saya ingat, nyonya."


"Alasan saya memilih anda adalah untuk misi penaklukan ini."


Di awal Leana sudah blak-blakan kepada Iscan mengenai pikirannya.


Selain loyalitas buta yang dimilikinya, Leana selalu heran mengapa Iscan tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari pekerjaannya.


"Nyonya, saya tahu anda memilih saya karena ingin memberikan saya suatu tugas khusus. Anda bahkan berbaik hati membagikan sedikit rencana yang anda rahasiakan. Namun saya masih tidak yakin dengan perintah anda kali ini."


"Bukankah suatu kehormatan bagimu berkontribusi dalam menjaga perdamaian dunia?"


"Anda benar, nyonya. Tetapi jika saya menerima perintah anda saat ini, saya merasa tidak dapat pergi dengan tenang."


"Apa maksudnya itu?"


"Maafkan kelancangan saya, karena mengatakan hal ini."


Iscan menatap Leana dengan penuh kekhawatiran.


"Anda terlalu gegabah, nyonya. Meski begitu, anda adalah orang yang dapat betahan sendirian tanpa perlu di lindungi. Bahkan saya yang bertugas untuk melindungi anda hanya dapat menjadi hiasan dan tidak berdaya apa-apa."


Baik Hardie dan Adde melirik ke arah Leana secara bersamaan. Mereka setuju dengan pemikiran Iscan.


Majikan mereka terlalu gegabah untuk kebaikannya sendiri.


"Saya tahu ini sudah kelewat batas, tetapi saya sangat khawatir jika tidak ada yang memperhatikan, anda akan langsung terjun ke medan bahaya tanpa berpikir dua kali." ujar Iscan.


Adde mengangguk pelan menanggapi hal tersebut.


“Nyonya Leana, saya tidak mempertanyakan keputusan anda, namun tolong berilah saya penjelasan yang dapat saya terima agar dapat memahami perintah anda itu.”


‘Sebenarnya ada apa dengan misi ini? Apakah akan terjadi sesuatu? Apa yang mendorong majikannya hingga mengambil keputusan tersebut?'


Pertanyaan demi pertanyaan mulai bertumpuk di benaknya.


Baginya Leana sama pentingnya dengan kediaman Grandall.


Iscan yang berasal dari keluarga kecil telah diberi kesempatan baru sebagai kesatria dan ia sangat berterima kasih kepada Marquis Grandall yang mau mengakuinya tanpa pandang bulu.


Ia membuat sumpah dan janjinya sendiri untuk menggunakan hidupnya demi ketentraman Grandall.


Namun, sejauh apapun loyalitasnya, menutup mata pada kepercayaan dan tugas utamanya sebagai seorang kesatria cukup melukai hati nuraninya.


Ia percaya pada majikannya dan ia sama sekali tidak meragukannya. Tetapi di saat yang sama, ia setidaknya ingin mengetahui alasan dibalik seluruh tindakannya sebagaimana perintah yang telah diberikan.


Melihat kegundahan Iscan, Leana menaruh cangkirnya dengan tenang dan kemudian berkata.


“Dalam misi ini, Forde akan mati.”


Iscan dan Hardie terkejut mendengar pernyataan darinya. Keduanya menatap Leana dengan tatapan tidak percaya. Kali ini Hardie lah yang membuka suara duluan.


“Nyonya, atas dasar apa anda mengatakan hal tersebut?” tanyanya dengan tidak tenang.


“Saya tidak bisa tinggal diam dengan anda yang memberikan pernyataan tanpa dasar seperti itu, nyonya Leana."


Kecemasan dan sedikit amarah terdengar dari suara mereka.


Tentu saja, karena pernyataan yang diberikan Leana dapat terdengar sebagai hinaan dan harapan buruk bagi majikan utama mereka yaitu Marquis Forde Grandall.


Mereka tidak bisa tinggal diam mendengar pernyataan tersebut keluar dari mulut seseorang, bahkan dari Marchioness sekalipun.


Leana menoleh ke arah Adde, dan ia pun mengangguk.


"Nyonya Leana mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan."


"Apa?!"


"Benarkah itu, Nyonya?!"


Leana mengangguk mendengar seruan dari keduanya.


"Saya sudah menjalani kehidupan ini sekali dan saat ini saya kembali untuk kedua kalinya."


Iscan dan Hardie terdiam seakan masih tidak dapat mempercayainya. Adde pun akhirnya membuka mulutnya.


"Saya akan menjelaskannya jadi tolong kalian dengarkan baik-baik."


Adde mulai menceritakan apa yang Leana ceritakan kepadanya. Tidak ada satupun yang meleset dan Leana sendiri tidak merasa perlu menambahkan hal lain lagi dalam penjelasannya.


Iscan dan Hardie yang mencermati cerita tersebut hanya terdiam seakan mencoba untuk mencerna informasi yang di dapatkannya.


Dengan ragu, Iscan membuka suara.


"Nyonya, jika hal ini benar, apakah itu artinya…"


"Ingatan ini juga terbatas pada pandangan saya saja. Di kehidupan pertama, saya sudah berjalan terlalu jauh untuk melihat kembali dan membenarkan kesalahan saya." Ujar Leana.


Ia juga melihat informasi yang tidak diketahuinya dari buku novel yang dibaca Riana, namun ia tidak dapat menceritakan hal tersebut kepada siapapun.


"Pada sat itu, saya yang tidak tahu apa-apa hanya terus berjalan maju tanpa ingin mengetahui kenyataan yang ada. Pada akhirnya saya melukai kalian dan para penghuni dari Grandall." Tambahnya.


"..."


"Meski begitu dengan diberikannya kesempatan ini, saya ingin mengubah dan membayar semua dosa itu. Saya rela untuk meminta permohonan maaf walaupun saya belum melukai kalian saat ini. Yang saya perlukan adalah bantuan dari kalian."


Leana tidak sekalipun melepas matanya dari Iscan dan Hardie. Matanya penuh dengan cahaya permohonan dan ambisi yang dapat terlihat jelas oleh orang lain.


"Saya sudah bertekad untuk hidup dengan dan untuk Grandall. Saya juga ingin berjuang mempertahankannya dengan menghindari perang dunia yang akan datang."


"Oleh karena itulah…" Iscan dan Hardie kembali dikejutkan dengan sosok Leana yang menundukan kepalanya kepada mereka. Mencoba untuk menyatakan perasaannya lebih dalam dari siapapun.


"Saya mohon, pinjamkan saya kekuatan anda!"


Keduanya panik dengan tindakan Leana dan segera menyuruhnya untuk mengangkat kepalanya namun Leana sendiri tidak memiliki keberanian untuk mengangkat kepalanya hingga mendapatkan jawaban dari mereka. 


Dari keduanya, suara lembut Iscan lah yang pertama kali terdengar.


"Nyonya, tolong angkatlah kepala anda."


Leana perlahan mengangkat kepalanya dan mendapati Iscan serta Hardie tersenyum simpul ke arahnya.


"Saya mengerti perasaan anda. Sebenarnya saya masih belum sepenuhnya percaya, tapi pada dasarnya sudah banyak bukti yang tersebar di sekitar anda."


Bagaimana Leana selalu bertindak sendirian menuju bahaya. Bagaimana ia menyuruh dirinya untuk pergi meninggalkan majikannya.


"Seperti permintaan anda, saya akan ikut dalam misi penaklukan kali ini. Tetapi…"


Iscan memasang ekspresi khawatir, begitu juga dengan Hardie.


"Siapa yang akan menjaga anda, nyonya? "


Pada misi penaklukan labirin di Orzxenberg, tidak hanya mengirim sebagian besar bayangannya termasuk Adde, Leana juga mengirimkan sisa bayangan lain untuk mencari sesuatu untuknya.


Dengan kepergian Iscan dan bayangan Alphiella, Leana akan ditinggal tanpa ada yang menjaganya.


"Kalau begitu biarkan saya yang menggantikan Iscan menjaga anda."


Iscan dan Leana terkejut dengan pernyataan dari Hardie.


"Tapi Hardie, bukankah kau sudah direkomendasikan ke tim inti dan akan ikut dalam misi kali ini?" tanya Leana.


"Sejujurnya saya juga tidak yakin dengan kemampuan saya dalam misi penaklukan ini. Tetapi jika nyonya melihat potensi dari Iscan dan merekomendasikannya, maka saya dengan senang hati bertukar posisi dengannya untuk sementara waktu. Tentu saja untuk saat ini saja."


"Hardie…" Iscan tertegun. Ia tidak permah menyangka bahwa Hardie memiliki pemikiran seperti itu.


Namun kata-kata selanjutnya memecah gambaran bagus yang baru saja dibuatnya.


"Sebagaimana saya adalah orang yang baru bergabung, bukankah akan lebih baik jika ada yang memantau dan membuktikan bahwa saya dapat dipercaya?" Ujar Hardie.


"Hardie…" Kali ini Iscan mengernyit melihat


tingkah rekannya.


Leana tertawa pelan melihat interaksi antar keduanya. Sekali lagi ia berpikir bahwa mereka benar-benar teman yang dekat.


Mengingat kembali bagaimana sikap Iscan yang berubah setelah menggantikan Weiss, ia tidak dapat membayangkan jika keduanya tidak sedekat sekarang.


“Tenang saja, tuan Iscan. Saya berencana untuk mengirim sebagian besar bayangan Alphiella termasuk Adde untuk membantu anda selama misi tersebut.” ujar Leana.


“Bayangan?” tanya Hardie dengan kebingungan.


“Bayangan adalah seseorang yang bekerja di dunia bawah seperti pembunuh bayaran namun pekerjaan bayangan lebih mengutamakan informasi dibandingkan dengan nyawa.” jelas Adde.


“Benar kata Adde. Saat ini hampir seluruh penghuni mansion Alphiella adalah anggota bayangan. Saat sebagian besar pergi membantu Pilar Rantai Ungu, sebagian kecilnya memiliki tugas masing-masing yang perlu dipenuhi.” ujar Leana.


“Sebelum kepergian anda, Adde akan menyiapkan keperluan berkomunikasi dan keperluan lainnya yang anda butuhkan. Jika anda memiliki waktu luang, akan lebih baik jika anda mengetahui lebih dalam anggota bayangan.” tambahnya.


“Saya mengerti nyonya.” jawab Iscan.


“Adde, tolong siapkan keperluan untuk menulis surat. Nanti saya akan segera mengirimkan surat rekomendasi kepada Forde.”


“Serahkan pada saya, nyonya.” jawab Adde.


“Tuan Hardie. Maafkan saya yang mengambil kesempatan anda dalam misi ini.”


Hardie menggelengkan kepalanya.


“Tidak masalah nyonya. Sudah bagian dari tugas kami untuk menjaga keselamatan anda.” jawab Hardie.


Leana mengangguk dan saat ia menoleh ke arah Iscan, ia sudah menaruh tangan kanannya di dada kirinya. Pandangannya yang lurus menatap tajam kepadanya dengan penuh ambisi kuat.


“Nyonya Leana, saya bersumpah dan berjanji akan membawa kembali Marquis serta pasukan Grandall lainnya kepada anda.”


Hatinya sedikit sakit dengan kata-kata tersebut. Leana kembali menginngat ketakutannya akan misi penaklukan kali ini.


Menjaga ketenangannya, Leana pun menjawab.


“Tentu saja, itu termasuk untuk anda, tuan Iscan. Saya berdoa untuk keselamatan dan kelancaran misi ini.”


“Terima kasih banyak, nyonya.”


***


Tiga hari kemudian, upacara pelepasan diadakan di lapangan istana. Dari sana, Lima Pilar akan berjalan keluar melewati ibukota hingga perbatasan gerbang utama.


Leana melihat upacara itu dari kejauhan. Ia menatap Lima Pilar, terutama Pilar Rantai Ungu, dengan termenung.


Pagi ini, ia berangkat ke istana bersama Forde dengan menggunakan kereta kuda. Keduanya terus berpegangan tangan dan tidak satupun dari mereka ingin lepas dari kehangatan masing-masing.


Sampai pada waktu berpisah pun keduanya tidak mengutarakan satu kata pun kecuali pelukan terakhir mereka.


Yang paling terakhir terlepas dari Leana adalah jemari Forde yang mengelus antingnya sebelum akhirnya berjalan pergi menuju lapangan.


Berdiri di balkon istana sendirian, Leana melipat kedua tangannya di depan dada dan meremas syal yang tengah dipakainya.


Matanya tak henti menatap sosok suaminya dari belakang. Melihat bagaimana mantel pemberiannya digunakan oleh Forde pada misi ini, ia hampir saja tidak dapat menahan dirinya.


Pada akhirnya, ia tidak dapat sepenuhnya menghilangkan rasa cemas di benaknya.


“Sepertinya kondisi anda sudah lebih baik.”


Leana melirik ke sampingnya dan mendapati Eclipse berjalan mendekatinya.


Eclipse tersenyum ramah ke arah Leana sembari mengayunkan satu tangannya. Leana menatapnya dengan kesal dan kembali menaruh pandangannya pada lapangan upacara.


Eclipse hanya dapat mendengus pasrah sembari tersenyum dan berdiri ke sampingnya, ikut memperhatikan upacara pelepasan yang tengah berlangsung.


Keduanya terdiam merasakan sejuknya angin yang berhembus melewati mereka. Dalam keheningan Leana akhirnya membuka suara.


“Bukankah anda harus bersiap ikut dengan mereka?” tanya Leana dengan dingin.


“Sayang sekali saat ini tangan saya sudah penuh. Saya akan menyusul mereka dalam beberapa hari.”


Leana menatap pasukan Pilar Jubah Hitam yang diwakili oleh wakil komandan Scheregraff Dopman yang tengah memimpin pasukan.


“Apakah ini soal Duke Leon?”


“Urusan saya tidak hanya berputar padanya, nyonya. Sebagai mata dan telinga Kaisar, banyak permintaan yang perlu dipenuhi.”


Sebagai seorang Grand Duke, Eclipse Volfelance memiliki hubungan kuat dengan keluarga kaisar.


Buyut dari kediaman Volfelance merupakan saudara dari pihak Kaisar terdahulu. Dengan menyerahkan hak sahnya sebagai kandidat Kaisar, Volfelance membantu pihak kekaisaran dengan kekuatan dan kesetiaannya.


Sampai saat ini pun kedua belah pihak memiliki hubungan yang cukup harmonis.


Eclipse yang melihat rekannya tengah menatap sendu lapangan upacara pun membuka pembicaraan dengan niatan untuk menghiburnya.


“Yang khawatir akan kepergian orang tersayang mereka tidak hanya anda, nyonya. Keluarga mereka yang pergi dalam misi ini juga sama seperti anda. Rasa gundah yang terus berputar dipadukan dengan kekhawatiran dan keraguan. Kita semua begitu.”


"Metafora yang menyedihkan."


Tentu saja Leana mengetahui itu. Oleh karena itulah ia tidak bisa bersikap egois dengan menahan Forde yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga perdamaian dunia dari fenomena labirin.


Ia tahu ia tidak cemas sendirian, namun ia tidak dapat menghentikan perasaan tersebut.


Leana menutup matanya. Ia mengerutkan keningnya seakan sedang membayangkan sesuatu.


"Pada akhirnya, meskipun anda telah menceritakan mengenai apa yang terjadi di kehidupan anda, saya tidak dapat sepenuhnya memahami perasaan anda."


Eclipse menatap pasukan yang berbaris rapi. Ia menatap wakil komandannya yang sedang berfokus pada sang Kaisar dihadapannya.


"Saya bukanlah anda. Saya bisa membantu anda tetapi saya tidak dapat menyelamatkan anda. Yang bisa menyelamatkan anda hanyalah diri anda sendiri."


Eclipse menoleh pada langit biru yang meluas tanpa adanya sedikitpun noda awan. Ia merasa luas dan bebas namun kakinya yang menapak di tanah seakan membelenggunya.


Melihat Lima Pilar bergerak meninggalkan istana, Leana merasakan panas di matanya. Eclipse pun menutup mata Leana dengan tangannya tanpa menyentuhnya.


"Sepertinya anda lelah karena terlalu banyak pikiran, bagaimana jika anda beristirahat terlebih dahulu?"


Tidak membuka suara, maupun menepis tangan Eclipse di depan matanya. Leana hanya terdiam seperti patung.


"Bukankah anda punya hal yang yang sedang anda cari?"


"..."


Benar. Ia masih punya satu hal lagi yang harus dilakukan untuk menghadapi perang dunia.


Ia harus menemukannya yang merupakan kunci keberhasilan untuk memenangkan perang besar ini.


Leana meninggalkan tempat itu tanpa menoleh kembali. Ia bahkan tidak menghiraukan sang Grand Duke yang mencoba untuk menghiburnya.


Eclipse pun mendengus pasrah dan tersenyum.


"Kalau sudah begini, saya tidak tahu apakah anda sedang berakting atau tidak, nyonya Leana."