
Kini Forde memiliki suatu masalah yang belum pernah ia hadapi seumur hidupnya.
Ia seharusnya menjalankan hari-harinya seperti biasa namun kali ini Ia merasa seakan kekurangan sesuatu dan tidak mengetahui apa itu.
Masalah ini muncul tidak lama setelah ia dan istrinya saling bertukar hadiah. Awalnya ia pikir mungkin masalah yang terjadi dikarenakan hadiah tersebut, oleh karena itu ia membawanya dan menyimpan di dekatnya. Tetapi sepertinya masalahnya bukan berasal dari sana.
Sampai beberapa hari berlalu pun, Forde masih tidak tenang karena masalah tersebut. Ia menjadi sedikit tidak fokus menjalankan pekerjaannya dan memiliki mood yang buruk karena sesuatu mengganjal dibenaknya.
Apa yang ia harus lakukan dengan masalahnya ini. Ia terus mencoba menyelesaikannya namun tidak berhasil.
Albert menatap aneh majikannya yang terus memasang muka kesal di mejanya dan kemudian membuka mulut.
“Tuanku, apakah anda sedang merasa buruk?”
“Kenapa kau bertanya begitu?” Forde menatapnya kesal dan Albert dengan hati-hati melanjutkan.
“Ekhm, sebenarnya sedari kemarin saya penasaran karena suasana hati anda sepertinya sedang tidak bagus.”
Forde tidak menghilangkan kerutan di dahinya mendengar pernyataan dari Albert. Sepertinya masalah yang dimilikinya lebih buruk dari yang ia kira.
“Haa… Kau tidak salah…”
“Apakah ada suatu masalah yang anda pikirkan?”
“Lebih tepatnya aku merasa tidak tenang namun aku juga tidak tahu kenapa sekarang seperti ini.”
Forde menghela napas kesal. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana rasanya menyingkirkan keganjalan tersebut.
Albert memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin saja membuat majikannya seperti saat ini, namun yang ia ingat hanyalah perubahan yang sangat signifikan terjadi beberapa hari lalu.
“Saya juga tidak mengerti. Saya pikir keadaan anda sudah membaik beberapa hari lalu.” Forde menatap aneh Albert.
“Apa maksudmu?”
“Tidak kah anda ingat? Saat anda di kamar berdua dengan nyonya?” Forde mengernyit marah.
“Maksudmu keadaanku sekarang karena istriku?”
Albert segera membenarkan kata-katanya.
“Bukan, tuanku! Justru sebaliknya! Bukankah kondisi anda sempat membaik setelah bersama nyonya?”
Albert dapat mengingat dengan jelas bagaimana Forde terlihat sangat segar bugar saat keluar bersama dengan Leana dari kamar mereka.
Dugaannya, majikannya tersebut sepertinya telah mendapatkan istirahat yang sangat bagus pada saat itu.
Forde ikut memikirkan kejadian tersebut.
“Kalau diingat lagi, ada benarnya juga. Saat itu, tubuhku terasa sangat ringan dan segar, tidak seperti biasanya.”
“Mungkin saja hal tersebutlah yang berkaitan dengan nyonya!” ucap Albert dengan semangat. Forde berkedip beberapa kali.
“A, apakah begitu?” Albert mengangguk cepat.
“Saya dapat pastikan, tuanku! Saya belum pernah melihat wajah anda seperti itu sebelumnya!”
Melihat reaksi Albert yang berlebihan, Forde terdiam. Jika kejadian saat itu membuahkan hal positif, lalu apa yang sekarang sedang ia rasakan?
Tok Tok
“Tuanku, saya datang membawakan kabar.”
Albert segera berjalan ke pintu dan berbicara dengan seseorang dibaliknya. Tidak lama ia menoleh ke arah Forde.
“Tuanku, sepertinya pesanan anda telah sampai. Saya akan mengambilnya di pintu masuk jadi saya akan izin sebentar.”
“Aku mengerti.”
Dengan izinnya, Albert pergi meninggalkan ruang kerja. Forde kembali melanjutkan pekerjaanya dengan perasaan resah. Tidak lama kemudian ketukan pintu kembali terdengar.
“Masuk saja.” Ucap Forde tanpa menoleh dari dokumen di
hadapannya.
“Forde, ini aku Leana.”
Forde menghentikan tangannya dan menatap kearah pintu yang perlahan terbuka, memunculkan sosok istrinya dari sana.
“Maaf apakah kamu sedang sibuk?” tanya Leana dengan
malu-malu.
“Tidak, aku baru mau saja istirahat.”
Forde segera bangun dari kursinya dan berjalan menuju sofa. Leana masuk dan menaruh lembaran dokumen yang dibawanya ke meja. Ia menyadari bahwa Forde terus menatapnya.
“Apakah ada sesuatu di wajahku?”
Forde tersentak dan mengelus tengkuknya seakan mencoba mengalihkan keresahannya. “Tidak ada apa-apa.”
“Begitukah?” Leana berkedip bingung melihat sikap Forde yang sedikit aneh namun ia tidak menghiraukannya. Setelah selesai dengan urusannya, ia segera bersiap untuk pergi.
“Aku hanya ingin memberikan dokumen ini, jadi aku akan segera pergi.”
“Tunggu, Leana.”
Ia menoleh kearah Forde yang bergerak gelisah. Leana sedikit memiringkan kepalanya.
“Forde?”
Saat Leana memanggil, Forde pun mengulurkan tangannya.
“Leana, kemarilah. Ada sesuatu yang ingin ku pastikan.”
Masih dalam kondisi bingung, Leana perlahan berjalan ke arah Forde. Saat tangannya menyentuh tangan Forde, ia ditarik dengan kuat hingga jatuh ke pangkuan suaminya.
“Forde?!”
Forde dengan segera melingkarkan tangannya di badan Leana dan terdiam. Leana yang tidak mengetahui apa yang terjadi semakin dibuat panik saat pelukan Forde semakin erat.
Apakah mereka akan mengulang kejadian tempo hari?!
Dengan wajahnya yang terbenam di punggung Leana, ia dapat mendengar degup jantung Leana yang berpacu di telinganya.
Ditangannya, ia merasakan suatu kenyamanan yang perlahan mengisi dadanya. Forde tersenyum dan tertawa kecil.
Ia akhirnya mengetahui masalah yang dihadapinya.
“Hahaha… jadi begitu ya.”
“Anu, bisa jelaskan apa yang terjadi?”
Tawa Forde semakin terdengar dan kehangatan di punggung Leana semakin meningkat.
“Maaf Leana. Sepertinya aku telah membuat kebiasaan
baru.”
“Kebiasaan baru??”
Forde menatap Leana dengan ekspresi serius. Sipu disisi pipi Forde menarik perhatiannya. Pada saat itu ia menyadari bahwa kedua mata Forde yang memiliki keindahan hijau lautan itu sebuah memiliki lipatan di ujung matanya. Menambah pesona yang makin membelenggu dirinya.
“Sepertinya aku merasa resahh jika tidak memelukmu.”
“Maaf, apa?!”
Leana terkejut dan wajahnya makin memerah seperti kepiting rebus.
“Jadi mulai sekarang, setidaknya sesekali, izinkan aku untuk memelukmu seperti ini.”
Leana segera memegang pundak Forde dan menarik tubuhnya menjauhi Forde. Tetapi Forde menahannya.
“Tidak, bukan itu! Kenapa bisa jadi begitu?!”
“Bukankah sudah kubilang bahwa aku membuat kebiasaan baru?”
Forde menatap Leana dengan sedikit memelas. Sepertinya Forde mulai belajar untuk membuat Leana menyerah kepadanya.
“Leana, memelukmu membuatku menjadi tenang.”
“???”
Leana merasa ia baru saja membuka sesuatu yang baru di belakang kepalanya. Ia menatap bingung Forde yang di mana semakin hari ia menemukan sikap dan kebiasaannya yang semakin aneh.
Forde menyenderkan kepalanya di pundak Leana dan memeluknya dengan lembut. Merasakan tubuh Leana yang melemas, ia kembali mendorong permintaannya.
“Tolong, Leana.”
Melihat kepala Forde yang berada dekat di depan matanya, tangannya menjadi gatal untuk mengelus rambut hitam miliknya. Perlahan tangannya mendekat untuk meraih helaian rambut tersebut namun ia juga menahan diri.
Ia membayangkan seekor kucing besar yang tengah memohon dengan mengeluskan kepalanya dengan lembut. Sungguh taktik yang sangat kejam.
“A-Aku mengerti. Setidaknya jika kita berdua saja.”
Leana menyerah dan mulai mengelus kepala suaminya. Ia kembali terkejut dengan perasaan berharga yang meluap dalam dadanya. Di belakang hatinya, ia ingin memeluk kepala itu.
“Tuanku, saya membawakan pesanan anda…ah!”
Tangan Leana segera memegang pundak Forde lagi untuk melepaskan diri, tetapi pelukan Forde malah semakin erat hingga ia semakin sulit untuk bergerak.
Dengan panik bercampur malu, matanya bertemu dengan Albert yang berdiri diam di depan pintu dengan ekspresi terkejut.
Leana yang ingin kabur masih berusaha untuk keluar namun Forde yang kesal karena tindakannya tersebut segera mengangkat wajahnya dan menatap kesal Albert karena mengganggu waktu berharganya.
Albert yang tersentak dengan tatapan Forde segera membenahi dirinya dan bergerak cepat menaruh barang yang dibawanya ke meja. Kakinya dengan cepat kembali membawanya ke pintu.
“Saya akan segera pergi. Jika ada sesuatu saya akan ada di luar. Maaf telah mengganggu.”
Albert pun kembali menghilang dari ruangan tersebut. Forde yang berencana untuk kembali menyenderkan kepalanya pada Leana segera dihentikan.
“Forde, suamiku! Bukankah barang yang kamu pesan sudah datang? Mari kita buka!” seru Leana, mencari cara untuk lepas dari posisi mereka.
Forde menatap Leana dengan tidak puas namun ia menyerah dan melepaskan Leana. Saat Leana duduk di sebelahnya, Forde meraih kotak besar di meja tamu dan membukanya.
Di dalamnya terdapat sepasang kapak berwarna hitam dengan ujung belatinya yang berwarna biru.
“Ini… kapak?”
“Benar. Ini adalah senjata andalanku.”
“Senjata?”
Leana tidak mengingat Forde menggunakan kapak saat bertarung. Seperti yang lainnya, Forde biasanya bertarung musuhnya menggunakan pedang.
“Aku tidak pernah memberitahumu tapi sebenarnya Grandall mempunyai kekuatan unik secara turun temurun.”
“Kekuatan unik?”
Grandall adalah marga yang dibuat oleh Forde sendiri. Berarti yang dimaksud dengan turun menurun berasal dari keluarga asalnya, Dianas.
“Ada cerita yang diturunkan sejak dulu.”
Cerita mengenai bagaimana setiap anak yang lahir dalam keluarga Grandall (Dianas) akan hidup sebagai rakyat biasa jauh dari bangsawan pada masa kecilnya.
Ini adalah suatu bentuk ujian agar penerus dari keluarga dapat mencari kekuatan sejatinya.
Kisah ini menceritakan salah satu generasi yang dimana anak yang terlahir adalah laki-laki pada saat itu. Ia tinggal berdua saja dengan ibunya sebagai rakyat jelata jauh dari para bangsawan. Meskipun tidak mewah, keduanya hidup dengan bahagia.
Anak laki-laki tersebut selalu membantu ibunya setiap hari mencari kayu bakar untuk mereka dan juga untuk dijual.
Suatu hari desa mereka di serang oleh kumpulan monster dan salah satunya datang ke rumah mereka. Dengan menggunakan kapak yang biasa digunakannya untuk memotong kayu, ia berhasil mengalahkan monster tersebut.
Saat bantuan datang, anak tersebut telah membantu para warga mengalahkan setengah monster yang menyerang desa mereka. Disaat itulah anak itu menemukan kekuatan sejatinya.
Tidak lama ayah anak tersebut datang menjemput ia dan ibunya kembali ke rumah mereka yang sebenarnya.
Dengan kemampuan uniknya, anak itu tumbuh menjadi seorang kesatria yang bijak dan tidak terkalahkan oleh siapapun.
“Dahulu itu adalah cerita yang selalu diceritakan oleh ibuku. Cerita ini juga merupakan sebuah tradisi yang seharusnya dilakukan di setiap generasi namun tradisi ini sempat terhenti pada generasi kakekku.”
Pada saat itu nenek Forde memiliki tubuh yang lemah dan semenjak kelahiran anak keduanya, keadaannya semakin memburuk.
Karena kondisinya itu mereka tidak dapat menjalankan tradisi keluarga yang menurun itu.
Saat Forde terlahir pun, alasan mengapa ayahnya tidak menjalankan tradisi tersebut adalah karena ia tidak mau melepas istrinya, ibu Forde.
“Sebagai gantinya, ayahku memberitahukan rahasia dalam mendapatkan kekuatan unik itu dan ibuku selalu menceritakan sejarah dan tradisi yang perlu diketahui.” Jelas Forde.
Forde kembali bernostalgia mengenai masa kecilnya di Dianas namun sebagian besar kehidupannya yang dipenuhi dengan arus itu memberikan warna baru untuknya.
Meskipun tidak seperti yang ada dalam cerita, kehidupannya di luar Dianas bisa terhitung sebagai menjalankan tradisi tersebut karena ia telah hidup bukan sebagai bangsawan.
Leana mendengarkan cerita Forde dengan serius. Karena penasaran, perlahan tangannya meraih kapak dihadapannya namun tangan Forde mengambil tangan tersebut dan mengganti dengan dirinya.
Dengan mudah Forde mengambil kapak yang terlihat berat itu dan mencoba mengayunnya seakan mengetesnya.
Ia kemudian mendekatkan kapak tersebut ke dekat telinganya dan kapak itu pun menghilang dengan cahaya kehijauan yang muncul.
“Ini adalah cara untuk menyimpan barang dalam krital. Cukup kamu dekatkan hingga menyentuh, setelah itu barang yang ingin disimpan akan terserap masuk ke dalam batu kristal.” Jelas Forde sambil menyentuh anting di telinga kirinya.
Melihat gerakan Forde, Leana tanpa sadar menyentuh antingnya juga.
“Kapak ini cukup tajam jadi kuharap kamu tidak sembarangan menyentuhnya.”
Forde memasukan kapak lainnya kedalam antingnya dan mendekatkan tangan Leana untuk menyentuh antingnya.
“Kamu tidak perlu khawatir, anting ini tidak akan terasa berat meskipun terdapat benda di dalamnya. Kamu mengerti?”
Forde mendekatkan tangan Leana ke wajahnya dan mengelus pipinya. Leana dengan malu mengangguk cepat.
Forde tersenyum puas dan mencium tangannya kemudian melepasnya. Wajah Leana merah hingga ke telinganya.
“Sepertinya aku menahanmu cukup lama. Kamu masih ada pekerjaan, bukan?”
“Ah, iya, benar juga! Kalau begitu aku akan segera pergi!”
Leana segera tersadar dan bergerak cepat pergi dari ruang kerja. Forde kembali tertawa melihat kelucuan tingkah istrinya itu dan kembali menjalankan pekerjaannya.