This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
The Empress



“Kalau begitu bagaimana kalau Marquis dan Marchioness menetap di istana untuk sementara?” ucap Kaisar dengan wajah berseri.


Leana mengedipkan matanya beberapa kali.


“Apa?”


Tanpa sengaja ia mengeluarkan isi hatinya.


Leana berharap ia hanya salah dengar tetapi apa yang terjadi saat ini adalah kenyataan.


Ia sedang tidak ingin menetap dimanapun dan segera kembali ke Alphiella dan mempersiapkan rencananya.


Tetapi tawaran ini diberikan secara langsung oleh sang Kaisar. Dengan suasana hati yang sangat baik. Leana merasa tidak bisa menolaknya.


“Saya ingin membicarakan rencana kedepannya sebelum mengambil keputusan lebih lanjut, jadi akan lebih baik kalau anda tinggal untuk sementara waktu.”


Leana menutup mulutnya rapat. Ia semakin tidak dapat menolak tawaran dari sang Kaisar.


Melihat istrinya yang kesusahan, Forde akhirnya membuka suara.


“Yang Mulia, terima kasih atas tawaran anda tapi kami–”


“Yang Mulia, bagaimana kalau Marquis dan Marchioness menetap di kediaman Volfelance saja? Kami sudah beberapa kali berkunjung ke tempat saya jadi seharusnya hal tersebut tidak membuat mereka canggung.”


Forde memicingkan matanya kepada Eclipse yang memotong kata-katanya. Leana juga melakukan hal yang sama seperti suaminya untuk alasan yang berbeda.


Keinginan terpendamnya untuk memukul Eclipse yang sudah lama terkubur seketika bangkit dari kuburnya.


Semenjak kemunculannya, ia mempertanyakan peran Eclipse di ruangan ini yang sedari tadi sama sekali tidak membantunya dan hanya memperhatikan mereka dalam diam.


Leana menoleh kepada Forde yang juga menatapnya. Matanya berkata seakan ia diperbolehkan untuk menolak tawaran dari sang kaisar tetapi pada kenyataannya ia terlalu takut untuk melakukan hal tersebut.


Kaisar mengibaskan tangannya.


“Tidak perlu, Grand Duke. Saya yakin istri dan putri saya akan senang bertemu dengan Marchioness. Lagipula saat ini keduanya adalah tamu penting.”


Leana menatap sang Kaisar dengan suram. Ia resmi tidak dapat menolak tawaran dari sang Kaisar.


“Yang Mulia, saya menghargai tawaran anda tetapi kami tidak bisa menetap.” Ucap Forde.


Leana pun berseri saat Forde berdiri menggantikannya.


“Kenapa? Kediaman Grandall cukup jauh dari istana. Saya akan memerlukan bantuan Marchioness agar dapat bertemu dengan sang penjaga labirin sihir. Selain itu Lima Pilar juga nantinya akan lebih sering mengadakan pertemuan dengan topik yang sama. Benar, bukan?”


Kaisar menatap Forde dan Eclipse bergantian kemudian menyeringai.


Leana mulai merasa bahwa sang kaisar tidak akan melepas mereka dengan mudah.


“Selain itu saya akan sering memanggil kalian berdua untuk datang ke istana, jadi akan lebih baik jika kalian menetap hingga urusan ini selesai. Ini adalah urusan penting yang akan mempengaruhi dunia dan kalian sangat diperlukan dalam hal ini.”


Leana menghela napas. Jika sang Kaisar sudah sampai sejauh ini, Ia tidak punya pilihan lain selain menerima tawarannya.


Ia menggelengkan kepalanya kepada Forde dan dibalas dengan anggukan. Forde mengeratkan genggaman tangan mereka.


“Baiklah, Yang Mulia. Saya menerima tawaran anda untuk sementara waktu.”


Kaisar melebarkan senyumannya. Sepertinya ia sangat puas dengan jawabannya.


“Baguslah. Saya akan segera menyiapkan ruangan kalian. Sementara itu silahkan menunggu di ruang tunggu.”


“Terima kasih, Yang Mulia.”


Kemudian mereka pun mengakhiri pertemuan tersebut dan keluar dari ruang singgasana. Eclipse berjalan mendekati Leana dan Forde dengan senyum yang sedikit muram.


“Sayang sekali anda menolak ajakan saya, nyonya Leana. Saya pikir anda berdua akan lebih nyaman jika berada di Volfelance.” ucap Eclipse.


Leana menatap Eclipse dengan kesal.


”Saya sejujurnya tidak berencana untuk menetap di istana dan kembali ke Alphiella, tetapi saya memiliki solusi untuk masalah itu.”


“Ah…”


Mengerti apa yang dimaksud oleh Leana, Eclipse punt idak bertanya lebih jauh.”


“Jika memang begitu, sepertinya anda memang tidak perlu bantuan saya. Kalau begitu saya akan permisi duluan. Tuan Forde, besok Lima Pilar akan berkumpul untuk membahas jadwal baru, jadi sampai bertemu lagi nanti.”


Eclipse melambai kepada mereka dan berjalan pergi.


Tidak lama pelayan pun datang dan mengantarkan mereka jalan ke ruang tunggu.


Istana memang sangatlah megah. Mereka melewati taman yang luas dan indah sebelum akhirnya sampai di ruang tunggu.


Setelah para pelayan menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk keduanya, pelayan yang mengatar mereka pun maju menghadap mereka.


“Marquis, Marchioness, silahkan nikmati waktu anda. Kami akan segera menyiapkan ruangan anda. Jika ada sesuatu, pelayan akan berada di luar ruangan.”


Saat Forde mengangguk, pelayan tersebut meninggalkan keduanya. Kepergian pelayan tersebut menyisakan keheningan diantara keduanya.


Leana diam-diam sesekali melirik ke arah Forde. Jemarinya dengan resah bermain satu sama lain.


"Ada apa, Leana?"


"Eh?! Uh... Itu..."


Leana terkejut saat Forde dengan serius menatapnya.


"Maaf sudah seenaknya membuat keputusan..."


"Tidak masalah. Sedari awal aku sudah bilang semua keputusan ada padamu. Aku hanya membantu saja." ucap Forde. Ia mengesap tehnya dengan tenang.


Leana tersenyum mendengar jawaban suaminya dan keresahannya pun menghilang.


"Terima kasih, Forde."


Leana merasa terlalu banyak hal bagi dirinya untuk berterima kasih kepada Forde hingga ia tidak dapat menghitungnya.


Kembali kepada ketenangan masing-masing, Leana memikirkan kondisi mereka saat ini.


Terkadang ia bersyukur bahwa saat ini ia hidup sebagai bangsawan. Karena jika terjadi rencana untuk menetap yang tiba-tiba, ia tidak harus kebingungan memikirkan pakaian dan juga perlengkapan.


Para bangsawan biasanya sudah menyiapkan kebutuhan tamunya jika diperlukan dan Leana bersyukur pada hal tersebut.


Setidaknya bagi dirinya saat ini, selama ada Forde dan juga antingnya, tidak ada yang perlu ia khawatirkan.


Ia sebelumnya bahkan tidak menyadari hal sesimpel itu.


Saat Forde tertawa kecil sendirian, Leana menjadi heran.


"Ada apa, Forde?"


"Tidak, hanya saja..."


Leana tertegun saat ia menatap langsung kepada mata gioknya. Ia tidak pernah sekalipun berhenti berpikir bahwa mata itu seperti batu permata yang berisikan lautan.


"Aku senang karena kamu terlihat serius menatap kepadaku."


Leana seketika memerah. Ia tidak menyangka bahwa sedari tadi ia menatapi Forde tanpa henti. Ia segera menutup mukanya.


"Marquis, Marchioness, ruangan anda sudah siap. Mari ikuti saya--"


"Aah! Ruangannya sudah selesai! Ayo kita segera pergi!"


Leana segera bangkit dan pergi keluar ruangan sendirian dengan tergesah-gesah.


Forde kembali tertawa kemudian berjalan menyusul Istrinya.


***


Semenjak membuka diri kepada Forde, ia selalu mencoba untuk berpikir positif dan tidak berpikir berlebihan. Namun ada kala pemikirannya yang berlebihan itu menjadi kenyataan hingga menggetarkan resolusinya.


Begitu pula dengan situasinya saat ini, dimana sang Permaisuri tengah duduk di depannya sembali mengesap teh dengan anggun.


Jika ditanya mengapa sang permaisuri tengah berada di hadapannya, sejujurnya Leana juga ingin mengetahui mengapa hal tersebut bisa terjadi.


Ia pikir perkataan sang Kaisar mengenai permaisuri dan putri mahkota yang akan senang bertemu dengannya hanyalah gurauan belaka tetapi nyatanya hal tersebut adalah kebenaran.


Ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Permaisuri secara langsung dikehidupan pertamanya. Ia sealu melihat sosoknya sebentar saat datang di pesta yang diadakan oleh keluarga Kaisar.


"Marchioness, apakah anda merasa tidak nyaman?"


"T-Tidak, Yang Mulia Permaisuri. Saya baik-baik saja."


"Tidak perlu gugup begitu. Saya tidak akan menggigit anda. Saya hanya ingin berbincang dengan anda." ujar Permaisuri.


Leana menjaga senyumannya. Ia sedikit canggung dengan kebaikan Permaisuri yang mencoba untuk memecah suasana.


Leana dan Forde kembali ke Grandall pada malam setelah pertemuan mereka dengan sang Kaisar dan kembali dipagi harinya.


Forde yang harus menghadiri rapat Lima Pilar pergi di siang hari meninggalkan Leana. Saat berpikir untuk berteloportasi ke Alphiella, dayang Permaisuri datang dan membawa undangan minum teh kepadanya siang itu juga.


Ia cukup panik dengan undangan tersebut hingga akhirnya ia tidak dapat menolak danmenerima undangan tersebu. Kini ia sedang minum teh, berbincang dengan Permaisuri yang tidak pernah ia temui secara langsung.


Bagi wanita bangsawan di kekaisaran ini, mendapatkan undangan dari Permaisuri adalah suatu kehormatan yang dapat dibanggakan, namun entah kenapa Leana tidak bisa merasa senang dengan hal tersebut.


“Maaf Yang Mulia, saya sudah lama tidak mengikuti acara sosial jadi saya sekarang tidak tahu harus berbuat apa.”


Untuk menunjukan kelemahan adalah tindakan belati bermata dua. Jika salah memilih lawan bicara, maka kelemahan tersebut bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkannya tetapi disaat yang sama untuk beberapa orang hal tersebut bisa digunakan untuk menarik simpati.


Ia tidak pernah menunjukan kelemahannya di kehidupan keduanya sebagai Leana sehingga hampir tidak ada orang yang mengetahui kekurangan yang dimilikinya.


Permaisuri pun tersenyum.


“Oh begitu rupanya. Tidak perlu khawatir, kita bisa membicarakan banyak hal di sini.”


"Ah, iya..."


'Tidak, Pembicaraan apa yang mau dibahas?!'


Leana semakin berkeringat dingin dan mengingat masa-masa Riana bertemu denga bosnya.


Sama seperti saat ini, ia hampir tidak membuka mulutnya sama sekali kecuali menjawab pertanyaan.


"Marchioness, saya mengundamg anda ke sini adalah karena ingin lebih memgenal anda."


"Mengenal saya?"


"Benar. Sosok anda yang belum pernah muncul cukup membuat saya penasaran. Terlebih saya juga mendengar bahwa anda adalah kontraktor dari penjaga labirin."


'Apakah Kaisar bercerita mengenai hal tersebut kepada Permaisuri?'


Leana tidak memyembunyikan fakta bahwa ia telah membuat kontrak dengan Telsia namun ia merasa masih terlalu dini bagi orang luar untuk mengetahuinya.


"Maaf, apakah hal itu seharusnya rahasia?"


Leana tersentak sadar dan segera menyangkalnya.


"Tidak, Yang Mulia! Hanya saja saya berpikir bahwa hal tersebut masih terlalu dini untuk di ketahui, terutama karena hal ini bersangkutan dengan labirin sihir."


'Apakah Permaisuri memiliki ketertarikan akan labirin sihir? Leana bertanya-tanya.


"Begitu ya, saya mengerti. Kalau boleh, bisakah anda berbagi cerita mengenai bagaimana anda bisa bertemu dengan penjaga labirin?"


Dengan wajah penasaran Permaisuri yang penuh rasa penasaran, Leana memutar otaknya. Ia mencoba menyusun cerita buatan untuk menutupi kejadian yang sebenarnya terjadi.


"Yang Mulia, soal itu--"


"Yang Mulia Permaisuri. Tuan putri dan Putra mahkota telah tiba."


Perkataan Leana dipotong oleh pelayan yang tiba-tiba saja datang menyampaikan informasi kepada Permaisuri.


'Tuan putri dan putra mahkota...?'


Leana menoleh kepada Permaisuri dengan ekspresi bingung.


"Ah benar juga. Marchioness, saya ingin anda bertemu dengan Putra mahkota Noel dan juga putri Windelyn."


Masih dengan perasaan kabur, Leana sedikit melebarkan matanya. Ia menatap seorang gadis dan pemuda yang berjalan kearah mereka dengan penuh wibawa.


Wajah keduanya seakan cerminan dari Kaisar dan Permaisuri itu sendiri.


***


Dari kejauhan seorang pelayan wanita berlari ke arah taman. Saat ia melihat sosok wanita cantik dengan rambut keemasan dan gaun berwarna merah muda, ia pun memanggilnya.


“Tuan putri! Permaisuri memanggil anda!”


“Ibu Permaisuri memanggil saya?”


Gadis yang tengah memandangi bunga di taman itu adalah putri mahkota Windelyn Solfilyan. Ekspresinya menjadi cerah dan ia menutup payung yang dibawanya.


“Dimana Ibu Permaisuri sekarang?”


“Yang Mulia sedang minum teh dengan Marchioness Grandall di taman kaca.”


“Marchioness Grandall… Ah!”


Windelyn mengingat cerita mengenai salah satu dayangnya yang merupakan putri tunggal dari Baron Puosca, Elyn Puosca, yang memiliki perasaan kepada Marquis Grandall.


Sosok Marquis Grandall yang misterius dan tidak dapat di dekati diam-diam dikagumi oleh para gadis bangsawan.


‘Aku tidak datang ke pesta perayaan kemenangan, jadi aku tidak mengetahui fakta bahwa Marquis Grandall sudah menikah.’


Ia yang pada saat itu tidak mengetahui bahwa Marquis sudah menikah sempat mendukung perasaan Elyn dan berdoa untuknya. Kini ia tidak tahu harus berbuat apa.


“Antarkan aku kepada ibu Permaisuri.”


“Baik nyonya, silahkan ikuti saya.”


Jarak rumah kaca dari taman tidaklah jauh jadi seharusnya ia tidak perlu khawatir.


Ditengah perjalanannya, ia bertemu dengan kakaknya, putra mahkota Noel Solfilyan.


Mereka bertemu di dua jalur yang berbeda hingga mata mereka dengan mudah saling bertemu.


"Kakak!"


"Windelyn? Apa kamu menuju rumah kaca?"


"Apakah ibu juga memanggilmu?"


Noel mengangguk dan keduanya pun berjalan bersama menuju rumah kaca.


"Kudengar Ibunda Permaisuri sedang bersama dengan tamu penting yang akan menetap di istana." ujar Noel.


"Yang kudengar, Ibu Permaisuri sedang bersama dengan Marchioness Grandall."


"Marchioness Grandall... Maksudnya Marquis Grandall dari Lima Pilar? Aku tidak tahu bahwa Marquis Grandall sudah menikah."


"Aku juga baru mengetahuinya. Sepertinya tidak banyak yang mengetahui mengenai pernikahan mereka. Kakak tidak melihatnya saat pesta perayaan?"


"Aku hadir di hari kedua tapi tidak melihat Marquis di dampingi oleh siapapun. Kudengar di hari pertama ada insiden pemadaman jadi bisa saja Marchioness kembali ke kediamannya dan tidak mengikuti pesta di hari selanjutnya."


"Bisa jadi..."


Sosok Marchioness Gramdall yang tidak pernah mereka temui. Mereka penasaran seperti apakah Maechioness tersebut.


Saat mereka sampai di rumah kaca dan menuju area yang dibuat khusus untuk menikmati pemandangan di sana, dua sosok terlihat tengah duduk sembari menikmati teh mereka.


Permaisuri menyambut keduanya dengan senyuman cerah di wajahnya.


“Kalian akhirnya datang, putra mahkota Noel, putri . Aku ingin kalian bertemu Marchioness Leana Grandall. Ia adalah tamu penting yang akan menetap di istana untuk sementara waktu."


Leana bangkit dari duduknya dan membungkuk menyapa keduanya.


“Selamat siang, Yang Mulia pangeran Noel dan Yang Mulia putri Windelyn. Saya adalah Leana Gramdall. Senang bertemu dengan anda."


“Ah!”


Baik Windelyn maupun Noel tertegun.


Sosok Marchioness yang tidak pernah mereka lihat sangatlah indah hingga mereka kehilangan kata-kata.


Seharusnya umur Windelyn tidak jauh darinya tetapi Marchioness menunjukan aura yang anggun dan kuat seperti ibu mereka, sang Permaisuri. Mata ungunya seakan bersinar seperti permata dibawah cahaya yang menyinarinya.


Windelyn menyadari anting yang berada di telinga kanan Leana. Ia sempat melihatnya pada lukisan yang ditunjukan oleh Elyn kepadanya. Ia dengar anting tersebut adalah benda pusaka milik Grandall.


Melihat bagaimana benda berharga itu diberikan kepada Marchioness, sepertinya ia dapat langsung mengetahui bahwa Marquis sangatlah menyayangi istrinya.


Windelyn pun memutuskan untuk menghibur Elyn saat ia mengetahui kenyataan ini nantinya.