This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Third Phase



Leana masih mengingat bagaimana ia mendengar kabar mengenai kematian mantan suaminya, Forde Grandall.


Tidak. Ia melihatnya secara langsung.


Pada saat itu semua bangsawan tinggi dipanggil ke istana untuk menyambut pasukan yang baru saja kembali dari misi mereka. Seperti biasa, Leana berada disamping Duke Leon sebagai istrinya yang setia.


Ketika para pemimpin pilar yang baru saja kembali memasuki aula, sang Kaisar menyambut mereka dengan pujian dan doa.


Diantara kelimanya, hanya Pilar Rantai Ungu yang datang tanpa ketua mereka melainkan Iscan lah yang datang dengan memegang sesuatu ditangannya. Leana merasakan firasat buruk saat melihat wajah Iscan yang terlalu gelap untuk sambutan meriah tersebut.


Saat sang Kaisar datang kepada Iscan dan memegang pundaknya denga ekspresi sedih. Dari sanalah ia menyadari apa yang tengah Iscan bawa.


Sebuah matel yang digunakan oleh mantan suaminya saat ia pergi dalam misinya. Ia tidak pernah lupa karena ia diam-diam memperhatikannya dari kejauhan.


Ia selalu hadir dalam upacara pelepasan. Tidak pernah sekalipun absen.


Hati Leana seketika seperti tenggelam. Semua suara berhenti seakan waktu terdiam. Semua terasa lambat dan matanya tidak dapat lepas dari mantel tersebut.


Ia rasanya ingin muntah.


Disaat benaknya makin memberat, ia hanya dapat mendoakan ketenangannya yang bahkan ia sendiri tidak memiliki ingatan indah di kehidupannya.


Pada akhirnya, putra kedua pamannya lah yang mengambil alih Grandall dan ia tidak tahu menahu apa yang terjadi setelahnya. Ia terlalu sibuk membantu Duke Leon dalam menyelesaikan rencana terakhirnya.


Saat itu ia tidak tahu kalau yang akan terjadi tidak lama setelahnya adalah karma baginya.


***


Fase ketiga dari rencana Leana adalah menyelamatkan Forde dari takdirnya. Dengan tujuan itulah ia membentuk anggota bayangannya sendiri.


Leana menghela napas lelah. Bahkan setelah bermandikan air hangat, perasaan gundahnya tidaklah hilang. Kecemasan di benaknya hanya menancap lebih dalam seiring berjalannya waktu.


Semenjak kabar mengenai kemunculan labirin di wilayah utara, Leana tidak dapat menenangkan dirinya. Tiap detik terlalu berharga dirasqkannya hingga ia dapat merasakan setiap hal di sekitarnya.


Leana mulai tidak tahu apakah ia terlalu syok atau terlalu banyak pikiran. Ia merasa tidak dapat berdiam diri dan harus melakukan sesuatu.


Ia seharusnya sudah membulatkan tekadnya sedari awal hingga tidak perlu lagi berpikir untuk kedua kalinya mengenai nasib dunia ini.


Leana percaya bahwa ingatannya itu adalah kunci untuk mengubah nasibnya di masa depan. Ia mencoba untuk percaya.


Firasat buruknya dari awal bukanlah karena paranoid. Firasat aneh yang dialaminya setiap kali rencananya berjalan dengan lancar seakan terbuktikan dengan kejadian yang seharusnya terjadi dalam beberapa tahun kedepan mulai terjadi dalam waktu dekat.


Perlahan ia mulai meragukan keputusannya. Semua terlihat kabur. Rencananya, tujuannya, semuanya. Ia mulai kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.


“Nyonya, anda tidak menjawab jadi saya permisi masuk.”


Adde dengan membawa trey memasuki ruangan. Leana yang terlalu sibuk dengan pikirannya tidak menghidupkan sedikit pun penerangan di ruangan tersebut. Terdiam dalam kegelapan dengan tampang berantakannya.


Tanpa terusik, Adde menghidangkan teh hangat dan beberapa camilan. Meski begitu, Leana tidak memiliki nafsu untuk memakannya.


“Tolong setidaknya makan meskipun sedikit. Anda sudah melewati sarapan dan makan siang. Jika anda tidak makan hari ini nantinya anda akan ambruk.” Ujar Adde.


“…”


Leana hanya diam dan terus menatap kosong ke suatu tempat. Ia sedang tidak dalam keadaan untuk mendengarkan ocehan dari Adde.


Leana terlihat sangat pucat, dan sosoknya yang berantakan itu tidak pernah Adde lihat sebelumnya.


Adde saja dapat mengetahuinya dalam sekali lihat sebagaimana semua emosinya terpancar dibalik bola matanya yang menjadi kelam.


“Bagaimana dengan bayangan Alphiella?” tanya Leana dengan lemas.


“Semua berjalan dengan baik-baik saja, nyonya. Saat ini kita memiliki 20 anggota bayangan, 15 diantaranya akan membantu Marquis dari kejauhan seperti yang direncanakan.”


Leana menggigit bibirnya.


Setiap kali ia mendengar bahwa semuanya berjalan lancar, di dalam hatinya ia tahu akan ada sesuatu yang tidak beres kedepannya. Leana terus mengkhawatirkan sesuatu yang tidak pasti dan ia tidak bisa berhenti.


Leana terus terdiam tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dalam keheningan tersebut, Adde mengeluarkan kata-kata yang cukup mengejutkan.


“Nyonya, Apakah anda mau menghentikannya?”


Leana dengan perlahan menoleh kearah Adde dengan mata penuh ketakutan. Adde hanya menatap majikannya itu dengan tenang.


Ketenangan itu terlalu menyakutkan bagi Leana sekarang. Seakan Adde tidak memperdulikan apa yang di deritanya.


Leana perlahan menggelengkan kepalanya dengan mata yang terbuka lebar. Tubuhnya perlahan bergemetar.


Leana tidak bisa berhenti, karena ia tidak punya pilihan untuk berhenti.


Adde mendengus dengan reaksi majikannya itu.


“Kalau begitu setidaknya beristirahatlah. Lihat wajahmu di kaca. Wajahmu itu terlalu menyeramkan.”


Seketika Adde menghentikan tutur kata sopannyadan menggantinya dengan nada sarkastik yang sudah lama tidak ia dengar dengar.


Saat ini Adde sedang berbicara dengan Leana sebagai rekannya. Ia berbicara dengan Rein.


Leana oun menjadi malu kepada dirinya sendiri.


“...aku…”


“Saat ini kau sedang tidak berpikir dengan benar karena syok. Jika kau tidak segera beristirahat maka cepat atau lambat kau akan berubah menjadi orang gila.” Ujarnya tajam.


Leana ingin tertawa, tetapi ia tidak bisa. Ia terlalu menyedihkan untuk hal itu.


“Apa yang kau takutkan?”


Leana meremas tangannya untuk menyembunyikan keresahannya dari Adde.


“Ada aku, anggota bayangan Alphiella, dan juga Grand Duke Volfelance. Apa lagi yang perlu kau takuti?”


Leana tahu itu. Ia kini tidak sendirian. Ia tahu itu.


“Oleh karena itulah, berhenti mengasihani dirimu dan bergeraklah maju seperti yang biasa kau lakukan.”


Leana menahan napasnya saat mendengar nada dingin Adde. Kali ini ia merasakan ketakutan yang berbeda dari apa yang dirasakannya sebelumnya. Ia pernah merasakan hal ini sebelumnya.


Takut kepada Adde? Takut kepada seorang senior?


Tidak. Ia takut untuk melihat dirinya sendiri yang berada dalam keadaan menyedihkan dan tidak ada satu pun di dunia ini yang akan peduli mengenai hal tersebut.


Dunia ini tidak pernah peduli mengenai apapun. Baik itu hal yang menyedihkan, menyenangkan, mengerikan, hingga memuakan. Semuanya terus berjalan seperti tidak ada hal aneh yang terjadi.


Tidak akan ada yang mengasihani dirinya, siapapun maupun dunia ini.


Leana mengatur napasnya. Kali ini ia kembali mendapatkan ketenangannya. Ia menoleh menatap Adde yang hanya melihatnya dari ujung matanya dengan dingin.


Ia masih sedikit takut namun ia mencoba untuk membuka suaranya meski pun lemah.


“Maafkan aku…”


“…”


Hal yang paling Leana takuti pada Adde adalah bagaimana ia tidak membalas sesuatu disaat ia paling menginginkan jawaban tersebut.


Adde dalam diam berjalan pergi dan menghilang dibalik pintu meninggalkan Leana kembali dengan kesendiriannya.


Meskipun ia merasa akan kembali ditarik masuk dalam keresahannya, berkat Adde, ia berhasil sadar kembali dan mencoba untuk membenahi dirinya.


Ia tidak bisa berhenti. Ia tidak bisa mundur. Ia harus maju. Hanya itu.


Leana bangun dari duduknya dan menatap keluar jendela.


Apapun yang terjadi di keesokan harinya, ia berjanji untuk kesekian kalinya dan berdoa agar ia dapat terus teguh dengan kepercayaannya.


***


“Leana, ada hal penting yang perlu kubicarakan denganmu.” ucap Forde.


Leana mengepalkan tangannya. Tanpa diberitahu pun ia sudah mengetahui apa yang ingin dibicarakan mereka. Namun Leana menutup matanya dan berpura-pura tidak tahu.


“Apa yang ingin kamu bicarakan?”


Leana memasang senyuman di wajahnya, tetapi ia sendiri tidak tahu apakah ia benar-benar tersenyum atau tidak. Wajah seperti apa yang kini sedang di pasang olehnya?


Forde yang merasakan keanehan sikap Leana pun mengambil tangannya yang sedikit dingin dan menuntunnya ke tempat tidur.


Saat keduanya saling berhadapan, Forde pun membuka mulutnya.


"Labirin sihir telah ditemukan di wilayah utara. Dalam beberapa hari, Lima Pilar akan berangkat dalam misi penaklukan. Jadi aku juga akan pergi meninggalkanmu seperti sebelumnya." ujar Forde yang menatap Leana dengan sedih.


Itu adalah tatapan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Dahulu ia selalu melihat Forde yang memiliki tatapan dingin dan tenang bahkan saat dalam misi penaklukan labirin.


Pandangannya kepada Leana saat ini seakan mengatakan bahwa ia tidak ingin pergi dalam misi itu.


Leana ingin memberikan kata-kata penyemangat dan doa kemudian mengirim suaminya dengan senyuman. Ia ingin Forde fokus dalam misinya dan tidak perlu khawatir mengenai dirinya.


Mengatupkan mulutnya beberapa kali, ia tidak dapat mengeluarkan suara karena takut suaminya mengetahui getaran pada suaranya.


Leana mengumpulkan kekuatan untuk membalas Forde dihadapannya.


“Tolong… kembalilah dengan selamat, Forde.” Ucapnya.


'Tidak... bukan itu..."


Leana semakin sulit untuk berbicara.


Merasakan keanehan dari sikap istrinya, Forde menarik Leana ke dalam pelukannya. Saat itu seluruh perjuangan Leana untuk menahan perasaannya seketika runtuh.


Ia meraih punggung Forde dan memeluknya erat. Forde mengelus kepala Leana dengan lembut untuk menenangkannya. Ia dengan lembut meraih telinga kanannya dan membelai anting kristalnya. Forde pun mengecup kepala Leana.


“Aku berjanji akan kembali padamu dengan keadaan utuh. Aku bersumpah dan berjanji padamu, istriku.”


Dengan menahan sisa bendungan perasaannya, Leana membuka suara dengan hati-hatti.


“Iya… tolong… kembalilah padaku…Forde…”


Leana tidak ingin menangis. Namun air matanya yang tumpah tidak dapat ia tahan lebih lama lagi. Ia pun membenamkan wajahnya di dada Forde.


Jika Leana menahan Forde untuk pergi, suaminya pasti akan menurut dengannya dan tidak akan pergi dalam misi. Namun labirin adalah fenomena dunia yang harus dihentikan.


Tidak hanya Forde, banyak orang telah kehilangan nyawa mereka demi menjaga kedamaian dunia. Leana tidak bisa bersikap egois sebesar apapun ia ingin melarikan diri dari kenyataan.


Meskipun ia mengetahui masa depan dan membuat banyak persiapan, Leana tidal dapat sepenuhnya menutupi rasa kekhawatirannya.


Dalam keheningan, suara Forde seakan menjadi satu-satunya nyanyian untuk menenangkan hatinya.


“Leana. Aku mencintaimu.”


Leana semakin mengencangkan genggamannya. Airmatanya semakin deras membasahi matanya.


‘Aku… juga…’


Namun tidak satupun kata keluar dari bibirnya kecuali isakan kecil yang ditahannya dengan sekuat tenaga.