This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Rotten Connection



Di kediaman Wordlock, Diana Wordlock, putri dari istri kedua Baron Killian Wordlock kini tengah merasa frustasi.


Tidak lama setelah kejadian di Istana, pertunangannya dengan Count Sevrus dibatalkan.


Count Sevrus mempertimbangkan kembali pertunangannya dengan Diana setelah mendengar rumor yang beredar mengenai tindakan Diana kepada Leana di pesta perayaan.


Selain itu undangan minum teh yang dikirimkan kepadanya juga semakin berkurang dari biasanya. Ia juga mulai jarang bertemu dengan teman-temannya semenjak pesta tersebut.


“Kenapa? Kenapa harus aku?!”


Diana yang merasakan tekanan akhirnya tidak terlalu banyak pergi keluar dan hanya menghabiskan waktunya di kediaman Wordlock.


Ia dapat mengingat kejadian dimana ia todak sengaja bertemu dengan Marquis Grandall yang tengah mencari Leana.


Sebelumnya ia sempat melihat Leana pergi bersama Count Vivaldi jadi ia berpikir untuk memanfaatkan hal tersebut untuk menarik turun reputasi Leana di mata suaminya.


“Saya tadi melihat Leana pergi bersama Count Vivaldi. Mungkinkah mereka mempunyai hubungan tertentu?”


Diana mengira akan mendapatkan Marquis Grandall yang marah kepada istrinya, tetapi reaksi yang didapatnya sangatlah berbeda dari bayangannya.


Marquis Grandall menatapnya tajam seakan ingin membunuh seseorang. Diana seketika menjadi pucat.


“Tolong jangan bicara sembarangan. Istri saya bukanlah orang seperti itu.”


Marquis yang terlihat kesil kemudian meninggalkan Diana.


Diana sangat frustasi karena semua tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Leana seharusnya selalu menjadi bahan yang direndahkan, namun pada pesta itu ia terlihat seperti orang yang berbeda.


Leana Wordlock yang dikenalnya tidak mungkin memasang wajah percaya diri seperti itu, apalagi membalas kata-katanya.


Bagaimana bisa Leana yang lemah dan minder itu bisa berdiri melawannya?! Ia sudah berjuang untuk mengamambil tempatnya!


Memikirkannya saja sudah membuatnya kesal.


“Diana! Mau sampai kapan kamu terus mengurung diri di kamar? reputasimu di mata publik akan tercoreng jika kamu tidak keluar bersama bangsawan lainnya!” seru ibunya yang memasuki kamar Diana.


Rose Wordlock, istri kedua Baron Wordlock dan ibu dari Diana Wordlock.


“Tapi ibu! Aku sedang tidak enak badan!”


“Jangan banyak alasan! Pertunanganmu yang dibatalkan saja sudah cukup memalukan, jangan menambah rasa malu dan berjalanlah penuh percaya diri di luar sana!”


Diana menggertakan giginya. Ia tidak percaya bisa dipermalukan seperti ini.


Ibunya menghela napas dan memberikan sebuah surat kepada Diana.


“Pergilah ke Grandall dan pinjamlah uang. Kita perlu tambahan dana untuk bisnis yang sedang kujalani.”


Jika ia pergi ke Grandall, ia akan bertemu dengan Leana. Itu artinya ia bisa membalaskan penghinaan yang dialaminya.


“Anak itu pasti akan memberikannya, kau tahu dia bagaimana. Kamu bisa melakukannya. Bukan?”


Benar. Leana hanyalah wanita lemah yang tidak bisa apa-apa. Ia hanyalah wanita yang hanya mengurung diri dirumah dan takut untuk berbaur dengan yang lain. Itu adalah Leana!


Diana mengambil surat tersebut dan tersenyum. Ia mengangkat wajahnya yang penuh dengan tekad kuat untuk menjatuhkan Leana kembali ke tempat seharusnya ia berada.


“Tentu saja. Serahkan padaku, ibu.”


***


Leana sekali lagi memuji dirinya. Ia tidak menyangka akan cepat beradaptasi untuk tidur dengan Forde hanya dalam waktu tiga hari.


Saat ia sadar mentari pagi sudah menyambutnya. Baik secara harfiah maupun kiasan.


Ia tidak tahu harus merasa senang atau kesal karena jantungnya setiap kali harus berpacu diatas rata-rata karena melihat wajah suaminya itu.


Leana tidak pernah menjadi fans dari sesuatu tapi saat ia merasakan apa yang dirasakan oleh mereka, ia hanya ingin memeluk mereka sambil menangis bahagia.


Suaminya tampan. Ia tahu. Tapi ketampanannya itu diatas rata-rata dan membuat dirinya tidak bisa tenang setiap kali harus menempel bersamanya.


Terlebih pagi ini saat suaminya yang sudah rapi menggunakan seragam lengkap terus memegang tangannya dengan mata memelas.


“Leana…”


Benar. Mukanya terlihat tenang namun tidak dengan matanya!


Sudah 20 menit berlalu tapi Forde tidak kunjung melepas tangannya. Ia bahkan merasa tidak enak dengan wakil komandan Weiss yang terus menunggu komandannya di depan pintu mansion.


Sepertinya ia harus memberi Batasan kepada Forde karena tanpa sadar ia telah memberi pengaruh buruk kepadanya.


Perjalanan pergi dan kembali akan memakan waktu lima hari atau lebih.


“Forde, tuan Weiss dan yang lainnya sudah menunggumu.”


“…”


“Forde?”


“Biarkan Weiss yang membawa pasukan untuk mengecek perbatasan.”


“!!”


Leana dan Weiss terkejut dengan pernyataan Forde. Weiss yang kebingung harus bertindak bagaimana hingga akhirnya Forde menatapnya dengan tajam.


“Weiss, aku serahkan pasukan untuk mengecek perbatasan kepadamu.”


“Baik, koman—”


“Tuan Weiss, jangan manjakan suami saya.”


Forde dan Weiss menatap Leana dengan terkejut. Leana menatap keduanya dengan kesal dan mulai melepaskan tangan Forde darinya.


Disaat Forde dengan sedih berpisah darinya, Leana pun tersenyum.


“Forde. Jika kamu tidak segera berangkat, aku akan melarangmu untuk tidur bersamaku selama lima hari.”


Forde seketika pucat dan menoleh kearah Weiss. Weiss yang tersentak kemudian membenahi dirinya.


“Ekhm, kalau begitu komandan, saya akan menunggu anda di luar.” Ucap Weiss dan pergi.


Forde kembali menatap Leana dengan sedih namun senyuman Leana tidaklah pudar dan perlahan seakan menekannya untuk segera berangkat.


Forde mengambil tangan Leana dan mengecup jarinya.


“Aku akan segera kembali.”


Leana melembutkan senyumannya dan menyentuh pipi serta anting Forde.


“Berhati-hatilah dan kembalilah padaku dengan selamat."


Forde memeluk Leana untuk terakhir kalinya dan kemudian pergi dengan pasukannya ke perbatasan.


Leana sedikit senang melihat sikap lucu Forde tetapi ia juga kesusahan jika ia merepotkan orang lain.


Ia mengambil dokumen yang baru saja dikirim oleh Adde kepadanya dan mengamati isinya.


“Ini kah yang dimaksudkan oleh tuan Eclipse?”


Dokumen ditangannya adalah data kotor yang dilakukan oleh bawahan Grandall yang mengawasi beberapa wilayah tertentu. Mereka merupakan boneka yang dikirim oleh bangsawan yang mencoba untuk mengendalikan Grandall.


Pencucian uang, korupsi, pengalihan pajak, dan masih banyak lagi.


Apakah selama ini Forde tidak menghentikan mereka karena berhutang budi pada bangsawan itu ataukah ia memang tidak mengetahuinya. Apapun alasannya ia sudah mempunyai cukup bukti untuk memotong benang kotor yang terikat oleh Grandall.


Mengetahui sifat Grand Duke, ia pasti tidak ingin ikut campur masalah orang lain meskipun mempunyai informasi atau memang ia belum mengakui nilai Grandall hingga tidak mau ikut campur.


Tok Tok


“Permisi, nyonya Leana.”


Albert muncul dari balik pintu ruang kerja. Leana menaruh dokumennya.


“Ada apa, Albert?”


“Ada tamu untuk anda.”


“Tamu?”


Leana tidak ingat mengundang siapapun atau pun diberitahu bahwa seseorang akan datang ke Grandall.


“Diana Wordlock datang untuk menemui anda.”


Leana membeku. Ia kurang lebih mengetahui apa yang diinginkan oleh Diana atau ibu tirinya dan ia sudah muak menghadapi mereka.


“Antar dia ke ruang tamu. Aku akan segera menemui mereka.”


“Baik, nyonya.”


Leana menghela napas berat. Ia tidak ingin bertemu dengan Diana karena ia tahu pasti kedatangannya tidaklah membawa hal baik.


Ia dengan berat hati bangkit dan berjalan menuju ruang tamu. Dengan perintah Leana, Iscan menunggu di depan ruang tamu.


Saat ia membuka pintu ruang tamu, sosok Diana tengah duduk dengan memasang wajah sombongnya.


“Leana! Lama tidak bertemu!” Sapa Diana dengan manis.


Leana memasang wajah datar kepadanya dan segera duduk di seberangnya.


“Kenapa kau datang tanpa mengirim pemberitahuan? Kau tahu itu tidak sopan bukan?” ucap Leana dengan dingin.


Senyuman Diana sedikit berkedut dan ia menjadi kesal dengan sikap Leana. Ia mencoba untuk menjaga kesabarannya dnegan meminum teh yang disediakan.


“Ayolah, kita kan keluarga!”


“Ha…”


Leana tidak habis pikir. Keadaan seperti apa yang membuatnya bisa mengatakan bahwa Leana adalah keluarganya. Bahkan ia tahu bahwa Diana tidak sudi membiarkan Leana menginjakan kaki di kediaman Wordlock.


Untuk seorang pendatang tak diundang, kata-katanya cukup arogan.


“Jadi ada urusan apa kau ke sini?”


Diana menatapnya dengan tidak senang namun ia masih tersenyum dan melemparkan sebuah surat kehadapannya.


“Kau tahu? Ibu sedang butuh uang untuk usahanya dan kalau boleh aku juga ingin meminta bagianku dengan begitu aku akan memaafkanmu.”


Jari Leana yang sedari tadi mengetuk tidak sabaran terhenti. Leana tertawa kecil.


“Aku tidak ingat melakukan sesuatu yang memerlukan permintaan maafmu.”


Kini Diana melotot kearahnya. Sepertinya ia benar-benar kesal.


“Apakah kau tidak ingat bagaimana kau telah mempermalukanku di pesta perayaan?!” seru Diana.


“Bukankah sebaliknya?”


Diana menggeretakan giginya. Tangannya sudah gatal untuk menampar pipi Leana.


“Sepertinya semakin lama kau semakin melunjak. Apakah kau tidak menyadari posisimu, Leana Wordlock!”


Leana menatap Diana dengan tajam.


“Seorang wanita yang hanya mengurung diri di kamar dan tidak bisa masuk ke dunia sosial! Wanita yang hanya berguna sebagai istri orang lain!”


Leana hanya terdiam dnegan tenang mendengarkan ocehan Diana.


“Posisimu sebagai Marchioness saja tidak cocok denganmu. Seharusnya kau berterima kasih kepada ayah yang sudah berjuang untuk membuatmu lebih berguna.”


“…”


Diana tersenyum melihat Leana tidak dapat berkata-kata. Leana itulah yang ia kenal, terlalu takut untuk membalas balik kata-kata seseorang dan hal tersebut tidak akan pernah berubah.


“Haaa… baiklah, aku sudah memutuskan.”


Leana menyandarkan kepalanya di tangan kanannya dan menatap Diana dengan muak.


“Sampaikan pada Baroness Rose bahwa aku tidak akan memberinya uang satu peser pun, begitu juga denganmu. Sekarang angkat kaki dari sini dan jangan pernah kembali.” Ujar Leana.


“Apa! Dasar tidak tahu diri--!” Leana segera menyela kata-kata Diana.


“Untuk seseorang yang kurang etika dan mencoba mempermalukanku di pesta perayaan, kata-katamu terlalu diatas langit.” Ujar Leana.


“Jika kau lupa, sekarang aku bukanlah Leana Wordlock melainkan Leana Grandall. Jadi yang harusnya menyadari posisinya adalah dirimu yang bahkan belum menjadi siapa-siapa.” Tambahnya dengan dingin.


Gratak


Diana yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya segera bangkit dengan kasar dan mengambil cangkir Leana kemudian menumpahkan kepadanya.


Leana dengan cepat menghalang teh yang akan mengenai mukanya dengan tangannya.


Iscan yang mendengar keributan segera masuk dengan kasar ke dalam ruangan.


“Nyonya Leana! Apakah anda baik-baik saja?!”


Diana yang masih memegang cangkir sedikit tersenyum puas namun senyumannya tersebut menghilang saat melihat Leana yang baik-baik saja.


“Aku tidak apa-apa, tehnya sudah dingin.”


Iscan yang melihat kondisi majikannya segera menatap tajam Diana yang tersentak.


“A-Apa-apaan tatapan itu!”


“Beraninya anda…” ucap Iscan dengan geram.


Leana segera menghentikannya dan berjalan menuju vas bunga di dekatnya. Ia pun


menumpahkan isi vas ke kepala Diana.


“Kini kita impas.”


Muka Diana memerah dan ia segera bangkit dari tempatnya.


“Aku akan melaporkan semua ini kepada ayah dan ibu!”


“Silahkan saja. Aku tidak masalah.”


Leana tersenyum penuh kemenangan sementara Diana pulang kembali ke Wordlock dengan rasa malu.


Ia merasa puas karena telah berhasil melawan Diana untuk kedua kalinya.


Leana menatap keluar jendela dan menyadari salah satu bayangannya tengah mengamatinya dari pohon sebelum akhirnya menghilang.


Ia hanya mendengus dan pergi kembali ke kamar untuk membersihkan diri.


Lima hari kemudian saat Forde kembali, Leana menyadari bahwa suaminya telah mendapat kabar mengenai kedatangan Diana ke Grandall dan mata gioknya memancarkan cahaya yang dapat membunuh seseorang.


Sembari mengurung Leana dalam pelukannya, Forde membuat larangan bagi keluarga Wordlock untuk datang ke Grandall dan memberi mereka ancaman untuk memutuskan hubungan antar keduanya.


Untuk kesekian kalinya, ia bersyukur memiliki suami seperti Forde dan ia yakin tidak akan ada yang dapat menggantikannya.