
“Dean, bagaimana kondisi di sana?”
Dengan wajah tenangnya, Leana mencoba untuk menghubungi dengan anting yang diberikan oleh Alscan. Berkat kerja kerasnya dalam memanfaatkan sihir telepati kini mereka dapat berkomunikasi tanpa membuka mulut.
Cara menggunakannya adalah dengan membayangkan orang yang menggunakan alat yang sama agar dapat saling menerima telepati.
“Semua masih baik-baik saja. Saya belum melihat target tetapi sepertinya Veil telah menemukannya di area lain. Saya akan segera melaporkan keberadaannya secepatnya.”
Saat ini Adde dan bayangan lain tengah menyamar menjadi pegawai kekaisaran dan berbaur dengan para tamu. Penampilan mereka mulai dari wajah hingga suara diubah menggunakan alat sihir buatan Alscan.
Leana sedikit khawatir karena mengetahui bahwa anggota bayangannya masih termasuk daun hijau tetapi ia percaya dengan kemampuan Dean.
“Bergeraklah dengan hati-hati. Kita tidak tahu jika ada anggota bayangan selain kita.”
“Saya mengerti. Saya juga akan mendoakan keberhasilan anda.”
Saat sambungan terputus, Leana kembali mengamati sekitarnya.
Ia dapat melihat pasukan Lima Pilar yang berbaur dalam ruangan dan saling berbincang satu sama lain.
Ia juga dapat melihat Margrave Hugo Santica dan Baron Rodion Zenesia tengah berbincang dengan tatapan saling membunuh. Ia dapat melihat sebuah percikan api diantara keduanya.
Leana pernah mendengar rumor bahwa pemimpin Tombak Merah dan Perisai Kuning tidaklah akur tapi melihatnya secara langsung, ia hanya dapat melihat anak kecil yang sedang mengadu kekuatan dan tidak ada yang mau mengalah.
‘Bahkan dengan umur segitu mereka masih bertingkah seperti anak kecil…’
Leana menghela napas dalam hati.
“Leana.”
Leana menoleh kearah Forde dan bertemu dengan mata gioknya.
“Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Tidak, aku baik-baik saja…”
Leana yang secara refleks mencoba menggunakan tubuhnya untuk mengekspresikan kata-katanya perlahan menyadari satu tangannya yang masih berada di genggaman Forde.
Saat ia mencoba untuk menariknya, tangannya tidak mau terlepas.
“Anu, Forde?”
“Jika tidak ada yang mengganggumu, bagaimana kalau kita berdansa?”
‘Sial lah aku!’ Leana mengutuk dirinya sendiri.
Sebagai seorang bangsawan, tentu saja Leana belajar dalam kelas berdansa namun mengingat ia baru saja kembali dari dunia modern ia mulai mengkhawatirkan kemampuan berdansanya.
“Uh, soal itu…”
“Ada apa? Apakah kamu keberatan?”
Leana mengatup mulutnya rapat. Ia merasa melihat Forde yang memelas kecewa dengan telinga yang turun.
Apa-apaan makhluk lucu nan tampan ini!?
“Ekhm, bukan itu, Forde…”
“Lalu kenapa?”
“Aku sebenarnya… tidak pandai dalam berdansa…”
“Jadi… aku takut aku akan menginjak kakimu…” Suara Leana perlahan menghilang bersamaan dengan kepalanya yang menunduk untuk menutupi rasa malunya.
Forde berkedip melihat tingkah Leana namun ia segera tersenyum dan menarik Leana mendekat kepadanya.
Ia pun menggiring Leana ke tengah aula dan mengecup punggung tangannya.
Forde menaruh tangan kanannya di pinggang Leana dan Leana menaruh tangan kirinya di pundak Forde sementara tangan lainnya saling
berpautan.
“Tidak perlu khawatir. Serahkan saja padaku, Leana.”
Leana mengangguk dan ketika musik dimulai, Leana bergerak mengikuti arahan Forde.
Leana tidak terlalu mengingat kelas dansanya namun sepertinya tubuhnya masih mengingat pergerakan yang diajarkan sehingga ia tidak kesulitan untuk menyesuaikan gerakan dengan Forde.
Leana mencoba untuk menoleh kearah Forde dan ia terkejut saat matanya bertemu. Suaminya itu tidak pernah berhenti membuat jantungnya berpacu hingga iamenjadi lemas.
Disaat keduanya masuk dalam dunia mereka sendiri, tamu lainnya tertegun menatap tarian dansa Forde dan Leana yang seakan menenggelamkan mereka di setiap gerakannya.
Gaun hitam Leana seakan memancarkan sinar kehijauan seperti mata Forde. Ia terlihat seperti ikan hias yang tengah berenang dengan anggun di dalam air.
Ketika musik berhenti, Forde mencium punggung tangannya dengan lembut dan menatapnya. Leana tersentak.
“Leana, Istriku.” Ucap Forde dengan lembut. “Sebelumnya aku sudah mengatakan ini, tetapi kamu sangatlah cantik saat ini.”
Forde menarik Leana mendekat dan…
Cup
Mengecup pipinya.
Leana membuka lebar matanya dan menatap Forde yang memasang wajah lembut kearahnya, seakan...
“Sepertinya aku kembali jatuh cinta denganku.”
Wajah Leana seketika menjadi merah padam dan tangannya segera menyentuh pipi yang baru saja dicium tadi. Ia dapat merasakan ekspresi wajahnya yang tidak teratur.
Saat Leana kebingungan dengan sekitarnya yang sedikit sunyi, ia menyadari bahwa semua mata kini tertuju kepada mereka. Dari pasukan pilar yang melebarkan mata mereka dengan tidak percaya hingga tamu lain yang tertegun melihat keduanya.
Semakin malu, Leana segera menarik Forde ke pinggir aula untuk menghindari pandangan tamu lain dan segera berbaur dengan yang lain.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi kepadanya barusan.
“Forde! Apa yang kamu lakukan di depan banyak orang!?” seru Leana masih dengan wajahnya yang merah.
“Ah, maaf. Aku terlalu berfokus padamu dan ingin segera menyampaikan isi hatiku padamu.” Ucap Forde dengan tersipu. Dari sikapnya, sepertinya ia tidak menyadari sekitarnya.
Leana mencoba untuk menahan ekspresinya yang semakin lama semakin runtuh dengan tiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Ia ingin segera berlari dan berteriak di suatu tempat untuk mengeluarkan rasa malu yang terus mengumpul di benaknya.
Ia tidak pernah menduga bahwa ia akan mendapatkan fanservice dari suaminya sendiri.
Semuanya berjalan terlalu cepat. Sangat cepat. Hingga otaknya tidak mampu memahami dan bertindak sebagaimana semestinya.
“Tidak! Bukan itu! Aku hanya malu karena dilihat orang banyak!”
Leana segera menyangkal saat Forde kembali masang mata memelas.
Dari sudut matanya, ia dapat melihat Weiss yang menghela napas dan pasukan Grandall lain yang mencoba untuk membiasakan diri dengan sikap baru komandannya.
Di sisi lain ia dapat melihat Margrave Hugo dan Baron Rodion yang masih memasang wajah terkejut menatap kearah mereka. Lebih tepatnya kearah Forde yang merupakan rekan mereka.
“Forde, bagaimana kalau kamu berbincang dengan rekanmu?”
“Huh? Tidak perlu. Aku sudah cukup muak bertemu dengan mereka dalam misi penaklukan.”
Leana kembali terkejut dengan ucapan suaminya namun ia masih tetap mendorong Forde pergi.
“Tidak apa-apa, kamu bisa berbincang soal apapun. Bukankah ini saatnya kalian mengenang dan saling tertawa membahasnya?”
“Leana…”
“Aku sedikit lelah jadi aku akan beristirahat di balkon sebentar.”
“Kalau begitu aku akan menemanimu.”
‘Tidak, kenapa kamu sangat keras kepala?!’
Ia tidak mengerti sifat baru Forde yang terus menerus ditemukannya. Mengapa ia terus menempel dengannya.
Mengingat ekspresi suaminya ketika mereka selesai berdansa mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka.
Pertemuan pertama mereka yang terjadi pada pesta kekaisaran. Pada saat itu Leana hanya dapat menangkap sosok Forde yang tenang dan dingin. Ia bahkan tidak punya keberanian untuk menatapnya.
Karena setiap kali ia melihat matanya memandang sesuatu dihadapannya, mata giok itu menatap dengan dingin dan kosong seperti tidak peduli akan apapun.
Namun pada saat ayahnya memperkenalkan dirinya pada Forde, ada satu hal yang membuat ketakutan dalam tubuhnya mereda, yaitu saat mata mereka bertemu.
Dengan ekspresi yang sedikit terkejut saat menatap sosok Leana. Mata gioknya yang indah memancarkan suatu cahaya hangat yang tidak pernah ada sebelumnya. Ia bahkan mencurigai dirinya sendiri saat melihat warna kemerahan di sisi matanya seakan malu dan gugup.
Kini melihat Forde dengan sifat lainnya serta mengetahui perasaannya, Leana dapat mengetahui dengan pasti. Ia kini mengetahui jawaban dari keanehan pada pertemuan pertama mereka.
Cahaya hangat dimatanya tidak pernah berubah. Cahaya yang hanya terpancarkan ketika mata giok itu menemukan sosoknya, berdiri menatapnya, hidup hanya untuknya.
Baik Forde di kehidupan pertamanya maupun dikehidupan ketiganya. Ekspresi seorang pria yang telah jatuh hati kepada seorang wanita dihadapannya. Tidak pernah berubah.
“Leana?”
Leana memalingkan mukanya dan menutup mata dengan tangan kanannya seakan ingin kabur membawa rasa malu serta senang di dadanya.
Bagaimana tidak. Untuk Leana yang tidak pernah merasakan cinta dengan benar, sikap Forde yang mencoba mencari perhatiannya sangatlah membuatnya senang. Ia seakan kembali menjadi seorang gadis dalam masa remajanya.
Tetapi di belakang kepalanya ia mengingat seseorang dan seketika hal tersebut membuat tubuhnya menjadi dingin. Kehangatan dan rasa malu seketika menghilang entah kemana.
Ia kembali mengingat. Bahwa hatinya juga pernah jatuh ke tangan yang salah dan ia tiba-tiba saja merasa seperti orang bodoh.
Forde yang bingung karena Leana tiba-tiba terdiam kembali memanggilnya.
“Leana, kamu baik-baik saja?”
“Komandan, Margrave Santica dan Baron Zenesia ingin bertemu dengan anda.” Ucap Weiss datang ke tempat mereka dan Forde menatapnya dengan tidak senang.
“Hah? Kenapa aku harus—”
“Forde, bagaimana kalau kamu berbincang dengan mereka? Aku akan beristirahat di balkon sebentar dan segera kembali, ok?”
Leana segera menghentika Forde yang akan menolak ajakan dari Margrave Santica dan Baron Zenesia.
Forde menatap Leana dengan khawatir sementara Leana berharap suaminya tidak menyadari kegaduhan dalam benaknya.
“Apa kamu benar tidak apa-apa?”
“Iya, aku tidak apa-apa.”
“Baiklah, aku akan meninggalkanmu sebentar dan segera menyusul ke balkon. Jangan pergi kemana-mana.”
“Aku mengerti.”
Forde pun pergi ke tempat Margrave Santica dan Baron Zenesia. Setelah benar-benar kehilangan sosok Forde, ia segera pergi ke balkon untuk mengambil udara segar. Dalam perjalanannya ia meminta segelas jus kepada
pelayan.
Karena kebiasannya di dunia modern, ia jadi tidak meminum minuman yang mengandung alkohol dan memilih jus atau teh.
Saat ia membuka pintu balkon, yang menyambutnya adalah rembulan yang membentuk lingkar sempurna.
Ia merasa pernah mengalami suasana saat ini, di mana rembulan lah yang menjadi temannya dalam suatu pesta di mana ia mencoba untuk mencari udara ditengah keramaian pesta.
Rembulan yang indah tidak pernah berubah. Seakan mendapat teman, Leana mengesap jus yang dibawanya dan menikmati ketenangan angin malam.
Dalam hatinya ia berharap kehidupannya akan setenang suasana hatinya saat ini. Tenang tanpa adanya gangguan.
Atau itulah yang selalu ia harapkan.
“Oh, saya tidak tahu ada orang lain di sini.”
Leana seketika membeku.
Suara yang sangat familiar dan asing disaat yang bersamaan.
Keberadaannya yang menyulut rasa benci dan amarah dalam dirinya.
‘Ahh, kenapa…’
Bertanya mengenai hal yang sama berulang kali seperti orang bodoh. Leana seperti tidak pernah berubah. Tidak pernah belajar.
Leana membenahi dirinya dan perlahan membalikan diri menghadap pria yang baru saja memasuki balkon.
Dengan senyumnya yang terlihat ramah dan wajah yang terkenal tampan di mata para wanita di kekaisaran Solfilyan.
Tetapi bagi Leana, ia merasa mual setiap kali menatap pria dihadapannya itu.
“Selamat malam, Marchioness Grandall.”
Duke Leon Gwertivare tengah berdiri di sana.