This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
To Cut a bad String



Pada hari inspeksi, Forde dan Leana menggunakan kereta kuda yang dibawa oleh pasukan Grandall yang menyusul mereka ke kota Donis ysatu hari sebelumnya.


Rapat terbuka akan diadakan di mansion Donis yang dimiliki oleh Count Oman. Di sana kelima personil yang mengurus masing-masing kota akan memberikan laporan tahunan mereka kepada Marquis Grandall.


Saat Forde dan Leama sampai di mansion Donis, mereka disambut oleh sang Count dengan ramah.


“Marquis, selamat datang di kota Donis. Apakah perjalanan anda ke sini menyenangkan?” Ucap Count Oman.


“Terima kasih atas sambutannya, Count Oman. Kami cukup menikmati perjalanan kami. Saya senang kota Donis selalu terlihat bersemangat.” Ucap Forde.


“Terima kasih atas kata-kata anda. Kami akan selalu membuat kota Donis terlihat bersemangat seperti yang anda inginkan.”


“Pertahankanlah hal itu.”


"Dengan senang hati, Marquis Grandall." Jawab Count Oman.


Count Oman menoleh kearah butlernya dan kembali menatap keduanya.


"Butler saya akan mengantarkan anda ke ruangan anda. Sementara itu saya akan mempersiapkan rapat nanti siang."


"Aku mengerti. Leana, ayo kita istirahat dulu di kamar."


Leana menggangguk dan keduanya oun mengikuti sang butler menuju ke kamar mereka.


Sang butler berhenti di satu ruangan dan membukakan ointu ruangan tersebut. Leana terkejut dengan betapa luasnya ruangan tersebut.


"Marquis, sesuai permintaan anda, kami terlah menyiapkan kamar ini untuk anda." ucap sang butler dengan tenang.


"Terima kasih."


Leana menatap butler yang undur diri terlebih dahulu dengan resah. Ia bahkan tidak tahu bahwa Forde telah meminta kamar tersebyt kepada Cout Oman.


Seketika ia menjadi malu.


Melihat kembali kamar mewah nan luas tersebut, sepertinya ia akan satu kamar dengan Forde.


"Leana, ada apa? Ada yang tidak kamu sukai?"


"Tidak, semua baik-baik saja."


Leana menelan protesnya dan beristirahat seperti yang diinginkan suaminya.


Rapat inspeksi terbuka akan dilaksanakan di ruang rapat.


Saat sampai di ruang rapat, ia menemukan personil dari kelima kota telah bersiap di posisi mereka masing-masing.


Forde di dampingi dengan Leana sebagai asistennya. Ia dapat merasakan pandangan dari para personil yang baru melihatnya tampil di depan publik.


“Baiklah semuanya, mari kita mulai rapat laporan kita.” Ucap Count Oman. “Rapat ini akan dipimpin oleh Marquis Forde Grandall dan Marchioness Leana Grandall.”


“Kalau begitu saya duluan yang akan memberi laporan.” Ucap personil kota Solam.


“Silahkan.” Jawab Forde dengan tenang.


Satu demi satu personil memberi laporan mengenai kota mereka masing-masing. Baik Leana dan Forde mendengarkan laporan mereka dengan seksama


Ahh, laporan mereka dicampur dengan banyak kebohongan. Tanpa perlu bersusah payah Leana juga dapat menyadari kejanggalan dari sikap mereka.


Mereka yang hanyalah para penjilat yang tidak tahu diri karena dibelakang mereka terdapat orang yang cukup kuat untuk melawan Marquis Grandall.


Forde menatap kearah mereka dengan tidak senang namun para personil yang sedang seru berbincang tanpanya tidak menyadari hal tersebut.


Satu-satunya yang memberi laporan berdasarkan kenyataannya hanyalah personil kota Donis. Jika diingat lagi, personil kota Donis ditunjuk oleh Count Oman itu sendiri yang merupakan pengikut setia Grandall.


“Forde…”


Forde menoleh ke Leana saat ia berbisik. Tanpa menoleh kembali kepadanya, ia melanjutkan.


“Apakah kamu percaya denganku?” ucap Leana yangmenatap lurus kejadian di hadapannya dnegan datar.


“Tentu saja.”


Leana tersenyum untuk sesaat dan kemudian membuka suara dengan lantang dan tegas.


“Tuan-tuan sekalian, apakah kalian dapat membenarkan kata-kata kalian itu?”


Para personil tersentak. Personil dari Navia pun angkat bicara.


“Apakah anda mencurigai sesuatu dari laporan kami, nyonya?”


“Saya hanya bertanya, apakah ada sesuatu yang perlu untuk di curigai?” ucap Leana tersenyum.


“…” Personil Navia menatap Leana dengan tidak nyaman, begitu juga dengan personil lain kecuali Donis.


“Baiklah kalau begitu aku akan memberikan laporan dari kekosongan laporan kalian.”


Mereka tersentak saat Leana mengeluarkan tumpukan dokumen ke hadapan mereka. Leana menghadap mereka dengan datar seakan mengurusi dengan acuh tak acuh.


“Baiklah kita mulai dari Navia.”


Leana menyerahkan Salinan dari laporannya kepada personil Navia.


“Anda bilang proyek pembangunan jembatan diperlukan tambahan biaya tetapi saya juga diberitahu bahwa anda menaikan pajak kepada penduduk kota Navia dengan angka yang cukup fantastis. Tentu saja Marquis tidak menerima laporan mengenai kenaikan pajak tersebut.” Jelas Leana sembari membaca laporan.


“…!” Personil Navia mulai menjadi pucat, begitu juga dengan personil lain kecuali Donis.


“Selain itu saya juga mendapatkan informasi bahwa di sana terdapat jasa peminjaman uang yang dilakukan oleh seorang bangsawan. Mereka memalsukan bunga yang tertera dengan yang ada di kontrak.”


“So-soal itu saya tidak mengetahuinya…”


“Bagaimana tidak bisa? Laporan di tangan saya saat ini menuliskan bahwa hampir seluruh penduduk anda mengajukan komplain mengenai hal tersebut dan anda bilang anda tidak tahu? Apakah anda mencoba bermain-main dengan saya?”


“…” Personil Navia terdiam.


“Selanjutnya adalah kota Hecar.” Leana menyerahkan dokumen laporan kepada personil Hecar.


“…!”


“Saya ingin bertanya, apakah anda benar rutin melakukan patrol di kota?” tanya Leana dengan serius.


“I-iya, saya rutin melakukan patrol di kota…”


Personil Hecar menelan ludah dengan berat. Leana dapat melihat tangannya yang menggenggam kuat dokumen yang ia berikan.


“Apa tidak ada yang ingin kau katakan kepada saya? Jika tidak saya akan melanjutkan kepada kota Zettanica.”


Personil Zettanica yang sedari tadi menundukan kepalanya menerima dokumen yang diberikan Leana. Perlahan bulir keringatnya berjatuhan ke laporan tersebut.


“Apakah ada sesuatu yang ingin anda tambahkan dari laporan tadi?”


Personil Zettanica mengatupkan mulutnya seakan susah untuk berbicara.


“Itu… saya…”


Leana yang tidak ingin menunggu lebih lama segera angkat bicara.


“Saya dengar tadi anda mengatakan bahwa kota Zettanica damai dan tentram tetapi dalam dokumen ini, ketentraman tersebut adalah kesunyian yang dibuat karena adanya tingkat kejahatan yang tinggi.”


Personil Zettanica terus meneteskan keringat. Ia juga mulai sedikit bergerak dengan tidak tenang.


“Pembajakan, pencurian, penculikan, jual beli manusia…” Leana menatap tajam personil Zettanica di kata-kata terakhirnya.


“…”


“Yang menjadi masalah besarnya adalah hal tersebut sudah menjadi keseharian dan tidak terlalu disembunyikan. Bagaimana bisa anda tetap diam seperti orang yang kehilangan mata dan telinganya selama ini? Apakah anda terkena kutukan atau sesuatu?” cibir Leana.


Personil Zettanica tidak menjawab. Wajahnya sudah pucat pasi seperti akan pingsan namun Leana tetap melanjutkan tugasnya.


“Selanjutnya adalah Solam.”


Personil solam menatap Leana dengan kesal. Tangannya dengan kuat meremas dokumen yang telah diberikan olehnya.


“Kau tahu apa dokumen di tanganmu itu? Itu adalah data dari senjata yang diselundupkan dari kerajaan Vienna. Terlebih disini ada daftar dari beberapa bangsawan yang ikut membantu kegiatan ini.”


“Aa..uu..”


“Saya ingin tahu kira-kira apa yang akan mereka lakukan dengan senjata-senjata itu.” Ujar Leana, memojokan personil Solam.


Leana menghela napas lelah dan melanjutkan.


“Lalu yang terakhir, kota Donis.”


Personil kota Donis tersentak saat gilirannya disebutkan. Matanya yang takut mencoba untuk menatap kearahnya.


“Tidak ada yang salah dari laporan anda, hanya saja… Anda mengetahuinya bukan?”


Personil Donis meneguk ludah dan tangannya yang memeluk dokumen gemetaran. Tanpa penjelasan lebih lanjut dari Leana, personil Donis menundukan kepalanya dan ia pun membuka suara.


“Maafkan saya. Saya tidak punya alasan apapun untuk membalas kata-kata anda. Saya akan menerima apapun hukumannya.” Ujarnya.


Count Oman yang sedaritadi memperhatikan sangat terkejut.


“Ya ampun!”


Eson yang tengah mengamati dari kejauhan bersama Liam pun bersiul melihat aksi kontraktornya dari kejauhan. Karena mereka menggunakan alat silent step, tidak akan ada yang dapat mendengar suaranya.


Forde menaruh laporan Leana dan menatap personilnya dengan dingin.


“Jadi apakah ada hal terakhir yang ingin kalian sampaikan?”


“…”


Tidak ada satu pun yang menjawab dan mereka menunduk dengan pucat seakan sedang menghadapi hukuman mati.


Forde pun bangkit.


“Sudah jelas dengan laporan ini, aku sepertinya tidak cukup


Leana menghela napas dan menyimpan dokumen tersebut seakan sudah muak dengan mereka. Ia kemudian menoleh kearah Forde dan terkejut saat suaminya tengah menatapnya dengan terkejut. Kedua matanya melebar menatapnya.


Leana merasa bingung dan sedikit terkejut dengan sikap Forde.


“Ekhm, Forde.”


“…!”


Forde segera membenahi dirinya dan kembali menatap personil dihadapannya dengan tajam.


“Seperti yang kalian dengar tadi. Aku sangat kecewa dengan kalian yang berani-beraninya menggunakan posisi kalian itu untuk melakukan hal sesuka kalian. Aku akan segera mengganti kalian dan membuat kalian membalas atas perbuatan kalian itu. Rapat kita sudahi sampai di sini.” Ujar Forde dengan tegas.


“Marquis! Laporan tersebut tidaklah benar—”


“Lalu kau mau bilang kalau istriku membual dan membuat laporan palsu?” tanya Forde dengan kesal.


“Tidak... itu…”


“Ta-Tapi Marquis! Jika anda memecat kami, Count nanti akan—”


“Persetan dengan mereka. Kelima kota ini adalah wilayah dibawah perlindungan Grandall. Terlebih bukankah aku sudah cukup baik membiarkan kalian menggunakan posisi itu untuk kesenangan kalian sendiri. Aku tidak bisa memperpanjang masalah lebih lama lagi.” Ujar Forde.


“Penjaga, bawa mereka!” seru Forde dan keempat personil tersebut ditangkap kemudian dibawa ke penjara bawah tanah.


Forde menoleh kearah Leana yang tengah membereskan dokumen dan mengambil dokumen tersebut di tangannya.


“Bukankah istriku sangat hebat? Darimana kamu mendapatkan semua informasi ini?” ucapnya dengan senang.


“Karena aku ikut membantumu mengurus wilayah, jadi aku menyewa informan untuk mengumpulkan informasi mengenai kelima kota.” Jelas Leana yang mengambil sisa dokumen namun kembali diambil oleh Forde yang memberikannya kepada pelayan di dekat mereka.


“Begitukah. Terima kasih Leana.” Ucap Forde kemudian mengecup pipi Leana.


Leana segera mendorong wajah Forde menjauh darinya.


“Forde!”


“Haha, kamu lucu sekali.”


Forde menggiring Leana yang memerah bersamanya kembali ke ruangan mereka. Pada akhirnya, masalah yang dikiranya memerlukan waktu berhari-hari untuk diselesaikan malah terselesaikan dalam satu hari berkat istrinya.


Ia tidak bisa lebih bersyukur dari memiliki Leana disampingnya.