
“ini… menakjubkan…”
Leana tertegun melihat laporan di tangannya. Laporan tersebut mengenai salah satu misi Adde sebagai bayangan yaitu mencari anggota bayangan lainnya dan merekrut mereka.
Leana sudah memberikan data lengkap dan dengan bantuan alat dari Alscan, bahkan wajah mereka juga dapat diketahui. Adde hanya tinggal mencari mereka berdasarkan informasi yang telah tersedia.
Belum lama ini Adde menyelesaikan latihan kesediaan sebagai bayangan, tetapi ia juga sudah menyelesaikan setengah tugasnya dalam mencari anggota bayangan yang dapat memakan waktu bulanan.
“Saat ini saya baru hanya membawa pasukan yang cukup untuk rencana tahap dua sesuai dengan permintaan anda. Bagaimana prosesnya juga sudah saya jelaskan dalam laporan. Anggota lainnya masih dalam pencarian.”
“Jika kita sudah punya cukup anggota bayangan untuk tahap dua, kau bisa beristirahat untuk sementara waktu sebelum melanjutkan tugas pencarian anggota.”
“Terima kasih, nyonya.”
Mata Leana masih berada pada laporan di hadapannya. Ia membaca lembar demi lembar informasi anggota bayangan baru berdasarkan waktu saat ini.
Arcan, codename Veil. Pria. Umur 19 tahun.
Corrian, codename Liam. Pria. Umur 25 tahun.
Akin, codename Eson. Pria. Umur 23 tahun.
Celitta, codename Ilya. Wanita. Umur 19 tahun.
Solas, codename Xero. Pria. Umur 20 tahun.
Kini ia mengerti mengapa Adde dapat dengan cepat mengumpulkan anggota yang diperlukan untuk misi tahap dua. Mereka semua adalah korban perbudakan.
Sebelumnya Leana memberikan perintah kepada Adde agar tidak menyerang organisasi perbudakan lainnya.
Jika target anggota mereka berada dalam organisasi tersebut maka ia diperbolehkan untuk mengambil tindakan seperti menculik target atau berkamuflase sebagai pembeli.
Tentu saja tindakan tersebut bersifat sementara. Leana berencana untuk mengumpulkan cukup kekuatan dan tenaga kerja agar dapat memberantas organisasi biadab itu secara tuntas dengan efektif.
Dengan begitu anggota bayangan yang menjadi korban perbudakan dapat membalaskan dendam mereka tanpa menjadi seorang pembantai. Mereka memiliki hak atas hal tersebut.
“Bagaimana keadaan mereka?”
“Mereka dalam keadaan baik-baik saja. Saya memberikan mereka waktu untuk beristirahat selama satu minggu, setelah itu saya akan menugaskan mereka pada pos yang telah ditentukan.” Jelas Adde.
“Saya akan segera melatih mereka sebagai bayangan yang layak dalam waktu yang telah ditentukan.” Tambahnya.
“Apakah kau mampu melatih mereka?”
“Tenggat waktu yang anda berikan bersifat absolut. Saya akan meniru menu pelatihan anda kepada saya. Jika perlu, saya akan menggunakan cara yang ekstrim pada mereka.”
Leana sebenarnya tidak ingin Adde menggunakan cara ekstrim namun waktu mereka sangat terbatas. Hanya ada waktu dua bulan hingga misi tahap kedua dimulai. Mereka tidak punya pilihan lain.
Ditengah keraguan Leana, Adde memberikan dorongan kepadanya.
“Kita tidak dapat mundur, begitu juga dengan mereka. Saya sudah memberikan pilihan kepada mereka dan mereka menerimanya dengan sukarela. Ini adalah pilihan mereka..”
Seperti biasa, tekad Adde tidak pernah runtuh dan ia terus menghadap kedepan melawan segala rintangan.
Seharusnya saat ini Adde hanyalah sebuah kuncup yang baru saja akan tumbuh, namun ia tetaplah Adde yang sama seperti pada ingatannya. Ia tidak pernah berubah.
Sementara itu, Leana yang masing membawa ingatan akan arus gelombang hidup yang keras terkadang masih penuh dengan angin keraguan.
Inilah kenapa Leana selalu merasa tidak akan pernah bisa menang dari Adde. Adde selalu menjadi dirinya.
“Kau memang selalu dapat diandalkan. Terima kasih.” Ucap Leana.
“Tidak masalah, nyonya. Ini adalah sesuatu yang diperlukan.”
Jika Albert berada di tempat itu, mungkin ia akan menegur Adde yang memberikan pikirannya secara sembarangan.
Namun pemikiran Adde terkadang adalah hal yang diperlukan untuknya agar tetap teguh pada komitmen yang telah ditentukan.
Ia tidak salah dalam memilih Adde sebagai tangan kanannya.
“Lalu seperti janji saya sebelumnya, saya telah membawakan pesanan anda.”
Adde membuka kota di meja dan memperlihatkan lima alat ajaib yang dibuat Ascan. Leana mulai bersemangat kembali.
Adde memberikan sebuah alat berbentuk lingkaran kepada Leana.
“Ini adalah alat teleportasi yang anda inginkan. Alat ini memiliki pasangannya dan masing-masing akan di tempatkan di dua tempat berbeda yang telah ditentukan.”
“Apakah Alscan sudah memasang alat ini untuk Alphiella?”
“Yang anda pegang sekarang sudah saya pasangkan di kamar anda. Untuk lokasi di Alphiella, Alscan mengatakan bahwa ia akan membuat model yang dapat dengan mudah dibawa.”
Memang julukan seorang inventor jenius bukanlah label semata. Selain menyelesaikan pesanan kliennya, ia juga membuat bentuk lain yang dibutuhkan oleh klien tersebut.
Leana masih merasa bersalah karena mencuri aset berharga Grand Duke Volfelance, tetapi disaat yang sama ia tidaklah menyesal.
“Kemudian untuk alat komunikasi, Alscan memberikan ini kepada anda.”
“ini…”
Adde menyerahkan sebuah kotak dan saat Leana membukanya, di dalamnya adalah sebuah anting dengan bentuk yang dapat melingkari daun telinga. Permata ungu berbentuk seperti daun menghiasi anting tersebut. Potongan dari permata tersebut terlihat familiar dengan bentuk tengahnya yang sedikit lebih terang.
“Sebelumnya saya sempat memberitahu Alscan mengenai pesta perayaan yang akan anda datangi nanti dan setelah itu ia membuat bentuk baru untuk anda. Ia juga menanyakan saran kepada Andrea mengenai bentuk yang cocok utnuk anda.”
Andrea adalah pemotong permata yang ia pekerjakan di Alphiella. Seperti dugaannya, hasil pekerjaannya sangatlah detail dan unik.
“Alat ini menggunakan sihir telepati jadi anda bisa berkomunikasi tanpa membuka mulut.”
Leana sudah mengetahui sebagian besar fungsi dari alat yang dibuat Alscan untuk membantu pekerjaan bayangan berdasarkan pengalamannya namun untuk memastikan adanya perubahan ia tetap meminta Adde menjelaskannya.
Dengan pijakan yang berbeda, Leana menemukan hal baru pada rekannya seperti Alscan yang memiliki inisiatif tinggi dalam pekerjaannya.
Ia memang menaruh harapan tinggi pada Alscan namun disaat yang sama ia juga mendapatkan sesuatu yang melebihi ekspektasinya.
Leana sangat senang dengan fakta itu.
“Ini sangat indah. Sampaikan terima kasihku kepada Alscan dan Andrea.” Ucap Leana dengan senyum lembut.
“Akan saya sampaikan.”
Tok Tok
“Nyonya, desainer baju anda sudah tiba.”
Suara Vivy terdengar dari balik pintu perpustakaan. Leana dan Adde mulai menyelesaikan pekerjaan mereka dan segera membereskan dokumen yang dipegangnya.
“Sepertinya percakapan kita sudahi sampai sini dulu. Rencana akan berjalan sesuai dengan yang sudah kita diskusikan.”
“Saya akan memastikan kembali persiapan kita nantinya.”
“Aku serahkan padamu.”
Adde membungkuk dan Leana bangkit mengikuti Vivy pergi bertemu dengan desainer baju untuk gaun pestanya. Desainer yang dipanggil oleh Forde merupakan salah satu desainer terkenal di kekaisaran.
Countess Helena Pirata adalah desainer ternama yang banyak dipuji kemampuannya oleh kekaisaran Solfilyan.
Rumornya banyak orang yang mengantri untuk dapat mengundang Countess Pirata ke rumah mereka saat memesan baju darinya.
Konon hanya orang-orang terpilih yang mampu menjadi pelanggan tetap tanpa mengantri saat memanggilnya. Tentu saja sa;ah satunya adalah dari pihak keluarga kekaisaran.
Ia tidak tahu apa yang dilakukan suaminya di masa lalu tetapi ia tahu bahwa Forde sangatlah beruntung untuk dapat menjadi salah satu pelanggan tetap Countess Pirata.
“Senang bertemu dengan anda, Marchioness Grandall. Saya Helena Pirata akan menjadi desainer baju anda untuk pesta perayaan.” Countes Pirata memberi salam kepada Leana dan ia membalasnya dengan senyuman.
“Senang bertemu dengan anda juga, countess Pirata. Saya Leana Grandall, mohon bantuannya.”
“Tentu saja nyonya! saya akan pastikan anda menjadi wanita tercantik di pesta tersebut seperti permintaan marquis!” ucap Countess Pirata dengan matanya yang bersinar.
Permintaan siapa? Forde?
Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Leana mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam pemilihan baju ini.
“Uh, iya, saya serahkan kepada anda.”
“Kalau begitu mari kita mulai saja! Ayo kalian semua, keluarkan baju-baju itu! Nyonya, izinkan saya untuk mengukur tubuh anda.” Ujar Countes Pirata sembari menarik tali pengukur.
Dengan sergap, asisten Countess Pirata segera menggiring deretan baju ke dalam ruangan dan mempersembahkannya kepada Leana. Countess Pirata juga menyerahkan beberapa katalog kepadanya untuk dilihat.
Pada saat itu juga Leana merasa bahwa pemilihan baju ini tidak akan memakan waktu yang cukup lama.
***
Dua jam pun berlalu dan Leana bersandar di sofa dengan lesu. Mukanya sedikit pucat karena kelelahan. Meski begitu, Countess Pirata masih memikirkan desain yang kemungkinan akan disukai oleh Leana.
Seperti dugaannya, setelah mencoba lebih dari sepuluh baju ia masih belum menemukan model yang cocok untuknya.
Bukan berarti desain yang diberikan tidak memuaskan, namun ada sesuatu yang membuatnya ragu untuk memilih desain yang telah disediakan.
“Countess, bolehkah saya bertanya sesuatu?”
“Ada apa itu, nyonya?”
“Apakah suami saya sudah memesan bajunya kepada anda?”
“Iya, benar. Marquis telah memilih desain bajunya bersamaan dengan kesatria Grandall lainnya untuk pergi ke pesta.” Countess Pirata mengangguk.
“Apakah kamu membawa desain yang telah ia pilih? Karena sepertinya saya cukup susah untuk memilih jadi saya pikir akan lebih mudah jika ada model yang bisa berpasangan dengannya.”
“Tunggu sebentar nyonya…”
Countess Pirata yang menyadari keraguan Leana dengan cepat memanggil salah satu asistennya dan memberikan buku desain kepadanya.
“Ini adalah desain yang di pesan oleh Marquis.”
Leana selalu membayangkan citra dari Grandall yang memegang pilar rantai ungu akan sedikit gelap, tapi ia tidak menyangka bahwa pakaian yang dipilih oleh suaminya akan memilih warna yang gelap juga.
Paduan antara hitam dan ungu serta sedikit sentuhan warna emas yang melambangkan bangsawan.
Dalam buku tersebut terdapat setidaknya empat desain berbeda dan dua diantaranya telah ditandai dan diberi catatan.
“Apakah warna ini sudah ditentukan juga?”
“Benar. Marquis menentukan warna ini tidak hanya untuk dirinya tetapi juga untuk prajurit Grandall yang akan menghadiri pesta.”
Leana menduga bahwa dress code untuk setiap pilar akan mewakili warna mereka masing-masing. Jika benar begitu, Leana ingin menyamakan desain gaunnya agar cocok dengan Forde.
“Aku mengerti. Kalau begitu aku akan memilih desain ini. Jika bisa buat agar tidak berkesan berlebihan dan cocok dengan milik suamiku.”
Mengetahui bahwa Forde diam-diam memberikan pesan kepada desainer untuk gaunnya, Leana memilih desain yang elegan dan tidak terlalu mencolok.
Selain mencocokan desain dengan suaminya, ia juga ingin membuat baju yang menggambarkan dirinya sebagai salah satu dari Grandall.
“Tenang saja nyonya. Saya tidak akan mengecewakan anda dan Marquis.”
Leana hanya tersenyum dan menjawab.
“Uh, iya, terima kasih…”