
"Leana, apa kamu tidak apa-apa?"
"Iya, aku baik-baik saja…"
Forde menurunkan Leana di kasur dan bersimpuh dihadapannya.
Wajah Leana terlihat sedikit pucat dari biasanya.
"Apa kamu yakin baik-baik saja?"
"Aku benar tidak-apa-apa kok. Aku sama sekali tidak terluka. Lihat--ugh!"
"Leana!"
Saat Leana bergerak mengangkat tangannya, ia merasakan sakit di lengannya. Tempat dimana Elyn menggenggamnya dengan kuat.
"Leana, bisakah kamu membuka bajumu sebentar? Aku hanya ingin mengecek lenganmu."
Leana seketika memerah. Matanya berenang ke berbagai arah untuk sesaat sebelum akhirnya mengangguk dengan malu.
"Terima kasih, Leana. Aku akan membantumu membuka bajumu."
Forde membuka gaun Leana dengan pelan dan mendapati lebam yang membentuk cengkraman di lengannya.
"Wanita sialan itu... Beraninya..."
Forde menggeram marah melihat Leana terluka. Ia pun bangkit dan berjalan pergi.
Sebelum mencapai pintu keluar, ia menoleh kepada Leana.
"Aku akan pergi mengambil
"Leana, aku kembali."
Ketika Forde kembali dengan membawa kotak obat di tangannya, ia mendapati Leana yang sedang terdiam tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Leana?"
Leana tersadar saat Forde sudah berada di dekatnya dan mengambil tangannya untuk diobati.
"Maaf jadi merepotkanmu."
"Ini bukan salahmu."
'Sebagian adalah salahku juga...'
Forde sudah memiliki firasat buruk saat Leana mendapatkan undangan pesta minum teh dari Permaisuri.
Awalnya Forde menepis firasat tersebut karena ia senang jika Leana dapat memiliki teman baru.
Namun pada akhirnya firasatnya itu hanya semakin kuat hingga ia tidak bisa tenang.
Saat pikirannya tidak fokus dengan rapat yang dihadirinya, ia tidak sengaja menghancurkan pena di tangannya yang seketika membuat firasat buruknya tidak dapat ia tahan lagi.
Ia segera meninggalkan rapat dan pergi menuju pesta.
Karena Forde bukan tamu undangan, ia harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Permaisuri.
Forde yang tidak sabaran ingin segera menembus pengawal dihadapannya namun tidak lama Permaisuri datang secara langsung kepadanya.
Permaisuri sempat tidak memberinya izin untuk masuk tetaoi karena adanya keributan di dalam pesta, Forde lekas pergi ke tenpat Leana tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya.
Pada akhirnya firasat buruknya menjadi kenyataan.
Ia tidak tahu apa yang terjadi disana namun Forde yakin bahwa ia akan membenci mereka yang hanya membiarkan istrinya dipermalukan.
Saat Forde selesai mengobafi Leana, ia menatap istrinya yang kembali tenggelam dalam pikirannya.
Ia sudah terbiasa melihat Leana berpikir aangat dalam hingga tidak menyadari sekitarnya, tapi kali ini ia merasakan seauatu yang berbeda dari biasanya.
Raut wajah Leana terlihat seakan terganggu oleh sesuatu dan ia mengetahui ekspresi sama yang tengah dipasangnya itu sebelumnya.
"Leana, apakah ada sesuatu yang kamu pikirkan?"
Leana tersadar dan membalas tatapannya.
"Tidak…Tidak ada apa-apa."
Leana segera membalasnya
"Lalu kenapa kamu bersikap ragu-ragu tadi?"
Leana tersentak. Matanya kemudian beralih menjauh dari Forde.
Forde mengetahui sifat Leana di kehidupan pertamanya berdasarkan apa yang di dengarnya.
Tapi di kehidupan saat ini, istrinya selalu bersikap tegas dan percaya diri dalam menghadapi masalah di depannya.
Satu-satunya yang dapat membuat keraguan dalam tindakan istrinya hanya satu.
"Apakah ada sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan pertamamu?"
Saat tubuh Leana bereaksi mendengar kata-katanya, tebakan yang dimiliki Forde tepat pada sasarannya.
"Leana."
Forde meraih tangan Leana dan mengusap punggung tangannya.
"Bukankah kamu sudah janji untuk tidak menanggung semua beban sendirian? Kali ini aku ada disampingmu untuk membantumu. Aku juga ingin memikul beban yang kamu miliki."
Bibir Leana terbuka dengan ragu. Ia merasakan tenggorokannya yang kering semakin menyiksanya seiring berjalannya waktu.
"Putri bungsu Baron Puosca… Elyn Puosca…"
"Maksudmu wanita yang tadi berbicara hal tidak masuk akal?"
Leana mengangguk lemah.
"Elyn Puosca… dia adalah istri keduamu di kehidupan pertama…"
Leana ingin segera melepaskan tangannya namun Forde tidak mau melepasnya.
Mungkin saja ia tidak diizinkan olehnya.
"Haa… ini gila…"
Forde mendengus dan tertawa kecil.
Leana yang tidak berani menatapnya tidak mengetahui ekspresi apa yang suaminya pasang saat ini.
Tetapi yang pasti, Leana sendiri merasa resah.
"Apa aku langsung menikah lagi setelah menceraikanmu dulu?"
"Tidak. Kamu menikah lagi tujuh tahun setelah perceraian kita."
Tujuh tahun setelah perceraian mereka, kabar bahwa Marquis Grandall telah menikah lagi akhirnya tersebar ke penjuru kekaisaran.
Pada saat itu Leana merasakan sesuatu bercampur di benaknya. Perasaan sepi dan lega.
Ia benar-benar bersyukur pada akhirnya Forde mendapatkan wanita pilihannya dan dapat berbahagia bersama.
Awalnya ia tidak ingin ikut canpur namun karena rasa penasaran, ia pun mencari informasi mengenai istri kedua Forde.
Tidak seperti saat ini, Elyn Puosca mengalami penyakit yang membuatnya telah terbaring selama hampir delapan tahun.
Ia yang merasakan ajalnya sudah dekat membuat permohonan kepada ayahnya, Baron Puosca untuk dapat menikah dengan Marquis Grandall.
Pria yang telah mencuri hatinya pada pandangan pertama.
Baron pun pergi ke kediaman Grandall dan menyampaikan pesan tersebut yang kemudian diterima oleh Forde.
Tidak lama mereka pun mengadakan upacara pernikahan tertutup dan setelah itu tidak ada kabar lain yang keluar di lingkaran sosial.
Banyak rumor mengatakan bahwa Elyn terus terbaring di ranjangnya karena penyakitnya yang semakin buruk.
Sementara Forde sendiri dikabarkan masih dengan taat menjalani tugasnya menjaga ke perbatasan dan jarang di kediaman Grandall.
Selain itu, tidak ada yang mengetahui status dari pasangan Grandall tersebut.
Tiga bulan setelah pernikahan mereka, Elyn Puosca dikabarkan meninggal karena penyakitnya dan Forde kembali ke kediamannya dua bulan setelahnya.
Berdasarkan saksi mata dari orang yang berada di sekitarnya pada saat itu, Forde sendiri bersikap biasa saja tanpa menunjukan emosinya sehingga para bangsawan mulai menganggapnya sebagai pria yang dingin tanpa perasaan.
Satu bulan setelahnya, labirin sihir muncul di Orzxenberg dan Forde kehilangan nyawanya saat menghadapi monster jenis baru.
Sebagai mantan istrinya, meskipun ia tidak memiliki ingatan indah bersamanya, Leana merasa sedih.
Tapi di saat yang sama, ia juga merasa tidak memiliki hak untuk memperdulikan mantan suaminya.
"Pada saat itu aku tidak mengetahui perasaanku sendiri. Aku selalu berpikir bahwa mungkin saja kamu bisa hidup lebih baik lagi… Aku tidak tahu…"
Mengingat kejadian itu lagi, mungkin saja selama ini Leana selalu merasa bersalah kepada Forde.
Ia telah menyia-nyiakan waktunya dan pada akhirnya tidak dapat membalas kebaikannya.
Sampai saat ini pun perasaan itu terus menetap dalam benaknya dan mungkin saja itu adalah alasan mengapa ia tidak bisa menghadap Forde dengan benar.
Karena ia selalu berpikir bahwa ia tidak mempunyai hak untuk bersamanya.
"Leana."
Forde mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Kau tahu? Saat kamu mengatakan bahwa aku menikah lagi, rasanya aku ingin sekali membunuh diriku pada saat itu."
Leana mengangkat wajahnya. Meskipun matanya berkaca-kaca, tidak satupun airmata jatuh ke pipinya.
"Melepasmu saja sudah membuatku muak, apa lagi harus bersama yang lain. Rasanya aku bisa gila."
Forde tertawa namun matanya munjukan seakan ia sedang kesakitan.
"Tapi setelah mendengar ceritamu, aku paham."
Leana menunggu kelanjutan kata-katanya. Ia benar-benar penasaran dengan perasaan yang sedang diungkapkan Forde kepadanya.
"Aku sangat yakin diriku pada saat itu kehilangan segala harapannya. Menghargai diri sendiri saja mungkin aku sudah tidak peduli. Aku dapat membayangkannya."
Leana dan Forde saling menatap satu sama lain. Cukup dekat hingga Leana dapat membaca semua perasaannya.
"Leana, aku dapat meyakinkanmu bahwa dihatiku hanya ada kamu. Aku mungkin menikahi wanita lain pada saat itu namun itu semua dilakukan hanya untuk menghargai harapan terakhirnya dan bukan berarti aku mencintainya."
Forde mendekatkan telapak tangan Leana ke pipinya dan mengusapkannya.
"Aku tidak peduli jika aku menjadi pria brengsek di mata orang lain tapi aku ingin menjadi yang terbaik hanya untukmu, Leana."
Kali ini Forde mencium telapak tangannya dan kedua kristal giok itu kembali menatapnya panas.
Jika bukan karena tangannya yang tengah terkunci, mungkin tubuhnya akan secara refleks mundur menjauh darinya.
"Saat kamu memilihku, kamu tidak tahu betapa bahagianya aku. Aku merasa menjadi pria paling bahagia di dunia ini."
Forde membenamkan kepalanya di telapak tangan Leana seperti anak kecil.
Sikapnya yang terus berubah ini membuat Leana tidak tahu harus berbuat apa.
"Oleh karena itulah Leana, sama seperti bagaimana kamu menyelamatkanku, aku juga akan menyelamatkanmu dan menjagamu hingga tidak ada yang dapat menyentuhmu."
Leana langsung memerah saat senyuman terukir di wajah tampan suaminya.
Ia hanya dapat mengangguk malu dan Forde tertawa kecil.
Forde pun mendekatkan diri kepada Leana dan menyatukan bibir mereka.
Menepis semua dinding keraguan yang masih tersisa diantara mereka.