
“Menjauhlah dari istriku.”
Leana dan Dean membeku. Wajah mereka menjadi pucat melihat Forde dengan ekspresinya yang seram.
Leana mengepalkan tangannya yang perlahan mendingin dengan kuat untuk menjaga ketenangannya. Meski begitu ia tidak yakin apakah ia sedang bernapas atau tidak.
Tekanan yang dihadapinya terlalu berat hingga menusuk dadanya.
‘Bukankah ini berbahaya?’
Ia tidak hanya panik karena Forde melihat anggota bayangan tetapi ia juga mulai mengkhawatirkan keselamatan mereka. Sekali lihat saja ia dapat mengetahui bahwa Forde serius untuk menghabisi Dean dan bayangan lainnya.
Apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi situasi ini. Tubuhnya yang tidak mampu bergerak seakan menghalanginya untuk mengambil keputusan pada saat itu juga.
Saat Forde mulai bergerak ke arah mereka, Leana pun tersentak sadar. Ia seketika mendapatkan kembali kebebasan di tubuhnya dan segera menoleh kearah Dean. Ia memberi isyarat kepadanya untuk lekas pergi.
Dengan sinyal tersebut, Dean pun bersiap untuk pergi namun tanpa ia sadari Forde sudah berada tepat di belakang Leana. Tangannya sudah diayunkan tinggi dan siap untuk menebas Dean.
Dean dengan sekuat tenang mencoba untuk mencari celah menghindari serangan tersebut. Leana secara refleks menarik Forde untuk menghentikannya.
“Forde!”
Terkejut dengan teriakan istrinya, serangan Forde pun meleset dan hanya mengenai udara. Dean yang berhasil menghindar pun segera pergi dari sana.
Forde menggeram kesal dengan kaburnya Dean dan bayangan lainnya.
“Cih, mereka berhasil kabur…”
Forde menenangkan dirinya dan menoleh ke arah Leana untuk mengecek keadaannya. Kedua tangan istrinya masih dengan kuat memegang bajunya hingga sedikit memerah. Ia bersimpuh untuk menyamakan tinggi mata mereka yang kini bertemu.
Saat Forde mengambil tangan istrinya yang dingin dan bergemetar, ia mengerutkan alisnya dan mengecup telapak tangannya seakan menyesali sesuatu.
“Maaf karena aku telat datang, Leana. Kamu akan baik-baik saja sekarang.” Ujar Forde dengan lembut.
Leana menggelengkan kepalanya dan menggenggam erat tangan Forde.
Forde mengangkat tubuh Leana dengan perlahan dan membawanya lebih dalam kedalam rangkulannya, seakan mencoba untuk menyembunyikannya.
Forde menjadi kesal membayangkan Leana yang harus mengalami insiden ledakan dan harus bertemu dengan orang misterius yang mungkin saja mencoba untuk membahayakan dirinya.
Forde terus menggenggam tangan Leana untuk menenangkan istrinya namun yang paling ingin menenangkan diri sebenarnya adalah dirinya sendiri. Ia bahkan merasa tidak ingin melepasnya.
Iscan yang berdiri tidak jauh dari mereka pun bergerak mendekati keduanya. Dengan hati-hati ia menanyakan kondisi Leana.
“Nyonya, anda baik-baik saja?” tanya Iscan dengan wajah dipenuhi rasa khawatir.
Leana merasa bersalah sebagaimana kini posisi Iscan berada dalam masalah karena telah menelantarkan tugasnya. Leana hanya mengangguk dan kemudian membenamkan wajahnya di pundak Forde.
Iscan menghela napas lega.
“Syukurlah, nyonya…”
Forde menggertakan giginya dan membalikan tubuhnya. Iscan membeku saat berhadapan dengan tatapan tajam Forde yang berisi penuh kemarahan.
“Jangan pikir aku akan melepasmu begitu saja, Iscan Trian. Jelaskan apa yang terjadi dan aku akan menentukan hukuman yang sesuai untuk kelalaianmu ini.” Ujar Forde.
Matanya menyala seakan akan memotong tenggorokannya. Iscan menelan ludahnya dengan berat dan membungkuk.
“Maafkan atas kelalaian saya, Marquis. Saya akan menerima apapun hukuman dari anda atas kelalaian saya dalam menjaga majikan saya.”
Tanpa membalas, Forde pun berjalan pergi dari tempat itu dan Iscan mengikutinya dengan menjaga jarak.
Sesampainya di mansion, Forde segera memanggil dokter untuk mengecek keadaan Leana dan membawanya ke kamarnya.
Setelah pengecekan, Forde bersikeras untuk mengurus istrinya sendirian dan tidak membiarkan siapapun untuk mendekati mereka bahkan dokter itu sendiri.
Forde terus terdiam tanpa mengatakan sepatah apapun meskipun Leana membuka suaranya duluan. Seperti biasa, Forde tidur dengan memeluk Leana.
Leana tidaklah terluka tetapi suaminya memperlakukannya seakan ia sedang terluka larah. Terlebih kini ia diabaikan seribu kata olehnya.
‘Ekspresi Forde saat kami bertemu terlihat seperti kesakitan.’
Leana terus memikirkan cara untuk menenangkan suaminya sepanjang malam hingga ia tertidur.
***
Paginya Forde tidak pergi dari sisi Leana hingga siang hari di mana ia perlu menemui ketua penyelidik untuk membahas mengenai insiden ledakan semalam.
Sementara ia lepas dari pengawasan Forde, Leana bertemu kembali dengan Adde yang membawa laporan seputar insiden ledakan. Untuk jaga-jaga, ia membuat Hardie berjaga di depan pintu sementara Iscan berada tidak jauh darinya.
“Nyonya, saya hampir saja mendapatkan PTSD.” Ucap Adde dengan lemas.
Wajahnya masih pucat seperti mau muntah. Leana hanya dapat memandanganya dengan penuh rasa bersalah setelah pertemuan pertama Forde dengan Dean yang tidak memberikan kesan bagus.
Saat Leana ingin membuka mulut untuk meminta maaf, Adde sudah angkat bicara duluan.
“Saya seharusnya lebih mendalami pesan yang diberikan oleh tuan Albert.”
“Adde, jika kau berencana menjadi Albert ke-2, hentikan sekarang juga.” Ujar Leana cepat dengan serius.
Adde menatap majikannya dengan kesal. Leana bahkan dapat merasakan bahwa Adde benar-benar memiliki rencana untuk setidaknya memberikan satu pukulan di kepala majikannya secara legal.
“Anda tidak mengerti seberapa pentingnya pesan itu! Kejadian kemarin saja sudah cukup untuk membuktikannya!” seru Adde.
“Soal itu aku minta maaf! Lain kali aku mencari cara yang lebih efektif untuk menukar informasi!”
Adde menatap Leana dengan dingin saat mendengar jawabannya.
“Nyonya, anda sama sekali tidak mengerti apa yang saya maksudkan.”
Leana menatap Adde dengan bingung. Iscan yang sedari tadi terdiam berjalan mendekati mereka dan sedikit membungkuk kepada Leana.
“Saya juga meminta maaf, nyonya. Saat saya sedang menangkap pelaku peledakan, tuan Forde datang untuk membantu kami dan saya tidak dapat menutupi sepenuhnya keberadaan anda.” Ujar Iscan.
“Kau tidak salah, tuan Iscan. Bagaimana dengan hukuman yang diberikan oleh Forde?”
“Karena saya telah menemukan pelaku dari insiden ini, saya diberi keringanan hukuman. Waktu latihan saya akan digandakan dan saya mendapat pelatihan khusus di hari libur dengan wakil komandan Weiss.” Jawab Iscan.
Leana menatap Iscan dengan prihatin. Ia secara tidak langsung telah merepotkan keduanya.
“Saya tidak bisa mengawal anda untuk sementara waktu jadi nanti Hardie yang akan menggantikan saya.”
“Tuan Hardie?”
“Benar. Dan sepertinya saya khawatir bahwa ia juga memerlukan penjelasan dari anda.”
“Penjelasan dari saya?”
Iscan mengangguk.
“Mengenai rencana anda. Ia sudah melihat anggota bayangan anda, saya khawatir ia nantinya akan tidak sengaja kelepasan memberitahu orang luar.” Ujarnya.
Benar. Hardie sudah terlanjur melihat Dean dan Veil, terlebih dengan Leana yang mengatakan bahwa mereka bukanlah musuh. Jika Hardie mengungkapkan hal tersebut kepada Forde atau orang luar baik disengaja maupun tidak sengaja, maka rencananya bisa saja mengalami hambatan.
Apakah tidak apa-apa mengajak Hardie ke sisinya?
Meskipun Hardie tidak memiliki niat jahat tetapi Leana tidak dapat sepenuhnya mempercayainya sebagaimana ia tidak memiliki banyak ingatan mengenai Hardie di kehidupan pertamanya.
Leana juga baru menyadari sosok Hardie karena ia selalu bersama dengan Iscan. Keduanya terlihat sangat dekat saat ini namun mungkin karena di kehidupan pertamanya ia hanya melihat Iscan yang menggantikan Weiss sebagai wakil komandan, keduanya menjadi jarang terlihat bersama.
“Aku akan memikirkannya.”
“Terima kasih, nyonya.” ucap Iscan dan kembali ke tempatnya.
Leana kembali menatap Adde.
“Bagaimana dengan pihak Grand Duke?”
“Saya sudah mendapatkan separuh laporannya namun ia ingin bertemu langsung dengan anda untuk mendiskusikan perkara insiden ini.”
“Begitu ya, aku mengerti…”
Grand Duke yang lebih memilih untuk memberitahunya secara langsung dibandingkan dengan mengirimkan laporan memberikan petunjuk bahwa insiden ini jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.
Apa lagi virus yang tidak pernah di temukan sebelumnyakini menjadi salah satu masalahnya.
“Adde, berikan aku kertas dan pena.”
Adde segera mengambil kedua benda tersebut dan memberikannya kepada Leana. Sembari menulis surat, ia memberikan perintah kepada Iscan.
“Tuan Iscan, saya ingin anda pergi ke kediaman Count Vivaldi dan mengantarkan surat ini. Gunakan nama Grandall dan bilang bahwa ini adalah keadaan darurat. Adde, tolong kau berikan informasi mengenai insiden dan virus kepada Iscan untuk disampaikan nanti.”
“Saya akan segera melaksanakannya.” Ucap Iscan dan mengambil surat dari tangan Leana kemudian berlari pergi.
“Saya akan segera kembali dengan laporan lainnya.” Adde juga undur diri dengan menggunakan alat sihir teleportasi.
Setelah keheningan datang ditempatnya untuk beberapa saat, sebuah ketukan terdengar dari balik pintu.
“Nyonya, ini saya Hardie. Saya dengar anda memanggil saya.”
Leana mengangguk dengan tatapan serius. Melihat hal tersebut Hardie pun menjadi tegang.
“Silahkan masuk, Tuan Hardie.”
“Kalau begitu, saya permisi.”
Hardie duduk di sofa dihadapan Leana. Ia terdiam menunggu kata-kata majikannya yang bersikap sangat serius tidak seperti biasanya.
Setelah beberapa detik terdiam, Leana membuka matanya dan menatap lurus ke mata Hardie. Pada saat itu Hardie tidak mengetahui bahwa ia akan ditarik ke sisi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Tuan Hardie, saya akan memberikan anda tugas penting namun sebelum itu saya juga memerlukan sumpah dan janji anda tanpa dipertanyakan. Apakah anda bersedia?”
Saat Hardie menatap sosok Leana saat ini, ia merasakan hal familiar di matanya. Ia seperti melihat mata yang sama seperti yang komandannya miliki ketika menghadapi hal yang sangat penting.