
Untuk pertama kalinya anggota bayangan Alphiella menyesali keputusan yang telah mereka buat.
Siapa yang menyangka bahwa yang akan menyambut mereka di area pelatihan adalah Marquis Forde Grandall.
Diam-diam mereka semua mulai mengutuk ketua bayangan mereka, Dean, yang tidak memberitahu informasi detail dari panggilan mereka.
Mereka ulang kembali kejadian pertemuan pertama bayangan Alphiella dan Rantai Ungu serta kemunculan Marquis yang mengejar istrinya tadi malam di kepala mereka, mereka mulai merasa tidak sehat.
Dua kejadian itu cukup membuat mereka memiliki trauma yang mereka sendiri tidak sadari.
"Apakah ini semua mereka yang bisa hadir?"
Forde melirik Adde dan ia pun menjawab.
"Benar, Marquis."
"Baiklah kalau begitu."
Forde meraih antingnya dan mengeluarkan kedua kapaknya yang seketika membuat bayangan Alphiella menjadi pucat.
Saat melihat bentuk dari kapak milik Forde, lima bayangan yang menemani Leana saat pergi ke labirin besar terkejut.
"Kapak itu..!"
Adde bingung melihat reaksi mereka. Ia berjalan mendekati Helt.
"Ada apa?"
"Kapak yang dimiliki Marquis, memiliki warna dan ukiran yang hampir sama dengan belati nyonya Leana!" Jawab Helt.
Adde memperhatikan kembali kapak tersebut dan mulai memahami apa yang mereka maksudkan.
Kapak Forde memiliki warna hitam dengan ukiran biru yang menyala. Adde mulai merasakan hal aneh.
'Tapi informasi mengenai belati itu hanya Rein, aku dan Zenox yang mengetahuinya. Jadi bagaimana bisa?'
Di saat Adde tengah memutar otaknya, bayangan Alphiella tengah membayangkan berbagai skenario yang akan terjadi kedepannya di kepala mereka.
"Aku akan memperkenalkan diriku lagi. Aku adalah Marquess Forde Grandall, suami dari Leana Grandall, kontraktor dan pemimpin kalian."
Mereka semua menahan badan mereka yang bergetar saat Forde menatap mereka dengan serius. Mereka merasa jika tidak dapat menatapnya balik dengan benar, mereka akan mengalami hal yang jauh lebih buruk.
"Kudengar kalian adalah orang-orang yang diakui dan dipercayai oleh istriku."
Bayangan Alphiella menelan berat ludah karena tenggorokan mereka yang terasa kering.
"Oleh karena itulah, aku akan membuktikan kemampuan kalian itu dengan tanganku sendiri."
Mata tajam Forde tertuju ke arah mereka semua.
"Sebagai salam pertemuan resmi kita, aku akan memberimu keringanan. Aku akan datang kepada kalian, jadi bersiaplah."
'Ah… Mati aku…'
Hati bayangan Alphiella seketika menjadi satu. Mereka tidak punya pilihan lain selain menghadapi kenyataaan pahit di depan mereka.
Dengan berat hati, mereka mengeluarkan senjata dan bersiap pada posisi mereka untuk menerima serangan dari Forde.
Setelah sekali lagi memperhatikan wajah para bayangan, Forde menyerang mereka tanpa memberi aba-aba. Bayangan yang menjadi korban pertamanya terpental ke belakang bersama dua orang di dekatnya.
Mereka yang berada di dekatnya menjadi pucat dan telat menjauh dari posisi tersebut karena syok. Karena hal tersebut Forde berhasil menumbangkan lagi dua dari mereka dengan cepat.
“Jangan diam saja dan tetap fokus. Kalian ini profesional kan?” ujar Forde dengan berat.
Matanya menyala serius untuk menjatuhkan mereka semua. Dengan dorongan dari ketakutan dalam diri mereka, akhirnya para bayangan pun membuat posisi bersiaga dan beberapa dari mereka mencoba menyerangnya.
Seiring berjalannya waktu, satu per satu bayangan Alphiella tumbang. Beberapa dari mereka mencoba untuk bangkit hanya untuk ditumbangkan lagi.
Kebanyakan dari mereka memutuskan untuk berdiam hingga Forde menyerang mereka namun Adde yang mengetahui jalan pikiran mereka hanya dapat menghela napas kecewa.
KACRANG!
"AAGH!"
Seorang bayangan yang mencoba menahan serangan Forde terpental ke belakang hingga menabrak temannya di belakang.
Forde membenarkan tubuhnya dan memprovokasi mereka.
"Apakah kalian sudah menyerah? Menyedihkan.”
Tetapi provokasi itu tidak berhasil sepenuhnya mengangkat semangat mereka, yang ada mereka membuat sumpah serapah baru untuk diri mereka kedepannya.
"Maafkan mereka Marquis. Sepertinya latihan mereka masih kurang."
GACRANG
Forde menahan serangan Adde yang datang dari sampingnya dengan mudah. Ia bahkan tidak bergeser sedikit pun dari posisinya.
Adde menarik mundur serangannya dan berdiri tidak jauh di hadapan Forde.
"Apakah mereka serius dalam pekerjaan mereka? Kau pikir segini saja bisa menjaga istriku?"
"Sepertinya salah di saya juga yang kurang memberikan pelatihan lebih keras untuk mereka."
'Tidak… Tolong hentikan…'
Baik bayangan yang masih berdiri atau yang sudah tumbang menahan rasa ingin menangis di benak mereka.
Latihan yang Adde berikan kepada mereka sudah cukup keras bagi mereka namun sebagai seorang bayangan, mereka harus membiasakan diri terhadap latihan tersebut.
Dan ketua mereka baru saja menjanjikan latihan yang lebih keras daripada yang mereka lakukan sekarang?
Apakah ia yakin ketua mereka tidak mencoba untuk membunuh mereka secara perlahan?
"Sepertinya kau berbeda dengan mereka."
"UWAGH!!"
Forde bergerak cepat menumbangkan bayangan lain di sisi kanannya. Adde bersiap siaga dalam posisinya menunggu serangan dari Forde.
"Karena saya dilatih secara langsung oleh nyonya Leana."
"Hoo…"
Forde mengembalikan pandangannya kepada Adde dengan tertarik.
"Bisakah kau menceritakannya? Aku tertarik mendengarnya."
Forde tersenyum kepadanya. Namun di mata yang lain, senyuman itu terlihat seperti seringai seorang pembunuh kepada korbannya.
'Ah.. aku salah ngomong…"
Adde mengatup mulutnya rapat karena mengetahui bahwa ia akan mengalami sesuatu hal yang menyulitkan di depan matanya.
"Saya akan menjelaskannya di tempat yang lebih nyaman, Tuanku. Tapi saya bisa yakinkan latihan mereka tidaklah sebanding dengan yang telah nyonya berikan kepada saya."
Terlebih bagaimana Adde menyadari di akhir bahwa Leana diam-diam menjahili dan menipunya di tengah latihan.
"Hmm… begitukah…"
Forde terlihat semakin tertarik.
'Tidak tidak… Latihan seperti apa yang sebenarnya ketua alami hingga bisa seperti itu?!'
Bayangan Alphiella di sekitar mereka menambah keringat dingin hingga mampu membasahi pijakan mereka.
Forde memasang posisinya, bersiap menyerang Adde.
"Kalau begitu, mari kita segera selesaikan kegiatan ini dan segera berbincang empat mata. Bersiaplah."
Adde meningkatkan kewaspadaan dan pertahanannya, mencoba mencari celah terbaik agar dapat bertahan dan membalas serangan yang akan datang.
"Saya siap, Tuanku."
Keduanya tidak memiliki niatan untuk menyerah dan menggerakan tubuh mereka lebih cepat dari siapapun tanpa menahan diri.
***
"Ini… surat undangan dari kediaman Grand Duke Volfelance?"
Di tangan Leana terdapat sebuah amplop mewah berwarna hitam dan biru. Ditengahnya terdapat cap lambang sang Grand Duke yang dikenal semua orang.
"Apakah tidak ada pesan lisan darinya?"
"Beliau tidak mengatakan apapun."
Leana mengambil pisau dan membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat undangan untuk pesta yang akan diadakan di kediaman Grand Duke minggu depan.
'Ngomong-ngomong, aku belum membicarakan soal Forde kepada Eclipse…"
Semenjak Leana membuka rahasianya, Forde bersikeras untuk ikut membantu dalam menjalankan rencana besarnya.
Terutama suaminya memasang muka seram ketika nama Duke Leon keluar dalam pembahasan mereka.
Saat Leana memberitahu bahwa ia menyerahkan urusan mengenai Duke Leon kepada Eclipse, ia dapat melihat kening Forde yang berkerut seakan ia kecewa akan sesuatu.
Leana tidak tahu apa yang sedang berjalan di dalam pikiran suaminya, namun ia senang karena Forde kini mau menerima dirinya apapun yang terjadi.
"Arcan, apakah kau memberitahu Eclipse mengenai Forde?"
"Saya tidak mengatakan apapun mengenai hal tersebut."
"Kalau begitu tolong sekalian kirimkan jawaban dari undangan serta surat ini kepadanya."
“Segera saya laksanakan, nyonya.”
“Ah, Arcan! Apakah kau tahu suamiku sedang berada di mana sekarang?”
Leana mengambil cangkir teh dan mengesapnya pelan. Arcan melirik ke sisi kiri matanya untuk sesaat kemudian menjawab.
"Marquis sedang berlatih dengan para bayangan."
Leana menumpahkan teh yang ia minum dari mulutnya yang terbuka. Matanya melebar saat mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh Solas.
Solas segera menyediakan saputangan untuknya sementara Leana melongo mencoba memahami informasi yang baru saja di dengarnya.
Forde berlatih bersama anggota bayangan Alphiella!?
Leana segera bangkit dari kursinya dengan panik dan berjalan cepat menuju aula latihan.
Saat ia membuka pintu aula dengan tergesah-gesah, ia melihat hampir seluruh para bayangan di sana tumbang di sekitar Forde.
Dihadapan suaminya yang tidak berkeringat sedikit pun, Adde bersimpuh dengan napas yang terengah-engah dan kondisi sedikit compang-camping.
"Ap-yang…"
Leana terlalu syok melihat pemandangan di hadapannya hingga Forde menyadari keberadaannya.
"Leana."
Dengan senyum segar di wajahnya, Forde melambaikan tangannya ke arah Leana yang menjadi pucat.
Apa kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi di hadapannya saat ini? Ia sangat ingin mengetahuinya.
"Fo-Forde? Ada apa ini…?"
"Aku hanya ingin melihat kemampuan mereka yang sangat kamu akui itu, Leana. Dengan tanganku sendiri."
'Sekali lihat saja aku sudah tahu..!'
Leana merapatkan bibirnya dan menahan air mata yang akan keluar dari sisi matanya. Ia hanya dapat mengasihani bayangannya yang menjadi korban dari kemampuan suaminya itu.
Leana mengambil tangan suaminya dan menariknya pelan.
“F-Forde, apakah kamu lapar? Bagaimana kalau kita makan bersama?”
“Baiklah. Ayo kita makan.”
Adde yang masih mengumpulkan tenaganya mencoba untuk menyusul keduanya.
“Nyonya… Leana…”
“Beristirahatlah untuk hari ini, Adde. Aku akan memberitahu yang lain.”
Dengan ekspresi sedikit kecewa, Adde hanya bisa menunduk.
“Baik, terima kasih nyonya.”
***
Setelah mereka selesai makan, Leana menanyakan lagi kejadian di area latihan tadi.
“Forde, kenapa kau tiba-tiba mengajak latihan para bayangan?"
"Aku hanya penasaran dengan kekuatan mereka yang sangat kamu akui itu. Aku harus benar-benar memastikan bahwa mereka adalah orang yang bisa diandalkan." jawab Forde yang sedikit mengalihkan pandangannya. Ekspresita terlihat tidak bersemangat.
Forde kebingungan dengan tindakan Forde yang tidak biasa ia temukan.
"Forde? Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kamu khawatirkan?"
"Aku khawatir denganmu, Leana."
"Aku?"
"Aku tahu kamu mempercayai mereka daripada aku, tapi kamu juga terluka bahkan dalam pengawasan mereka. Jadi aku tidak bisa sepenuhnya percaya pada mereka."
Leana mengedipkan matanya.
Jika orang lain melihat Forde saat ini, mungkin mereka hanya melihat sosok forde yang tengah kesal akan sesuatu.
Tapi di mata Leana, pria di hadapannya seperti bertingkah layaknya anak kecil yang sedang cemburu.
Leana menyadari sesuatu.
Forde cemburu? Kepada bayangan Alphiella?
Mengetahui sifatnya, hal tersebut seharusnya memungkinkan baginya.
Leana pun tersenyum dan menyentuh tangah Forde untuk menenangkannya.
"Forde, aku ini jauh lebih kuat daripada yang kamu bayangkan."
Leana adalah mantan anggota bayangan dan tubuhnya masih mengingat setiap gerakan dan teknik saat ia masih menjadi bayangan.
Forde menatap Leana dengan ekspresi khawatir.
"Aku minta maaf jika membuatmu khawatir. Aku berjanji akan mendiskusikannya terlebih dahulu kepadamu mulai dari sekarang."
Forde membalikan tangannya dan menggenggam tangan Leana. Leana senang dengan jawaban yang diberikan suaminya itu.
Ia tiba-tiba memiliki ide cemerlang.
"Forde jika kamu masih meragukan kekuatanku, bagaimana kalau kita berlatih bersama?"
"Ha?"
Forde terkejut dengan perkataan Leana.
"Tunggu, Leana--"
"Tentu saja tidak perlu menahan diri. Karena aku akan membuktikan kekuatanku padamu!" ujar Leana dengan mata berbinar.
Forde memasang wajah kesulitan melihat istrinya.
"Leana.. Aku tidak bisa..."
"Tolong, ya? Forde?"
"......."
Forde bimbang di saat ia dihadapkan dengan ekspresi memohon istrinya.
Di dalam hatinya ia ingin Leana menyembuhkan dirinya dan beristirahat hingga ia pulih tetapi di saat yang sama ia tidak bisa menolak istrinya yang tengah memohon.
Dengan perasaan berat, Forde oun menjawab.
"Aku mengerti, tapi tolong prioritaskan kesembuhanmu terlebih dahulu."
Leana melebarkan senyumannya dan berjalan mendekati Forde. Ia memeluk leher suaminya kemudian mencium pipinya dengan lembut.
Forde yang sangat senang dengan ciuman dari Leana menarik tubuhnya masuk dalam pelukannya dan menikmati kehangatan yang tubuh mereka bagi.