
Helt, bayangan Alphiella, menyerahkan laporan tertulis beserta foto labirin yang didapatkannya ke hadapan Leana. Ia juga menaruh secarik kertas dengan simbol yang familiar di matanya.
Leana membaca dengan seksama laporan tersebut sembari mendengarkan laporan lisan dari Helt.
"Semuanya sama seperti informasi yang telah anda berikan kepada kami. Kami sudah memastikan setidaknya lima kali sebelum menandai lokasinya.”
Foto dalam laporan itu menggambarkan labirin besar yang diingatnya di kehidupan pertamanya, tidak berubah. Hanya saja lokasinya saat ini tidak sama seperti dahulu. Apakah ada suatu arti dibalik hal tersebut?
“Lalu dimana lokasi labirin itu?”
“Labirin itu berada di dasar tebing.”
“!”
Tebing memiliki banyak rumor nyata mengenai penemuan monster dan diawasi ketat oleh Pilar Rantai Ungu.
Tetapi rumor itu sendiri seharusnya hanya berlaku di permukaan tebing karena tidak ada yang pernah menyentuh apapun yang berada di dasar tebing. Setidaknya bukan untuk dirinya dan bayangan Alphiella.
Mengetahui bahwa bayangan Alphiella menyentuh tebing, ia menjadi sedikit khawatir.
“Bagaimana kalian bisa sampai sejauh itu?”
“Kami telah mencari ke penjuru kekaisaran Solfilyan dan tidak mendapatkan hasil apapun. Sebelum memutuskan untuk mengambil izin dari anda untuk melakukan investigasi keluar wilayah, kami membuat keputusan untuk menginvestigasi dasar tebing. Maafkan kecerobohan kami, nyonya.”
Bukan area tebing melainkan dasar tebing.
Ia tidak pernah menyentuh area tebing di kehidupan pertamanya. Tempat tersebut memang adalah salah satu tempat yang tidak mungkin dipikirkannya untuk di cari.
Untuk bayangan Alphiella yang memutuskan untuk mengeceknya, Leana tidak tahu apakah mereka nekat atau malas.
Labirin besar sendiri ditemukan di area timur kekaisaran Solfilyan. Wilayah yang tiba-tiba mendapatkan bencana dan ditinggalkan sama seperti Alphiella itu ada tempatnya menemukan labirin besar.
Pada saat itu ia terluka cukup parah dalam misinha dan terpisah dari rekannya. Saat ia sadar, sang penjaga labirin telah membawanya masuk dan mengobati lukanya.
Disana mereka berbincang hingga pada akhirnya Leana menjalin kontrak dengannya. Itu adalah sesuatu yang sangat ajaib, mengingat sifat dari sang penjaga labirin.
Kali ini pun ia berencana untuk melakukan hal yang sama. Ia akan kembali menjalin kontrak dengan penjaga labirin karena ia memiliki spekulasi bahwa sang penjaga labirin adalah kunci untuk menghentikan perang.
Leana menaruh laporan Helt dan menyandarkan diri ke kursi. Matanya masih menatap Helt yang masih berdiam rapi.
Leana menghela napas.
“Karena keputusan kalian telah membuahkan hasil, aku akan menutup mata mengenai hal ini. Tetapi tidak ada kesempatan kedua untuk membuat keputusan seperti ini, mengerti?”
Helt seketika berbinar dan menaruh tangan kanannya di dada kirinya.
“Siap! Terima kasih, nyonya Leana!”
Ketika Helt meninggalkan ruang kantor, Leana kembali menatap laporan mengenai labirin besar.
Ia hanya mempunyai waktu hingga Forde kembali ke Grandall dan ia merasa tidak akan punya cukup waktu untuk menutupi tindakannya ini.
Oleh karena itulah ia berencana untuk psrgi eaok hari dan bertindak cepat sebelum waktu yang dimilikinya habis.
***
Leana pergi menuju labirin besar bersama dengan lima bayangannya dengan codename Helt, Piria, Cassen, Veren, dan Duvde.
Saat keenamnya akan berangkat, Alscan dan Zenox datang dengan tergesah gesah menghentikan mereka.
“Nyonya Leana!”
“Alscan, Zenox, ada apa?”
“Zenox ingin memberikanmu sesuatu.”
Zenox memberikan sebuah kotak kepadanya dan di dalamnya terdapat sepasang belati besar yang sangat familiar baginya. Kedua belati itu adalah senjata miliknya dahulu saat menjadi Rein, bayangan Volfelance.
Leana menatap Zenox dengan tertegun.
“Zenox ini…”
“Saat saya dengar anda akan pergi menuju labirin besar, saya mendengar cerita bahwa anda lihai menggunakan belati besar. Saya juga meminta saran tuan Adde sebelumnya. Ia juga berbaik hati memberikan detailnya kepada saya.” ucap Zenox dengan malu-malu.
Leana seketika mengingat kejadian minggu lalu bagaimana Adde tiba-tiba saja bertanya mengenai senjata yang digunakannya dahulu saat menjadi bayangan Volfelance.
Pada saat itu Leana sangat sibuk dan lelah sehingga tidak berniat bertanya lebih jauh dan hanya memberikan apa yang diperlukan oleh Adde.
Menatap belati itu, Leana merasa sangat familiar sebagaimana bentuknya benar-benar menyerupai senjatanya dulu.
Dahulu belati yang digunakannya adalah hadiah dari Eclipse saat ia resmi menjadi bayangan Volfelance. Belati dengan panjang setengah lengannya itu memiliki warna hitam dengan ukiran indigo yang seakan menyala.
Leana tidak ingat apakah ia memberikan detail ukiran kepada Adde, namun ukiran tersebut sangatlah mirip hingga ia tidak dapat membedakan.
Ia menatap Zenox yang masih malu-malu. Leana tidak pernah bertemu dengan penempa yang membuat senjata yang digunakan oleh bayangan Volfelance, namun jika Zenox ternyata adalah penempa Grand Duke dahulu maka ia hanya dapat terpukau dengan bagaimana takdir bekerja secara ajaib di kehidupannya kali ini.
Leana pun tersenyum lembut.
“Terima kasih Zenox. Aku sangat senang dengan hadiah darimu.”
“Sa-Saya akan sangat terhormat jika belati ini dapat membantu anda.” ucap Zenox.
Alscan yang terdiam dengan perasaan sedikit kesal pun masuk di antara keduanya.
“Saya juga berkontribusi dalam memberikan sihir tambahan di dalam belati itu lho.” ucap Alscan seakan ingin membanggakan diri.
“Kalau begitu aku juga akan berterima kasih padamu, Alscan.”
Leana mengambil dua belati itu dari kotaknya dan mendekatkannya kepada anting yang diberikan oleh suaminya. Dalam sekejap kedua belati itu menghilang terserap ke dalam anting.
Mereka yang melihat hal tersebut terpukau, terutama untuk Alscan.
“Oohh… Jadi itu adalah batu kristal yang dikabarkan diambil dari labirin…” ucap Alscan dengan kagum. “Nyonya, kalau boleh–”
“Maaf, Alscan. Tapi untuk saat ini aku tidak menerima permintaan.” ucap Leana dengan cepat memotong kata-katanya.
Saat ia berbalik, Leana dapat mendengar suara Alscan yang sedikit kecewa tetapi ia tidak menggubrisnya dan pergi meninggalkan Alphiella.
Lokasi Alphiella tidak terlalu jauh dari tebing sehingga tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke area tersebut.
Sebelum memasuki area tebing, mereka harus melewati dinding perbatasan yang dijaga oleh Rantai Ungu.
Berkat kemampuan bayangan, mereka dapat dengan mudah melewatinya tanpa ketahuan.
Beberapa kilometer kemudian, mereka pun sampai di tebing.
Tebing raksasa yang tidak dapat dilihat ujungnya itu seakan dapat menelan seseorang hidup-hidup.
Lokasi labirin besar berada di antara pos 17 dan 18. Sebelumnya mereka masuk melewati pos 15 maka jika mereka menyusuri pinggir tebing, maka mereka akan menemukan sebuah tanda yang sudah dibuat bayangan Alphiella sebelumnya.
Namun untuk menghindari pengawasan dari Rantai Ungu, mereka memutuskan untuk menuruni tebing lebih awal.
Dengan hati-hati, mereka menuruni tebing tersebut. sesampainya di dasar, yang berada di sana hanyalah area kosong yang gersang dan gelap.
Mereka bahkan tidak dapat melihat ujung tebing di depan dan belakang mereka selain dinding tebing yang mereka turuni tadi. Suhu disana juga dingin karena kurangnya cahaya matahari yang masuk.
Dengan waspada, keenamnya berjalan menyusuri dasar tebing itu dengan penuh keheningan.
Tidak ada satupun dari mereka berani membuat suara karena dapat menarik perhatian makhluk apapun yang bersemayang di sana.
Meskipun terkadang terdapat suara yang tidak mungkin dihasilkan oleh mereka, tidak akan ada satupun yang mempertanyakannya.
Mereka terlalu memfokuskan diri sendiri kepada tujuannya untuk menepis rasa takut.
Dua jam berlalu dan mereka pun akhirnya sampai di tujuan mereka.
Sebuah lubang cukup besar terbentuk di dinding tebing. Dibandingkan dengan lubang, mungkin sebuah gua adalah nama yang tepat.
Meskipun tebing memiliki banyak misteri, gua tersebut juga merupakan keanehan yang seharusnya tidak dimiliki oleh tebing. Sebagaimana mereka menyusuri tebing, tidak satupun lubang atau ruang yang terbentuk di dinding tebing.
Mereka memang tidak menyusuri tabung seluruhnya, namun keanehan seakan menjadi cap yang pas untuk gua tersebut.
Duvde menatap gua tersebut dengan perasaan aneh.
"Ini aneh…"
Leana menoleh ke arah Duvde yang terlihat tengah berpikir keras.
"Ada apa?"
"Sebelumnya yang berada di sini seharusnya labirin besar tetapi kenapa sekarang terdapat gua di sini?"
"Maksudmu ini bukanlah lokasinya?"
"Bukan begitu, nyonya. Tempat ini adalah benar lokasi labirin besar karena Duvde lah yang pertama kali menemukannya." Ujar Helt.
Helt berjalan ke area samping mulut gua dan menarik keluar sebuah benda yang menjadi penanda bahwa lokasi itu adalah benar labirin sihir.
"Sebelumnya gua yang kami temukan memang menyatu dengan dinding tebing namun sekarang..." Ucap piria.
"Sekarang bentuk dari labirin itu sendiri sudah tidak ada…" lanjut Cassen.
Seakan sesuatu telah menelannya.
Leana menatap gue itu dan dengan memberanikan diri, ia memasuki gua tersebut.
Ia menggunakan alat sihir yang berfungsi seperti lampu senter untuk menerangi ruangan yang menggelap seiring dengan dalamnya mereka memasuki gua tersebut.
Tidak lama, mereka menemukan pintu dengan berbagai simbol dan ukiran. Di tengahnya adalah simbol yang ia ketahui.
Dengan hati-hati, ia meraih simbol tersebut dan kemudian pintu tersebut terbuka dengan suara nyaring yang menggema di gua tersebut.
Di dalamnya, satu per satu cahaya muncul, tidak hanya untuk menerangi isi dari labirin tetapi seakan mencoba untuk menuntun mereka ke suatu tempat.
Keraguan terbentuk di hati Leana namun ia harus segera mencari penjaga labirin yang dipercayanya sebagai kunci untuk menghentikan perang dengan monster.
Leana menoleh ke arah bayangan Alphiella untuk sesaat sebelum akhirnya berjalan mengikuti cahaya.
Mereka terus berjalan dan perlahan menaiki tangga demi tangga, mencoba untuk naik ke area yang tidak mereka ketahui.
Setelah beberapa saat, mereka menemukan ruang kosong yang cukup luas dan memutuskan untuk beristirahat.
Leana yang mencoba mengecek isi ruangan itu menemukan simbol yang sama seperti sebelumnya.
Ia meraih dan menyentuh simbol tersebut dan tidak lama cahaya muncul di bawah kaki Leana.
"Nyonya Leana!!"
Sebelum bayangan Alphiella dapat meraih Leana, ia sudah menghilang bersama dengan cahaya dan simbol tersebut.