This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Relation



Keduanya menjauh dari keramaian festival. Mereka berjalan menuju gang yang sebelumnya di lewati Leana dan


Ditengah perjalanan mereka, paladin yang sebelumnya berjaga di kejauhan pun bergabung mengikuti langkah keduanya.


Berjalan semakin dalam melewati banyak liku arah yang tidak ia ketahui, terkadang ia memperhatikan bayangan Alphiella yang mengikuti di atasnya.


Selama belum adanya laporan bahaya dari mereka, ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun.


Tidak lama, mereka menemukan jalan buntu.


Di ujungnya terdapat sebuah pintu kayu yang terlihat terabaikan dengan berbagai macam debu dan daun kering di sekitarnya.


Lumine menoleh kepada para paladin.


"Kalian berjagalah di luar. Kami akan baik-baik saja."


Para paladin saling menatap satu sama lain sebelum mengangguk dan menaruh tangan mereka di dada.


"Kami mengerti, Saintess. Berhati-hatilah."


Keduanya pun berjalan mendekati pintu itu.


Tanpa ragu, Lumine membuka pintu kayu tersebut dan keduanya disambut oleh kegelapan dan juga debu yang berterbangan di udara.


Lumine berjalan lebih dalam sambil memegang tangan Leana. Keduanya berhenti di ujung ruangan tepat cahaya yang datang dari satu-satunya jalan masuk mereka berada.


Di hadapan mereka terdapat sebuah peti kecil yang terlihat seperti baru tanpa adanya debu, berbeda dari ruang yang mengelilingu mereka.


Seakan peti itu baru saja diletakan di sana.


Lumine meraih peti tersebut dan diluar dugaannya, tangannya memutar bagian atasnya dan sebuah lingkaran sihir muncul dibawah kaki mereka.


Pakaian dan rambut mereka sedikit melayang di udara karena konsentrasi mana sihir di sekitar mereka. Bahkan tubuh Leana terasa sangat ringan hingga ia berpikir bahwa ia dapat terbang pada saat itu juga.


Leana menoleh ke arah pintu yang kini sudah tertutup. Ia sempat berpikir kalau para Paladin akan langsung bergerak maju saat keduanya berada di atas lingkaran sihir, namun sepertinya sesuatu telah menghalangi orang luar untuk memahami apa yang berada di dalam ruangan.


Ia memikirkan kemungkinan sihir seperti Impale Illusion.


Tapi semirip apapun sihir tersebut, ia yakin rekontruksi untuk mengaktifkan sihir tersebut dibutuhkan rumus dengan kompleksitas tinggi yang hanya dapat digunakan oleh penyihir tertinggi setingkat dewan perwakilan menara sihir atau pemilik menara sihir itu sendiri.


Perlahan ruangan tersebut berubah menjadi lebih terang keemasan.


Leana membeku ketika sosok dengan jubah tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


Jubah berwarna gelap seperti langit malam dengan bintang yang menghiasi galaksi. Di depan dadanya terdapat beberapa benda yang tergantung, memberi petunjuk kepada siapapun atas pangkat yang dimilikinya.


Ia mengingat kembali sosoknya dengan jubah yang terduduk di meja paling ujung saat rapat besar. Membuka mulutnya yang tersembunyi dibalik bayangan jubahnya hanya untuk menjawab hal yang diperlukan saja.


Tidak salah lagi. Sosok dihadapannya adalah pemilik menara sihir, Newt Poteire!


"Selamat siang, tuan Newt."


Newt hanya mengangguk pelan kepada Lumine kemudian beralih kepada Leana. Ia perlahan membuka jubah yang menutupi kepalanya .


Leana terkejut.


Ia membayangkan sang pemilik menara sihir adalah pria tua atau paruh baya, tidak seperti sosok dihadapannya yang terlihat seumuran dengannya


Tetapi mengingat Newt adalah pemilik menara sihir, ia memikirkan kemungkinan bahwa penampilannya saat ini adalah berkat sihir dan kembali pada fokus awalnya.


"Kita bertemu lagi, Marchioness Leana Grandall. Orang yang mempekerjakan Alscan sang penyihir dengan ketertarikan unik."


Leana hampir tersedak saat nama Alscan keluar dari mulutnya namun ia berusaha untuk tetap tersenyum kemudian mengangguk. Tangannya terasa sedikit dingin karena gugup.


"Saya tidak menyangka akan bertemu dengan pemilik menara sihir di sini."


Leana merasa nadanya sedikit waspada. Tapi karena ia telah menduga akan kemungkinan orang-orang penting akan mencoba untuk menghubunginya, ia telah mempersiapkan diri untuk saat ini juga.


Namun pemilik menara sihir adalah orang yang tidak dapat ia duga akan mencoba untuk menghubunginya.


Mungkin saja pemikirannya tersebut terpengaruh oleh pandangan serta penggambaran orang lain kepada pemilik menara sihir.


Hal tersebut terbukti karena kini ekspektasi dan kenyataan dihadapannya saling bertolak belakang.


Leana beralih kepada Lumine.


"Nona Lumine, apakah anda membawa saya ke sini..."


Newt memotong perkataannya.


"Saya lah yang meminta Saintess Lumine untuk membuatkan waktu kepada saya."


Leana perlahan berbalik pandang antara Newt dan Lumine. Ia merasakan suatu keanehan diantara keduanya. Cukup untuk menimbulkan kecurigaan kepada mereka.


"Tidak perlu khawatir, saya hanya ingin berbicara dengan anda dan penjaga labirin sihir untuk membahas sesuatu. Jika anda tidak keberatan, ini adalah kehormatan bagi saya."


Leana tertegun dengan akhir kata dari Newt. Ia menoleh kepada Lumine yang memberinya anggukan.


"Saya bisa meyakinkannya, nona Leana." Ia mengambil tangan sang pemilik menara sihir dan mendekatkan tubuh mereka dengan familiar. "Newt adalah kakak saya!"


Leana mengedipkan matanya. 'Apa?'


Newt menghela napas pasrah.


"Sepertinya saya telat memperkenalkan diri. Saya Newt Poteire, pemilik dari menara sihir saat ini. Saya juga adalah kakak dari Saintess Lumine saat kami berada di panti asuhan."


Oh? Ini adalah informasi yang baru ia ketahui.


Kalimat terakhir Newt menimbulkan kecurigaan mengenai penampilannya. Ia kembali mempertanyakan apakah sosoknya yang terlihat muda adalah karena sihir atau bukan.


Leana juga mengkhawatirkan apakah ia boleh mengetahui hal tersebut.


Seakan membaca pikirannya, Lumine menambahkan.


"Ini tidak umum diketahui, tapi hampir semua orang di sekitar kami mengetahuinya."


Leana mengangguk. Ia kembali menatap Newt.


"Saya melihat anda di pesta perayaan semalam."


"Benar. Saya memang datang semalam untuk bertemu dengan anda, tapi saya mengurungkan niatan itu untuk alasan lain."


"Apakah anda sibuk?"


"Ah, Kak Newt hanya pemalu!" Newt memberi tatapan tajam kepada Lumine yang mengabaikannya. Ia menambahkan. "Terlebih kami merasa tidak dapat mendekat saat anda sedang bersama Marquis semalam."


"Ah..."


Leana mengingat bagaimana suaminya secara tidak langsung mengusir Saintess tadi malam. Perasaan tidak enak pun kembali berputar di benaknya.


Tetapi melihat reaksi dari Lumine, sepertinya ia tidak perlu khawatir mengenai hal itu.


"Lalu, yang ingin anda bicarakan?"


Newt mengayunkan tangannya di udara dan sebuah arus angin hadir di hadapan ketiganya, memunculkan meja bundar dan kursi agar mereka dapat berdiskusi dengan nyaman.


Setelah angin mereda, ketiganya duduk secara bergantian.


Tanpa basa basi Newt langsung merujuk pada topik mereka.


"Ini mengenai kekuatan yang dimiliki oleh labirin sihir."


Menyadari ujung topik tersebut, Leana memanggil Telsia tanpa membuka mulutnya. Newt pun melanjutkan.


"Seperti bagaimana sihir milik penyihir dan kekuatan suci milik orang suci adalah dua kekuatan yang berbeda, saya merasakan bahwa kekuatan yang dimiliki oleh labirin sihir ada dalam kategori yang berbeda pula."


Klatak. Dari udara, muncul cangkir teh dan beberapa hidangan kini tersedia di atas meja.


Leana tanpa sadar membuat kebiasaan untuk menatap pantulan dirinya di permukaan teh saat tengah memikirkan hal penting yang mendalam.


Ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Newt dengan ekspresi serius.


"Apakah anda menduga bahwa kekuatan labirin sihir... adalah kekuatan yang sama seperti yang dikatakan pendeta saat rapat pertama?"


Ia sedikir ragu namun ini adalah saat yang tepat baginya untuk menilai apakah Newt adalah musuh atau kawan baginya.


"Saya pernah menemui kekuatan gelap yang dimiliki oleh iblis dan monster, jadi tidak. Kekuatan beliau adalah sesuatu yang berbeda."


"Apa kekuatan itu bukan berasal dari labirin sihir?" Pancingnya.


Sejauh yang diketahuinya, musuh dunia yang membawa bencana dan berita buruk hanya berasal dari labirin sihir.


Hal buruk apa lagi selain labirin sihir yang ada di dunia ini?


"Anda salah. Kekuatan gelap sudah ada jauh sebelum kemunculan labirin sihir. Kekuatan yang diciptakan akibat penyalahgunaan kekuatan suci maupun sihir murni. Kekuatan yang meminta imbalan dan menghasilkan kehancuran bagi sekitarnya."


Newt mengeluarkan sebuah bola transparan dengan asap hitam di dalamnya. Menaruhnya di tengah meja yang telah diberi ruang dengan sihir.


Meskipun tidak menyentuhnya, Leana sudah merasakan hal tidak enak yang tiba-tiba merayap di tubuhnya.


Tangan Lumine pun meraih tubuh Leana. Dari telapaknya muncul cahaya keemasan yang tidak terlalu menyilaukan. Mengangkat sesuatu yang mencoba menggerogotinya.


"Ya ampun, Kak! Jangan sembarangan memberi hal buruk itu kepada orang lain yang belum pernah menemui benda itu!" protes Lumine.


Newt tersentak. Kini ekspresinya berubah khawatir saat melihat jelas bagaimana Leana menjadi sedikit pucat.


Ia memutar jarinya di dekat bola tersebut dan sebuah kotak transparan berwarna keunguan mengelilinginya, menghilangkan aura buruk yang dikeluarkannya bola tersebut.


Leana menyadari kondisinya kembali membaik.


"Maafkan saya. Saya seenaknya menganggap anda dapat mengatasi aura dari kekuatan ini. Saya sangat menyesal."


Sekali lagi, ia dibuat terkejut dengan betapa sopannya sikap sang pemilik menara sihir. Tidak seperti bagaimana kebanyakan cerita menggambarkan sosok dihadapannya.


Leana segera menenangkannya.


"Tidak masalah. Saya hanya sedikit terkejut. Terlebih, tidak ada yang terluka jadi untuk kali ini mari kita tutup mata saja."


Sebelum Newt dapat melanjutkan, suara terdengar dari samping Leana.


"Kau memiliki benda yang menarik, anak muda."


Lingkaran sihir seketika tercipta dan memunculkan cermin sihir, memunculkan sosok Telsia di dalamnya.


"Penjaga labirin sihir, Telsia."


"Senang bertemu dengan anda, pemilik menara sihir, Newt Poteire."


Leana menyaksikan bagaimana dua figur yang hampir sama pentingnya ini akhirnya bertemu secara langsung.


Lebih tepatnya, ia sendiri takjub karena bisa berada di tengah ketiga orang penting di dunia ini, sesuatu yang tidak akan pernah dialami oleh orang pada umumnya.


Tapi satu hal penting, semuanya terhubung berkat keberadaan Telsia.


Mata Telsia tertuju pada bola transparan itu.


"Aku sudah lama singgah di dunia ini, bukan berarti kekuatan itu tidak ada, namun aku hampir tidak menemukannya sama sekali."


Leana sedikit terkejut saat Telsia membuang formalitasnya entah kemana di hadapan Newt. Begitu juga sebaliknya.


"Kekuatan ini adalah salah satu yang tersimpan untuk diteliti di menara sihir. Akar utamanya telah dibasmi puluhan tahun lalu namun dengan keberadaan kekuatan gelap yang masih menetap di dunia ini, sepertinya tidak semuanya dapat di musnahkan."


"Tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Apa yang sudah muncul di dunia akan terus berbekas dalam bentuk yang berbeda hingga dapat dibangkitkan kembali."


Leana tidak melewatkan binar kecil yang muncul di mata Newt.


"Itu... Sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Sepertinya berbincang dengan anda adalah pilihan yang tepat."


"Aku senang kau berpikir begitu tentang diriku."


Leana bergantian menatap Telsia dan Newt yang mulai berbicara di dunia mereka sendiri, meninggalkan dua lainnya yang tidak dapat memahami mereka.


Ia beralih kepada Lumine namun ia hanya menunjukan ekspresi 'saya juga tidak paham' kepadanya. Ia pun memutuskan untuk diam dan memperhatikan mereka.


"Bagaimana pendapat anda, tuan Telsia?"


"Memang benar apa yang berada dalam bola itu adalah kekuatan kegelapan yang memiliki aura hampir sama dengan kekuatan gelap lainnya di dunia lain."


Newt menatap bola tersebut dan kembali mengkonfirmasi kebenaran yang seharusnya sudah ia ketahui di dalam dirinya.


Tetapi ia mendorong diri untuk menanyakan hal bodoh di mata dunia ini.


"Apakah kekuatan ini harus dihancurkan?"


Telsia menatap kembali mata yang serius meminta jawaban dari pertanyaannya. Ia pun memberikan apa yang diharapkannya.


"Terkadang kekuatan jahat dapat menangkal kejahatan lain jika digunakan dengan benar."


Kata-kata singkat tersebut memberikan banyak pertanyaan dan juga konfirmasi namun bukan jawaban yang pasti.


Seakan Telsia ingin Newt untuk mempelajari berbagai makna yang terdapat dalam kalimat tersebut.


Newt memberikan senyuman terlebar yang belum pernah dilihat orang lain selain adiknya.


Ia tidak menemukan jawaban yang ingin ia dengar namun ia puas dengan apa yang didapatkannya.


"Saya berharap saya dapat belajar lebih banyak dari anda." Ucapnya. Matanya memancarkan mimpi yang tidak dapat dicapainya.


Telsia membalasnya. Memberinya jawaban jelas.


"Aku juga ingin memiliki waktu berbincang lebih banyak denganmu, tapi sayangnya kecil kemungkinan bahwa hal tersebut akan terjadi."


Newt tersentak.


"Maksud anda?"


"Seperti yang saya bilang sebelumnya, tindakan saya terbatas dan saya tidak punya kemauan untuk kepentingan saya sendiri."


Telsia menatap sendu kepada Croselia ditangannya. Kebiasaan untuk mengelus Croselia seperti benda yang sangat berharga.


"Begitukah. Sangat disayangkan sekali." ucap Newt. Tidak memperpanjang topik mereka.


Newt meminum teh dihadapannya, merasakan sedikit kekecewaan di benaknya.


Sepintas Leana menyadari bagaimana kepulan asap tidak kunjung berhenti dari cangkir mereka.


"Kau sangat bijak untuk seorang anak kecil. Sepertinya gelarmu bukan hanya nama."


"Saya tersentuh dengan kata-kata anda."


Tentu saja bagi Telsia yang sudah ribuan tahun hidup diberbagai dunia, Newt hanyalah anak kecil.


Leana bergantian melirik keduanya. Tidak dapat memahami topik baru yang mereka angkat.


"Tapi kau masih lebih kecil daripada anak kecil. Kau masih bibit yang belum seharusnya mengeluarkan sesuatu. Kecuali kau mencurangi sesuatu atau seorang genius."


"Saya adalah seorang genius." ucap Newt dengan bangga.


"Begitukah."


Telsia terkekeh kecil. Cukup kecil hingga tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali Leana yang telah lama bersamanya. Menyaksikan setiap perubahan yang tidak pernah ditunjukan sebelumnya.


Leana menatap keduanya dengan bingung. Tidak tahu kapan ia harus masuk diantara keduanya.


"Tapi memang benar, saya telah melakukan hal curang."


Kini semua pandangan tertuju kepada Newt. Bahkan Lumine sedikit kehilangan senyumannya saat menyadari apa yang ingin dikatakan oleh kakaknya nanti.


"Saya masih 23 tahun tapi sudah memiliki gelar sebagai pemilik menara sihir yang biasanya hanya dimiliki kakek tua berumur 60 tahun keatas."


Leana melebarkan matanya. Memahami kesalahpahamannya.


'Tunggu—Jadi penampilannya itu bukan karena sihir?!' serunya dalam hati.


"Sebelum saya membangkitkan kekuatan sihir saya, sebelum Lumine terpilih menjadi Saintess..." Mata Newt menatap jauh ke masa lalunya. "Sebuah surat... Atau lebih tepatnya tumpukan kertas yang membentuk jurnal, tiba-tiba saja muncul dihadapan kami."


Telsia tidak berkata apa-apa dan terus mendengarkan. Leana menduga bahwa ia telah mengetahui semuanya mengenai Newt Poteire melalui Croselia.


Namun Newt terus melanjutkan, seakan ia ingin Leana juga mengetahui hal tersebut.


"Jurnal tersebutlah yang telah membantu saya mencapai apa yang telah saya dapatkan saat ini. 'Newt Poteire' saat ini."