
"A-Apa-apaan ini?!" Ucap Baron Zenesia dengan setengah berteriak.
Saat Scheregraff dan seorang anggotanya membuka pintu tersebut, yang berada di baliknya adalah tempat yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Suasana dan penampilannya yang jauh lebih gelap dan suram itu memberikan nuansa mencekam bagi mereka.
Pemandangan itu seakan membawa mereka ke dimensi yang berbeda.
Selain muka pucat pasukan Lima Pilar, keempat pemimpin segera menoleh ke arah Eclipse seakan mengharapkan penjelasan.
"Grand Duke, ada apa ini sebenarnya?" Margrave mengerutkan keningnya.
Eclipse mengangkat kedua tangannya dan menjaga jarak dari mereka sedikit. Ia pun membuka suara
"Sebelum pergi, saya mendapatkan tip misterius yang mengatakan bahwa labirin ini berbeda dari yang lain. Namun tidak ada bukti yang dapat menyokong tip tersebut."
"Tetap saja itu adalah informasi yang penting! Tip itu bisa menjadi pengingat untuk kita jika terjadi sesuatu!" Seru Margrave.
"Lalu apa? Membuat kekhawatiran tanpa dasar? Apa yang keanehan yang sudah kita temukan selama perjalanan ini?"
"Grand Duke!"
Tidak ada yang bisa menjawab. Menyalahkan sang Grand Duke pun tidak akan menyelesaikan permasalahan.
"Menurut pengamatan dari Jubah Hitam, setiap kali kita menaiki satu lantai, pintu di level sebelumnya akan tertutup dengan sendirinya. Meskipun didorong sekuat tenaga atau diserang menggunakan cara apapun, pintu tersebut tidak dapat di buka."
"Itu artinya…"
"Kita hanya dapat mengetahui perubahannya saat membuka pintu terakhir yang tertutup. Pada saat itu terjadi, semua sudah terlambat sebelum kita dapat menyadarinya.”
“Maksud anda kita bertemu dengan skenario yang sangat buruk untuk di temui?”
“Saya sendiri tidak dapat memastikan dengan sepenuhnya sebagaimana labirin harus diselesaikan terlebih dahulu.”
Count Vivaldi menghela napas dan menatap ke arah pintu. Melihatnya saja tidak hanya membuat tubuhnya semakin lelah tetapi beban di kepalanya juga semakin bertambah.
“Ini sama saja seperti baru masuk labirin, ya…” ujarnya dengan setengah pasrah.
“Saya juga tidak tahu apa yang labirin ini miliki begitu berubah. Jika kemungkinan labirin ini mempunyai dua sistem, sepertinya untuk kali ini kita harus bekerja ekstra.” ujar Eclipse.
Dalam benak mereka, tidak hanya kekhawatiran dan kekecewaan, tetapi rasa lelah yang dikumpulkan selama misi cukup membuat mereka sedikit terpuruk.
Kalaupun seseorang mencoba menghibur mereka, tidak akan ada yang benar-benar kembali pulih dari rasa keputusasaan mereka.
“Kalau begitu kita tidak punya pilihan lain selain bekerja keras.”
Semua orang mengalihkan pandangannya kepada Forde yang tiba-tiba mengangkat suara. Wajahnya sedikit menggelap karena kondisi mereka saat ini.
“Jika kalian semua ingin kembali dengan selamat, sebaiknya persiapkan diri dan jangan pernah turunkan kewaspadaan kalian.”
Semua pasukan Lima Pilar terutama Rantai Ungu seketika merinding dan menegapkan tubuh mereka. Melihat tatapan yang hampir dipenuhi kilatan kemarahan itu, mereka merasa tidak akan bisa mundur lagi dari apapun yang akan mereka hadapi nanti.
“Jawaban kalian?”
“SIAP KOMANDAN!!” Seru mereka bersamaan dengan suara lantang.
Dibandingkan dengan hiburan, yang diperlukan oleh pasukan Lima Pilar adalah rasa takut yang lebih besar daripada masalah mereka sekarang.
Keempat pemimpin lainnya hanya bisa tersenyum kecil melihat hal tersebut. Terutama Eclipse yang dapat mengetahui alasan dibalik kekesalan rekannya itu.
“Terkadang saya suka takjub dengan sikap Marquis Grandall.” ujar Baron Zenesia.
“Sepertinya kita berhutang pada Marquis kali ini.” ucap Margrave Santica.
Eclipse hanya terdiam mendengar pembicaraan keduanya dan mendatangi Forde yang sepertinya mencoba bergerak duluan.
“Jika tidak ada yang ingin mengambil langkah pertama, saya yang akan melakukannya.”
“Tidak, Jubah Hitam akan pergi duluan untuk mengecek keadaan. Dan karena kita tidak tahu bagian mana yang aman dan yang mana yang tidak, menurut saya akan lebih baik jika kita membuat dua pertahanan tidak hanya di depan tetapi juga di belakang.”
Eclipse menoleh ke arah Baron Zenesia dan Margrave Santica. Saat keduanya ingin menerima usulan tersebut, Forde sudah memotongnya.
“Tidak, cukup lakukan seperti biasa. Pertahanan belakang akan dilakukan oleh Rantai Ungu seperti biasa. Formasi awal kita sudah cukup untuk melawan labirin ini.”
'Wow... Kepercayaan diri yang sangat tinggi...'
Semua orang seketika menyatukan hati mereka.
“Kalau begitu Perisai Kuning dan Tombak Merah akan membagi pasukan di bagian depan dan belakang. Sebagian dari Jubah Hitam akan melakukan investigasi di depan sementara Sayap Putih akan berada pada posisi tengah. bagaimana?” ujar Margrave Santica.
“Saya setuju.” jawab Baron Zenesia.
Eclipse Mengangguk dan menoleh ke arah pasukannya. Sebagian kecil Jubah Hitam pun bergerak meninggalkan tempat tersebut bersama dengan Scheregraff.
"Lebih cepat maka lebih baik. Jika kalian sudah selesai beristirahat, segera bersiap untuk pergi."
Forde berjalan kembali ke pasukannya dan memberi mereka perintah.
Sementara itu pemimpin lain sempat memperhatikan rekan mereka untuk sesaat sebelum akhirnya mempersiapkan kepergian mereka.
***
Labirin yang sebelumnya mereka lewati kini berubah bentuk menjadi sebuah dungeon berbahaya yang sesungguhnya.
Pintu yang sebelumnya mereka pecahkan kini kembali tertutup dan kembali menyimpan rahasia di baliknya. Beberapa ruangan bahkan tidak memiliki pintu dan tidak memiliki apapun, seakan labirin ini sudah terabaikan sejak lama.
Meskipun memiliki ukiran, tetapi beberapa pintu di sana hanyalah pintu biasa tanpa adanya teka-teki sihir.
Pintu tersebut tidak mau terbuka meskipun telah diserang secara fisik atau menggunakan sihir, sama seperti informasi yang mereka dapatkan.
Oleh karena itulah mereka hanya terus menyusuri jalan hingga menemukan jalur menuruni lantai bawah.
Saat ingin membuka pintu yang akan mengarahkan mereka ke lantai bawah, mereka mendengar suara pintu terdengar dari kejauhan dibalik kegelapan.
Rantai Ungu yang berada paling belakang segera mempersiapkan diri mereka.
Beberapa anggota Jubah Hitam segera mendekati arah suara dan sepasang cahaya pun terlihat dari kegelapan.
Kemudian suara langkah kaki yang mendekati mereka terdengar dan perlahan sosoknya pun mulai terlihat.
"Bersiaplah! Monster datang!"
Bersama dengan seruan seorang dari Jubah Hitam, monster itu pun segera melesat ke arah mereka.
Monster dengan kaki seperti laba-laba itu memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan dengan yang mereka temui sebelumnya.
"Sayap Putih, sihir api!"
Monster baru yang mereka catat sebagai Olipre itu memiliki kelemahan terhadap api. Hal ini ditemukan mereka saat mencoba berbagai cara untuk melawan mereka yang memiliki jumlah lebih banyak.
Sebagaimana laba-laba, Olipre juga dapat berjalan di dinding dan langit-langit.
"Flare Robust!"
Dengan sihir yang dikeluarkan oleh Count Vivaldi, Olipre yang sudah mengelilingi mereka segera mundur dan memberikan mereka ruang.
Sayap Putih juga mengeluarkan sihir api yang hanya menargetkan Olipre di hadapan mereka.
"Count Vivaldi, berikan peningkatan sihir api pada seluruh senjata Lima Pilar!" Seru Baron Zenesia yang terus menahan serangan monster.
"HAA?! JANGAN BUAT PERMINTAAN YANG–ugh, yang benar saja…"
Count Vivaldi mengeluarkan ramuan berwarna kuning dan meminumnya dalam sekali tegukan. Setelah itu ia pun mulai merapalkan matranya.
"Elemental Enhancement! Area!"
Seketika semua senjata yang dimiliki pasukan Lima Pilar pun menyala kemerahan dengan auranya yang sedikit panas.
Count Vivaldi yang menggunakan sihir dalam jangka besar sekaligus langsung sempoyongan dan segera ditangkap oleh anggota Sayap Putih.
"Ketua!!"
"Oi yang di sana! Berikan ramuan penambah Mana kepada ketua!"
"Bukankah kita masih ada stok ramuan?!"
"Siapa yang membawa kantung dimensi berisi ramuan?! Cepat ke sini!!"
Dengan pemimpin mereka yang ambruk, Sayap Putih yang sebelumnya sibuk dalam memberi bantuan sihir menjadi lebih sibuk lagi untuk membangkitkan ketuanya dengan segera.
Sebagai pertahanan terakhir, Rantai Ungu dengan sigap dan cekatan menjaga keamanan dari Pilar Sayap Putih. Mereka tidak akan membiarkan monster untuk mendekatinya.
Kembali bangkit setelah meminum ramuan dan diberikan sihir penyembuhan, Count Vivaldi pun kembali membantu pasukan lainnya.
Scheregraff yang berada di kejauhan dengan telat memberi seruan kepada sang Count.
"Bertahanlah, Count! Jumlah mereka masih cukup banyak!" seru Scheregraff dari kejauhan.
Count Vivaldi yang berada di tengah rapalannya pun dengan kesal menjawab.
"Saya juga tahu itu!"
Count Vivaldi tidak mengetahui bahwa beberapa orang tengah menahan tawanya melihat kejadian tersebut.
***
Dua jam berlalu dan akhirnya mereka berhasil mengalahkan tuntas Olipre. Pintu ke lantai selanjutnya telah terbuka, namun Lima Pilar memilih untuk beristirahat menyembuhkan diri mereka sebelum melanjutkan.
Sementara itu Jubah Hitam yang tidak mendapatkan banyak luka memutuskan untuk mengecek kondisi lantai selanjutnya.
Sebagai suporter, Sayap Putih bekerja tanpa henti bergantian menyembuhkan pasukan Lima Pilar dan mulai mempersiapkan keperluan mereka juga.
Count Vivaldi membuka lagi catatan yang di dapatkannya di labirin ini.
Masing-masing dari lantai memiliki monster yang berbeda. Olipre adalah monster terakhir yang ditemukan mereka sebelum memasuki ruangan sistem, berarti jika mengikuti urutan masuk seharusnya mereka bisa mengetahui apa saja yang akan datang kedepannya.
Lantai di mana Olipre muncul seharusnya memiliki teka-teki sihir yang cukup rumit namun keberadaan teka-teki itu tidak dapat ditemukan dimana pun. Di sana hanya terdapat pintu polos yang terkunci rapat.
Seakan labirin ini hanya tersisa untuk menyiapkan arena bagi mereka.
Selain itu monster yang ditemui mereka juga memiliki ketangguhan yang meningkat dibandingkan dengan sebelumnya.
Jika mereka tidak menemukan senjata atau sihir yang cocok maka monster tersebut akan sulit untuk tumbang. Selain itu yang meningkat juga adalah jumlah mereka.
Pola monster yang dimiliki oleh labirin ini ada dua, yaitu ketangguhan dan jumlah. Jika jumlahnya sedikit maka ketangguhannya lah yang lebih unggul, dan jika jumlah mereka banyak maka jumlah itulah yang akan mereka manfaatkan untuk mengalahkan musuhnya.
“Itulah yang saya perkirakan..” ucap Count Vivaldi, menjelaskan teori yang didapatnya terhadap perubahan labirin.
“Begitu ya. Jumlah dan ketangguhan. Tetapi disaat yang sama kita juga tahu bahwa kekuatan mereka meningkat dibandingkan dengan saat pertama kali kita menemukannya.” ucap Margrave Santica.
“Artinya kita akan sepenuhnya bertarung menghadapi monster tanpa henti untuk bisa keluar.” ucap Baron Zenesia.
Keduanya terdiam kembali memikirkan solusi.
Tidak lama Jubah Hitam yang baru saja kembali, datang dan melaporkan hasil investogasi mereka kepada Eclipse.
Eclipse berjalan mencari sesuatu di ruangan tersebut dan Scheregraff memanggilnya karena telah menemukan benda yang dicari tersebut.
Keduanya mengangguk dan Eclipse pun berjalan mendekati rekan pemimpinnya.
“Kita harus segera bersiap pergi.”
Dengan kata-katanya itu, semua orang bergerak mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan.
“Sepertinya ada jam waktu yang tertanam di setiap ruangan, begitu juga di ruangan ini. Saya curiga kalau jam itu akan menentukan keluarnya monster, jadi sebaiknya kita segera menuju pintu lantai selanjutnya sebelum monster-monster itu tiba.” ujar Eclipse. Ia terlihat sangat serius dan tidak sedang bercanda seperti biasanya.
Eclipse yang melihat suasana tegang mereka pun menghela napas.
“Ini adalah yang biasa kita temui. bukan? kenapa anda sekalian jadi tegang seperti itu?” ujarnya mencoba mencairkan suasana.
Ketiga pemimpin itu mendengus mendengar kata-kata Eclipse dan kembali kepada pasukan mereka untuk memulai formasi.
Forde yang berdiri tidak jauh dari mereka terus mengawasi pintu keluar mereka.
***
Dua minggu kemudian, mereka pun menginjak lantai kedua labirin tersebut.
Rasa lelah sudah tidak dapat disembunyikan lagi dari wajah mereka. Count Vivaldi yang terus menerus menggunakan sihir elemental enhancement dan area, saat ini sedang di giring oleh pasukannya sendiri. Meskipun tidak pingsan, tubuhnya terlalu lelah untuk bergerak sendiri.
Dikarenakan sedikitnya area aman yang cukup luas untuk menampung mereka semua, beberapa dari mereka harus bergilir menghadapi monster yang terus muncul hampir tidak ada hentinya.
Mereka hanya diberikan setidaknya beberapa jam sebelum kemunculan monster di satu lantai. Setelah itu mereka bisa saja memakan waktu berjam-jam atau seharian dalam mengalahkan monster tersebut.
Jam waktu mundur untuk membuka ruangan yang akan berisi monster itu aktif segera setelah pintu selanjutnya terbuka dan mereka tidak dapat mengendalikan kapan terbukanya pintu tersebut.
Oleh karena itulah mereka semua terpaksa menggunakan ramuan adrenalin untuk menjaga kesadaran dan menghilangkan rasa letih. Bahkan ada kalanya mereka dipaksa untuk tidur dan bangun dengan menggunakan sihir.
Berbeda dengan labirin sebelumnya, Sayap Putih bekerja lebih keras daripada Pilar lainnya sebagaimana kebanyakan monster yang mereka temui di jalan pulang memiliki kelemahan pada atribut sihir.
Jumlah total Lima Pilar pada misi kali ini setidaknya ada seratus orang. Tetapi bahkan dengan jumlah tersebut, mereka masih kesulitan untuk mengalahkan monster labirin.
Ketika Jubah Hitam kembali dari pengecekan mereka di lantai selanjutnya, mereka pun bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Sesuai urutan mereka, Pilar Perisai Kuning, Tombak Merah, Sayap Putih, Jubah Hitam, dan Rantai Ungu, mereka berjalan melewati pintu menuju ruangan selanjutnya.
Namun saat hanya Rantai Ungu yang tertinggal beberapa langkah dibelakang pasukan lainnya di ruangan sebelumnya, cahaya berwarna kemerahan menyala dibawah mereka bersamaan dengan suara dengungan besar di sekitar mereka.
Mendengar kerusuhan dari barisan paling belakang, keempat Pilar lainnya menoleh kearah pasukan Rantai Ungu yang terjebak dalam lingkaran sihir tersebut.
Merasakan sesuatu, Eclipse segera berseru.
“JUBAH HITAM! CEPAT SELAMATKAN MEREKA!”
Pasukan Jubah Hitam segera melesat ke arah Rantai Ungu.
Sayangnya, saat mereka sudah dekat, sosok Rantai Ungu pun sekejap menghilang dan tiba-tiba saja pintu yang membatasi antar ruangan tertutup rapat.
Bersamaan dengan itu, mereka mendengar suara pintu lain terbuka dengan suara monster.
“Sial!” Eclipse mulai mengingat kata-kata Leana.
Ia mulai memikirkan kemungkinan yang akan terjadi kepada Forde dan juga Rantai Ungu lainnya. Walau ia sudah berjanji di dalam dirinya untuk mengawasi pergerakan Rantai Ungu, namun ia tidak menyangka akan berakhir seperti ini.
“Grand Duke, ada apa!?” Seru Baron Zenesia, bersama dengan Margrave Santica mendekatinya. Count Vivaldi menyusul perlahan di belakang keduanya.
“Marquis Grandall dan Pilar Rantai Ungu masuk dalam lingkarang teleportasi. Sebelum bisa diselamatkan, mereka sepertinya sudah terkirim ke suatu tempat!” ujar Eclipse dengan frustasi.
Ia menyisir rambutnya dengan kasar dan mencoba untuk menenangkan dirinya, karena saat ini masalahnya tidak hanya berada pada Rantai Ungu yang berteleportasi tetapi juga pada monster yang muncul lebih awal daripada perkiraan mereka.
“Jika sudah begini, kita harus segera menyelesaikan lantai ini adan segera mencari mereka! Saat ini kita hanya dapat berharap Rantai Ungu bertahan sampai kita dapat menemukannya.” ujarnya dengan kasar.
“Grand Duke…”
“Kita tidak punya banyak waktu. Jika kita tidak segera mencari Rantai Ungu, Marquis akan dalam bahaya. Kita bisa kehilangan dia!” ujar Eclipse.
Melihat sikap Grand Duke yang tidak biasa membuat semuanya sadar bahwa kondisi mereka jauh lebih buruk daripada yang dibayangkan.
Margrave Santica mengepalkan tangannya dengan kuat dan segera menoleh kembali kepada pasukan Perisai Kuning.
“Apa yang kalian tunggu, cepat segera persiapkan diri kalian!” Serunya dengan lantang.
Saat ia kembali ke barisan depan, para monster yang telah dibebaskan sudah berada tidak jauh dari mereka. Dengan matanya yang menyala penuh aura membunuh dan lapar, mereka sudah siap menyerang apapun yang ada dihadapannya.