
"Marchioness, sebentar lagi siang saya akan mengadakan pesta minum teh bersama dengan bangsawan lainnya. Saya harap anda dapat hadir juga."
Permaisuri memberikan undangannya kepada Leana. Undangan pesta minum teh yang selalu diimpikan wanita bangsawan kini telah berada di tangannya.
Melihat undangannya saja sudah cukup membuatnya merasa tertekan. Bagi Leana yang dasarnya introvert, acara sosial seakan menjadi masalah tersendiri baginya.
"Ini... Saya sangat senang Permaisuri mengundang saya tetapi mungkin saya tidak dapat datang tepat waktu karena pertemuan dengan Kaisar."
"Tidak masalah. Saya sudah mengatur waktunya agar anda dapat hadir."
Leana mengencangkan genggamannya pada gagang cangkir. Ia menopang cangkir dan dua tangan karena tangannya sedikit gemetar.
Hmm, Leana mendengar sesuatu yang tidak dapat ia bayangkan keluar dari mulut Permaisuri tetapi ia yakin itu hanyalah perasaannya saja.
Ia yakin akan hal itu.
Leana dengan pelan kembali mengesap teh yang hanya tinggal sedikit dan memberikan mebjawab.
"Kalau begitu saya akan menyisakan waktu untuk menghadiri pesta..."
"Ohoho, terima kasih Marchioness! Saya akan menunggu kedatangan anda!" ucap Permaisuri dengan senang.
'Be-Berat...'
Ekspektasi tinggi akan kedatangannya. Terasa sangat berat.
Ia tidak terbiasa mendapatkan ekspektasi tinggi secara langsung dari seseorang sehingga Leana merasa tertekan karenanya.
Ia meratapi sifatnya yang jatuh karena pengalaman hidup di kehidupan sebelumnya yang sangatlah suram.
Menyadari bagaimana perkembangan kepribadiannya sangatlah lambat, ia ingin menampar dirinya di masa lalu dan memberinya pelajaran yang sepantasnya.
Pada akhirnya, Leana hanya dapat menelan perjuangannya untuk menghindari acara sosial kembali ke dalam dirinya.
***
"Undangan apa ini?"
Forde mengambil amplop biru dengan cap emas di hadapan Leana.
"Ah… Itu undangan pesta minum teh dari Permaisuri."
"Hmm…"
Forde mengambil pisau kertas di meja kerja dan kemudian membuka amplop tersebut. Melihat tanggal yang tertera di sana, ia mengingat lagi jadwalnya kegiatannya.
"Sepertinya aku akan ada rapat di jam yang sama pada hari itu."
Hmm? Leana melirik kepada Forde dengan bingung. Tidak dapat menangkap maksudnya.
"Apa ada hubungannya dengan undangan ini?"
"Aku tidak bisa mengantarmu ke sana."
"Tunggu dulu."
Leana segera menghentikan Forde.
Ia yang gagal memahami kata-kata Forde segera membenarkan posisinya kemudian menghadapnya dengan serius.
"Kamu ingin mengantarku?"
"Kamu tidak mau?"
Ia merasakan deja'vu.
Tentu saja bukan dari hal yang ia alami, tapi entah kenapa ia seakan tahu bahwa ujung pembicaraan mereka akan berakhir buruk tergantung pada jawaban yang diberikan Leana.
"Bukan itu, maksudku, pestanya akan diadakan di istana milik Permaisuri…"
"Iya. Aku tahu."
"Karena jaraknya tidak terlalu jauh jadi aku bisa pergi sendiri."
Forde mengernyit tidak suka dengan pernyataan dari Leana. Ia menaruh surat undangan tersebut dan datang ke sampingnya.
Leana yang bergerak menjauh segera terhenti karena Forde dengan cepat memeluknya seperti anak kecil.
Forde menyandarkan kepalanya pada bahu Leana dan hanya terdiam menempel kepadanya.
Kebiasaan yang sudah dimakluminya ini merupakan pertanda dari beberapa hal yang kini tengah terlintas di pikirannya.
"Forde?"
"..."
Leana seketika menyadari sesuatu.
'Hah? Ngambek?'
Apakah Forde seperti ini karena ia tidak bisa mengantarkannya ataukah karena Leana menolak ajakannya?
Apapun itu situasi akan mulai merepotkannya ketika tubuhnya sudah dikunci oleh Forde.
Ditambah jika suaminya itu tidak menjawab panggilannya menandakan bahwa masalah yang dihadapinya lebih serius daripada biasanya.
Leana menepuk lembut tangan Forde di depan perutnya dengan lembut. Karena dengan begitu perlahan ia dapat menenangkan suaminya.
Memang Leana jarang pergi ke pesta teh ataupun salon yang diadakan oleh para bangsawan perempuan, tetapi bukan berarti ia sama sekali tidak pernah pergi.
Terutama dalam satu tahun terakhir semenjak ia memulai kehidupan ketiganya.
Semenjak pendekatan mereka, Forde memang menjadi lebih terbuka dan terkadang bersikap manja kepadanya saat mereka berdua saja.
Tetapi Forde yang menghargai kebebasannya membiarkan Leana bergerak bebas selama ia dapat meyakinkan bahwa statusnya dalam keadaan aman.
Hanya saja kali ini sesuatu seakan berbeda.
Leana merasakan bagaimana saat ini Forde mencoba untuk menghargai pilihannya namun ia juga untuk menahannya.
Dan beginilah jadinya.
Forde hanya memeluknya tanpa berkata apapun seperti melakukan suatu protes kepadanya.
Disaat seperti ini, Leana memiliki dua pilihan.
Membujuk Forde atau menyerahkan diri kepadanya.
Leana dikehidupan ketiganya bukanlah orang yang mau menyerah dengan mudah jadi ia terus berusaha untuk melepaskan diri dari situasi ini.
"Tenang saja, Forde. Aku bisa mengatasinya sendiri."
"..."
"Aku memang pernah menarik diri dari acara sosial, tetapi aku percaya diri dapat mengatasi masalah itu sekarang."
"...."
"Forde, apa kamu tidak percaya denganku?"
"...."
"Forde…"
Masih tidak ada jawaban.
Biasanya jika ia menggunakan trik untuk membuat Leana seakan merasa bersalah, Forde akan menyerah dan berhenti.
Tetapi kali ini suaminya itu sedang keras kepala hingga bujukannya tidaklah mempan kepadanya.
Ditengah pikirannya, Forde membuka suara.
"Leana…"
Leana berseri saat ia mendengar suara Forde meskipun kecil.
Tapi perasaan senangnya tersebut langsung menghilang saat merasakan sesak akibat pelukan yang semakin mengerat.
Melihat bagaimana celah untuknya keluar semakin sempit, sepertinya kondisi Forde jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.
Dengan sesak Leana pun menjawab.
"Ada apa… Forde?"
Ia mencoba agar suara sesaknya tidak terdengar dan tangannya yang melemah perlahan meraih kepala suaminya. Mengusap helaian rambut yang indah itu.
Forde sedikit mengangkat wajahnya.
"Aku berjanji akan menyelesaikan rapat lebih cepat dan menjemputmu."
Leana berkedip.
Sepertinya Forde tidak berencana untuk menyerah dan ingin mengantarnya ke pesta minum teh itu.
Leana memutuskan untuk menyetujui suaminya.
"Baiklah, aku akan menunggumu di akhir pesta nanti. Sementara itu bayangan Alphiella akan mengawasiku dari kejauhan, bagaimana?"
"Aku mengerti."
Forde kembali membenamkan wajahnya dan mengusap pelan wajahnya ke pundak Leana.
***
"Ah, Marchioness! Akhirnya anda datang!"
"Maaf karena saya telat, Permaisuri."
Permaisuri yang tengah berbincang dengan bangsawan lainnya segera menyambut Leana dengan hangat saat menangkap keberadannya.
Leana segera dijemput oleh dayang Permaisuri begitu rapat dengan Kaisar selesai.
Entah berapa kali bawahan dari Permaisuri memberikan kode kepada Kaisar yang keras kepala untuk melanjutkan rapat agar dapat melepasnya.
Leana yang menyaksikan bagaimana para bawahan memberikan kode keras yang tidak dapat dipahami oleh sang Kaisar hanya dapat menahan tawanya.
Ia pikir tadinya ia akan mati karena terus menahan tawanya.
"Tidak masalah. Keterlambatanmu itu adalah salah Kaisar jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Baguslah kalau begitu..."
Leana menelan logikanya. Hanya Permaisuri yang menjadi pendamping Kaisarlah yang dapat menyalahkan Kaisar itu sendiri.
"Meski begitu, saya tidak menyangka bahwa anda akan secantik ini."
"Begitu kah...?"
Gaun yang dikenakannya sekarang adaah pemberian dari putri Windelyn kepadanya dua hari sebelumnya.
Tidak lama setelah kepergian Forde, dayang Windelyn membantunya mengenakan gaun tersebut bahkan disaat ia akan datang menemui Kaisar.
Tentu saja sang Kaisar hanya acuh tak acuh dan berfokus pada apa yang diinginkannya.
Pada awalnya Leana hanya dapat menahan rasa gugup karena merasakan perbedaan di ruangan tersebut.
Tetapi untung saja tidak ada yang mengungkit hal tersebut.
"Sepertinya anda sedang banyak pikiran, apakah Kaisar memberi anda banyak pekerjaan?"
"Ah! Tidak, saya hanya mengingat sesuatu."
"Kalau begitu lepaskan dulu pikiran yang mengganggumu dan mari nikmati pesta ini. Ikuti aku."
Sembari mengikuti Permasuri, ia memprrhafikan sekitarnya.
Pesta minum teh yang diadakan Permaisuri diadakan di taman istana yang luas.
Bunga dengan berbagai warna menghiasi taman tersebut dan para tamu undangan yang menggunakan gaun berbagai warna seakan ikut meramaikan.
Leana merasa gugup dengan suasana pesta. Seperti biasa, ia tidak merasa cocok dengan acara ini.
"Marchioness!"
Permaisuri mengantarnya ke tempat putri Windelyn yang sedang berbincang dengan beberapa gadis lainnya.
Setelah menyapa Permaisuri, para bangsawan tersebut menatap Leana dengan tatapan bingung dan penasaran.
"Yang Mulia Permaisuri, siapakah yang berada dibelakang anda?"
Permaisuri sedikit memberikan ruang bagi Leana agar dapat tampil di depan mereka.
"Perkenalkan, ia adalah Marchioness Leana Grandall. Ia saat ini menatap di istana sebagai tamu penting."
Reaksi mereka seperti apa yang Leana bayangkan. Terkejut dan waswas.
Beberapa dari mereka melirik putri Windelyn seakan mengkhawatirkan sesuatu.
Putri Windelyn hanya tersenyum tanpa memperdulikan sekitarnya.
Ia mempersilahkan Leana pada kursi kosong disampingnya.
"Marchioness, bagaimana kalau anda bergabung dengan kami?"
"Tuan putri Windelyn!"
"Ayo, Marchioness."
Dengan dorongan dari Permaisuri, Leana akhirnya duduk di kursi yang telah disediakan. Windelyn segera duduk disampingnya dengan ceria.
Leana sedikit khawatir dengan reaksi bangsawan lain di sekitar putri Windelyn yang terlihat sedikit aneh.
Saat Permaisuri ingin bergabung dengan mereka, seorang pelayan datang kepadanya dengan tergesah-gesah.
"Permaisuri!"
Permaisuri menghela napas dan menoleh kearah mereka.
"Saya akan permisi untuk sementara waktu. Saya akan segera kembali."
Ketika Permaisuri pergi, Leana yang tidak tahu harus berbuat apa hanya dapat menjaga senyumannya.
Gadis bangsawan lain sepertinya masih ragu untuk membuka suara mereka.
"M-Marchioness!"
Seorang dari mereka akhirnya angkat bicara. Leana mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan yang akan mereka lontarkan.
"Iya?"
"S-Saya tidak tahu bahwa Marquis Forde Grandall sudah menikah."
"Benar! Marquis cukup populer diantara para gadis bangsawan jadi semua orang pasti mempunyai satu atau dua topik tentangnya."
"Sejak kapan kalian menikah?"
Suara pertama diikuti oleh yang lain. Rasa penasaran tanpa sadar mendorong mereka untuk mengajukan berbagai pertanyaan sekaligus.
"Tahun ini sudah menjadi tahu ketiga kami menikah."
"Oh begitukah? Bagaimana bisa kami tidak mengetahuinya?"
Dengan senyuman dibalik kipas indah mereka, Leana menyadari bahwa beberapa dari mereka mencoba mencari kesalahan dalam dirinya.
Ini adalah hal yang diantisipasinya dan disaat seperti ini, Leana harus menggunakan topeng andalannya seperti biasanya.
"Pesta pernikahan kami hanya diadakan untuk keluarga saja jadi hanya beberapa orang saya yang mengetahuinya."
"Jika dipikir-pikir, selama tiga tahun ini saya tidak melihat sosok anda di acara sosial."
"Saya juga tidak melihat anda bersama Marquis dalam acara pesta yang dihadirinya."
"Itu karena saya..."
"Apakah jangan-jangan Marquis Grandall sudah memiliki penerus sah?"
Sebelum Leana mampu menjawab penuh pertanyaannya, yang lain sudah memotong perkataannya.
"Jika diingat-ingat lagi, nama anda Leana, apakah jangan-jangan anda adalah Leana Wordlock?"
"Maksudnya saudari yang disebutkan oleh nona Diana?"
"Iya benar! Saya dengar dia pendiam dan suka mengurung diri di kamar."
"Saya dengar ia sempat mempermalukan nona Diana di sebuah pesta."
"Oh ya ampun! Tidak mungkin dia adalah Marchioness, bukan?"
Mereka tertawa.
Tanpa memberi Leana celah untuk menjawab, pertanyaan demi pertanyaan terus mereka lontarkan.
Mengubah topik pembicaraan seenak mereka agar membuatnya kewalahan. Tindakan mereka seakan ingin membuktikan sesuatu darinya.
Aahh, menyebalkan. Leana ingin segera pergi dari tempat itu.
Dari sikap mereka sudah jelas Leana sedang direndahkan meskipun ia adalah seorang Marchioness.
Leana tidak tahu kesalahan apa yang membuatnya bisa diperlakukan seperti itu namun ia tidak ingin disalahkan tanpa mengetahui kesalahannya.
Ia kembali mengingat bahwa acara sosial adalah salah satu bentuk dari sebuah medan pertempuran.
Dengan menggunakan kata-kata sebagai pedangnya, mereka dapat menjatuhkan siapapun yang tidak dapat menahan tekanan dari kata-kata tersebut.
Putri Windelyn yang sedari tadi terdiam pun menaruh cangkir tehnya dengan kesal dan menatap mereka dengan tajam.
"Cukup kalian semua--"
"Putri Windelyn!"
Ucapan Windelyn terpotong karena seruan dari seorang gadis yang berjalan cepat ke tempat mereka.
Semua orang mulai mengalihkan perhasian mereka kepadanya.
Leana terkejut saat melihat gadis tersebut.
Ia tidak pernah bertemu secara langsung dengannya, tetapi karena rasa penasarannya ia mengetahui rupanya dari sketsa gambar yang berada bersama dengan laporan informasinya.
Tidak salah lagi.
Gadis itu adalah Elyn Puosca. Istri kedua Forde di kehidupan pertamanya.