This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Sudden Approach



"Kalau begitu aku akan mengambilkanmu minuman. Tetaplah di sini sampai aku kembali."


"Tenang saja, aku akan tetap di sini."


Forde pergi meninggalkan balkon. Ia tidak lupa menutup pintu balkon agar tidak ada orang yang masuk ke sana.


Leana menoleh ke arah langit. Purnama yang selalu dijumpainya di setiap pesta kembali menyambutnya.


Hari ini pun bulan tersebut seakan menemaninya.


Di saat ia sendirian seperti orang linglung dan tidak tahu arah, seperti orang luar yang tidak cocok berdiri di tempat itu.


Ia tertawa pelan.


'Sayang sekali karena kali ini aku tidak sendirian.'


Sekarang Leana memiliki Forde, Grandall, Alphiella dan Volfelance di sisinya. Ia tidak lagi meratapi nasibnya seperti dahulu.


Kali ini ia berdiri dengan kedua kakinya menghadapi hari esok dengan percaya diri.


Tetapi saat ini ia seperti melupakan sesuatu…


Kaclak


Leana merasakan seseorang datang ke balkon tempatnya berada. Saat ia menoleh dan berharap bahwa yang datang adalah suaminya, ia pun terkejut.


Sosok di hadapannya tidak lain dan tidak bukan adalah Duke Leon. Ia sendirian, tidak bersama dengan saudari angkatnya yang datang bersamanya.


Leana merinding saat melihat senyuman yang muncul dari balik bayangan. Ia mengepalkan tangannya.


"Selamat malam, Marchioness Grandall. Sungguh sebuah kebetulan untuk bertemu denganmu di sini."


'Ha! Yang benar saja…'


Leana mengumpat di dalam hatinya.


Tidak mungkin Duke Leon datang tanpa maksud tersembunyi kepadanya.


Ia memperhatikan situasinya dan mulai mengernyit kesal.


Ia merasakan dejavu yang sangat kuat. Tidak, dibanding dejavu, kejadian ini memang sudah terulang beberapa kali.


Apakah setiap kali ia pergi ke balkon di sebuah pesta dan bertemu dengan bulan purnama itu tandanya Duke Leon akan datang?


Apakah ini sebuah ritual pemanggilan yang tidak ia ketahui?


Leana memasang senyuman dan membalas Duke Leon.


"Selamat malam, Duke Leon. Apakah anda ke sini untuk mengambil udara segar juga?"


"Benar. Saya ingin mengambil udara segar. Bukankah anda sebelumnya bersama dengan Marquis?"


'Benar sekali! Kenapa  kau harus datang di saat Forde sedang pergi?!' Batin Leana.


"Benar, suami saya sedang mengambilkan saya minuman…"


Leana melirik ke arah pintu.


Ia sudah berjanji untuk menunggu Forde di sini, tetapi kemunculan Duke Leon mengacaukan semuanya. Ia tidak tahan dengan keberadaannya meskipun saling berjauhan.


Leana tidak punya pilihan lain selain pergi dari tempat itu dan pergi menyusul suaminya.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita berbincang–"


"Duke Gwertivare, silahkan nikmati balkon ini sesuka hatimu. Saya akan permisi untuk menyusul suami saya." Potong Leana dengan segera.


Ia melaju dengan cepat ke arah pintu namun Duke Leon tidak berpindah dari posisinya dan menghalangi jalan keluarnya.


Leana mengernyit kesal.


'Apa yang sebenarnya dia pikirkan?!'


Duke Leon terus tersenyum ke arahnya seakan menekannya untuk menghabiskan waktu bersama.


Leana dapat membaca seluruh pikiran Duke Leon, ia harus mencari cara agar dapat lepas darinya.


"Jangan begitu, nyonya Leana. Mari kita nikmati waktu bersama dengan pemandangan indah ini. Bukankah lebih bagus begitu daripada mengikuti pesta yang membosankan ini?"


Leana menatap kesal duke Leon.


'Kenapa bisa-bisanya dia memanggil namaku dengan sok akrab begitu???'


Ia menarik napas dan menghela dengan pelan. Ia terus menahan dirinya dari menyentuh Duke Leon terlebih dahulu.


"Nyonya Leana, apakah anda keberatan?"


'Iya?! Sangat!'


Leana berseru dalam hatinya dengan antusias.


"Maaf sekali, Duke. Tapi saya ingin segera bertemu dengan suami saya."


Duke Leon masih memasang senyumannya, membuat Leana semakin tidak tenang.


"Bukankah anda berencana munggu di sini sampai Marquis datang?"


"Duke Leon…"


Leana menahan kata-katanya. Mau bagaimana pun, lawan bicaranya adalah seorang Duke. Ia tidak bisa bersikap sembarangan di depannya.


Tidak. Ia sudah cukup muak. Ia ingin segera pergi dari sana.


"Duke Leon, anda mendengarkan pembicaraan kami?"


'Omong kosong!'


Tidak mungkin Duke Leon yang sebelumnya pergi ke arah berbeda dari mereka dapat dengan sekejap.


"Duke, saya sangat ingin bertemu dengan suami saya jadi tolong biarkan saya pergi."


Duke Leon menggapai tangan Leana sebelum ia mampu bereaksi.


'Pria ini… dasar gila…!'


Leana mulai mengumpat di dalam hatinya.


"Nyonya Leana, saya sangat ingin berbincang dengan anda. Tolong beri saya waktu anda sebentar saja."


Duke Leon memberikan pandangan berharap namun Leana merasa mual saat melihat hal tersebut.


Jika ia tidak bisa kelar, setidaknya ia ingin Forde segera kembali kepadanya.


Kaclak


"Ternyata anda berada di sini, Marchioness Grandall."


Ketika sosok Eclipse terlihat dari balik pintu, Leana merasa lega sementara Duke Leon merasa kesal.


Leana menarik tangannya.


 "Grand Duke…"


Leana ingin menyapanya namun Eclipse segera menghentikannya. Eclipse menoleh ke arah Duke Leon.


"Saya tidak melihat sosok anda saat saya datang, ternyata anda berada di sini rupanya, Duke Gwertivare."


"Selamat malam, Grand Duke. Saya hanya mencari udara segar dan tidak sengaja bertemu dengan nyonya Leana."


Eclipse melirik ke arah Leana dan dibalas dengan tatapan sinis kepada Duke Leon.


"Apakah kalian cukup dekat untuk saling menyebut nama?"


"Benar, kami–"


"Saya dan Duke Leon hanya bertemu dua kali saat pesta perayaan kemenangan dan saat ini saja. Ah, mungkin ini pertemuan yang ketiga jika menambah pertemuan di taman istana." Ujar Leana segera memotong kata-kata Duke Leon.


Tanpa melihat pun, Leana sudah dapat merasakan aura kekesalan dari Duke Leon.


"Begitukah? Kalau begitu harap berhati-hati, Duke. Memanggil nama seorang wanita, terutama yang sudah menikah, anda bisa dicap tidak sopan."


Duke Leon mencoba menjaga ketenangannya namun sepertinya ia tidak dapat sepenuhnya menyembunyikan kekesalan yang ia rasakan.


"Saya akan mengingat hal tersebut, Grand Duke."


Eclipse mengangguk dan menoleh kepada Leana. Saat ia ingin membuka mulutnya, suara dingin datang dari belakangnya.


"Ada apa di sini?"


Mereka menatap ke arah sumber suara dan disana berdirilah Forde dengan gelas di kedua tangannya. Ekspresinya sangat risih melihat orang lain berada di sekitar istrinya.


Leana segera mendekati Forde dan mengambil salah satu gelas di tangannya.


"Tidak apa-apa. Sepertinya sang Duke ingin menggunakan balkon. Aku sudah cukup beristirahat jadi ayo kita kembali ke dalam."


Ia melingkarkan tangannya pada Lengan Forde dan menariknya pergi dari sana. Eclipse juga hanya tersenyum dan ikut berjalan pergi, meninggalkan Duke Leon sendirian dengan perasaan frustasi di balkon.


Setelah meminum minuman yang diberikan Forde, Leana menghela napas. Sejujurnya ia tidak merasa rasa lelahnya hilang, yang ada ia malah semakin lelah.


"Leana, kau baik-baik saja?"


Leana tidak menyembunyikan ekspresi lelahnya namun ia tersenyum kepada Forde.


"Aku baik-baik saja. Banyak hal terjadi malam ini jadi aku merasa sedikit lelah."


"Jangan paksakan dirimu. Jika kau mau, atur ulang saja pertemuanmu dengan Grand Duke dan kita langsung saja pulang."


Leana sedikit melebarkan matanya. Forde berbicara seakan Eclipse hanyalah bangsawan biasa. Apakah ia benar-benar tahu bahwa mereka akan bertemu dengan sang Grand Duke yang merupakan pemimpin dari Pilar Jubah Hitam dan juga telinga dari sang Kaisar?


Kemudian seorang pelayan datang kepada keduanya dan menyapa mereka.


"Marquis Grandall, Marchioness Grandall. Grand Duke telah menunggu anda di ruang tamu."


Forde menoleh kepada Leana untuk kembali memastikan kondisinya dan Leana membalasnya dengan anggukan.


Forde pun menoleh kembali kepada sang pelayan.


"Kalau begitu antarkan kami."


"Silahkan ikuti saya."


Keduanya berjalan menjauh dari aula pesta menuju ke lantai dua. Tidak jauh dari sana, mereka berhenti di sebuah ruangan dengan pintu berwarna biru malam.


'Ruangan ini…'


Ruangan yang hanya digunakan Grand Duke untuk menyambut tamu penting.


"Grand Duke, saya telah membawa tamu kehormatan kepada anda."


"Persilahkan mereka masuk."


Saat pintu terbuka, Eclipse sudah terduduk rapih di sofa. Ia menatap keduanya dengan senyuman seperti biasanya.


Sebelum keduanya dapat memberi salam, Eclipse sudah membuka suaranya dengan ramah.


"Silahkan duduk, Marquis Grandall, Marchioness Grandall. Tidak perlu sungkan dan buatlah diri kalian nyaman disini."