This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Confronting The Past



Duke Leon Gwertivare. Salah satu dari dua Duke di Kekaisaran Solfilyan.


Duke Gwertivare adalah kerabat dari Kaisar terdahulu dan merupakan keluarga yang dihormati oleh banyak orang.


Meskipun kekuatan politiknya tidak setinggi dahulu, Gwertivare masih memegang banyak kepercayaan dari para bangsawan.


Berdasarkan buku yang dibaca Riana, Leon Gwertivaremerupakan anak pertama di keluarga Gwertivare namun ayahnya, Duke Geoff Gwertivare, lebih menyimpan harapan pada anak keduanya, Yelan Gwertivare.


Pengajaran Gwertivare memang dikenal sangat keras namun juga sangat adil. Hanya mereka yang kuat dan memiliki kualifikasi tinggi saja yang akan mendapatkan posisi Duke di masa depan.


Karena Yelan disebut sebagai seorang jenius, posisi Leon sebagai pewaris terancam. Karena harapan tinggi dari ayahnya terhadap adiknya tersebut, Leon tanpa sadar menumbuhkan rasa tidak percaya diri di dalam hatinya. Meskipun ia seorang pekerja keras, ia tidak dapat merasa aman apapun yang dilakukannya.


Leon mendapatkan posisinya sebagai seorang Duke setelah kematian ayahnya. Publik hanya mengetahui bahwa sang Duke wafat karena sakit namun terdapat kenyataan kelam yang hanya diketahui oleh Leon.


Demi segera mendapatkan kekuatannya sendiri secara absolut, ia meruntuhkan ayahnya dari dalam dengan menggunakan racun.


Karena ketidaksukaannya pada Yelan, Leon juga melakukan hal yang sama kepadanya. Sebelum sang Duke dapat memberikan keputusan pasti mengenai pewaris, Leon telah menyatakan dirinya sebagai Duke baru setelah ayahnya meninggal.


Semenjak menjadi seorang Duke, Leon menjadi orang yang selalu merasa lebih tinggi dari yang lain. Ia tidak suka direndahkan dan ia mempunyai ambisi untuk mendapatkan apapun meskipun dengan cara kotor.


Dengan kata-kata manis dan tipu muslihatnya, ia menjadikan Leana menjadi istrinya dan memanfaatkannya demi kepentingan pribadinya. Setelah tujuannya tercapai, ia membuang istrinya tersebut dengan dingin.


Mengingat dirinya yang jatuh hati kepada pria brengsek yang keji dan manipulatif seperti Duke Leon, ia rasanya ingin menampar dirinya sendiri di kehidupan pertamanya


Leana menjaga eskpresinya namun sebenarnya ia tidak dapat tenang.


Kini orang yang menjadi target balas dendamnya sedang berada dihadapannya. Melihatnya saja sudah membuat tangannya gatal untuk memukul wajahnya itu.


“Salam saya kepada Duke Gwertivare.” Ucap Leana.


“Saya ke sini hanya untuk menenangkan diri. Keramaian di pesta cukup membuat saya lelah.”


Tanpa menunggu jawaban Leana, Duke Leon berjalan ke sampingnya.


Apa yang harus ia lakukan?


Jika mencoba untuk bersikap lemah maka Duke Leon akan mencoba untuk memanfaatkannya dan menggali informasi tentangnya.


Namun jika ia mencoba untuk membuat musuh dengannya maka rencananya bisa saja terancam.


Setelah tinggal selama 7 tahun disampingnya, Leana sudah cukup mengetahui karakteristik dari Duke Leon. Ia tidak bisa menurunkan kewaspadaannya dengan pria itu.


Satu-satunya cara adalah menjadi orang yang tidak menarik perhatiannya. Tapi apa yang harus ia lakukan.


Pada dasarnya Duke Leon tidak akan mendatangi seorang wanita jika bukan karena tujuan tertentu, maka apa yang membuat Duke Leon tertarik dengan Leana.


Masih tidak menemukan jawaban, Leana mencoba untuk menjawab Duke Leon. Untuk berjaga-jaga ia mengubah sedikit intonasi pada suaranya.


“Silahkan saja, tuan. Seperti yang anda lihat tempat ini masih luas. Saya di sini juga mencari udara segar.”


Sebenarnya Leana ingin segera pergi, namun disaat yang sama sesuatu menahannya.


“Kalau begitu saya akan permisi.”


Keduanya terdiam menikmati minumannya masing-masing. Leana berusaha sekeras mungkin bersikap tenang dan tidak terlihat tegang maupun terburu-buru.


“Saat dansa pertama tadi saya melihat sangat indah dibawah sinar cahaya.”


Leana hampir tersedak mendengar kata-kata Duke Leon yang datang entah darimana. Mendengarnya membuat seluruh tubuhnya merinding.


Apakah Duke Leon sedang mencoba untuk merayu wanita yang telah menikah? Seriusan?


Leana merasa makin tidak nyaman, namun ia tidak mau menunjukan sikap yang menarik perhatian Duke Leon sedikit apapun.


“Terima kasih, Tuan. Suami saya juga mengatakan bahwa saya sangat cantik dengan gaun ini.” Ucap Leana dengan bangga.


“Oh, begitukah. Saat saya lihat pertama kali saya memang berpikir bahwa anda sangat dekat tetapi hubungan anda sepertinya sangat baik, ya.”


Melihat reaksi Duke Leon yang menarik diri, sepertinya ia berhasil menurunkan ekspektasi terhadap dirinya.


“Benar sekali. Saya sangat senang dengan pujiannya.” (translate: Aku tidak peduli dengan pujian darimu.)


Leana memulai rencananya untuk membuat pandangan Duke Leon terhadap dirinya menjadi ‘istri yang sangat sangat mencintai suaminya’.


Mau Duke Leon merasa illfeel atau tidak suka olehnya, ia tidak peduli. Ia ingin menghapuskan segala ekspektasi Duke Leon terhadap dirinya sekecil apapun itu. Ia ingin membuat Duke Leon menjauhinya.


“Suami saya sangat tampan dan saya tidak dapat melepas mata darinya. Sejujurnya saat ia mengecup pipi saya di tengah aula dansa, saya sangat bahagia hingga hampir pingsan.” Jelas Leana dengan gestur yang sedikit dilebih-lebihkan.


“Sepertinya anda sangat mencintai suami anda ya…”


“Tentu saja! Bagi saya dia adalah pria tertampan dan saya merasa hubungan kami merupakan takdir yang telah ditentukan dunia. Ah, tentu saja anda juga tampan di mata para wanita tetapi tipe saya adalah suami saya saat ini!” ucap Leana dengan cepat.


“Oh, mengenai itu, itu karena saya mencoba untuk menjadi wanita sempurna dihadapan suami saya! Jadi saya mencoba untuk menutupi sikap saya yang seperti ini.”


“Begitu ya…” Duke Leon mengesap minumannya dan kembali mencoba untuk menikmati pemandangan di balkon.


Yosh!


Kini seharusnya Leana telah dicap sebagai wanita yang banyak bicara yang biasanya tidak terlalu disukai oleh rata-rata pria di kekaisaran ini termasuk dengan Duke Leon.


Ia yakin Duke Leon tidak akan mau berurusan lagi dengan wanita cerewet yang dibutakan oleh cinta seperti dirinya.


“Ah, sepertinya saya sudah terlalu lama di sini. Saya khawatir akan mengkhawatirkan suami saya jadi saya akan permisi kembali ke dalam pesta.”


Leana membungkuk dan segera meninggalkan balkon dengan tenang.


Saat Leana menghilang dibalik pintu, Duke Leon menghela napas. Senyuman manisnya menghilang entah kemana.


“Haah… melelahkan sekali berhadapan dengan wanita seperti itu. Bagaimana? Apakah wanita itu yang kamu temukan di organisasi lima?”


Osca seketika muncul berlutut dibelakang Duke Leon.


“Tidak tuanku. Suaranya berbeda dan karakteristiknya juga tidak seperti wanita tadi.”


“Tentu saja. Tidak mungkin wanita seperti itu adalah seorang bayangan.”


Karena penasaran dengan bayangan wanita yang ditemui Osca, Duke Leon sengaja berbincang dengan hampir seluruh wanita di pesta tersebut namun usahanya tidak membuahkan hasil. Ia memasang tatapan kesal mengetahui waktunya terbuang sia-sia.


“Semua harus berjalan sesuai rencana. Pastikan kau tidak gagal.” Ucap Duke Leon tanpa menoleh.


“Dengan sumpah dan janji, saya akan memastikan keberhasilan misi ini.” Jawab Osca dan segera menghilang.


Ketika sudah puas menenangkan keresahan suasana hatinya, Duke Leon kembali ke aula pesta dan berbaur dengan tamu lainnya.


***


“Haaahh.. Kenapa aku harus bertemu dengan pria brengsek itu sih?” umpat Leana.


Leana menghela napas lelah. Ia menyandarkan diri ke dinding di pojok ruangan, memandangi keramaian para tamu di pesta tersebut.


Matanya berenang menyusuri ruangan mencari Count Vivaldi dan disaat yang sama ia dapat melihat Forde masih berbincang dengan Margrave Santica dan Baron Zenesia.


Sembari memperhatikan sekitarnya, ia menghubungi Dean.


“Dean, bagaimana kondisi di sana?”


“Saat ini target sedang berdiskusi dengan Kaisar. Eson sedang mengawasinya.”


“Apakah kau menemukan keanehan?”


“Ilya sebelumnya memantau anda di balkon dan sepertinya sang Duke tengah berbicara dengan seseorang. Melihat bagaimana orang tersebut muncul tiba-tiba sepertinya ia adalah seorang bayangan.”


Leana mengingat Osca yang ditemukannya saat menyelamatkan Adde. Apakah Osca adalah bayangan yang bekerja untuk Duke Leon?


Jika benar mungkin saja alasan mengapa Duke Leon mendekatinya adalah karena Osca melaporkan sosok misterius yang ditemuinya di organisasi perbudakan.


Mengingat pakaiannya saat memasuki organisasi tersebut, Leana memukul dahinya. Ia sudah cukup berhati-hati, tapi tentu saja ia tidak sepenuhnya menutupi identitasnya.


Mungkin saja Duke Leon tengah mencari musuhnya yang diketahui adalah seorang wanita dengan kemampuan berbahaya yang dapat bertarung meski menggunakan gaun.


Leana kembali menghela napas. Kali ini ia benar-benar berdoa bahwa semua akan baik-baik saja.


“Apa yang mereka bicarakan?”


“Maafkan saya, nyonya. Untuk menghindari adanya ancaman pada rencana, saya meminta Ilya untuk tidak mendekat lebih dari jarak yang sudah ditentukan.”


Mata Leana menangkap sosok Count Vivaldi dan istrinya di dekat meja makan. Keduanya terlihat tengah berbincang dengan tamu lain. Ia mulai bergerak mendekati mereka.


“Aku mengerti. Lanjutkan tugasmu.”


Sambungan pun terputus.


Leana dengan tenang berjalan kearah Count Vivaldi yang berada di seberang ruangan. Pada saat itulah, ia mendengar suara yang familiar dan menyebalkan memanggilnya.


“Oh, lihat siapa yang ada di sini. Bukankah itu nona Leana?”


Leana menoleh dan mendapati kumpulan para wanita yang tengah menatapnya dan tersenyum seakan mengejeknya. Ditengah-tengahnya terdapat seseorang yang sama menyebalkannya dengan Duke Leon yang tadi ditemuinya.


Diana Wordlock. Saudari tirinya.