This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Alliance



Ketika Forde membuka matanya, ia berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya. Tidak ada keberadaan Pilar lain kecuali Rantai Ungu.


Tempat mereka berada sekarang adalah ruangan yang sangat luas, sama seperti ruangan sistem labirin yang cukup untuk menampung Lima Pilar secara bersamaan. Bahkan setengah lebih luas dari ruangan tersebut


Forde menyiapkan senjatanya, begitu juga dengan pasukannya.


Mereka membuat Formasi untuk mengisi setiap bagian hingga tidak ada yang dapat mereka lewatkan.


Iscan yang merasakan firasat buruk segera memegang pergelangan tangannya. Dibalik seragamnya terdapat gelang pemberian Adde yang dapat memanggil bayangan Alphiella dengan segera ke tempat mereka.


Tapi Iscan tidak tahu apakah ia harus segera memanggil mereka atau tidak. Ia terus meresahkan pilihannya hingga sesuatu akhirnya muncul di tempat itu.


Grutuk… Grutuk…


Rantai Ungu menoleh ke arah datangnya suara.


Dari balik bagian tergelap ruangan tersebut, yang muncul pertama kali adalah sebuah kaki seperti serigala yang sangat besar. Perlahan kedua pasang cahaya berwarna merah dan ungu muncul tidak jauh di atasnya.


Forde reflek menarik keluar salah satu kapaknya dan melemparnya ke arah sosok tersebut. Bersamaan dengan kapak yang mengenai sesuatu di kepalanya, sosok monster itu segera keluar berlari kearah mereka.


“BERPENCAR!” Seru Forde.


Ia berlari menuju kapaknya yang terpental sementara Rantai Ungu mencoba menghindari serangan dari monster tersebut.


Ketika Forde berhasil mengambil kembali kapaknya, suara dentuman keras terdengar beberapa kali dari kejauhan bersama dengan getaran di tanah.


Di seberangnya, pasukan Rantai Ungu diserang oleh sesuatu seperti ekor dari monster tersebut. Ekor tersebut terlihat seperti sulur tanaman dengan ujungnya yang lancip berwarna perak. Ketebalannya cukup besar menyamai porsi tubuh dari sang monster yang juga memiliki wujud raksasa.


Monster itu menarik ekornya dan mulai berbalik menghadap mereka. Ia memperhatikan seakan mencari mangsa yang cocok untuknya.


Forde segera mengecek kondisi pasukannya.


“Kalian baik-baik saja?!”


“Komandan! Kami baik-baik–UWAAH!!”


Monster itu kembali mengayunkan kedua ekornya dan membuat beberapa pasukan Rantai Ungu terhempas kebelakang hingga menabrak dinding dengan keras.


Di saat Monster tersebut tengah mengawasi korbannya, Forde segera melesat ke arahnya dan mengayunkan cepat pedang dan kapaknya.


Forde yang sudah berada cukup dekat dengan monster itu mencoba untuk menebas kakinya, namun teriakan monster itu menghentikan gerakannya.


KYAUUNG!!


“Ugh–!”


Forde segera menutup kedua telingannya dan ia yang telat untuk bereaksi kepada serangan sang monster pun terhempas ke belakang.


Sebelum mampu menghantam dinding, Forde dengan kuat menancapkan pedangnya untuk mengurangi gaya lempar di tubuhnya dan berhenti sebelum mencapai dinding.


Forde mengambil napas dan mencoba menstabilkan kondisinya, ia berdiri dan mencabut pedangnya. Ia kembali menatap monster yang tengah menyerah pasukannya.


Melihat pasukannya yang kesusahan dengan serangan bertubi-tubi dari sang monster, Forde pun naik pitam. Ia membuat resolusi untuk membunuh monster itu sebelum adanya korban berjatuhan.


“Komandan!”


Weiss berlari mendatanginya sudah dengan kondisi penuh darah.


“Komandan, apakah anda baik-baik saja?!”


“Aku baik-baik saja, jadi fokuslah pada monster itu dan pikirkan saja diri kalian. Jangan sampai ada yang berani menghalangiku untuk membunuh monster sialan itu.”


Weiss menguatkan genggaman pada pedangnya saat merasakan aura membunuh yang di keluarkan Forde. Dengan sedikit resah ia pun berbalik ke arah musuh mereka.


“Saya mengerti. Semoga anda berhasil!”


Weiss kembali kepada pasukan Rantai Ungu dan berhasil menangkis beberapa serangan monster tersebut.


Forde menarik napas dan menatap tajam musuhnya. Dengan kedua senjata di genggamannya, ia mengambil posisi untuk segera melesat ke arahnya.


Saat ia lepas landas, Forde pergi menuju ke salah satu ekor. Ia menusuk ekor itu ke lantai dengan kuat menggunakan pedangnya dan menebasnya dengan kapaknya.


Dalam satu tebasan, ia berhasil memotong satu ekor monster itu.


Saat monster itu mengaung keras, Forde menarik dan menghempas darah yang melumuri pedangnya.


Ia menoleh ke arah pasukan di belakangnya.


"Bagaimana kondisi kalian?"


"Kami baik-baik saja berkat komandan!"


"Kalau begitu jangan diam saja dan cepat bantu yang lain. Aku akan menahan serangan dari tangan monster itu."


"SIAP KOMANDAN!"


Forde kembali mengalihkan pandangannya kepada sang monster. Matanya berenang memperhatikan keadaan pasukan lainnya dan ia melihat Weiss yang tengah melindungi pasukan yang tengah melawan salah satu ekor telah ditandai oleh serangan dari tangan sang monster.


Ia segera melesat dan berhasil menahan serangan monster itu sebelum menyentuh pedang Weiss.


"Komandan!"


"Bantu yang lain, aku akan menahannya."


Weiss mengangguk dan segera pergi ke tempat pasukan yang tengah melawan ekor.


Tidak lama ia mendengar suara keras dan mendapati pasukan dengan Iscan di dalamnya telah berhasil memotong ekor lainnya.


Iscan yang mengambil napas setelah selesai bertarung pun mencari posisi komandannya.


Ia menangkap Forde yang tengah mengalihkan perhatian tubuh utama monster kepadanya sehingga pasukan Rantai Ungu dapat fokus mengalahkan ekor.


Ekor yang tersisa ada tiga. Iscan berpikir untuk segera membantu rekannya namun ia teringat dengan misinya dan berbalik menoleh ke arah Forde dengan cemas.


Ia kembali diselimuti dengan rasa bimbang. Dilihat dari mana pun, saat ini Forde masih dapat menyeimbangi monster di hadapannya.


Tetapi mengetahui apa yang akan terjadi kepada komandannya itu, ia pun menjadi resah.


Ketik Iscan memutuskan untuk membantu rekannya, sebuah cahaya biru dan tidak lama dentuman bersama getaran datang dari arah Forde. Ia melihat bagaimana komandannya itu diselimuti oleh asap tebal.


Seketika Iscan menjadi panik.


"Komandan!"


Iscan dan Weiss berseru secara bersamaan dan bersiap pergi kepada komandan mereka.


Forde segera mengangkat tangannya untuk menghentikan keduanya tanpa menoleh dan melanjutkan serangannya kepada sang monster.


Iscan yang tidak dapat bergerak segera meraih gelang di pergelangan tangannya, namun ia tetap terdiam seakan membatu.


Saat ini mereka tidak dibantu oleh penyihir sehingga mereka akan kesusahan saat melawan monster dengan elemen sihir.


Satu-satunya yang dapat mengalahkan monster itu adalah komandannya, yang menggunakan senjata sihir yaitu kapaknya.


Ia juga menggunakan mantel yang dibubuhi sihir pertahanan, jadi komandannya mampu menahan beberapa serangan dari sang monster. Seharusnya Iscan bisa menaruh kepercayaannya kepada sang komandan yang penuh dengan sihir pelindung itu.


Dengan berat hati, Iscan pergi menuju rekannya. Membawa rasa amarah dan sedikit penyesalan, ia menyerang ekor dengan sedikit membabi buta seperti orang yang frustasi.


Tindakannya itu cukup membuat rekannya terkejut.


Iscan yang tidak punya banyak waktu ingin segera menyelesaikan ekor dan pergi membantu komandannya.


Pemikiran itu terus berputar seakan mencoba untuk membuat sugesti.


Tidak lama, ekor yang dilawannya berhasil dikalahkan. Tanpa mengambil waktu untuk bernapas, ia segera melesat menuju ekor lainnya. Meninggalkan rekannya dengan perasaan takjub dan terkejut.


Iscan menyerang cepat ekor lainnya lebih dari siapapun. Faunt dan Percival dibuat tercengang dengan tindakan juniornya itu.


Ekor kedua sudah dalam kondisi hampir putus. Iscan yang mengayunkan tangannya tinggi untuk memberikan serangan terakhir seketika terhenti.


Di ujung matanya, ia menangkap sosok Forde yang tengah terdorong mundur. Tidak seperti sebelumnya, sang komandan terlihat kesusahan dalam menahan serangan monster tersebut.


Ia bahkan menyadari bahwa kini Forde dipenuhi oleh banyak luka di tubuhnya.


Saat Forde menahan satu serangan dari sang monster, serangan kedua datang melesat dari arah lain.


Setelah memberikan satu serangan terakhir pada ekor di hadapannya, Iscan berlari secepat mungkin ke arah Forde.


“KOMANDAN!!”


Iscan mencoba meraih Forde namun jarak mereka cukup jauh untuk dirinya sampai ke tempat itu.


Tangannya yang terjulur tidak akan sampai untuk menahan serangan dari monster tersebut.


Di saat itulah matanya menangkap gelang yang sebelumnya tersembunyi di balik seragamnya kini melayang keluar dan seketika mengeluarkan sinar putih yang menyilaukan mata.


Di saat itulah…


KACRANG!


Iscan dan Forde melebarkan matanya.


Di hadapan mereka, sosok pria dengan pakaian serba hitam dan topeng putih tengah menghalang serangan dari monster tersebut.


Pria tersebut menahannya dan berhasil menghempasnya sedikit, cukup untuk membuat jarak dan memberi mereka waktu untuk bernapas.


“Kalian…”


Forde menatap tamu tak diundang mereka dengan tajam.


Pria tersebut hanya menghadap Forde dalam diam. Iscan dengan cepat bergerak ke samping Forde.


"Komandan–"


“Diam. Jangan berkata apa-apa.”


Iscan menutup mulutnya rapat. Ia menatap sosok Dean dengan topeng putihnya yang menghadap kepada Forde.


Forde menatap mereka dengan penuh kewaspadaan.


"Siapa kalian?" Ucapnya dengan berat.


"Marquis Forde Grandall. Kami bukanlah musuh anda. Kami dikirim ke sini untuk membantu anda." Ucapnya.


"Kami?"


"Benar. Saya datang ke sini tidak sendirian."


Seketika bayangan lainnya muncul di belakang Dean.


"Maaf atas kelancangan saya, tapi saya akan menjelaskan semuanya setelah urusan kita di sini selesai."


Keduanya menoleh kepada monster yang tengah menatap balik mereka dengan geram. Ekor di belakangnya hanya tersisa satu dan tengah berhenti menyerang pasukan Rantai Ungu. Memberi waktu mereka untuk sedikit beristirahat.


"Aku masih belum sepenuhnya percaya dengan kalian."


"Saya mengerti itu."


"Tapi sepertinya kami perlu bantuan kalian untuk menaklukan makhluk ini."


Forde menancapkan pedangnya di lantai dan menarik keluar kapak lain dari anting kristalnya.


Dean juga memberikan isyarat bayangan lain untuk mengambil posisi mereka. Seketika mereka pun menyebar dan berbaur dengan Rantai Ungu.


Dean mengeluarkan segulung kertas dan melemparnya ke arah Iscan. Saat ia membukanya, terdapat beberapa lingkaran sihir dengan berbagai elemen.


"Gunakan itu pada senjatamu."


Iscan mengangguk dan melilitkan gulungan tersebut pada pedangnya. Tak lama, gulungan itu bercahaya dan menghilang. Simbol pun muncul di pedangnya.


Dean berjalan maju bersama Forde ke arah sang monster yang bersiap untuk meluncurkan serangan baru.


Ia melompat ke atas sementara Forde terus bergerak maju ke depan.


Ketika monster tersebut mempersiapkan serangannya, Dean sudah menghantam keras sang monster hingga membentur lantai.


Kacrak


Dean menoleh ke arah sumber suara. Namun sebelum dapat memastikannya, Forde yang tidak ingin melewatkan kesempatan sudah siap meluncurkan serangannya.


Dean segera menghindar dan saat kapak Forde sebentar lagi menyentuh kepala sang monster, ia dihadang oleh ekor dan terpental mundur.


Dengan cepat, Iscan muncul dan menyerang ekor tersebut. Tetapi seperti dugaannya, kali ini ekor terasa jauh lebih sulit untuk dikalahkan dibandingkan dengan sebelumnya.


Veil segera mengeluarkan benangnya dan mengikat kuat ekor tersebut dengan cepat.


Sang monster sempat meronta melepaskan ekornya, namun tidak berhasil.


Rantai ungu segera menyerang ekor yang terikat dan memotongnya dari sang monster.


Monster tersebut kemudian melompat menjaga jarak dari mereka dan menyiapkan serangan lagi.


Bayangan Alphiella segera menghentikannya dan berhasil mendorong monster tersebut hingga terjatuh.


Rantai ungu dan bayang kembali menyerangnya tetapi monster itu memutar cepat tubuhnya dan menghempas musuhnya jauh.


Sang monster meraung dan kembali menyerang. Ia berlari ke arah Forde dan Dean namun seketika gerakannya terhenti oleh benang yang telah di pasang oleh Veil.


Saat bayangan menyerang, monster itu menggunakan seluruh kekuatannya untuk melepaskan diri dan berhasil menghindar.


Kemudian sang monster mengeluarkan aura besar yang membuat tubuh lawannya seakan menjadi berat.


Baik Rantai Ungu maupun bayangan sekuat tenaga mempertahankan diri untuk dapat berdiri.


Dean sendiri juga sedikit kesusahan untuk bergerak dan sedikit khawatir ia tidak dapat menghindari serangan selanjutnya dari sang monster.


Dean menoleh dan mendapati Forde terlihat biasa saja. Berdiri tenang tidak seperti yang lain.


Dengan kedua kapak yamg digenggamnya erat, matanya terus menatap sang monster seakan menganalisanya.


Sang monster pun kembali menerjang mereka. Dean yang merasa tubuhnya semakin berat tidak dapat bergerak.


Seketika ia mengingat sesuatu.


"Tanduknya! Serang di sana!" Seru Dean.


Forde dengan sergap mengarahkan serangannya kepada tanduk sang monster. Dengan seluruh kekuatannya, ia mengayunkan kapaknya dan berhasil memotong tanduk kristal itu dari kepalanya.


Sang monster seketika berhenti dan menjatuhkan diri ke lantai, tidak bergerak.


Rantai ungu dan bayangan mengecek dengan teliti monster tersebut sebelum akhirnya menyatakan bahwa mereka berhasil mengalahkannya.


Forde menaruh kembali kedua kapaknya dan ia menoleh ke arah Dean yang berdiri diam tidak jauh darinya.


Suasana seketika kembali serius dan dingin.


"Kini semuanya sudah selesai, bagaimana kalau kau menjelaskan semuanya?"