
Saat ia membuka matanya, Leana berada di ruangan yang lebih kecil dari yang ia datangi sebelumnya.
Ruangan yang simpel hanya dengan dua buah sofa panjang yang saling berhadapan dan meja diantaranya. Sebuah jendela menjadi satu-satunya sumber cahaya namun ia juga tidak merasa bahwa ruangan tersebut gelap.
Berapa kali pun ia mencoba untuk memfokuskan pandangannya, Leana tidak dapat melihat apa yang berada di balik jendela itu.
"Selamat datang di labirin besar. Aku sudah menunggumu."
Sosok pria dengan rambut hijau lembut itu berjalan masuk dari pintu di kirinya. Mata emasnya terlihat sayu tanpa tenaga sedikit pun itu berkilauan terkena cahaya dibalik kacamata bundarnya.
Di tangannya ia mendekap sebuah buku dengan sampul tebal serta simbol familiar di tengahnya.
Hanya dengan melihat itu, Leana langsung mengetahui siapa dirinya.
Penjaga labirin, Telsia.
Telsia yang telah duduk di sofa perlahan menoleh ke arahnya dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Leana yang seakan ditarik pun duduk di hadapannya dan menunggu hingga Telsia memulai pembicaraan mereka.
Dengan ekspresi seakan tidak tertarik, Telsia membuka mulutnya.
"Namamu?"
"Ah, iya, Leana Grandall."
Telsia membuka bukunya kemudian membaca sesuatu di dalamnya dengan serius.
Bertemu dengan Telsia setelah sekian lama membuatnya seakan kembali ke masa bayangannya. Ia merasa sedikit canggung
Pertemuan mereka hanyalah kebetulan pada saat itu, namun sekarang Leana memanfaatkan ingatannya untuk membuat kesempatan bertemu dengan Telsia.
Tetapi ada satu hal yang membuatnya heran. 'Apa maksudnya dari Telsia telah menunggu dirinya?'
Mereka tidak pernah bertemu, setidaknya sampai pada titik ini. Bahkan walaupun beberapa tahun terlewati, tidak ada yang dapat memastikan bahwa Leana dapat kembali bertemu dengan Telsia.
"Begitu ya, aku mengerti."
Telsia menutup bukunya dan kembali menatap Leana.
"Perkenalkan, aku Telsia… tapi sepertinya kau sudah tahu ya…"
Dari reaksinya, Leana menduga bahwa Telsia telah mengetahui mengenai kehidupannya. Tidak hanya kehidupan pada saat ini tetapi juga kehidupan sebelumnya.
"Croselia telah memberitahumu ya."
Croselia, buku sang penjaga labirin, dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pemiliknya hanya dengan menyebutkan sebuah kata atau nama.
"Oh, bahkan kau mengetahui tentang Croselia."
"Jika kau sudah membaca tentang kehidupanku, seharusnya kau dapat menyimpulkan maksud dari kedatanganku saat ini, bukan?"
Telsia mengangguk seakan memahami situasi.
"Benar sekali. Aku sudah membaca kehidupanmu. Aku turut prihatin."
'Aku turut prihatin.' Adalah kata-kata yang sama seperti yang dilontarkan Telsia di kehidupan pertamanya.
Telsia yang dikenalnya memang selalu memiliki tatapan tidak peduli kepada hal selain labirin tetapi seluruh tindakannya selalu memberikan perhatian kepadanya.
Leana selalu berprasangka bahwa tindakan Telsia hanyalah sebatas kontrak yang terjalin diantara mereka. Tetapi ternyata ia salah.
Dahulu ia diam-diam menaruh harapan bahwa mereka dapat menjadi rekan seperjuangan dengan niatan murni.
Tetapi melihat dirinya sekarang cukup untuk membuatnya tertawa. Sebagaimana dirinya saat ini datang bukan karena murni kebetulan atau tanpa motif tertentu.
Leana punya tujuan, dan kekuatan Telsia adalah salah satu kunci besarnya.
"Seperti yang kau katakan sebelumnya, aku sudah mengetahui apa yang terjadi di kehidupanmu dan aku tahu bahwa kau kesini adalah untuk membuat kontrak denganku."
"Itu benar. Saya ingin membuat kontrak dengan anda. Saya perlu kekuatan anda."
Kekuatan yang dimiliki Telsia bisa menjadi kunci untuk menghentikan labirin dan mencegah terjadinya perang.
Telsia membuka mulutnya sesaat dan kembali menutupnya. Leana menunggu kata-katanya dengan tenang.
"Belum lama ini aku merasakan sesuatu terikat padaku. Tetapi aku tidak tahu apa yang mengikat diriku."
'Telsia terikat pada sesuatu?'
Ini adalah sesuatu yang berbeda dari yang dialaminya di kehidupan pertama. Telsia tidak pernah terikat oleh siapapun. Setidaknya itulah yang ia ketahui hingga saat ini.
"Oleh karena itulah aku mencoba untuk menunggu apapun yang berada di ujungnya. Tidak ku sangka kau datang sendiri kepadaku.”
Apakah itu artinya Telsia sudah mengetahui keberadaan Leana sejak awal?
“Sebelum kita masuk ke inti dari pertemuan ini, mari kita membahas mengenai sesuatu yang kau ingin ketahui.”
Leana tertegun.
“Sesuatu yang ingin saya ketahui?”
“Kau pasti punya, bukan? Pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh sang penjaga labirin yang mengetahui segalanya dari mata dunia.”
Pertanyaan. Leana memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tetapi ia tidak pernah terpikir untuk bertanya kepada Telsia.
Dengan ragu, Leana membuka mulutnya.
“Kenapa… Bagaimana bisa aku kembali lagi sebagai Leana Grandall setelah bereinkarnasi ke dunia modern?”
“Apakah kau tidak mau kembali sebagai Leana Grandall?”
“Kehidupan sebagai Leana Grandall tidaklah menyenangkan ataupun indah. Kehidupan yang hanya dipenuhi dengan kesalahan dan akhir tragis itu… Saat saya pikir saya mendapatkan kesempatan lagi untuk membuat kehidupan di dunia baru, saya harus kembali sebagai Leana.” ujarnya.
Leana mendengus seakan menertawakan kehidupannya.
“Saya hanya ingin memperbaiki dan menjalani kehidupan yang normal. Saat kembali menjadi Leana, apakah anda tidak tahu seberapa frustasinya saya saat terbangun lagi di tubuh ini?!”
Walaupun ia mempunyai tekad dan tujuan baru di kehidupan keduanya sebagai Leana, ia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya dalam mengulangi kesalahan yang sama. Ia sangat takut hingga cukup untuk membuatnya paranoid kepada segala hal.
Ia bahkan berkali-kali mencoba untuk menipu diri bahkan mencuci otaknya sendiri agak dapat terus berdiri teguh.
“...”
Telsia hanya diam dengan ekspresi datar, speerti biasa. Matanya tak lepas dari sosok lawan bicaranya seakan menyimak dengan seksama.
“Sebenarnya… Apa yang dunia inginkan dari saya hingga saya ditarik kembali ke tempat ini?”
Leana menatap kepada kedua tangannya. Dahinya berkerut seakan kesakitan. Tetapi ia tidak dapat melakukan apapun kecuali menerima kondisinya saat ini.
Telsia pun membuka mulutnya.
“Leana Grandall, apakah anda tahu bagaimana saya bisa berada di sini?”
Leana mengangkat wajahnya.
Bagaimana Telsia bisa berada di dunia ini, ia tidak mengetahui alasannya.
“Saya bukanlah berasal dari dunia ini.”
Leana tahu ia dapat merasakan bagaimana Telsia tidak seperti berasal dari dunia ini, tetapi ia tidak menyangka bahwa Telsia benar-benar berasal dari dunia yang berbeda.
“Saya berasal dari satu dari jutaan dunia yang ada. Semenjak saya menjadi penjaga labirin, saya hanya dapat mengikuti kehendak dari labirin. Datang dan pergi ke berbagai dunia tanpa tujuan. Keberadaan saya sendiri dibuat agar dapat mengawasi pergerakan labirin yang muncul di dunia tempat saya terkirim.”
Mata Telsia beralih kepada Croselia. Ia mengelus buku tersebut seakan benda yang sangat berharga.
“Penjaga labirin akan selalu terikat dengan labirin. Ia tidak dapat melakukan apa-apaa kecuali mengawasi pergerakan labirin dari tempat yang telah di tentukan. Dalam tugas ini, penjaga labirin diberikan kekuatan dan bantuan oleh buku penuntun yaitu Croselia.”
Telsia adalah penjaga labirin, namun ia tidak dapat menghentikan labirin yang akan menghancurkan dunia yang di datanginya. Ini adalah jawaban dari pertanyaan yang didapatnya di kehidupan pertamanya.
Leana masih ingat bagaimana pada sat itu, dengan amarah dan frustasi yang meluap di dadanya, ia meminta penjelasan dari semua kejadian yang di alami dunia ini.
Rein yang menganggap Volfelance sebagai sesuatu yang berharga melebihi nyawanya sendiri ingin menghentikan perang yang perlahan melahap habis kehidupan di dunia.
Telsia yang memiliki kekuatan besar sebagai penjaga labirin tidak dapat bertindak sembarangan dan terdiam tanpa melakukan apa-apa. Sebagaimana dirinya hanyalah seorang pengamat.
Oleh karena itulah, ia meminjamkan sedikit kekuatannya dengan menggunakan kontrak sebagai perantara.
Namun pada akhirnya, ia tetap tidak dapat menghentikan perang.
Jika dipikirkan lagi, mengapa Telsia yang hanya dapat mengikuti kehendak labirin membuat kontrak dengan Rein?
Telsia yang dipenuhi dengan kekosongan dibalik mata emasnya itu selalu berpikir rasional dan menjaga lingkarannya. Ia seharusnya tidak menghiraukan Rein yang hanya merupakan manusia yang tidak sengaja lewat di hadapannya.
Sampai saat ini Leana masih tidak mengetahui alasannya.
“Alasan dibalik reinkarnasimu adalah karena seseorang membuat permohonan.”
Leana melebarkan matanya saat mendengar kata-katanya. Seketika jantungnya berdegup kencang.
“Permohonan?”
“Ia yang terikat dan tidak dapat bergerak. Ia yang hanya bisa melihat bagaimana dunia hancur tanpa dapat melakukan apapun."
Telsia memberi jeda. Sesuatu seperti menghambat kata-katanya.
"Tetapi kau berbeda dengannya. Kau yang menjadi partikel jiwa dapat pergi kemanapun. Oleh karena itulah ia membuat permohonan.”
Lantunan nada yang dikeluarkan Telsia perlahan melemah seakan menyampaikan cerita sedih. Sesuatu di dalam benaknya perlahan terguncang.
“Ia ingin memberi kesempatan kepada anda untuk mengubah nasib dari dunia ini. Oleh karena itulah ia mengirimmu ke dunia lain."
Telsia menatap Croselia seperti teman lamanya.
"Ia ingin kau membuat pandangan baru dengan merasakan hidup yang berbeda. Dengan begitu, kau dapat menumbuhkan kembali ambisi dan harapan yang telah kau buang di kehidupan sebelumnya."
Leana seketika menyadari sesuatu dalam kata-katanya. Sesuatu yang berputar di benaknya semakin jelas hingga ia bergetar.
Leana pun membuka mulutnya untuk bertanya.
“Telsia… apakah anda yang telah membuat permohonan itu?”
Telsia menatapnya sejenak sebelum akhirnya dengan pelan mengangguk. Sesuatu seakan datang dan terlepas di dalam Leana.
“Aku juga tidak mengerti mengapa diriku mampu membuat tindakan seperti itu. Tetapi setelah bertemu dengan anda, sepertinya saya mengerti.”
“Anda mengerti?”
“Saya hanya dapat berspekulasi bahwa diri saya di kehidupan itu sudah cukup muak.”
Telsia memandang keluar jendela. Untuk sesaat Leana dapat melihat senyum lemah yang menertawakan dirinya sendiri di wajahnya
Leana ikut menoleh ke arah jendela, yang di dapatnya adalah langit sore di hamparan gurun berwarna kemerahaan.
Ia melirik Telsia. Apakah pemandangan itu adalah sesutau yang menggambarkan suasana hatinya?
Pemandangan seperti akhir tanpa arti. Terdiam sendirian tidak dapat melakukan apapun.
“Seharusnya perasaan saya tidak sama seperti manusia setelah menjadi penjaga labirin. Tetapi entah bagaimana saya bisa merasakan kembali perasaan muak. Sungguh lucu sekali.”
Mata emas Telsia diwarnai dengan perasaan sendu. Leana yang mepihatnya merasakan matanya memanas.
Telsia kembali menghadap kepadanya.
"Leana, untuk dapat menarikmu kembali ke dunia ini, ada beberapa hal harus terpenuhi terlebih dahulu."
"Hal yang harus terpenuhi? Apa maksudnya itu?"
Leana menjadi bingung dengan pernyataan tersebut. Ia tidak merasa telah melakukan apapun untuk dapat ditarik kembali ke dunia asalnya.
"Buku yang kau temui di dunia lain… Apakah buku itu benar hanyalah buku novel?"