This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Confirmation



Windelyn merasa malu dan kesal.


Ia kesal karena sedari awal ia tidak dapat memberikan topik pembicaraan yang baik kepada Leana.


Ia juga malu karena mereka yang sudah menjadi teman ngobrolnya sejak lama tengah mencoba menjatuhkan Marchioness.


Sikap mereka membuatnya muak dan moodnya pun menjadi turun.


Bagaimana bisa selama ini ia berbincang dengan mereka dan baru menyadari muka lain mereka.


Windelyn kecewa pada dirinya sendiri.


Melihat bagaimana ekspresi Leana berubah menjadi dingin, ia pun menaruh  cangkirnya dan menatap kesal kepada mereka.


"Kalian semua henti–"


"Putri Windelyn!"


Windelyn berhenti dan menoleh ke arah Elyn yang baru saja datang.


Elyn yang gerengah-engah membenahi dirinya dan kemudian bersikap seperti dirinya yang biasa. Lugu dan penuh ambisi.


"Maafkan keterlambatan saya, putri Windelyn. Saya sudah berusaha untuk tiba secepat mungkin."


Ia tidak menyangka Elyn dapat menghadiri pesta minum teh yang diadakan oleh Permaisuri.


Ia berpikir bahwa Elyn tidak akan bisa datang ke pesta tersebut karena harus mengurus ayahnya, Baron Puosca, yang keadaannya sedang memburuk.


Selain itu, Kediaman Baron Puosca membutuhkan waktu lima hari agar dapat mencapai Ibukota.


Tidak. Baron Puosca sangat menyayangi putri bungsunya. Bisa saja ia mendapatkan izin dari Baron untuk datang ke sini.


Windelyn merasakan suatu keanehan pada orang-orang di sekitarnya baru-baru ini, tapi ia berharap itu hanya perasaannya saja.


Ia menepis segala pikiran anehnya dan kembali berfokus kepada Elyn.


"Tidak masalah. Bagaimana keadaan Baron Puosca? Apakah tidak apa-apa kau meninggalkannya?"


"Tidak perlu khawatir, tuan putri. Saya meminta kakak saya untuk menjaga beliau dengan baik."


"Begitukah?"


Windeliyn mengepalkan tangannya.


Sikap cuek yang diberikan Elyn memperburuk perasaannya aneh yang dirasakannya.


"Selain itu, tuan putri! Saya berjuang kemari utnuk bertemu dengan Marquis! Apakah anda mengundanganya ke pesta ini?"


Elyn terus menyuarakan isi pikirannya tanpa memperdulikan sekitarnya. Ia mungkin tidak menyadari bagaimana para bangsawan lain memperhatikan sikapnya saat ini.


Mereka bahkan masih dalam kondisi berdiri.


Apakah Elyn yang dibutakan oleh ambisinya berencana untuk berbicara panjang lebar dalam kondisi seperti itu?


"Nona Elyn, apakah anda berencana untuk terus berbicara dalam kondisi seperti ini?"


"Ya ampun, benar juga! Kalau begitu saya akan bergabung dengan–oh?Sepertinya ada wajah yang belum pernah saya lihat sebelumnya."


Elyn menatap Leana yang duduk disamping Windelyn, tempat yang biasa ia tempati.


Ia melihat ke arah mereka yang duduk satu meja dengan Windelyn dan mereka hanya menatapnya dengan khawatir.


"Putri Windelyn, sepertinya tidak ada kursi untuk saya duduk..."


"Maaf Elyn, Saya tidak menyangka bahwa anda akan datang hari ini karena harus mengurus Baron Puosca. Pelayan, bawakan kursi untuk nona Elyn."


Seorang pelayan di dekat mereka mengangguk dan pergi untuk mengambil kursi.


"Ini salah saya juga karena tidak sempat mengabari anda. Ngomong-ngomong, siapakah nona yang duduk disamping anda ini?"


Windelyn melirik Leana sejenak sebelum menatap kembali Elyn.


Windelyn memutuskan untuk tidak merusak kehidupan Leana dengan Forde dan akan menghibur Elyn yang patah hati jika ia bersedia untuk mengerti kemudian mundur.


"Marchioness, perkenalkan gadis ini adalah teman sekaligus dayang saya Elyn Puosca."


Elyn tersenyum lembut kepada Leana yang sedikit tersentak karena gugup.


Elyn membeku dan wajahnya menjadi pucat.


"Apa?"


Senyumnya berubah menjadi kaku dan matanya bergetar karena syok.


Leana yang sedikit gugup pun bangun dan kembali memperkenalkan dirinya.


"Senang bertemu anda, Nona Puosca. Saya adalah Leana Grandall."


Elyn membeku dan wajahnya menjadi pucat.


"Apa?"


Senyumnya berubah menjadi kaku dan matanya bergetar karena syok.


"Candaan apa ini, sama sekali tidak lucu!"


Dengan sedikit gemetar, Elyn mendekati Leana dan menarik kasar lengannya.


"Anda berani sekali berbohong seperti itu! Apakah kau tidak malu?!


Windelyn terkejut saat Elyn tiba-tiba bersikap agresif kepada Leana.


Ia memang menduga bahwa Elyn akan sakit hati, tapi ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan bersikap seperti itu.


"Tidak ada kabar yang mengatakan bahwa Marquis sudah menikah!


"Elyn!"


Elyn yang terlalu berfokus kepada Leana, melupakan keberadaan Windelyn disampingnya dan melanjutkan lontaran amarahnya.


"Hah saya tahu! Kau pasti mencoba untuk merayu Marquis, bukan?! Dasar tidak tahu diri! Tidak mungkin Marquis mau dengan perempuan sepertimu!"


Elyn mengencangkan cengkraman tangannya hingga Leana dapat merasakan kuku-kukunya yang seakan ingin mengoyaknya.


Saat Leana membuat ekspresi kesakitan, sisi matanya menangkap sebuah benang tipis yang orang biasa tidak dapat lihat.


Ia segera menoleh ke satu titik dimana dua bayangan Alphiella tengah memantaunya.


Keduanya tengah bersiap untuk memisahkan Elyn dari Leana secara paksa namun ia segera menggelengkan kepala dengan pelan untuk memberi isyarat agar mereka tidak ikut campur.


Ketika sudah memastikan keduanya kembali tenang, ia kembali berfokus kepada Elyn.


"Nona Elyn, saya tidak bohong. Saya benar sudah menikah dengan Forde dan menjadi bagian dari Grandall--"


"JANGAN KAU SEBUT NAMANYA DASAR PEMBOHONG!!"


Teriakan Elyn kini menarik perhatian banyak tamu undangan.


"Tidak ada kabar soal itu! Tidak ada! Kalian juga begitu, kan?!"


Elyn menoleh kepada para gadis yang berada satu meja dengan Leana.


Mereka terlihat ragu-ragu namun kemudian membantu Elyn.


"B-Benar! Kami sama sekali tidak tahu!"


"Sepertinya nona Leana adalah saudari dari nona Diana dari keluarga Wordlock..."


"Diana Wordlock... Hah! Jadi kau adalah Leana Wordlock, perempuan menyedihkan yang hanya mengurung diri di kamarnya ya."


Elyn kembali menatap Leana dengan senyum merendahkan.


"Sudah jelas anda berbohong! Saya tahu kau hanyalah orang yang suka mengurung diri! Tidak mungkin orang sepertimu akan menarik perhatian Marquis!"


Elyn mendorong Leana dengan kasar hingga terlempar menjauh dari mereka, seakan memisahkan dirinya dengan yang lain.


Membuatnya seakan menjadi wanita kotor di antara mereka.


"Enyahlah dari sini! Orang sepertimu yang hanya dapat berkhayal menjadi istri Marquis Grandall tidak pantas berada di sini!"


Leana terdiam dengan tegap sendirian.


Matanya memperhatikan sekelilingnya, reaksi para tamu beragam dan ia mulai pusing karena harus memilih tindakannya selanjutnya.


Windelyn menatap Leana dengan khawatir.


Namun sebelum ia dapat mendekati Leana, langkahnya terhenti saat seseorang datang kepada Leana.


"Omong kosong apa yang kau katakan pada istriku?"


"Forde!"


Semua orang seketika membeku dan menjadi pucat.


Semua orang di tempat itu terkejut ketika melihat sosok Marquis Grandall yang tiba-tiba hadir di antara mereka.


Sementara itu Elyn tersipu dan bersikap kikuk karena malu-malu.


"Ma-Marquis Grandall, anu..."


"..."


Forde menatap tajam semua orang dihadapannya dengan geram.


Matanya kemudian menangkap sosok Windelyn yang berada tidak jauh dari mereka.


"Tuan putri, kenapa istri saya bisa diperlakukan seperti ini?"


Windelyn mengumpulkan keberaniannya dan menyingkirkan Elyn di depannya. Ia pun mendekati Forde dengan menjadi sikap tenang dan anggunnya.


"Maafkan saya, Marquis. Saya tidak bermaksud untuk membuat Marchioness dalam situasi seperti ini."


"Saya tidak mempertanyakan itu. Saya bertanya hal apa yang dapat membuat istri saya bisa jadi seperti ini?"


Windelyn menutup mulutnya rapat. Ia masih bingung mau menjelaskan situasi ini dari mana karena semuanya terjadi sangat cepat hingga tidak dapat dikendalikan.


"Marquis! Wanita itu telah menipu anda!


"Nona Elyn!!"


Windelyn segera menghentikan Elyn yang mencoba mendekati Forde.


"Hah? Apa maksudmu?"


"Jangan dengarkan rayuannya, Marquis! Saya yakin wanita ini memiliki niat jahat. Ia bahkan mengaku sebagai istri anda!"


"..."


"Wanita itu tidak mungkin istri anda, 'kan Marquis--"


"Leana adalah istri sahku."


"Eh?"


Elyn terhenti dan menjadi pucat.


Matanya melotot hingga mereka yang melihatnya menjadi takut.


"M-Marquis, saya tahu anda adalah orang yang baik, tapi anda tidak perlu menolong wanita itu..."


Forde mendecah kesal dan ia pun memeluk Leana dengan erat.


Elyn semakin pucat dibuatnya.


"F-Forde...!"


Leana yang gugup dan malu menatap Forde yang sedang sangat marah. Ia dapat merasakannya dari suhu tangannya yang memanas.


"Jika kau tidak mempercayainya, saya akan membuktikannya."


"Ma, Marquis...?"


Forde menarik wajah Leana kepadanya dan menyatukan bibir mereka sangat dalam.


Mereka yang melihatnya terkejut dengan pemandangan dihadapan mereka dan Elyn sudah sangat pucat hingga tubuhnya bergetar.


Setelah beberapa saat, Forde melepaskan Leana dan membenamkan kepalanya kedalam dadanya.


Tangannya menopang tubuh Leana yang leas akibat ciuman yang mereka lakukan.


"Sudah cukup bukan? Saya harap kau tidak mendekati istriku lagi."


"Tunggu! Marquis, dengarkan saya!"


Forde mengangkat tubuh Leana dan berjalan menjauhi Elyn yang semakin histeris.


Elyn yang putus asa pun mengutarakan perasaannya.


"Marquis! Saya sudah mencintai anda sejak lama! Jauh sebelum wanita itu muncul!"


Saat Forde terhenti, Elyn merasakan harapan kembali muncul untuknya.


"Saya jatuh hati kepada anda di hari penobatan anda! Anda sangatlah gagah dan bsrwibawa, saya merasa pada saat itu anda adalah pasangan hidup yang saya cari!"


Elyn perlahan melangkah maju mencoba untuk mendekati Forde secara perlahan.


Berharap kata-katanya dapat mencapai pria idamannya.


"Cinta saya tulus kepada anda jadi tolong bukalah mata anda dari rayuan wanita itu!"


Senyuman Elyn semakin lebar dan tangannya hampir meraih Forde.


Namun sebelum jemarinya dapat menyentuhnya, Forde menatap Elyn dengan tajam hingga ia merasa sebuah belati telah menusuk dadanya.


Tatapan dingin itu sangat menakutkan seperti sesuatu yang bukan dari dunia ini.


"Kau mencintaiku sejak lama? Ha! Jangan bercanda."


Forde membalikan tubuhnya dan kemudian menatap leana dengan penuh kasih sayang.


Ia mengecup kepala Leana dengan lembut seakan ia sedang mengurus benda yang sangat berharga.


Tatapan yang tidak pernah ia lihat itu seketika membuat Elyn kehilangan harapannya.


"Saya sekali, tapi dari kami berdua, saya adalah yang pertama kali jatuh hati kepada istri saya. Bahkan jauh sebelum kau seenaknya menaruh hatimu itu kepadaku."


"Tidak... Mungkin...."


"Sekali lagi saya ingatkan anda agar tidak mendekati istri saya, begitu juga dengan saya. Camkan itu."


Forde pun meninggalkan Elyn yang terjatuh lemas dan menatap tanah dengan putus asa.


"Ada apa ini? siapa yang berani menbuat keributan di sini?"


Permaisuri yang baru saja datang segera bertanya tegas kepada semua ornag yang berada di tempat itu. Namun tidak satupun yang berani membuka suara.


Permaisuri menatap sosok Marquis yang membawa istrinya dalam dekapannya. Memasang wajah mengerikan seperti ingin membunuh seseorang.


"Marquis Grandall."


"Yang Mulia Permaisuri. Saya akan membawa istri saya kembali, jadi kami akan permisi terlebih dahulu."


Tanpa menunggu jawaban Permaisuri, ia memberi salam singkat dan berjalan pergi dari tempat itu dengan langkah cepat.


Permaisuri menoleh kepada Windelyn yang kemudian menunduk kepadanya.


"Putri Windelyn."


"Maafkan saya, Ibu Permaisuri. Sepertinya dayang saya telah bersikap melewati batas dan mengacaukan pesta Yang Mulia. Saya akan segera mengatasi kekacauan ini."


Permaisuri menghela napas berat.


"Kalau begitu segera atasi. Dan Aku harap kau bisa lebih baik dalam memilih teman, putri Windelyn."


"Saya mengerti, Ibu Permaisuri."


Mendengar percakapan keduanya, Elyn pun menoleh marah kepada Windelyn.


"Putri Windelyn! Kenapa anda tidak membantu saya?! Bukankah saya adalah sahabat anda?! Kita bahkan berbagi nama--"


"Nona Puosca."


Elyn membeku saat nada dingin yang tidak pernah di dengarnya keluar dari mulut Windelyn.


Karena ia tidak pernah melihat sosok Windelyn yang semarah ini, ia pun menjadi syok.


"Anda sudah kelewatan batas. Mulai hari ini, saya akan melepas anda dari dayang saya jadi tidak perlu datang ke istana kecuali urusan dengan Baron."


"Apa yang--Putri Windelyn! Tuan putri!!"


Windelyn pergi dari tempat tersebut tanpa menoleh kembali kepada Elyn yang menangis histeris.


Sangat disayangkan pertemanan mereka harus berakhir seperti ini.


Tamu undangan yang berada di sana segera menjauhkan diri dari Elyn untuk menghindari suaranya yang kencang.


Permaisuri menghela napas dan berbalik memasuki istana.


"Pesta ini menjadi kacau. Hentikan sekarang juga dan antarkan para tamu keluar."


"Baik, Yang Mulia!"


Dan dengan begitu pesta minum teh yang diadakan Permaisuri pun menjadi berantakan dan Elyn yang berulah di sana menjadi topik pembicaraan hangat di lingkar sosial untuk beberapa waktu.