
Saat Leana sampai di pintu keluar, Forde sudah menantinya di sana. Ketika menyadari Leana yang telah tiba, matanya melebar dan pipinya menjadi kemerahan. Ia membeku ditempat hingga Leana sampai disampingnya.
Melihat itu membuat jantungnya kembali berdegup kencang dan ia dapat merasakan wajahnya yang menjadi panas. Leana menjadi malu sendiri.
Forde mengulurkan tangannya dan ia mengambil tangan itu. Mata gioknya terus menatap dirinya dengan lembut hingga ia seakan melihat sipu kemerahan di pipi suaminya itu.
Tangannya ditarik mendekat ke bibir Forde dan dikecup dengan lembut.
“Leana, kamu sangatlah cantik dengan gaun itu.”
Leana mengeratkan genggamannya dan sedikit menunduk untuk menutupi rasa malunya. Ia tidak tahu harus bagaimana menatap Forde.
“Te, terima kasih. Kamu juga tampan…”
Leanasegera menutup mukanya dan memalingkan mukanya karena malu. Forde dapat melihat telinga Leana yang memerah dan ia pun tertawa kecil.
“Ayo, kita pergi.”
Leana mengangguk dan berjalan di samping Forde yang menggiringnya.
Saat keluar, ia mendapati Iscan dan Hardie yang berdiri tidak jauh dari kereta mereka. Keduanya menggunakan seragam yang sama dengan prajurit lainnya yang mengikuti pesta perayaan.
“Tuan Iscan, Tuan Hardie!”
Saat mendekat, keduanya membungkuk dan memberi salam.
“Selamat malam nyonya Leana, Tuan Forde.”
“Apakah kalian juga ikut ke pesta?”
“Benar. Untuk merayakan penobatan kami sebagai anggota Grandall, kami diundang untuk mengikuti pesta perayaan.”
“Tidak hanya kami, prajurit yang baru juga akan ikut dalam pesta perayaan!” Tambah Hardie
“Apakah kalian tidak berkumpul bersama dengan rekan kalian?”
“Saya adalah kesatria pribadi anda, jadi saya akan menjaga kereta anda dari dekat.” Jelas Iscan.
“Saya volunteer untuk ikut menjaga tuan dan nyonya!” ucap Hardie dengan semangat.
Leana hanya tertawa kecil dan Forde menghela napas.
“Aku senang kalian punya ambisi kuat. Semoga kedepannya ambisi itu dapat terus kalian bawa.” Ucap Forde.
“Terima kasih Tuanku!” jawab Iscan dan Hardie.
“Bailklah, kita harus segera berangkat ke pesta sekarang. Bersiaplah pada posisi kalian.”
Keduanya segera kembali ke posisi yang telah di tentukan dan saat Forde serta Leana memasuki kereta, seluruh pasukan Grandall pun mulai berangkat menuju istana kekaisaran.
***
Setelah kembalinya Lima Pilar dalam misi penaklukan labirin, kaisar akan mengadakan pesta perayaan untuk merayakan keberhasilan mereka. Ia memberikan waktu dua bulan sebagai waktu berduka sebelum akhirnya pesta tersebut dapat dirayakan.
Karena pesta ini di dedikasikan kepada Lima Pilar, tamu utama dalam pesta tersebut adalah keluarga dari Lima Pilar tersebut. Pesta akan berlangsung selama lima hari.
Acara ini menggunakan gedung aula terbesar kekaisaran yang mampu menampung lima ribu orang di dalamnya sehingga kelima pilar mampu membawa hampir seluruh pasukan mereka.
Selain Lima Pilar, terdapat beberapa bangsawan yang diundang ke pesta tersebut yang biasanya merupakan bangsawan berpangkat tinggi dan juga kerabat dari Lima Pilar.
Di kehidupan pertamanya, ia beberapa kali mendampingi Duke Leon ke pesta kekaisaran bahkan menghadap sang kaisar itu sendiri. Tetapi ia tidak ingin memasukan hal tersebut dalam bagian dari hidupnya lagi. Ia ingin membuangnya jauh-jauh.
Dalam kehidupan ketiganya, terakhir kali Leana mengikuti ke pesta yang diadakan oleh pihak kekaisaran
adalah pada saat pesta debutnya. Di pesta itu juga lah ia pertama kali diperkenalkan kepada Forde oleh ayahnya.
Pada saat itu yang ada dipikirannya hanyalah tanggung jawabnya sebagai seorang wanita dan bagaimana ia dapat membawa nama baik bagi keluarga Wordlock. Di kehidupan pertamanya, ia merasa menyedihkan, namun kini ia tidak merasa seperti itu.
Baginya sekarang, Grandall adalah satu-satunya rumah yang ia punya dan ia ingin mempertahankannya.
Saat Leana menuruni kereta, ia dan Forde berjalan masuk melewati pintu khusus yang disediakan untuk tamu Lima Pilar.
Saat memasuki salah satu pintu dan berjalan di sebuah lorong yang panjang dan megah, mereka diminta untuk menunggu di depan sebuah pintu besar yang mengarah kepada aula utama.
Tidak lama, seluruh pasukan Grandall menyusul memenuhi lorong tersebut dan membuat formasi sebelum memasuki aula.
“Lima Pilar pertahanan dan perlindungan kekaisaran Solfilyan akan memasuki ruangan!” Seru seorang pegawai dalam aula.
Dari balik pintu ia dapat mendengar kemeriahan para tamu yang perlahan menyurut seakan menunggu sesuatu.
Seorang pegawai kekaisaran lainnya datang dari belakang dan berjalan kearah pintu di hadapan mereka seakan memberi aba-aba.
“Marquis dan Marchioness Grandall, kami akan segera membukakan pintu aula kepada anda. Diharap untuk bersiap.”
Pegawai itu berbalik dan mengetuk pintu besar tersebut. Tidak lama pintu terbuka dan cahaya yang cukup
menyilaukan menyambut mereka.
Semua tamu yang berada di aula saling memberi ruang dan berkumpul mendekati dinding. Dengan arahan Forde, Leana berjalan mengikutinya memasuki aula bersamaan dengan empat pilar lainnya yang datang dari pintu yang berbeda.
Kelima pilar memasuki ruangan dengan satu langkah di dalam aula dan berhenti. Lima Pilar menunggu giliran mereka memasuki aula saat nama mereka diumumkan. Nama mereka dipanggil berdasarkan tinggi kelas mereka.
“Pilar pertahanan dan perlindungan, Jubah Hitam. Grand Duke Eclipse Volfelance beserta pasukannya. Memasuki ruangan!”
Pasukan Jubah Hitam seperti namanya menggunakan pakaian seragam hitam dengan lapisan perak dan sedikit sentuhan emas. Kecuali sang Grand Duke yang jubahnya hanya menutupi sebagian pakaiannya, pasukan mereka menggunakan jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuh mereka.
Pandangan dari setiap pasukan terlihat datar dan mereka mengeluarkan aura misterius yang terasa dingin. Seakan mereka bukanlah berasal dari dunia yang sama dan terlalu gelap untuk saling berdampingan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Leana melihat sosok Grand Duke semenjak perang. Ia kemudian melirik kearah pasukan Jubah Hitam dibelakangnya.
Mengetahui cara kerja Grand Duke, ia menduga bahwa pasukan yang dibawanya adalah mereka yang bekerja diatas permukaan sementara anggota bayangan hanya standby di tempat lain.
“Pilar pertahanan dan perlindungan, Rantai Ungu. Marquis Forde Grandall dan Marchioness Leana Grandall beserta pasukannya. Memasuki ruangan!”
Forde dan Leana berjalan memasuki ruangan diikuti dengan pasukan Grandall di belakang mereka. Barisan mereka yang datang dari pintu kanan dari pintu utama perlahan menyusul barisan Grand Duke Volfelance.
Pasukan Rantai Ungu berjalan dengan percaya diri memasuki ruangan. Perpaduan antara hitam dan ungu yang memancarkan aura mempesona seakan mencoba memikat para tamu dengan keindahan uniknya, membuat mata mereka tidak dapat lepas.
Leana berdiri disamping Forde dengan tangan mereka yang masih saling bertautan dan tidak mau lepas. Ini adalah pesta besar kedua yang diikutinya setelah pesta debutnya jadi ia sedikit gugup.
Ia sedikit melirik Forde yang terus berfokus pada sang kaisar di hadapan mereka, tidak terusik dengan mata yang menuju kearahnya.
“Pilar pertahanan dan perlindungan, Tombak Merah. Margrave Hugo Santica beserta pasukannya. Memasuki ruangan!”
Pasukan Tombak Merah berjalan dengan gagah seperti pasukan militer dengan harga diri tinggi. Warna merah dan jingga dengan sentuhan emas membuat mereka seperti api yang membara, seakan melambangkan ambisi mereka yang tidak akan pernah padam.
Setiap langkah tegas mereka bergema dalam ruangan seakan ingin menunjukan kekuatan mereka kepada yang lain. Tamu dalam ruangan tersebut tersentak dan terpukau oleh kegagahan mereka.
Selain Grand Duke dan Forde, Leana tidak dapat mengingat sosok pemimpin dari pilar lainnya. Dari pandangannya, Margrave Santica memiliki wajah yang galak dan tegas yang benar-benar menunjukan lambang sempurna bagi pemimpin Tombak Merah.
“Pilar pertahanan dan perlindungan, Sayap Putih. Count Clovis Vivaldi dan Countess Sylvie Vivaldi beserta pasukannya. Memasuki ruangan!”
Pasukan sayap putih bergerak dengan anggun memasuki aula. Pakaian putih dengan jubah biru langit yang
berkibar selama mereka berjalan membuat ilusi seakan mereka adalah merpati putih yang sedang terbang indah.
Tidak seperti yang lain, aura keramahan yang seperti orang suci terpancar dari mereka dan menimbulkan perasaan aman di dalam diri para tamu. Senyum lembut mereka seakan menjadi sinar mata hari hangat saat dipandang.
Leana terpukau dengan bagaimana Count Vivaldi terlihat seperti orang suci dari kuil. Selain itu ia akhirnya dapat melihat sosok Countess yang terlihat lebih tua dibandingkan dengan Count Vivaldi namun ia memancarkan aura lembut yang sama.
Ia pernah mendengar kisah cinta tuan muda Vivaldi kepada seorang nona Sylvie yang penuh dengan rintangan di masa lalu dan dilihat kondisi mereka sekarang, sepertinya perjuangan Count Vivaldi membuahkan hasil.
“Pilar pertahanan dan perlindungan, Perisai Kuning. Baron Rodion Zenesia dan tuan muda Justin Zenesia beserta pasukannya. Memasuki ruangan!”
Pasuka Perisai Kuning memasuki ruangan dengan percaya diri seakan tidak mau kalah dengan pasukan lainnya. Paduan antara kuning dan perak membuat mereka seakan menjadi lambang atas cahaya harapan yang dibawa di belakang mereka.
Keberadaan mereka sekan membawa cahaya terang bagi masa depan yang ditutupi oleh kegelapan. Para tamu seakan ingin membuka suara dan memberi sorakan semangat pada mereka.
Leana melihat banyak perbedaan dari pilar Perisai Kuning dengan pilar lainnya. Pilar Perisai Kuning dipenuhi dengan senyuman bangga di wajah pasukannya, berbeda dengan pilar lain yang menggunakan ekspresi penuh wibawa, tenang, dan percaya diri tanpa adanya senyuman di wajah mereka.
Leana juga melihat bahwa Baron Zenesia membawa putra tunggalnya yang merupakan wakil komandan membantu ayahnya.
Leana tidak dapat mengingat tiga pemimpin pilar lainnya namun kenapa ia masih mengingat sosok Justin Zenesia dengan jelas, ia tidak dapat menemukan jawabannya.
Saat kelima pilar telah sepenuhnya memasuki aula, tangan kanan kaisar maju.
“Lima Pilar, menghadap sang kaisar!”
Para pemimpin pilar pun bergerak maju kehadapan sang kaisar untuk memberi salam dengan menundukan kepala dan menaruh tangan kanan ke dada kiri mereka.
Leana, Countess Sylvie, dan tuan muda Justin memberi salam yang sama dengan sang pemimpin sementara pasukan Lima Pilar memberi hormat membungkukan badan kepada sang kaisar.
“Angkatlah kepala kalian.”
Saat mereka mengangkat kepala, sang kaisar kembali membuka mulut.
“Lima Pilar yang menjadi lambang pertahanan dan perlindungan bagi kekaisaran Solfilyan. Aku sangat senang dan bahagia kalian dapat kembali dengan selamat dalam misi penaklukan labirin.” Ucap Kaisar.
“Kita semua tahu bahwa menaklukan labirin bukanlah hal mudah, tetapi kalian dengan berani telah menaklukan labirin yang mungkin saja menjadi ancaman bagi umat manusia. Dengan keberhasilan yang kalian bawakan, aku akan memberikan hadiah yang pantas kalian dapatkan atas jasa besar kalian. Baik bagi kalian yang berhasil kembali berkumpul maupun mereka yang telah gugur.” Tambah Kaisar.
“Terima kasih, Yang Mulia Kaisar.” Ucap kelima pilar.
“Sungguh kehormatan bagi kami sebagai Lima Pilar dapat berpartisipasi dalam menjaga umat manusia dari berbagai bentuk keruntuhan yang ada di dunia ini.” Ucap Grand Duke dan kaisar pun mengangguk.
“Karena kalian telah kembali dengan kemenangan, mari kita rayakan kemenangan tersebut dan tumbuhkan kembali semangat serta jiwa raga kalian yang terkuras. Mari kita rayakan hari ini dan hari esok dengan semangat baru membuka masa depan yang cemerlang!” Ucap kaisar.
Sang kaisar mengangkat kedua tangannya tinggi seakan memberi berkah kepada semua orang di sana.
“Kekaisaran Solfilyan akan selalu mendoakan dan memberikan berkah keselamatan serta kemenangan pada kalian semua, wahai para pelindung kekaisaran Solfilyan.”
“Hidup Solfilyan!”
“Hidup Lima Pilar!”
Sorak para tamu mengisiruangan tersebut dengan megah.
Dengan berakhirnya pidato dari kaisar, Pesta perayaan pun dimulai.