
“Anda ingin pergi ke gedung pelatihan?” Iscan berkedip beberapa kali sementara Leana memasang ekspresi sedikit ragu.
Karena kini Forde mengambil alih dalam mengurus dokumen di ruang kerja, Leana yang sudah menyelesaikan penyusunan tugas dan laporan untuk Alphiella tidak memiliki pekerjaan lain.
Vivy akhirnya menyarankan Leana untuk berjalan di taman agar dapat menyegarkan diri. Sementara itu Adde melanjutkan latihannya sebagai butler dengan membantu Albert bekerja.
“Iya. Tuan Iscan pasti sudah mengetahui rumor mengenai saya yang beredar, bukan? Memang benar kalau saya selalu berada di kamar dan baru dua bulan lalu keluar untuk bekerja.” Jelas Leana.
Iscan menatapnya dengan ekspresi kebingungan yang polos.
“Jika boleh saya jujur, nyonya. Saya bukanlah tipe orang yang langsung percaya dengan rumor. Saya akan percaya jika saya melihat dengan mata kepala saya sendiri.”
“Namun sebagaimana saya merupakan anggota baru dan tidak mengetahui apapun, saya hanya bisa mempercayai apa yang anda benarkan. Tentu saja saya juga memastikan sendiri apakah itu benar atau tidak.” Iscan menambahkan. Leana tersenyum simpul mendengarnya.
“Kau adalah orang yang baik dan simpel, Tuan Iscan.” Leana tertawa kecil.
“Begitukah saya di mata anda?” Iscan tersipu malu.
“Setidaknya itulah impresi saya saat mendengar kata-katamu tadi. Sama sepertimu, saya juga tidak sepenuhnya mengetahuimu dan dalam proses menilai dirimu.”
Iscan membalas dengan anggukan.
Memulai dari nol. Leana maupun Grandall saling menilai satu sama lain dari awal lagi. Leana berjuang keras agar mendapat pengakuan mereka dan menebus kesalahannya di masa lalu.
‘Rasanya aku seperti bermain game dan mengulang save point.’ Rasa tak nyata yang merangkak perlahan membuatnya kebingungan dalam membedakan kenyataan yang sebenarnya.
Ketika kekosongan adalah apa yang menemaninya dalam dua kehidupannya, lalu apakah yang menyambutnya saat ia membuka mata untuk ketiga kalinya?
Leana atau Riana. Siapakah ia sekarang ini. Ia tidaklah tahu.
Sampai rasa sakit datang padanya lagi seperti badai. Sepertinya ia perlahan akan tenggelam dalam mati rasa.
“Nyonya, kita sampai.”
Leana tersadar dan mendapati pintu gedung latihan berada tepat di depannya. Suara pedang yang saling berbenturan terdengar dari balik pintu kayu tersebut. Leana menarik napas.
Inilah saatnya!
“Saya hanya akan melihat secara diam-diam saja, jadi tidak perlu di kabari.”
“Saya mengerti.”
Iscan dengan perlahan membuka pintu dan membimbingnya ke sisi gedung. Dibalik bayangan, ia melihat prajurit Grandall yang sedang berlatih dengan antusias. Ada anggota baru dan ada juga anggota inti yang sedang beradu satu sama lain.
Pada akhirnya Leana tidak berani untuk berjalan di depan mereka, dibawah sinar cahaya. Leana masih bersembunyi melihat mereka, anggota Grandall, dari balik bayangan.
Mata penuh ekspektasi, kekecewaan, kemarahan, dan banyaknya ekspresi yang terus mengarah kepadanya tidak dapat keluar dari kepalanya.
Setiap kali Leana mengingat mata mereka mengarah kepadanya, ia mulai kehilangan rasa akan pijakan kakinya.
‘Leana kuatkan dirimu! Perlahan! Lakukan perlahan!’
Leana meyakinkan dirinya meskipun bulir keringat dingin bermunculan. Tangannya mengeratkan kaitan mereka tiap detik berjalan.
Iscan yang merasakan keanehan pada majikannya menoleh pada Leana yang sedang menunduk dan sedikit bergemetar.
“Nyonya? Apakah anda baik-baik sa—”
“NYONYA LEANA! ANDA ADA DI SINI!?”
Membuka matanya, Leana segera menoleh kearah suara keras dari samping kanannya. Disana seorang pria dengan rambut kemerahan pendek dengan mata kucingnya menatapnya dengan penuh kejutan.
Dibelakangnya terdapat pria lain dengan rambut coklat keunguan dengan ekspresi tenang, lebih tepatnya sedikit kesal kepada rekannya yang baru saja menyahut keras.
Karena suara keras pria itukah atau memang Leana terlalu panik sehingga waktu seakan terhenti, suara benturan pedang yang sedari tadi menjadi musik di tempat tersebut menghilang seketika.
“Si bodoh! Kau tidak sopan menyahut keras kepada nyonya Grandall!” Pria berambut keunguan itu memukul rekan di depannya.
“Ugh! Sakit! Harus banget ya dipukul sekeras itu?!” dengan sedikit air mata di sisi matanya, pria dengan rambut kemerahan itu mengusap kepalanya yang habis di pukul.
“Maaf kan kelancangan saya, senior Faunt. Tetapi memang benar bahwa anda sudah bersikap tidak sopan kepada nyonya Grandall.” Iscan seketika berdiri di depan Leana dan menekan suaranya.
Pria rambut kemerahan bernama Faunt Terres menatap balik rekannya dan juniornya dengan kesal namun ia segera bergeser sedikit agar dapat melihat sosok Leana yang sedang disembunyikan dan segera membungkuk.
“Nyonya Grandall, maaf atas kelancangan saya! Saya siap menerima hukuman apapun yang anda berikan.” Ucap Faunt dengan tegas dan tulus.
Sementara Leana masih membeku karena pemandangan dihadapannya, Iscan bergeser dan menunjukan sosok Leana yang ia sembunyikan.
Leana menatap Faunt dengan ekspresi tidak percaya.
‘Tidak, Tidak, Tidak! Dia itu Faunt Terres, lho! Faunt Terres yang itu!!’
Faunt Terres adalah salah satu dari empat prajurit berandal jenius dalam pasukan inti Grandall.
Ia juga adalah salah satu dari beberapa prajurit yang memberi komentar bahwa ia kecewa dengan Leana karena hanya mengunci dirinya di kamar.
Saat ia bercerai dan menikahi Duke Leon, Faunt juga adalah orang yang menatapnya dengan pandangan muak dan sangat kecewa kepada dirinya. Faunt yang itu!
Tapi kini meskipun masih dengan sikap berandalnya, dihadapan Leana sekarang, ia adalah seorang prajurit yang mampu mengakui kesalahannya.
Tidak mendapatkan jawaban dari Leana, ketiga orang di sekitarnya menatapnya dengan bingung. Bahkan Faunt yang membungkuk sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Leana yang terdiam.
“Nyonya?”
Tersadar dengan panggilan Iscan dan menyadari bahwa Faunt menunggu jawabannya, Leana segera membenahi dirinya.
“Ah, ekhm, tidak apa-apa, Tuan Faunt. Saya juga salah karena tiba-tiba datang tanpa peringatan.”
“Ah! Nyonya mengingat nama saya!” dengan wajah berseri, Faunt berseru mengeluarkan isi pikirannya dengan jujur. Matanya berbinar menatap Leana.
“FAUNT!/SENIOR FAUNT!”
Rekannya dan Iscan kembali memarahi sikap Faunt yang frontal.
“Ah, maafkan kelancangan saya lagi.” Ucap Faunt kembali lemas.
Sedikit panik, Leana segera menenangkan ketiganya.
“Sudah, sudah! Kita sama-sama salah jadi kita sudahi saja. Tuan Faunt, angkatlah kepala anda. Saya sudah menerima permintaan maaf anda.”
“Terima kasih Nyonya! Anda sangatlah baik dan murah hati!”
Melihat bagaimana sikap Faunt yang positif kepadanya membuat Leana merasa aneh tetapi juga lega. Ia merasa bahwa Faunt yang ia ketahui dan Faunt yang berada di hadapannya seperti dua orang yang berbeda.
Seketika Leana merasakan pandangan dari arah arena latihan dan mendapati prajurit yang berlatih kini tengah berdiam menatap kearahnya. Pandangan mereka seketika membuat Leana kembali membeku.
Ia kembali merasakan panik karena menerima pandangan dari para prajurit Grandall yang muncul dari ingatannya.
Kepalanya seakan berputar dan ia seperti tenggelam perlahan dalam pasir hidup.
Leana tidak mampu membalas pandangan mereka. Sepertinya ia masih tidak sanggup menghadapi prajurit Grandall.
“FAUNT! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA! AKU MENDENGAR KABAR BAHWA NYONYA GRANDALL DATANG KE SINI! APAKAH KAU MEMBUAT MASALAH?!”
Dari seberang gedung dimana pintu masuk berada, pria paruh baya dengan rambut perak berseru marah kearah mereka. Pria tersebut adalah wakil komandan pasukan Grandall, Weiss Camelin.
Wakil komandan yang selalu terlihat tenang itu kini tengah membentaki bawahannya dengan amarah di wajahnya. Sepertinya sesuatu yang buruk terjadi diantara mereka sebelum kedatangan Leana.
“Selamat berjuang, Faunt.”
“Sial kau, Perciv! Gak bisa membantu sedikit?!”
Rekan Faunt, Percival Zennet, menepuk punggung rekan malangnya seakan bersimpati namun ia tidak berniat untuk menolongnya. Saat Weiss tiba, ia segera memberi salam kepada Leana.
“Nyonya Leana! Maaf atas keterlambatan saya. Saya tidak mendapatkan kabar apapun mengenai kedatangan anda, apakah tidak terjadi sesuatu dengan anda?”
Diakhir kata-katanya, Weiss melirik tajam kearah Faunt. Percival dan Iscan dengan antusias angkat bicara.
“Wakil komandan Weiss, senior Faunt telah bersikap tidak sopan kepada nyonya Leana.”
“Wakil komandan Weiss, si bodoh Faunt ini berseru keras kepada nyonya Grandall.”
“Oi! Kalian berdua--!!”
“Faunt…”
“Ugh…”
Weiss mengeluarkan aura membunuh dari belakangnya kepada Faunt namun Leana segera masuk untuk menyembunyikan Faunt dari hadapan atasannya.
“Tidak ada masalah apapun, Tuan Weiss. Karena saya datang tanpa kabar, sepertinya saya membuat kaget Tuan Faunt. Jadi disini saya juga salah.”
Leana tersenyum dan mencoba meyakinkan Weiss dengan penjelasannya. Meskipun masih tidak puas dengan bawahannya, Weiss memutuskan untuk menahan diri.
“Saya mengerti. Jika itu kehendak anda maka saya hanya dapat mengikutinya.”
Leana bernapas lega begitu juga dengan Faunt dibelakangnya. Tetapi tatapan Weiss diam-diam memberi isyarat tajam melalui pandangannya kepada Faunt agar ia datang ke ruangannya hari itu juga. Seketika Faunt menarik rasa leganya tadi.
“Nyonya, apakah anda ada urusan untuk datang ke sini?” Weiss kembali bertanya kepada Leana dengan tangannya yang mengisyaratkan prajurit lain di arena untuk melanjutkan latihan mereka.
Mendengar pertanyaan dari Weiss, Leana kembali mengingat tujuannya datang ke gedung area pelatihan.
“Kedatangan saya ke sini sebenarnya hanya untuk menyapa kesatria Grandall yang baru saja kembali, terlebih saya juga mendengar bahwa terdapat anggota baru yang masuk.”
“Jadi saya berpikir untuk memperkenalkan diri juga kepada mereka.” Tambah Leana dengan senyuman di wajahnya.
Semua orang di sekitarnya menatap Leana dengan tertegun namun setelah itu ekspresi mereka berubah menjadi lembut.
“Kalau begitu apakah perlu saya kumpulkan mereka?”
“Ah, tidak perlu! Sepertinya mereka sedang dalam latihan serius jadi saya tidak mau mengganggu mereka.”
“Tidak masalah nyonya. Mereka diberi latihan rutin agar kemampuan mereka tetap terasah, tapi pada dasarnya pasukan inti sedang dalam masa istirahat setelah kepulangan mereka dari misi.”
Leana bertekad untuk memberanikan diri menghadapi mereka dan Weiss pun membantunya untuk mencapai tujuannya hari itu. Namun entah kenapa Leana seakan punya perasaan untuk terus menunda hal tersebut.
“Leana, aku mencarimu kemana-mana.”
Tiba-tiba saja suara yang familiar terdengar di belakang Weiss. Mereka semua menatap kepada sosok Forde yang baru saja memasuki area pelatihan.
“Komandan Forde.”
Mereka yang berada di sekeliling Leana langsung memberi hormat kepada Forde.
Forde mendekati Leana dan menariknya kepadanya. Mengeluarkannya dari pria lain yang tengah mengelilingi dirinya tanpa ia sadari.
Leana menoleh keatas menatap
Forde. Perbedaan tinggi badan mereka terkadang membuatnya jengkel.
“Forde, ada apa? Kamu mencariku?”
“Benar. Aku berencana untuk mengajakmu makan siang, tapi aku tidak dapat menemukanmu dimana pun. Saat aku lewat sini, aku mendengar bahwa Weiss membuat keributan.”
Forde menatap Weiss yang dimintai penjelasan olehnya. Weiss pun mulai menjelaskan.
“Sepertinya Faunt berulah lagi dengan bersikap tidak sopan kepada nyonya.”
Forde segera menatap tajam Faunt yang mukanya menjadi pucat pasi. Keringat membasahi wajahnya.
“Tidak, komandan! Saya hanya—"
“Kau masih mau memberi alasan apa, Faunt?”
“Itu…”
Melihat Faunt yang terpojok, Leana segera menarik lengan baju Forde.
“Tuan faunt hanya terkejut karena aku datang tanpa pemberitahuan. Jadi ini juga salahku.”
“Kamu datang dan pergi kesini sudah menjadi wewenangmu. Kamu tidak salah apa-apa, Leana.”
“Forde!”
Leana menarik lebih keras dan ia pun cemberut kepadanya. Forde tersentak dengan sipu di pipinya melihat sikap Leana.
Merasa sedikit kesal karena orang lain juga melihatnya, Forde segera menyelesaikan masalah yang ada di sana.
“Faunt.”
“Siap komandan!”
“Latihanmu ditambah tiga kali lipat untuk dua bulan kedepan.”
“B-Baik, komandan…”
Wajah Faunt semakin pucat dengan hukuman yang diterimanya namun ia tidak dapat menolaknya. Forde menatap Weiss.
“Weiss, tolong pantau dia.”
Weiss pun menjawab “Saya mengerti, komandan.”
“Leana, ayo kita segera pergi.”
Forde menarik tangannya dan menuntunnya keluar namun Leana menghentikannya sejenak. Leana menoleh kearah Weiss yang menatapnya bingung.
“Tunggu sebentar, Forde. Tuan Weiss.”
“Iya, nyonya?”
“Saya minta maaf atas keributan yang saya buat dan saya akan menyapa lagi para kesatria di lain waktu.” Ucap Leana.
“Saya mengerti, nyonya.”
Selama percapakan keduanya, Weiss dapat merasakan ketajaman pandangan sang komandan kepadanya yang semakin lama semakin berat tetapi Weiss hanya menerimanya dalam diam.
Ini kali pertamanya melihat sang komandan dalam perasaan yang sangat buruk hanya karena sebuah percakapan singkat.
Leana dan Forde pergi dari area pelatihan diikuti oleh Iscan di belakang mereka.
Melihat keanehan dari sang komandan yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya, Weiss berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga nyonya Grandall dengan sepenuh jiwanya.