
Leana dan Eclipse mengadakan pertemuan di kediaman Volfalence. Keduanya berada di ruangan yang sama saat pertama kali keduanya bertemu. Kali ini suasana yang menyelimuti mereka sangat berat dan mencekik. Hampir tidak satupun orang di ruangan itu mampu membuka suara kecuali seseorang melakukannya pertama kali.
Dengan menelan perasaan yang berputar di benaknya, Eclipse pun membuka suara. Ia memasang senyum menyedihkan di wajahnya.
“Sepertinya, dewi kemenangan sedang tidak berada di pihak kita saat ini…”
Leana hanya terdiam menatap cangkirnya tanpa tujuan. Ia sendiri seakan kehilangan kata-kata meskipun pikirannya penuh dengan topik diskusi mereka saat ini.
“Saya tidak menyangka prediksi kosong akan menjadi kenyataan—”
“Grand Duke Eclipse Volfalence. Mari kita hentikan basa-basi dan langsung saja ke intinya. Tidak ada yang perlu disembunyikan karena saya merasakan hal yang sama dengan anda.” Balas Leana dengan cepat.
Leana menatap Eclipse dengan tajam. Nada beratnya seketika menghentikan keputusan Eclipse untuk mencairkan suasana. Tidak ada senyuman, baik itu sungguhan atau palsu, yang terlukis di ruangan itu.
Eclipse mengambil cangkir dihadapannya dengan anggun, namun sejujurnya ia tengah diujung tanduk untuk mengamuk.
“Haha, sungguh saya hanya ingin meminta maaf, karena pada akhirnya…” Eclipse memagng cangkir dengan sedikit lebih kuat.
“Pada akhirnya si brengsek itu berhasil mengambil satu poin dari kita.” Ujarnya dengan geram.
Eclipse yang sudah tidak tahan lagi memecahkan cangkir di tangannya, membuat tangan dan celananya basah.
Bagi Grand Duke Volfelance yang memegang seluruh informasi di Kekaisaran Solfilyan, melewatkan satu informasi yang dapat membuahkan kejahatan adalah sesuatu yang memalukan.
Meskipun kekuatan Grand Duke tidaklah absolut namun kekuatannya merupakan salah satu yang dapat membelenggu Kaisar sekalipun.
Selama ini Grand Duke membantu Kaisar, sebagai mata ketiganya, untuk selalu mengawasi setiap pergerakan bangsawan dan rakyat yang hidup di Kekaisaran Solfilyan.
Dengan kekuasan yang dimilikinya tersebut, hampir tidak ada hal yang dapat mengancam Kekaisaran dari dalam.
Eclipse berdiri dalam posisinya saat ini adalah karena ia ingin menjaga kedamaian tersebut.
Namun secara realita, masih banyak orang yang cukup bodoh untuk mencoba menggulingkan hal tersebut. Baik untuk dirinya sendiri maupun yang lain.
Leana membuka suara.
“Saya berpikir dengan mengetahui seluruh rencana Duke Leon maka saya dapat mengalahkannya. Oleh karena itulah saya menyerahkan kasus mengenai Duke Leon kepada anda yang juga mengawasinya.”
Ia awalnya membuat kesimpulan bahwa alasan mengapa selama ini Grand Duke yang dapat dengan mudah menggulingkan Duke Leon tidak mengambil tindakan adalah karena ia yang merupakan strategis bagi Duke Leon telah menghalanginya.
Oleh karena itulah kini ia berada di sisi yang berbeda, Leana menyerahkan seluruh informasi yang diketahuinya kepada Grand Duke dan membiarkan mereka mengatasi Duke Leon.
Ia tidak peduli jika kemenangan atas Duke Leon diambil oleh Grand Duke karena prioritas utamanya terdapat pada perang dunia dengan monster nanti.
Leana berpikir kini ia bisa berfokus pada satu hal begitu ia menyerahkan sebagian masalahnya kepada Grand Duke.
Namun pada kenyataannya, Duke Leon masih dapat menjalankan rencananya tanpa bantuan dari Leana meskipun tidaklah sempurna.
Mungkin saja ia menganggap Leana hanya sebatas pelengkap dari rencananya
saja.
“Saya tahu ia adalah orang cerdik yang mampu membuat jutaan ide namun saya tidak mengira bahwa Duke Leon adalah musuh yang mampu melebihi ekspektasi.”
Meninjau kembali jalan pikiran serta rencana Duke Leon, ia membuka matanya dan mengakui bahwa sebenarnya Duke Leon adalah orang yang kejam dan keji. Ia tidak pernah berpikir dua kali untuk mengorbankan sesuatu.
Mungkin saja di masa lalu Leana yang masih memiliki sifat kemanusiaannya selalu menggunakan segala cara dan alasan untuk mencegah Duke Leon dalam menjalankan rencananya itu.
Apakah pilihannya untuk tidak berdiri di samping Duke Leon adalah salah satu kesalahan?
Jika saat ini ia berada disampingnya, mungkin saja Leana dapat menghindari kerusakan fatal yang terjadi karena rencana tersebut namun ia sendiri tidak punya kepercayaan diri untuk dapat menghentikan Duke Leon sepenuhnya.
Eclipse menghela napas dan menyandarkan diri ke sofa. Ia menatap kembali laporan dihadapannya.
“Penawar virus seharusnya sudah dibuat tidak lama setelah virus tersebut disempurnakan. Bayangan Alphiella akan menyusup untuk mengambil penawar tersebut.” Ucap Leana.
Ia juga sudah memberitahukan Count Vivaldi mengenai virus tersebut dan disaat ia berusaha untuk mengambil penawar dari kediaman Duke Leon, Count Vivaldi akan menyebarkan kabar dan memberikan peringatan kepada semua orang mengenai virus baru itu.
“Saya dengar anda juga meminta bantuan Pilar Sayap Putih..”
“Mereka sedari awal memiliki keahlian khusus untuk meneliti dan mengumpulkan komponen tertentu untuk dipelajari serta dikembangkan. Anda mungkin dapat memberitahukan informasi ini kepada sang Kaisar, namun jika anda sendiri yang turun tangan untuk memberitahunya kepada rakyat, yang ada hal tersebut hanya akan mengguncang kekaisaran.”
Eclipse mengerutkan keningnya.
“Separah itukah?”
“Anda seharusnya tahu bahwa kata-kata anda terkadang juga dianggap dapat mewakili sang Kaisar sebagaimana anda bekerja sebagai telinganya.”
Grand Duke Volfelance secara tidak langsung disebut sebagai sosok yang memberikan peringatan terakhir. Sosoknya yang tidak terpengaruh oleh banyaknya ancaman dianggap sebagai panggilan bagi pertahanan perlindungan yang absolut.
Jika ingin memberitahukan sesuatu yang penting seperti wabah baru, akan lebih baik jika seseorang yang mampu menenangkan mereka yang maju.
Pilar Sayap Putih yang disebut sebagai jelmaan orang suci memiliki hal tersebut dan ia percaya mereka dapat mengatasi hal tersebut dengan mudah.
“Mari kita serahkan saja hal tersebut kepada Pilar Sayap Putih.” Ucap Leana.
“Baiklah, saya mengerti. Terkadang, dalam posisi saya sekalipun, saya merasa frustasi karena hanya dapat bergerak bebas dibelakang.”
“Apa salahnya? Itu adalah kekuatan anda.”
Bersamaan dengan berjalannya percakapan, suasana diruangan tersebut pun membaik. Ketegangan diantara mereka perlahan menghilang.
“Permisi, Grand Duke.”
Illiam tiba-tiba saja muncul dan segera berjalan menuju Eclipse. Ia membisikan sesuatu kepadanya.
Tindakan Illiam yang berani untuk memotong pembicaraan serius kontraktornya dengan rekan kerjanya cukup untuk menjelaskan bahwa informasi yang di dapatnya cukup penting.
Melihat perubahan wajah Eclipse yang menjadi serius, ia menjadi sedikit khawatir.
Setelah selesai menyampaikan informasi, Illiam berjalan mundur dan menghilang. Kini Eclipse bergantian menatap Leana dengan lurus dan serius.
Sepertinya terdapat topik baru yang akan mereka bicarakan.
“Sebuah labirin telah ditemukan.”
Leana seketika membeku. Ia merasakan ujung jarinya perlahan mendingin dan detak jantungnya berpacu kian mengencang.
‘Tidak, belum tentu…’ Leana mencoba menenangkan dirinya.
Beberapa labirin ditemukan bahkan sebelum kejadian tersebut. Seharusnya tidak ada yang perlu ditakutkan.
“Cukup cepat…” ucap Leana pelan dengan lemah. Wajahnya sudah menjadi pucat. Dalam hatinya ia mengulang doa untuk sesuatu yang tidak dapat dipastikan.
Eclipse melihat sikap Leana yang menjadi aneh namun ia melanjutkan kata-katanya.
“Benar. Sebuah labirin ditemukan setidaknya setahun atau beberapa tahun sekali. Labirin yang muncul dibawah satu tahun adalah yang pertama.”
Leana menutup rapat mulutnya seakan tidak ingin menumpahkan sesuatu dari dalam tenggorokannya.
‘Tidak, tolonglah… kumohon…’ Leana mengulang doanya.
Namun…
“Wilayah utara, Orzxenburg. Di sana lah labirin kali ini muncul.”
Dean melebarkan matanya mendengar hal tersebut.
PRANG
“Nyonya!”
Leana yang kehilangan kekuatan di tangannya pun melepas genggamannya dari cangkir teh. Kini cangkir tersebut telah pecah berkeping-keping sama seperti perasaannya saat ini.
Dean yang berada di sampingnya dengan sergap mengecek keadaan Leana. Wajah kontraktornya sangat pucat pasi seperti orang sakit. Tangan yang dipegangnya sangat dingin sama seperti saat ia memegang salju.
Napas Leana menjadi tidar teratur, ia mungkin perlahan lupa cara untuk bernapas.
“Nyonya, tenangkanlah dirimu.” Ujar Dean dengan pelan.
Illiam yang datang segera membereskan pecahan kaca dengan cepat. Sementara itu Eclipse hanya menatap Leana dengan prihatin.
“Marchioness Leana Grandall.”
Dengan matanya yang melebar seakan menahan rasa sakit, ia menoleh ke arah Eclipse yang menatapnya dengan datar namun juga serius. Sebagaimana Grand Duke Volfelance yang dikenalnya.
Untuk menghadapnya dengan kondisinya sekarang, Leana hanya dapat dilanda rasa malu.
Kata-kata yang dikeluarkan Eclipse selanjutnya adalah kenyataan yang sama tajamnya seperti bongkahan tajam es menancap di dadanya tanpa ampun.
“Sepertinya, dunia ini tidak membiarkan kita untuk menjalankan rencana dengan mudah.”
Benar.
Dunia ini tidak pernah sekalipun mengabulkan keinginannya.
Dan ia selalu mengutuk hal tersebut karenanya.