This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Reviewing



Leana menghela napas sementara Adde menyiapkan teh dan kue.


Tangannya yang memegang pena terhenti dan tumpukan dokumen di atas mejanya tidaklah berkurang.


“Nyonya, apa yang sedang anda pikirkan sekarang sampai wajah anda menjadi kusut seperti itu?”


Leana menatap Adde yang bersikap acuh tak acuh. Ia tidak habisa pikir bagaimana Adde dapat bersikap sarkastik kepadanya. Padahal saat Grand Duke adalah kontraktornya, ia tidak bersikap seperti itu.


“Apakah ini mengenai tuan Forde?”


Adde tidak melewatkan reaksi Leana yang tersentak setelah mendengar kata-katanya. Sepertinya dugaannya benar.


“Sepertinya ini memang mengenai tuan Forde.” Ucap Adde.


“Bukan! Maksudku memang ada itu salah satunya, tapi sekarang bukan yang itu!” Seru Leana dengan wajah sedikit memerah. Adde menatapnya curiga.


“Wajah dan kata-kata anda tidak sinkron, nyonya. Bagaimana kalau anda keluarkan saja?” ucap Adde, memancing Leana.


Mengetahui amksud tersembunyi Adde, ia pun memasang senyum kesal kepadanya.


“Adde, kau sedang bosan? Kekurangan pekerjaan?” Leana menatapnya dengan seram.


“Maafkan saya, nyonya.” Adde dengan cepat berhenti dan melanjutkan kegiatannya.


Leana kembali menatap dokumen dihadapannya namun pikirannya sedang berada di tempat lain.


Merasa frustasi dengan tanyannya yang tidak bergerak, Ia pun menyingkirkan dokumen tersebut dan memakan kue yang telah disediakan oleh Adde.


Setelah kejadian di istana, pesta perayaan pada hari itu segera dihentikan. Leana dan Forde pulang ke Grandall namun Forde harus kembali ke istana dan meninggalkan Leana bersama Iscan serta Hardie.


Esok harinya pada pagi buta, Leana berteleportasi ke Alphiella dan menyambut Marquis. Ia tahu bahwa Marquis bukanlah seorang personil kerajaan biasa namun ia tidak menyangka akan mengungkap sisi berbeda darinya.


Keduanya tidak saling membuka kartu, tetapi baik Leana maupun Marquis telah mengetahui garis besar apa yang berada dibalik topeng masing-masing.


Meskipun canggung, keduanya mengakhiri pertemuan mereka dengan tenang.


Siangnya, Marquis Giovanne yang dianggap hilang tersebut kembali sendiri dengan menunggangi kuda ke istana dan hubungan diplomatik antara Kekaisaran Solfilyan dan Kerajaan Rozen berhasil diselamatkan.


Karena Forde akan tinggal di istana hingga hari terakhir pesta perayaan, Leana dapat dengan bebas untuk pergi ke Alphiella tanpa dicurigai.


Tentu saja Leana akan kembali ke Grandall pada jam makan pagi, siang, dan malam untuk menutupi kepergiannya. Keadaannya yang mengurung diri di kamar bukanlah suatu keanehan bagi penghuni Grandall jadi ia sedikit lega meski merasakan sakit di hatinya.


Di Alphellia ia kembali melanjutkan pekerjaannya mengurus wilayah tetapi sesuatu mengangganggu pikirannya hingga ia tidak dapan menyelesaikan dokumen yang bertumpuk tersebut. Adde yang menghela napas.


“Nyonya, jika anda tidak dapat fokus, bagaimana kalau saya menyerahkan laporan yang seharusnya saya berikan besok?”


Leana menatap Adde seakan memberi sinyal seakan berkata bahwa ia adalah seorang jenius.


“Silahkan.” Ucap Leana.


“Pertama mengenai misi fase dua. Pelaku yang melakukan penculikan adalah Osca. Disaat Veil mengamankan target ke Alphiella, ia melaporkan tidak ada keanehan selama perjalanan dan juga target mereka.”


“Saya, Liam, Eson, Ilya, dan Solas melawan Osca. Yang berhadapan langsung dengannya hanyalah saya dan yang lain membantu dari balik bayangan. Lalu—”


Saat Leana mengangkat tangannya, Adde menghentikan laporannya. Majikannya itu menatapnya dengan kerutan di keningnya.


“Adde, kau sadar bahwa Osca adalah bayangan yang lebih kuat darimu, ‘bukan?”


Adde mulai menatap Leana dengan tidak senang.


“Nyonya, itu menghina martabat kami sebagai bayangan.”


“Bukan itu! Osca itu seorang bayangan professional yang memiliki kekuatan jauh lebih tinggi dibanding kita, sekali pandang saja aku tahu! Tapi kau, kalian, melawannya—”


“Nyonya, saya tidak akan bertarung dalam pertarungan yang tidak dapat saya menangkan. Tentu saja jika saya melawan Osca sendirian, saya tidak akan menang. Tetapi berbeda jika yang lainnya membantu saya.” Jelas Adde dengan tenang.


Leana terkejut.


“Maksudmu, anggota bayangan Alphiella sudah cukup kuat untuk melawan Osca?”


“Jika tidak begitu maka sedari awal kita tidak akan pernah berhasil. Jika anda datang ke tempat pelatihan dan melihat kemampuan mereka, anda juga pasti akan setuju.”


Keduanya terdiam seakan mencoba mengambil napas mereka.


Di kehidupan pertamanya, Leana perlu waktu satu tahun untuk benar-benar menjadi seorang bayangan yang layak. Berbeda dengan bayangan Alphiella, sekarang yang dengan gegabah mengambil misi berbahaya disaat pelatihan mereka saja belum mencapai setengah tahun.


Leana mengakui Adde adalah seorang genius, tapi apakah ia benar-benar bisa menjadikan anggota bayangan Alphiella sebagai bayangan yang layak hanya dalam waktu dua bulan?


Sebenarnya pelatihan apa yang dilakukan Adde kepada mereka?


“Nyonya. Anda yang bilang sendiri akan percaya dan menyerahkan semuanya kepada kami.”


“Be, benar. Tapi aku hanya berpikir untuk menyelamatkan target kita tanpa harus melawan


Osca.”


Lean percaya kepada anggota bayangan Alphiella, sebagaimana mereka ada rekan-rekan Rein yang berbakat. Namun ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan mereka yang masih belum mengeluarkan seluruh potensinya.


“Nyonya, anda berkata begitu karena anda mengetahui kemampuannya. Tapi apa jadinya kalau ternyata itu adalah bayangan lain? Apakah anda akan tetap berkata begitu?”


“Tentu saja! Keselamatan kalian adalah yang paling utama.”


“Anda mulai melantur, nyonya.” Adde menggelengkan kepalanya.


Leana menutup matanya dan memijit pelipisnya.


“Nyonya, anda mempertaruhkan segalanya kepada organisasi bayangan Alphiella. Kami yang anda selamatkan mengikuti anda bukan hanya karena diselamatkan. Kami hanya mencoba untuk mempercayai jalan anda.” Ujar Adde.


Leana mengernyit menatap Adde. Ekspresinya terlihat sedih seakan membuat keputusan yang salah.


“Apa yang anda sesali sekarang? Bukankah ini yang anda inginkan? Keberhasilan dalam rencana besar anda agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik?” ujar Adde.


Benar. Leana membuat organisasi bayangan adalah karena ia ingin hidup dengan tenang. Tetapi disaat yang sama ia merasa bersalah telah menggunakan orang lain demi rencananya tersebut.


“Lagipula, bukankah kami sebenarnya hanya seperti anda?”


“Apa maksudnya itu?” tanya Leana bingung.


“Hah?! Apa kau bilang!?”


Leana mencoba meraih Adde namun ia sudah duluan berjalan mundur untuk menghindari tangkapan majikannya.


“Ingat, nyonya. Nasi telah menjadi bubur. Apapun yang terjadi, kita hanya dapat menjalaninya dengan memegang benang yang benar.”


Leana mengatupkan mulutnya dan menunduk. Sesaat kemudian ia kembali menatap Adde dengan pandangannya yang biasa.


“Aku mengerti. Laporan soal misi tahap dua akan ku cek nanti.”


“Saya mengerti.”


Adde membereskan laporan mengenai misi tahap dua dan menyimpannya disamping dokumen yang telah selesai dikerjakan.


“Yang kedua, mengenai misi besar kita selanjutnya.”


Misi mereka selanjutnya adalah membuat koneksi dengan organisasi bayangan Grand Duke Volfelance.


Karena loyalitas mereka yang tinggi, anggota bayangan Grand Duke tidak dapat dipisahkan dari kontraktor mereka. Leana tidak punya cara lain selain memasukan Grand Duke itu sendiri ke dalam rencananya.


Jika rencana ini berhasil, ia dapat meminta Illiam untuk menyempurnakan Adde sebagai bayangan.


Pada dasarnya bertukar pengetahuan mengenaik teknik dan kemampuan antara organisasi bayangan yang berbeda tidak diperbolehkan namun kemampuannya sebagai bayangan adalah apa yang diajarkan Illiam kepadanya.


Oleh karena itulah, ia harus memberikan sebagian dari pengetahuannya kepada Grand Duke. Di sini ia tidak hanya ingin membuat hubungan Grand Duke tetapi juga untuk mengambil kembali kepercayaannya kepada Leana.


Meskipun mereka sekarang berada dalam pijakan yang berbeda, mereka semua berawal dari pijakan sang Grand Duke.


Kini Leana hanya dapat berdoa, untuk kesekian kalinya, agar rencananya dapat berjalan lancar seperti sebelumnya.


“Kau sudah memberitahukan rencana selanjutnya kepada anggota bayangan lain, bukan?”


“Saya sudah melakukannya, nyonya.”


“Kerja bagus.” Leana mengangguk. “Mulai hari ini kalian diharuskan menggunakan topeng yang dibuat Alscan setiap menjalankan misi. Meskipun wajah kalian sudah diubah sedemikian rupa, aku tidak mau identitas penyamaran kalian terungkap juga.”


“Saya mengerti.”


Adde kemudian meletakan dokumen di tangannya dan mengambil dokumen baru yang ia serahkan dihadapan Leana.


“Ini adalah informasi mengenai simbol yang tertera di organisasi perbudakan dan anggota yang terlibat.”


Simbol tersebut berbentuk lingkaran dan sebuah segitiga yang menimpanya seakan mengambil ¼ bagian dari lingkaran tersebut.


Simbol yang terlihat kekanak-kanakan dan sangat familiar dimatanya. Organisasi bawah tanah milik Duke Leon Gwertivare.


“Duke Leon Gwertivare. Ia adalah yang memiliki kemungkinan tinggi sebagai dalang dari organisasi tersebut.” Jelas Adde dengan dingin.


Leana menatap dokumen tersebut dengan cermat dan kemudian kembali menatap Adde.


“Adde. Kau sangat mengetahui apa yang ingin ku lakukan.”


“Alphiella ada hanya untuk anda, nyonya.”


Adde berjalan kesamping Leana dan berlutut. Ia menaruh tangan kanan di dada kirinya dan pandangannya lurus menatap mata ungu Leana.


“Dengan sumpah dan janji saya. Saya akan membawa keberhasilan dalam rencana anda.”


Leana tersenyum dan menyentuh pundak Adde dengan lembut.


“Seperti biasa, Adde. Aku menaruh kepercayaan kepada kalian.”


***


“Apa maksudnya misi kita gagal?”


Duke Leon menatap marah bayangan di hadapannya. Bayangan itu hanya menelan ludah sebelum akhirnya membuka mulut lagi.


“Maafkan saya tuanku. Tapi kami tidak berhasil mendapatkan target, bahkan Osca juga menghilang.” Jelasnya.


“Kalau begitu segera cari mereka! Apakah sumpah dan janjimu itu hanya kata-kata belaka!?”


“…”


Sang bayangan menutup matanya menerima makian dari majikannya. Ia juga tidak menyangka bahwa rekannya yang berbakat tersebut akan gagal dalam misinya.


Duke Leon menjatuhkan diri ke kursinya dengan kasar dan kembali menatap sang bayangan.


“Siapa pelakunya?”


“Kami menduga pelakunya adalah anggota bayangan milik Grand Duke Volfelance…”


“SIALAN!”


PRANGH!!


Duke Leon melempar botol tinta kearah sang bayangang namun meleset kesampingnya dan menghantam pintu hingga pecah berkeping-keping.


“Haaa… lagi-lagi si brengsek itu… menghalangi setiap jalanku…”


Duke Leon menggigit bibir bawahnya hingga berdarah dan tangannya dengan keras menggenggam rambutnya. Beberapa saat ia pun menghela napas untuk menenangkan diri.


Ia ingin sekali melabrak dan membalas Grand Duke atas penghinaannya tersebut, namun ia tetap harus berhati-hati. Jika ia gegabah maka rencananya akan gagal seluruhnya.


“Kita tidak punya pilihan. Segera masuk ke tahap selanjutnya tanpa menunda! Kegagalan akan dibayar dengan nyawa kalian!”


“Siap tuanku!” dan sang bayangan pun menghilang dibalik bayangan.


Leon menatap langit malam dengan frustasi.


Ia tidak dapat membiarkan semua orang terus menerus merendahkannya seperti ini. Ia akan membuktikan bahwa ia akan lebih tinggi hingga mereka tidak mampou bangkit lagi.


Ia bersumpah akan melakukannya.