This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
The Grand Deal



“Silahkan ikuti saya.”


Leana dan Dean mengikuti Illiam melewati jalan rahasia. Ini adalah jalan rahasia yang digunakan oleh bayangan untuk menemui Grand Duke.


Tentu saja Leana mengetahui jalan tersebut sebagaimana ia adalah salah satu anggota mereka dahulu.


Saat ia melihat sebuah pintu kayu dengan ukiran yang mewah, Leana menghentikan Illiam.


“Tunggu sebentar, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada anda.”


Illiam menatap Leana untuk sesaat sebelum menjawab.


“Apa itu, nyonya?”


“Nama lain saya adalah Rein dan yang dibelakang saya adalah Dean. Harap jaga itu di benak anda dan jangan beritahu Grand Duke. Saya sendiri yang akan memberitahunya.”


Illiam tidak menjawab dan hanya mengangguk kemudian membuka pintu. Dari dalam ruangan tersebut cahaya rembulan membentang mewarnai seisi ruangan.


“Tuanku, tamu anda telah tiba.”


Di dalam ruangan berwarna biru tersebut, seorang pria dengan rambut biru yang sangat gelap tengah duduk di sofa. Mata biru malamnya menatap dirinya dan ia pun tersenyum.


Yang terbesit di benaknya adalah bagaimana wajah Grand Duke jauh lebih mudah dibandingkan dengan apa yang diingat oleh Leana.


“Silahkan masuk. Saya sudah menunggu anda, Marchioness Leana Grandall.” Ucap Grand Duke, menyambut Leana dengan gestur yang anggun dan berwibawa.


Leana duduk di seberang Grand Duke sementara Dean berdiri tidak jauh di belakangnya. Illiam yang selesai menyiapkan teh untuk keduanya pun menempatkan posisi di belakang sang Grand Duke.


“Saya dengar anda ingin berbicara dengan saya, Marchioness?”


“Anda benar, Grand Duke. Sebelumnya tolong maafkan kelancangan saya tapi saya akan langsung kepada poinnya. Grand Duke Volfelance, Saya ingin membuat kerjasama dengan anda.”


Grand Duke masih memasang senyumannya namun Leana dapat merasakan tatapannya menjadi sedikit lebih tajam. Tidak hanya Grand Duke, tetapi ia juga merasaknnya dari arah Illiam.


Leana pun melanjutkan.


“Mengapa saya harus membuat kerjasama dengan anda? Apa keuntungannya untuk saya?”


Tentu saja Leana tidak berada di hadapannya dengan tangan kosong.


“Saya dan anda memiliki tujuan yang sama.”


“Tujuan apa yang anda maksud?”


“Duke Leon Gwertivare.” Suhu di dalam ruangan seketika menurun. “Anda mengawasi gerak geriknya, bukan?”


Kali ini mata Grand Duke memancarkan cahaya berbahaya. Ia pernah melihatnya dahulu tapi ia tidak berpikir akan mendapatkannya secara langsung darinya.


Leana menahan perasaan takutnya dan menjaga senyuman percaya diri di wajahnya.


“Sepertinya anda cukup lihai dalam mengumpulkan informasi.”


“Saya hanya kebetulan memiliki informasi yang tidak dapat anda dapatkan saat ini. Namun informasi ini berkaitan dengan apa yang mungkin saja terjadi di masa depan.” Ujar Leana.


Grand Duke mendengus lucu mendengar kata-kata Leana.


“Anda mengatakan seakan anda dapat melihat masa depan.” Ucap Grand Duke dengan nada bercanda.


Leana sedikit melebarkan senyumannya. Ketegangannya mulai sedikit mereda.


“Jika saya bilang iya apakah anda akan percaya?”


Tatapan Illiam semakin menusuk kepada Leana namun ia mencoba mengabaikan hal tersebut dan terus menatap lurus kepada Grand Duke.


“Apakah anda bisa membuktikan kata-kata itu?”


“Grand Duke, Anda adalah orang yang memberi nama kepada anggota bayangan anda, bukan?”


Senyuman di wajah Grand Duke semakin menghilang dan aura yang terpancar menjadi sedikit lebih serius.


Ahh, Leana membuatnya marah…


“Jika anda memberikan saya nama, kira-kira nama apa yang akan anda berikan kepada saya?”


Seketika aura yang dingin tersebut berhenti dan kembali menjadi normal.


Grand Duke yang mendengar pertanyaan Leana terlihat kebingungan namun ia mulai memikirkan nama yang akan diberikan kepada Leana.


Illiam yang berada dibelakangnya sudah familiar dengan tingkah kontraktornya yang tengah serius dalam memikirkan sebuah nama dan ia hanya bisa pasrah.


Setelah keheningan beberapa saat, Grand Duke pun membuka suara.


“Rein.”


Illiam tersentak dan tanpa sadar membuka suara.


“Tidak mungkin!”


Grand Duke menoleh kearah Illiam yang segera menutup mulutnya dan membenahi sikapnya kembali.


Illiam bukanlah orang yang akan bersikap seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi?


Grand Duke menatap Leana dengan curiga.


“Ada apa ini?”


“Kalau begitu, bagaimana dengan rekan saya dibelakang?”


Grand Duke semakin mengerutkan keningnya.


Dean mengetuk topengnya dan memunculkan wajahnya sebagai Adde.


Grand Duke menatap Dean yang berada di belakang Leana dengan seksama. Dean hanya terdiam tidak bergeming.


“Saya rasa nama yang cocok untuknya adalah... ‘Dean’.”


Klatak


Grand Duke kembali menoleh kearah Illiam yang menutup matanya dengan rapat seakan menahan sesuatu. Sedari awal ia memberikan nama kepada kedua tamunya, ada sesuatu yang tidak beres dengan bayangannya.


“Satu lagi, kalau boleh tahu mengapa alasan anda memberi saya nama ‘Rein’?”


Senyuman di wajah Grand Duke pun memudar. Sepertinya kesabarannya perlahan mulai terkikis.


“Entah kenapa saat saya melihat anda, Marchioness, saya membayangkan suasana hujan deras yang merupakan sebuah pertanda yang baik. Apakah itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan anda?” Jelas Grand Duke.


Leana melirik kearah Dean dan ia pun mengangguk. Grand Duke yang memperhatikan tamunya dan sikap aneh bayangannya semakin diselimuti dengan rasa curiga dan bingung.


“Sekarang, bisa jelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini?” tanya Grand Duke dengan nada serius.


“Grand Duke, apa yang anda pikirkan saat saya mengetahui fakta yang hanya diketahui oleh anda dan anggota bayangan anda tersebut?”


“Kemungkinannya adalah anda menyimpan mata-mata dalam bayangan saya atau seseorang telah membocorkan hal tersebut keluar.”


Leana mengangguk.


“Jawaban yang tepat adalah fakta tersebut diketahui dari dalam.”


Grand Duke dan Illiam tersentak.


“Apakah maksud anda ada pengkhianat dalam bayangan saya?”


Leana tersenyum percaya diri dan menatap tajam Grand Duke seakan mencoba untuk menekannya balik.


“Benar. Dan pengkhianat yang dimaksud adalah saya sendiri.”


Keheningan kembali menyelimuti ruangan tersebut. Grand Duke mencoba untuk mencerna kata-kata Leana tetapi pada akhirnya ia tidak menemukan jawaban yang pasti.


“Apa yang anda maksud?”


“Grand Duke, dahulu saya adalah bagian dari bayangan anda.” Ujar Leana.


“Dahulu? Saya tidak pernah memiliki anggota seperti anda, Marchioness.”


“Kalau begitu, saya ingin anda mendengarkan cerita saya ini.”


Leana pun menjelaskan mengenai kejadian di kehidupan pertamanya. Ia tidak menceritakan seluruhnya kepada Grand Duke sebagai jaminan untuk dirinya sendiri.


Grand Duke memghela napas.


“Marchioness, anda ingin saya mempercayai cerita anda?” ucap Grand Duke dengan serius.


“Benar. Ini adalah apa yang saya bisa saya berikan. Informasi yang dibutuhkan untuk menghadapi apa yang akan terjadi di masa depan.”


Keduanya saling menatap tajam seakan mencoba untuk mencari kenyataan kelopak matanya.


Leana pun kembali menegaskan.


“Anda memiliki prioritas untuk membongkar Duke Leon dan saya juga ingin membalas dendam kepadanya. Sebagai orang yang sempat berdampingan dengannya, saya memiliki garis besar mengenai semua rencananya.”


“Jika balas dendam adalah apa yang anda inginkan, bukankah anda bisa melakukannya sendiri?”


“Benar. Jika ini hanya balas dendam, saya bisa melakukannya sendiri. Namun pada satu titik, pasti ada saatnya dimana kita saling bertemu karena tujuan yang sama. Jadi bukankah lebih baik jika saya menjalin kerjasama dari awal?” Jelas Leana.


“Terlebih saya punya lebih dari satu rencana dan saya merasa tidak dapat melakukannya sendirian.” Lanjutnya.


“Jadi anda ingin meminjam kekuatan milik Volfelance?” Leana mengangguk.


“Benar, Grand Duke. Saya ingin meminjam kekuatan anda. Saya ingin membagi tugas agar rencana ini dapat tercapai dengan maksimal.”


Grand Duke menaruh tangan di dagunya dan memikirkan sesuatu.


“Anda sangat percaya diri sekali dengan hal tersebut.”


“Tentu saja. Karena saya juga menggunakan cara yang sama untuk menyelamatkan diri dari bayangan anda.”


“…”


“Tapi pada saat itu saya berhutang nyawa kepada anda yang telah memberi saya kehidupan baru sebagai bayangan. Saya tahu Marquis Giovanne adalah orang yang penting bagi anda, oleh karena itulah saya menolongnya sebagai bentuk membalas budi saya kepada anda.”


Grand Duke masih tidak menjawab dan terdiam menunggu kelanjutan dari penjelasannya.


“Grand Duke, saya tidak melantur. Jika saat ini saya masih berada disampingnya, maka yang akan menghalangi anda dalam membongkar Duke Leon adalah saya sendiri. Saya adalah seorang strategis dalam menyempurnakan seluruh rencananya.” Ujar Leana.


“Ia sudah pernah mendapatkan keinginannya sekali dan saya tidak berencana memberikannya untuk yang kedua kalinya.”


Bagaimana pun caranya, Leana harus mendapatkan kekuatan tambahan dari Grand Duke Volfelance.


Perang dengan monster di masa depan bukanlah hal mudah. Karena ia telah gugur, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan dunia tersebut setelah kematiannya tapi ia tidak ingin mengulanginya lagi.


Ia ingin hidup dengan damai. Tujuan tersebut tidak akan pernah berubah.


“Seperti bagaimana anda memberi saya kekuatan, saya juga akan memberi anda hal yang setimpal. Bukankah itu win-win?”


“…”


Grand Duke masih tidak membuka suara. Leana tidak dapat mengeluarkan informasi lebih lanjut sekarang karena ia masih belum mendapatkan kerjasama darinya.


Grand Duke menutup matanya dan terdiam. Tidak lama ia kembali membuka matanya.


“Apakah Marquis Grandall mengetahui soal hal ini?”


“Apakah anda memberitahu soal keberadaan organisasi bayangan anda kepada keluarga, Grand Duke?”


Grand Duke seketika menutup mulutnya dan tertawa kecil. Wanita dihadapannya sangat keras sekeras dinding pertahanan Lima Pilar.


“Benar. Saya tidak akan melakukannya.” Ujarnya masih tertawa pelan.


Grand Duke memberikan isyarat kepada Illiam dan ia membawa kertas serta pena kepadanya. Tidak lama setelah menulis, ia memberikan kertas tersebut kepada Leana.


“Ini adalah persyaratan dari saya. Silahkan masukan persyaratan yang anda inginkan sesuka hati.”


Leana mencerna persyaratan yang diberikan Grand Duke kepadanya dan kemudian menuliskan miliknya. Ia mengembalikan kertas tersebut kepada Grand Duke untuk di cek lagi.


“Baiklah. Dengan begini kerjasama telah terbentuk antara Volfelance dan Grandall.”


“Ah, organisasi bayangan saya bekerja di Alphiella jadi Grandall sama sekali tidak memiliki hubungan kecuali saya.” Jelas Leana.


Grand Duke kini menatapnya dengan ketertarikan.


“Menarik sekali. Sungguh cerdas menggunakan wilayah terbengkalai sebagai markas bayangan. Saya salah memperhitungkan anda.”


Grand Duke membubuhi lembar persyaratan tersebut dengan tanda tangannya, begitu juga dengan Leana.


“Terima kasih, Grand Duke.”


“Ah, karena kita sudah menjadi rekan sesama organisasi bayangan, saya harap anda bisa memanggil saya nama saya saja. Terlalu formal membuat saya tercekik dalam hal ini.”


“Baiklah, tuan Eclipse. Tolong panggil saya dengan Leana juga.”


Eclipse mengangguk dan menyandarkan tubuhnya di sofa.


“Jadi bisakah saya mengetahui rencana anda untuk saat ini?”


“Tentu saja. Karena kerjasama telah terjalin saya akan menyerahkan urusan mengenai Duke Leon kepada anda. Nanti dengan segera, saya akan mengirimkan informasi lengkap mengenai rencana Grand Duke saat ini dan kedepannya.”


“Saya mengerti. Lalu apa yang akan anda lakukan?”


“Saya masih mengatasi masalah seputar Alphiella dan tengah mengumpulkan kekuatan sedikit demi sedikit.” Jelas Leana.


Eclipse menangguk pelan menanggapi kata-katanya dan ia tiba-tiba teringat akan sesuatu. Seketika seringai terlukis di wajahnya.


“Tapi mendengar dari ceritamu, bukankan artinya anda mencuri asset masa depan milik Grand Duke, nyonya Leana?”


Leana segera memasang topeng tidak bersalahnya dan tersenyum polos kepadanya.


“Oh ya ampun. Saya tidak tahu apa yang anda maksud!” ujar Leana.


“Haha, dasar licik…”


Leana mengambil teh di meja dan mengesapnya. Teh buatan Illiam adalah salah satu favoritnya saat menjadi bayangan.


“…dan Nyonya Leana.”


Leana menatap Eclipse yang memasang wajah familiar di ingatannya. Ia menatap Leana seakan bertemu dengan keluarga jauh yang sudah lama tidak ia temukan.


Ia tidak tahu mengapa Eclipse memasang wajah tersebut, tetapi ia mencoba untuk mengabaikannya dan bersikap tenang.


“Ada apa, tuan Eclipse?”


“Jika tidak keberatan, saya juga ingin mendengar cerita mengenai masa anda bersama kami.”


Leana melebarkan matanya. Ia tidak menyangka Eclipse akan tertarik mengenai hal tersebut.


“Tidak masalah. Kalau begitu jika diperbolehkan, saya juga ingin meminta waktu untuk saling berkenalan dengan anggota bayangan anda.”


Leana menatap Illiam yang menatap balik kearahnya.


Illiam adalah guru bagi Leana dan ia sangat menghormatinya meskipun hubungan mereka berbeda saat ini.


“Dari cerita anda, sepertinya anda adalah murid saya meskipun saya tidak pernah ingat mengajari anda.” Ucap Illiam dengan datar.


Eclipse menoleh kearah Illiam dengan mengernyit.


“Illiam. Jika memang nyonya Leana adalah muridmu, seharusnya kau dapat mengetahui perbedaan teknik yang dimiliki oleh bayangan Volfelance dengan bayangan lainnya, bukan? Sampai kau dapat membuktikan hal itu, tidak perlu bersikap terlalu dingin.” Ujar Eclipse.


Illiam menatap kontraktornya untuk beberapa saat dan kemudian mengangguk.


“Saya mengerti.” Illiam kembali menatap Leana. “Silahkan anda tentukan waktunya, nyonya.”


Leana tersenyum dan menjawab. “Terima kasih, tuan Illiam. Saya akan mencocokan waktu dengan anda nanti.”


Setelah menghabiskan tehnya, Leana bangun dari tempatnya dan memasang tudung jubahnya.


“Sesuai persyaratan, saya akan segera mengirimkan berkas mengenai Duke Leon secepat mungkin. Kalau begitu saya permisi. Terima kasih atas waktu anda, tuan Eclipse.”


“Tidak masalah. Sebagai balasannya saya juga akan memberikan anda informasi mengenai Grandall nanti.” Ujar Eclipse dengan santai.


Leana berhenti dan menoleh kepada Eclipse. Informasi mengenai Grandall?


Eclipse hanya tersenyum dan melambai kepadanya. Meninggalkan Leana tanpa jawaban.


“Saya menunggu informasi yang akan anda berikan nanti, nyonya Leana.”