This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Secret Deal



Saat Marquis Verrit Giovanne membuka matanya, ia menyadari bahwa kini ia telah berada di tempat yang tidak pernah ia lihat. Ruangan tersebut seakan diselimuti dengan warna putih.


Meskipun terlihat indah, ia merasakan aura panas dari jendela. Saat ia melihat keluar, yang ditemukannya hanyalah hamparan tanah tandus tanpa tanaman sedikit pun.


Menoleh ke arah taman, ia hanya melihat beberapa tumbuhan yang sepertinya belum lama ini ditanam.


Sebenarnya, berada di mana ia saat ini?


Tok Tok


“Marquis, apakah anda sudah bangun?”


Suara seseorang terdengar dari balik pintu ruang tersebut. Marquis sedikit waspada namun ia pun menjawab.


“Iya, saya sudah bangun.”


“Kalau begitu saya permisi.”


Pintu pun terbuka dan dibaliknya berdiri dua pemuda yang menggunakan seragam seorang butler.


“Selamat pagi, Marquis Giovanne. Nama saya Adde, saya adalah butler di tempat ini dan di samping saya adalah asisten saya, Arcan.”


“Salam saya, Marquis.”


Marquis masih menatap keduanya dengan waspada.


“Di mana saya sekarang? Apakah kalian yang menculik saya?”


Marquis semakin tidak tenang melihat keduanya yang masih bersikap tenang.


“Marquis, tuan saya sudah menunggu anda untuk sarapan bersama. Jika ada yang ingin anda tanyakan, tuan saya akan menjelaskannya kepada anda.” Jelas Adde.


“Begitukah…”


“Saya akan membantu anda bersiap.”


Arcan berjalan mendekati Marquis dan membantunya membenahi diri.


Saat mereka telah sampai di ruang makan, Leana telah duduk di meja makan ditemani oleh Corrian, Celitta, dan Solas yang menggunakan seragam pelayan.


“Selamat pagi, Marquis Giovanne. Silahkan duduk terlebih dahulu untuk sarapan.”


Ketika Leana mempersilahkan Marquis, Solas menarik kursi di samping kanan Leana untuknya duduk.


Marquis yang duduk dalam diam menatap ragu Leana yang mulai mengangkat alat makannya.


“Mari kita sarapa terlebih dahulu, setelah itu saya akan dengan senang hati menjawab semua pertanyaan anda.” Ucap Leana.


Marquis pun mengangguk dan memulai sarapannya bersama Leana.


Ketika keduanya telah menyelesaikan sarapan mereka, Ilya membawa makanan ringan dan teh ke meja makan. Leana pun membuka mulutnya.


“Baiklah, Marquis. Perkenalkan, Saya adalah Leana Grandall dan saat ini anda berada di mansion saya yang berada di wilayah Alphiella di kekaisaran Solfilyan.”


“Grandall… apakah anda memiliki hubungan dengan Marquis Grandall yang merupakan salah satu dari Lima Pilar, Rantai Ungu?”


“Benar sekali, Marquis. Saya adalah istri dari Marquis Grandall. Jika anda punya pertanyaan, saya akan mencoba untuk menjawabnya.”


Leana memasang senyuman ramah dan Marquis pun mengangguk.


“Kalau begitu, kenapa saya bisa ada di sini? Setelah cahaya padam, saya tidak dapat mengingat apapun.


“Mengenai hal tersebut, sebenarnya setelah cahaya padam di istana, anda sempat diculik oleh orang seseorang.”


“Diculik?


Leana mengangguk.


“Di pesta saya menaruh beberapa penjaga dan saat lampu padam terdapat pergerakan aneh jadi para penjaga saya segera mengejar orang mencurigakan yang tengah membawa anda.”


“Bagaimana saya dapat mempercayai kata-kata anda?”


Marquis masih menatap Leana dengan waspada namun ia membalasnya dengan tenang.


“Benar. Saya tidak punya bukti untuk membuktikan kata-kata saya. Bahkan sebenarnya saya menaruh penjaga adalah untuk mengawasi anda.”


“Mengawasi saya?”


“Benar. Saya ingin menjaga anda yang merupakan orang penting bagi penyelamat saya.” Leana mengesap tehnya.


“Siapa yang anda maksudkan?”


“Saya tidak dapat mengatakannya, tetapi sepertinya anda telah menjadi seorang model baginya dan ia sangat menghormati anda. Sebagai bentuk balas budi, saya menjaga anda selama anda berada di Kekaisaran Solfilyan.” Ujar Leana.


“Saya yakin jika kabar bahwa anda menghilang sudah tersebar luas, ia pasti akan segera bergerak untuk menyelamatkan anda.” Tambahnya.


Dahulu terdapat masanya dimana beberapa negara dapat saling mengulurkan tangan untuk menghadapi krisis dunia namun hal tersebut sudah tidak terjadi lagi dalam beberapa tahun terakhir.


Marquis Giovanne pernah menyelamatkan Grand Duke Volfelance saat ia dalam misi penaklukan labirin. Semenjak saat itu, Marquis Giovanne menjadi panutan bagi sang Grand Duke muda, ia bahkan membentuk organisasi bayangannya sendiri.


Benar. Marquis Giovanne sebenarnya memiliki dua muka, sama seperti Grand Duke Volfelance sekarang. Dibelakang ia merupakan tempat pengumpulan informasi yang sangat rahasia dan Leana mengetahuinya karena Grand Duke menceritakan hal tersebut di kehidupan pertamanya.


Lawan bicara Leana saat ini merupakan salah satu asset penting Grand Duke yang ia curi, namun ia tidak berencana untuk mengambil seluruhnya seperti Alscan dan Adde.


“Anda bilang, wilayah ini bernama Alphiella…”


“Itu benar.”


“Ini tidak seperti Alphiella yang saya bayangkan.”


Leana melebarkan matanya.


“Oh! Apakah anda mengetahui mengenai wilayah ini?”


“Di kediaman saya terdapat arsip lama mengenai berbagai kerajaan dan negara di dunia ini.”


Leana menatap pantulan dirinya di dalam teh.


Kini ia mengetahui bagaimana Grand Duke Volfelance dapat mengetahui banyak informasi yang tidak hanya mengenai wilayah terlupakan di Kekaisaran Solfilyan tetapi juga berbagai wilayah di negara lain.


Awalnya ia hanya beranggapan bahwa hubungan keduanya hanyalah karena Grand Duke berutang budi kepada Marquis, tetapi sepertinya ada yang lebih dalam dibaliknya.


Tidak, mungkin saja sedari awal keduanya saling memanfaatkan satu sama lain. Atau malah sebuah kerja sama dengan satu tujuan.


“Marquis, kenapa anda mengatakan hal tersebut? Jika diketahui bahwa anda menyimpan sebuah arsip mengenai wilayah negara lain, bukankah itu akan menjadi masalah?” ujar Leana.


Leana kembali berpikir.


Jika memang kekuatan Marquis dalam memegang informasi sama kuatnya dengan Grand Duke, lalu mengapa ia memiliki arsip tetapi tidak mengetahui kondisi wilayah tersebut saat ini. Apakah Marquis mencoba untuk mempermainkannya?


Apakah itu adalah arsip lama? Ataukah Marquis memang tidak mengulik lebih dalam?


“Saya hanya menyadari sesuatu di sini. Apakah ada sesuatu yang salah?”


“Saya tidak tahu apa yang anda sadari selama ada di sini. Apakah anda bisa menjelaskannya kepada saya?”


“Saat saya bangun, saya sempat melihat keluar dan mendapati bahwa saya sedang berada di tengah-tengah wilayah tandus. Kondisi diluar mengingatkan saya dengan arsip tersebut.”


Leana mengesap tehnya dan Ilya yang berada di sampingnya mengisi kembali cangkir miliknya. Leana menatap teh Marquis yang sedari awal tidak disentuh olehnya, menjadi dingin.


Saat ini ia merasakan suatu keanehan. Ia merasa bahwa Marquis yang ditemui saat pertama kali memasuki ruang makan dan Marquis yang tengah berbicara dengannya saat ini memiliki aura yang berbeda.


Marquis seperti dirinya saat ini. Memasang topeng dan menyembunyikan sesuatu dibelakangnya.


Leana menaruh cangkirnya.


“Benar. Kondisi Alphiella telah berubah menjadi seperti ini dalam lima tahun terakhir karena bencana kekeringan. Saat ini hanya ada saya dan para pelayan yang tinggal di sini.”


“Apakah selama ini anda mengurus wilayah ini sendirian?”


Marquis sepertinya tengah memancing informasi darinya.


Apakah ia harus terbuka ataukah ia harus tertutup. Ia harus segera memutuskan.


“Tidak. Kepemilikan Alphiella diberikan kepada Grandall saat suami saya menjadi seorang Marquis dan saya mengambil alih untuk mengurus wilayah Alphiella belum lama ini.”


Mengulang kata-katanya, Leana menyadari sesuatu.


Forde adalah orang yang teliti, ia tidak mungkin melewatkan Alphiella yang menjadi salah satu wilayah kekuasaannya.


Kepemilikan Alphiella diberikan kepada Forde saat ia mendapatkan gelar Marquis di umurnya yang ke-17. Forde yang baru saja diberikan wilayah oleh Kaisar harusnya menyusuri setiap dokumen kepemilikan wilayahnya, namun entah kenapa Alphiella terlupakan.


Tidak hanya itu, keputusan sang Kaisar juga mulai terlihat mencurigakan.


Apakah menyerah pada suatu wilayah harus sejauh menghapusnya dari peta tapi tidak melepasnya dari wilayah kekuasaan?


Terlebih seharusnya lima tahun tidak cukup lama untuk semua orang di kekaisaran ini untuk melupakannya.


Sesuatu seakan menutupi kebenaran dari wilayah Alphiella. Kini Leana yakin bahwa sang Kaisar mengetahui kenyataan tersembunyi tersebut dan meskipun Forde tidak mengetahui kenyataan tersebut, Sang Kaisar menyuruhnya untuk menutup mata terhadap Alphiella dan menelantarkannya.


Tapi jika memang benar begitu, reaksi Forde yang positif saat menerima permintaannya untuk mengembalikan Alphiella sangatlah aneh.


Jika Forde memang diminta untuk menutup mata oleh Kaisar, kenapa ia menerima permintaannya?


Apakah Alphiella sebenarnya merupakan hal baik atau buruk? Ia belum menemukan jawabannya.


“Anda mengatakan seakan wilayah ini tidak terurus sebelum anda mulai mengambil alih kepengurusannya.” Ujar Marquis.


Leana tersadar dari pikirannya dan kembali menatap Marquis. Ia merasa sedikit tertekan dengan tatapan Marquis yang seakan meminta penjelasan.


Ia harus menghentikan Marquis dalam menggali lebih dalam mengenai Alphiella jika ia tidak mau ditusuk dari belakang.


Leana tersenyum kearah Marquis yang mulai bertatapan bingung kearahnya.


“Marquis, kata-kata saya mengenai bagaimana saya mencoba untuk menjaga saya adalah suatu hal yang murni. Saya mencoba untuk membalas penyelamat saya.”


Sama seperti bagaimana Grand Duke Volfelance dan Marquis Giovanne saling berhubungan.


Leana segera mengganti topik pembicaraan mereka.


“Namun saya tidak mengelak bahwasanya saya menginginkan sesuatu dari anda. Sejujurnya saya hanya ingin membuat hubungan baik dengan anda. Itu saja.” Leana mengesap tehnya lagi dan menghabiskannya.


“Selebihnya, saya hanya berharap anda dapat memiliki hubungan baik dengan penyelamat saya nanti.” Tambahnya.


“Saya bahkan tidak tahu penyelamat yang anda maksudkan tersebut.” Ujar Marquis.


“Tenang saja. Kalian pasti akan bertemu dan pada saat itu, anda akan mengetahui siapa dirinya yang saya bicarakan.” Ujar Leana.


Leana pun bangkit disusul dengan Marquis Giovanne.


“Marquis, saya berencana untuk mengirim anda kembali ke istana sesegera mungkin. Namun jika anda ingin menikmati mansion Alphiella lebih lama, saya akan mengirim anda besok pagi. Saya sendiri tidak yakin pemandangan di Alphiella dapat memuaskan anda.”


“Tidak masalah, Marchioness Grandall. Saya akan kembali ke istana siang ini. Jika kabar mengenai menghilangnya saya semakin meluas, hubungan diplomatik antara Kekaisaran Solfilyan dan Kerajaan Rozen akan mengalami keretakan.”


“Baiklah. Liam akan mengantarkan anda hingga mencapai dekat dengan istana.”


Liam mengangguk dan segera berjalan untuk mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan.


“Terima kasih, Marchioness Grandall. Saya berjanji tidak akan membuka mulut mengenai anda.”


Leana dapat merasakan senyumannya berdenyut. Sungguh orang yang sangat peka.


“Saya juga berterima kasih atas kebaikan anda. Saya harap anda selamat sampai tujuan.”


Ketika Marquis Giovanne sudah sepenuhnya menghilang, Leana menghapus senyumnya dan mulai kembali serius.


“Solas.”


“Iya, nyonya?”


“Cari semua orang yang pernah tinggal di Alphiella dan tanyakan sejauh mana mereka mengingat tentang Alphiella. Adde akan segera memberikan data kependudukan lama Alphiella kepadamu.”


“Saya mengerti, nyonya.”


Leana menatap keluar jendela.


Tidak hentinya hamparan tanah tandus menyambut matanya seakan ia tengah berada di dunia yang berbeda dengan saat ia berada di Grandall ataupun istana Solfilyan.


‘Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Alphiella?’


Apakah ia salah dalam memilih Alphiella?


Kini potensi akan kegagalan rencananya mulai merayapi pikirannya.