
“Dua bulan dari sekarang akan diadakan pesta untuk merayakan keberhasilan penaklukan labirin di Istana. Jika mau, maukah kamu ikut denganku, Leana?”
Mendengar kata-kata Forde yang tiba-tiba membuat Leana hampir saja menjatuhkan sendok makannya. Forde menatapnya dengan tenang namun sedikit sungkan.
Benar juga. Ia baru saja mengingat bahwa Iscan memberitahunya mengenai pesta tersebut sebelumnya.
Pesta perayaan keberhasilan seharusnya diadakan tidak lama setelah pasukan kekaisaran kembali dari perang namun kekaisaran Solfilyan memberikan waktu selama dua bulan bagi keluarga dari prajurit yang gugur untuk
berduka.
Acara penting yang akan dihadiri tidak hanya keluarga kekaisaran namun juga pilar besar dan bangsawan tinggi, sebuah acara yang tidak pernah Leana ikuti sebelumnya.
Sebuah pesta yang sama besarnya seperti pesta para artis dan selebriti serta orang kaya penting di dunia modern.
Mungkin saja mengkhawatirkan omongan publik mengenai dirinya sudah tidak akan masuk di telinganya begitu membayangkan bagaimana gugupnya ia saat berada di acara tersebut.
Forde yang masih memandang Leana tidak bergeming kembali berbicara.
“Jika kamu tidak mau maka tidak perlu dipaksakan.”
Leana tersadar dari pikirannya dan segera menjawab. “Tidak, aku akan ikut mendampingimu!”
“Apa kamu tidak apa-apa? Kamu tidak suka keramaian, bukan?”
Leana terkejut karena Forde mengetahui bahwa ia tidak menyukai keramaian.
Ia tidak pernah menyangka Forde akan mengetahui sesuatu tentangnya atau mungkin saja Leana dahulu terlalu acuh tak acuh dengan sekelilingnya hingga ia sendiri tidak menyadari bahwa Forde mungkin saja memperhatikannya.
“Aku memang tidak terlalu menyukai keramaian, tapi bukankah tidak ada salahnya sesekali mengubah rutinitas? Terlebih sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan bangsawan lainnya.”
Forde mengkhawatirkan istrinya namun ia tidak berkata apapun setelahnya.
“Kalau begitu aku akan segera memesan gaun yang bagus untukmu.”
“Soal itu biar aku saja—”
“Dari dulu aku selalu ingin melakukannya jadi biarkan aku yang memilih untukmu.”
“Eh?”
Leana terkejut melihat Forde yang terlihat seperti memelas.
“Ka, kalau begitu apakah aku serahkan saja padamu?” jawaban Leana membuat ekspresi Forde kembali membaik.
“Serahkan padaku. Aku akan membuatmu menjadi wanita paling cantik di kekaisaran ini.”
‘Fo, Forde ngegombal?!’ benak Leana berteriak seperti seorang fangirl namun penampilan luarnya tidaklah berubah. Ia mencoba untuk membalasnya dengan tenang.
“Terima kasih, Forde.”
Jika diingat lagi, selama pernikahannya, ia selalu menerima berbagai hadiah dari Forde terutama pada hari ulang tahunnya.
Semua hadiah tidak satu pun yang meleset dari apa yang ia sukai dan saat ia membutuhkan sesuatu maka hadiah tersebutlah yang menjadi barang yang dicarinya.
Menyadari bahwa Forde sangat memperdulikannya meskipun dalam diam, rasa bersalahnya kembali muncul.
Ia tahu bahwa ia sudah membulatkan tekadnya untuk tetap tinggal sebagai Grandall tetapi setiap kali mereka kembali Leana di kehidupan pertamanya, ia kembali meragukan dirinya.
Di kehidupan pertama mau pun yang saat ini hanya satu pertanyaan yang selalu mengekangnya untuk maju.
Apakah Leana pantas sebagai bagian dari Grandall?
Leana tahu bahwa itu hanyalah pertanyaan bodoh tapi benaknya tidak berhenti untuk memunculkan pertanyaan tersebut setiap kali rasa bersalahnya terhadap Grandall bangkit dari dalam dirinya.
Ia hanya ingin hidup tenang meskipun dipenuhi oleh rasa bersalah. Namun apakah itu bisa disebut dengan ketenangan?
Leana ingin berhenti memikirkan hal yang rumit dan beristirahat saja.
“Leana apakah kamu baik-baik saja? Tiba-tiba wajahmu menjadi pucat.”
Forde mengulurkan tangannya dan menyeka rambut di depan telinganya. Leana tidak menyadari bahwa kini tubuhnya terasa panas dingin. Ia dengan segera menutupi keresahannya.
“A-Aku tidak apa-apa. Sepertinya aku terlalu lelah bekerja jadi sebaiknya aku beristirahat lebih awal hari ini.”
“Baiklah, aku akan mengantarmu ke kamar.” Forde bangkit dari tempatnya.
“Leana, bagaimana kalau sesekali menerima kebaikan dari suamimu ini?”
Forde mengambil tangan Leana dan memasang wajah seperti memelas. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Leana seakan memohon padanya.
Leana yang terkejut dengan tindakan Forde kini tidak mampu untuk berpikir dengan benar.
“Baiklah! Aku mengerti! Aku menerima tawaranmu itu!” jawab Leana sembari menjauhkan sedikit badannya.
Forde pun tersenyum puas dan kemudian menuntunnya hingga ke kamar. Leana tidak pernah mengingat bahwa ia memiliki suami yang sangat perhatian dengannya.
***
“Nyonya, sepertinya Alscan telah menyelesaikan lima alat sihir yang anda tugaskan kepadanya.” Ucap Adde yang membaca isi surat yang dikirim oleh Alscan dengan menggunakan burung hantu.
“Benarkah itu?!”
Dengan semangat Leana mengambil surat dari Adde dan membaca laporan singkat di dalamnya.
Lima alat sihir yang telah di selesaikan oleh Alscan yaitu alat teleportasi, alat komunikasi, alat perubah penampilan, topeng sihir dan alat pelacak.
Dari kelimanya yang paling dinantikan oleh Leana adalah alat teleportasi. Dengan begini Leana akan dengan mudah untuk berpindah tempat terutama saat ia ingin pergi ke Alphiella.
“Aku ingin segera melihat dan mengujinya!”
“Alscan sudah mengujinya demi keamanan penggunaan jadi anda tidak perlu terburu-buru.”
“Tapi aku ingin segera memilikinya!” Lebih tepatnya ia ingin segera dengan bebas berpindah ke tempat yang diinginkannya. Adde hanya menghela napas.
“Saya akan segera mengantarkannya kepada anda saat saya mendapatkannya dari Alscan, jadi nyonya harap tenang di sini saja.”
“Justru aku ingin segera mendapatkan alat itu agar dapat bisa pergi ke Alphiella! Aku ingin segera menyelesaikan semua urusan yang hanya dapat kulakukan di sana!”
“Marquis tidak akan membiarkannya jadi menyerah saja nyonya.”
Leana merengut sementara Adde dengan tenang mengirim kembali burung hantu Alscan bersama dengan surat baru.
“Nyonya, marquis baru saja kembali dari misinya setelah sekian lama dan bukankah anda sedang memperbaiki hubungan kalian sekarang? Akan lebih baik jika anda menetap di sini dan memahami satu sama lain.” Saran Adde.
“…”
Memperbaiki hubungannya dengan Forde memang merupakan salah satu cara agar ia dapat menetap di Grandal namun Leana masih merengut tidak puas.
Ia ingin segera mendirikan kembali Alphiella tanpa adanya penundaan.
Adde mengernyit melihat majikannya terdiam.
“Dari awal saya tidak mengerti apa yang membuat anda terburu-buru seperti ini. Bukankah kita masih punya waktu yang cukup untuk setidaknya membagi waktu?”
“Aku tahu… aku tahu itu, tapi…”
Jauh di dalam diri Leana, ia selalu mengantisipasi kemungkinan rencananya akan hancur.
Saat ini rencana mereka berjalan dengan sangat lancar sehingga membuatnya curiga bahwa sesuatu yang buruk sebenarnya tengah tubuh di bawah mereka.
Tiba-tiba saja Leana mendapatkan ide agar dapat pergi Alphiella.
“Jika setidaknya aku keluar dengan alasan ingin berbelanja ke kota kemudian dari sana aku dapat menggunakan teknik bayangan agar cepat sampai ke Alphiella dan kembali sebelum sore hari, seharusnya bekerja ‘kan? Bukankah itu ide yang bagus?”
“Nyonya, anda mendengar kata-kata saya tadi?” Adde melotot kesal kepada Leana. “Anda harusnya bersyukur tuan Iscan sedang tidak ada di sini. Jika ia mendengar rencanamu itu bagaimana jadinya?”
Dengan perintah Leana, kini Iscan tengah mencari murid pemotong pemata yang ia cari sebelumya dan akan mempekerjakannya di Alphiella.
Leana harus mengakui bahwa kemampuannya sangatlah jarang ditemukan sehingga ia ingin memilikinya.
Jika keunikannya tersebut dapat menjadi keunikan baru bagi Alphiella, maka mereka bisa mendapatkan banyak keuntungan.
Leana menatap Adde dengan senyuman di wajahnya. Adde menatap balik dengan kesal.
“Jadi kau mau membantuku?”
“Tidak. Akan.” Adde menekankan.
Leana kembali merengut kecewa di mejanya dengan lemas. Tanpa memperdulikan majikannya, Adde mengamati kembali dokumen mengenai Alphiella.