This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
New Impression



Leana membuka matanya dan mendapati wajah Forde yang tengah tertidur dengan tenang di hadapannya.


Tangannya terasa gatal ingin menyentuh wajah tampan suaminya, tapi ia menahannya karena tidak ingin membangunkannya.


Forde dikenal merupakan orang yang memiliki tidur ringan. Ia dapat terbangun dengan suara sekecil apapun dan akan sulit untuk tidur kembali setelahnya.


Semenjak keduanya tidur bersama, Forde tidak menunjukan gejala tidur ringan, justru Forde tidur sangat nyenyak hingga terkadag seseorang harus membangunkannya atau bahkan Leana bisa bangun lebih dulu darinya.


Tapi ia tidak mengetahui apakah gejala tersebut kembali saat keduanya tidur terpisah.


Forde sedikit mengerang saat punggung jemarinya menyentuh helaian rambutnya, namun suaminya tidak kunjung bangun dan tetap melanjutkan tidurnya.


Mata Leana mendapati gaun yang dipakainya tadi malam masih bertengger di sofa dan seketika ia mereka kembali kejadian saat pesta.


Saat keduanya tengah dalam perjalanan menuju ruang istirahat, alunan lagu dansa terakhir diputarkan di aula.


Forde yang menyadari Leana yang terdiam menatap lantai dansa dengan sendu, mengajaknya untuk ikut dalam dansa tersebut.


Leana tidak memiliki hobi berdansa, namun ia selalu teringat bagaimana indahnya dunia yang terbentuk saat ia berdansa dengan Forde.


Dunia seperti cerita dongeng dengan akhir yang bahagia. Ia ingin terus merasakannya berkali-kali.


Oleh karena itulah, meskipun ia sedikit kelelahan, Leana menerima ajakan Forde untuk berdansa dan kembali mencuri perhatian para tamu kepada mereka.


Ia bahkan tidak sengaja mendengar komentar mereka seperti 'putri dan pangeran' dan 'peri' atau hal lain lagi yang cukup membuat perutnya geli hingga ia tidak bisa menahan senyumannya untuk bermekaran pada saat itu juga.


Forde yang melihat betapa senang istrinya juga ikut menaikan ujung bibirnya dan mendekatkan keduanya lebih dalam.


Membentuk keduanya menjadi seperti lukisan yang sangat indah.


Ketika musik berhenti pun, meskipun napasnya mulai tidak beraturan, senyuman penuh kepuasan masih terlukis di wajahnya.


Leana yang menatap ke bawah perlahan mengangkat kepalanya untuk menatap suaminya.


Tanpa peringatan, Forde mengangkat tubuhnya dan langsung membawanya pergi dari sana.


Butuh beberapa menit hingga Leana menyadari bahwa niatannya untuk menghindari gendongan Forde telah digagalkan.


Jauh di dalam hatinya, ia senang dengan Forde yang pengertian meskipun blak-blakan tanpa memikirkan sekitarnya.


Leana mengistirahatkan dirinya dengan teh dan sedikit kue.


Forde yang jarang bicara berusaha membuka topik diantara mereka yang berujung sangat sukses.


Topik mereka selalu mengenai pengenalan diri lebih dalam dan keduanya pun menambah lebih banyak pengetahuan tentang satu sama lain.


Leana pun berpikir untuk memberikan Forde sesuatu, terutama karena tidak lama lagi, ia akan pergi ke labirin pengujian.


Ia pun menyimpan rencana tersebut karena tidak ada ide yang datang kepadanya dan kemudian berkomunikasi telepati dengan Adde untuk menanyakan status mereka.


Dilihat dari luar, keduanya seperti terdiam.


Leana melirik kepada Forde yang dengan sabar menunggu dirinya selesai dengan urusannya.


Ia tersenyum simpul dan segera menyelesaikan laporan dari Adde.


Saat keduanya memutuskan untuk kembali ke kamar, Eclipse datang ke ruangan mereka. Kembali membuat Forde memasang tatapan kesalnya kepada sang Grand Duke.


Untungnya kedatangan Eclipse adalah untuk membagikan informasi yang di dapatnya dari pekerjaannya selama pesta sehingga Forde dapat menahan amarahnya dan duduk tenang di samping Leana.


Diskusi mereka tidak berjalan lama karena Eclipse harus menemui Kaisar sebelum pesta selesai.


Leana dan Forde juga memutuskan untuk kembali ke kamar.


Forde yang tidak ingin diganggu, mengusir para pelayan dan dayang istana yang melayani mereka dan keduanya mengurus tubuh mereka yang lelah masing-masing.


Setelah membersihkan diri, keduanya saling mengeringkan rambut satu sama lain dan Forde mencoba untuk memberikan Leana pijatan.


Pijatan yang diberikan Forde sangatlah memuaskan hingga Leana tertidur tanpa ia sadari.


Leana menatap kembali wajahnya yang sangat segar di cermin. Tangannya tidak lepas menyentuh pipinya yang lembut dan sesekali ia memainkan jemarinya.


Ia sangatlah segar bugar. Kelelahannya tempo hari hanya seperti mimpi yang tidak dapat ia ingat saat bangun.


Apakah ini adalah kekuatan dari Saintess?


"Leana..."


Tangan Forde melingkari tubuhnya, menempel di bawah dadanya, kepalanya dengan lemas mendekap di lehernya.


Leana merasakan geli karena merasakan napas di lehernya. Tangannya yang meraih kepala Forde dan dengan usil mengacaknya. Forde hanya terdiam seperti akan kembali tidur.


Leana menepuknya pelan untuk membangunkannya. Forde pun mengerang tidak suka.


Ia menghela napas. "Forde..."


Forde semakin mendekatkan wajahnya ke leher Lean. Ia menjawab dengan lemas dan berat. "Ini masih pagi."


"Ada yang harus ku temui pagi ini. Aku harus menemuinya saat ini juga agar dapat menjaga kerahasiaan informasi."


Forde mengangkat wajahnya dan memberikan tatapan tajam kepadanya dari pantulan cermin.


"Kenapa tidak meminta bayangan Alphiella saja untuk mewakilimu?"


Ada benarnya juga. Tapi Leana memiliki hal lain yang perlu dilakukannya diluar.


"Aku harus bertemu langsung dengannya."


Forde mengeratkan pelukannya.


"Aku ikut denganmu—"


Leana segera memotongnya. "Yep, tidak bisa."


"Ck."


Forde kembali membenamkan wajahnya.


"Forde, aku tidak sendirian. Bayangan Alphiella akan menjagaku dari kejauhan."


Leana tidak bisa membawa Iscan karena ia memerlukannya untuk membuat alibi.


"Aku... Aku akan meluangkan waktu lebih untukmu lain kali, ya, Forde?"


Forde tidak memberinya jawaban untuk beberapa saat. Ia mengencangkan lagi pelukannya hingga Leana merasa sedikit sesak sebelum melepaskannya sepenuhnya.


Saat Leana berpikir ia sudah bebas, Forde mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi. Ke kamar mandi.


"Forde?!"


Forde tidak menjawab dan menurunkan Leana setelah keduanya sampai di kamar mandi dengan pintu yang telah terkunci.


Leana yang tanpa sadar menjaga badannya dengan kedua tangannya dengan khawatir menatap Forde yang masih terdiam.


Ketika kedua mata mereka akhirnya bertemu, Leana sadar bahwa suaminya saat ini masih dilanda kekesalan karena Leana tidak meluangkan waktu untuknya.


"Forde, apa yang..."


"Aku akan membantumu mandi."


"Apa?" suara hatinya keluar.


"Mungkin sekalian saja kita mandi bersama, bagaimana?"


"Tunggu—?! Kenapa arahnya jadi ke situ?!"


Mereka tidak pernah mandi bersama sebelumnya. Bahkan berhubungan intim pun belum mereka lakukan.


Hal terjauh yang mereka lakukan hanyalah ciuman hangat hingga menempelkan badan mereka seakan terdapat lem diantara keduanya.


Leana mulai mengkhawatirkan kemungkinan untuk dirinya mimisan jika ia melihat tubuh suaminya secara langsung.


Ia merentangkan tangannya untuk menghentikan Forde yang perlahan maju.


"Forde—Aku bisa melakukannya sendirian, jadi tolong—"


"Leana."


Forde mengambil tangannya dan menariknya kedalam dekapannya.


Ia masih terus mempertahankan gaun tidurnya dengan satu tangannya.


Mukanya terasa panas menunggu kelanjutan kata-katanya.


"Leana, kita ini adalah suami dan istri. Jadi tidak ada masalah, bukan?"


'Memang betul, tapi bukan itu masalahnya sekarang!' Seru Leana dalam hati.


Ia menggigot bibir bawahnya untuk menahan emosinya yang kacau balau.


Forde terus memperhatikan istrinya yang sudah memerah hingga mencapai telinganya dengan mata yang berlinang air mata.


'Lucu.' pikirnya.


Ia pun melepas tangan Leana yang ters bergetar semenjak ia genggam danmenyalakan keran air di bathtub.


"Kalau begitu setidaknya biarkan aku membantumu." Ucapnya dan mengambil beberapa alat mandi di belakangnya.


Dari ujung matanya, ia dapat melihat anggukan kecil sebelum Leana menunduk untuk menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Sikapnya mungkin sedikit kekanak-kanakan, tapi ia merasa puas dengan kemenangan kecil yang di dapatnya untuk kesekian kalinya.


***


Leana pergi ke ibu kota Solfy yang tengah mengadakan festival besar setelah selesainya rapat besar.


Festival itu hanya diadakan selama satu hari namun kemeriahannya dapat membuat kenangan yang tidak terlupakan seperti saat mereka merayakan hari raya.


Leana menggunakan tudung untung menyembunyikan sosoknya dan menyelinap dengan hati-hati ke keramaian kota.


Saat ia berjalan keluar melewati gang kecil yang sepi dan sedikit gelap, ia melihat sosok seseorang dibawah pohon besar yang menggunakan jubah berwarna putih dengan sedikit bordir emas di pinggirnya.


Saat sosok itu menyadari kedatangannya, senyuman yang terbentuk di wajahnya untuk menyambutnya perlahan terhenti dan memudar.


"Nona Leana, anda baik-baik saja?"


Saintess Lumine meraih pipi Leana yang memerah dan ia merasakan kehangatan dari sana.


Ekspresinya berubah dari bingung menjadi khawatir.


Ia perlahan meraih tangan Lumine dan menjauhkannya dari pipinya. "Saya baik-baik saja, Nona Lumine."


Lidahnya terasa aneh saat menyebut langsung nama Saintess. Tapi hal ini diperlukan untuk menyembunyikan identitas mereka.


"Jika anda tidak enak badan, seharusnya anda tidak perlu memaksakan diri untuk bertemu di sini."


"Saya dalam kondisi sehat, nona Lumine. Percayalah."


Lumine menatap Leana untuk beberapa saat sebelum mengangguk dengan ekspresi lugu.


Leana mengibaskan tangannya utnuk menghilangkan ingatannya akan kejadian beberapa jam sebelumnya dan memfokuskan dirinya kepada misi di hadapannya.


Leana segera mengganti topik.


"Nona Lumine, bagaimana kalau kita mulai jalan saja?"


Ia tidak melewatkan ekspresi Lumine yang kembali cerah seketika.


"Uhm, ok. Tapi sebelum kita mulai, ayo berkeliling dulu!"


Lumine menarik tangan Leana dan menggiringnya ke keramaian festival.


Diam-diam matanya menangkap beberapa paladin yang menjaga Saintess dari kejauhan.


Ia pun melirik ke arah bayangan alphiella berada dan menyuruh mereka untuk berjaga dibelakang area pandang sang paladin.


Lumine mengajak Leana ke berbagai gerai makanan dan aksesoris yang dapat mereka temukan.


Senyuman yang biasa terpasang di wajahnya semakin lebar hingga Leana yakin ia bisa menjadi buta begitu kembali pulang.


Melihat sikap Saintess tersebut, sebuah kesan baru terbentuk dalam dirinya.


'Sepertinya Saintess Lumine sangat menyukai festival.'


Tanpa sadar Leana tersenyum lembut seperti melihat seorang anak yang benar-benar bahagia.


Menjelang tengah hari, keduanya memutuskan untuk beristirahat di salah satu kursi panjang yang mengelilingi air mancur di tengah area.


Ditengah perbincangannya, Leana mengungkapkan kesannya itu kepada Lumine dan senyuman di wajahnya sedikit memudar dengan matanya yang memandang jauh dalam ingatannya.


"Festival di kota suci tidak bisa semeriah di tempat lain karena kami mencoba untuk tidak menyinggung orang lain yang mungkin tidak dapat menikmatinya."


Lumine menghela napas berat dan kembali menyeruput minumannya. Dalam gumamannya, Leana dapat mendengar, "Bahkan saya tidak dapat menikmati festival sebagai diri saya sendiri."


Leana mengingat kembali kata-kata Telsia mengenai Saintess.


'Saintess juga adalah manusia. Manusia yang punya kesalahan dengan sedikit rahmatNya.'


Kata-katanya membuat Leana berpikir bahwa Telsia telah mengetahui betul siapa Saintess sebenarnya.


Mungkin saja ia sudah mengetahuinya melalui Croselia, namun yang membuatnya berpikir berbeda adalah karena Telsia menggunakan nada yang sangat penuh percaya diri.


Seakan ia menceritakan cerita seseorang yang berada jauh di masa lalu.


Berkat kesan yang diberikan Telsia tersebut, Saintess Lumine pun memutuskan untuk mempercayainya bahkan sebelum ia menggunakan kekuatan 'baik dan buruk'nya.


Menghabiskan makanan dan minumannya, Lumine bangkit dari kursi panjang yang mereka tempati dan mengulurkan tangannya kepada Leana.


Dengan tangannya yang mengambang di udara, ia menangkap sosok Lumine dengan cahaya menyilaukan di belakangnya.


Sosoknya terlihat seperti malaikat sesungguhnya yang baru saja turun dari surga.


Menangkap tangan Leana, Lumine pun berkata.


"Sekarang, mari kita mulai urusan yang sebelumnya kita tunda."