
Satu bulan berlalu semenjak Telsia pertama kali menghadap Kaisar dan memberitahukan rencananya dalam menghentikan Labirin.
Setelah diskusi mendalam bersama Kaisar dan para bangsawan tinggi, Kaisar akhirnya memutuskan untuk membagi informasi mengenai keberadaan penjaga labirin sihir.
Dengan izin Leana dan Telsia, Kaisar juga membuka informasi mengenai keberadaan seseorang yang mendapatkan "penglihatan" akan masa depan hanya kepada para pemimpin negara.
Ia juga memberikan undangan kepada negara aliansi dan negara lainnya untuk menghadiri rapat besar dalam membahas rencana tersebut begitu juga tentang labirin sihir.
Karenanya, kini Kaisar sedang disibukkan oleh banyak surat yang datang dari berbagai arah kepadanya.
Leana yang telah menyelesaikan tugasnya dipersilahkan untuk kembali ke Grandall hingga hari rapat besar diadakan.
Ketika kembali ke Grandall, ia berencana untuk pergi ke Alphiella dan melanjutkan laporan rencananya namun Forde yang mengetahui jalan pikirannya segera mengunci Leana dalam pelukannya agar ia dapat beristirahat lebih lama.
Leana yang tidak bisa bergerak tidak punya pilihan lain selain beristirahat hingga ia terlepas dari pengawasan Forde.
Tetapi setelah beberapa hari pun, pada akhirnya Forde tidak melepas pengawasannya dari Leana.
Dengan alat teleportasinya yang disita, Leana terpaksa memanggil Adde ke Grandall untuk membawa dokumen laporan Alphiella.
Kemudian satu minggu sebelum rapat besar dimulai, kekaisaran Solfilyan telah membukakan pintunya bagi delegasi yang datang lebih awal.
Pada saat itu juga ia memanggil Leana dan Forde ke istana dan menetap hingga hari rapat besar tiba.
"Nyonya Leana, saya datang menjemput anda."
Leana yang sedang di dandani oleh para dayang segera menoleh ke sumber suara. Matanya melebar saat ia mendapati sosok yang tidak ia temui beberapa minggu ini berada di pintu kamarnya.
Sosok gagahnya yang menggunakan seragam kesatria Grandall berdiri di depan pintu kamarnya.
"Tuan Iscan!"
Ia bangkit dan berjalan mendekati Iscan dengan wajah cerah.
Semenjak misi penaklukan labirin sihir, kesatria Grandall biasanya diberikan waktu istirahat bergilir dengan jadwal yang telah disepakati.
Dalam masa itu, posisi Iscan sebagai kesatria pribadinya masih digantikan oleh Hardie.
"Jika anda disini, Apa berarti anda menjadi kesatria pribadi saya lagi?"
Iscan tersenyum. Ia menaruh tangan kanannya di dada kirinya dan mengangguk.
"Benar sekali. Marquis meminta saya untuk menjaga anda selama ia tidak ada di samping anda. Sungguh suatu kehormatan bagi saya dapat melayani anda, nyonya Leana."
Melihat bagaimana Iscan memasang wajah penuh gemilang, sepertinya ia sangat senang dapat kembali ke pos awalnya.
"Baguslah kalau begitu. Saya juga merasa aman jika anda menjaga saya."
"Terima kasih, nyonya."
Ia merasa bersyukur karena Iscan dapat berada di sisinya sekarang, bertolak belakang dengan apa yang terjadi di kehidupan pertamanya.
Banyak orang yang menginginkan orang dengan loyalitas seperti Iscan, namun loyalitas itu sendiri memerlukan pembuktian agar dapat ditarik keluar.
Pembuktian bahwa orang yang mereka layani adalah orang yang pantas untuk diberikan loyalitas tersebut.
Leana lega karena ia memiliki kualifikasi untuk mendapatkan loyalitas tersebut.
“Saya dengar Saintess telah sampai ke istana kemarin.”
“Saintess…”
Saintess, sosok orang suci yang diberikan berkah istimewa dari sang pencipta.
Setiap kemunculannya, Saintess diberikan satu berkah yang berbeda, tergantung pada kebutuhan dunia.
Saintess pada masa ini muncul saat Leana berusia 20 tahun.
Kemunculannya adalah sesuatu yang langka terjadi dalam beberapa dekade, pengumuman akan kemunculannya yang menyebar ke seluruh penjuru dunia membuat geger setiap negara.
Bahkan terdapat konflik dari negara asal Saintess dengan kota suci dalam memperebutkan hak atas tempat tinggal Saintess.
Untuk menghindari monopoli kekuatan, Saintess memutuskan untuk tinggal di kota suci dan memilih untuk berada dalam posisi netral.
Karena Saintess adalah orang penting yang memiliki kedudukan hampir sama dengan raja, kecuali ia datang ke kota suci, hampir tidak banyak orang yang dapat melihat sosok Saintess itu sendiri.
Ia bahkan mendengar kabar bahwa Saintess memiliki sosok yang rupawan hingga dapat membuat semua orang kehilangan kata-katanya.
Tentu saja karena Leana tidak pernah bertemu dengannya di kehidupan pertamanya, ia tidak dapat membuktikan rumor tersebut.
"Nyonya, apakah anda berencana untuk keluar?"
Leana bertatapan bingung untuk sesaat kemudian mengingat maksud dari perkataan Iscan saat menoleh pada pakaiannya.
"Huh? Oh, iya. Seperti biasa, saya akan jalan-jalan ke sekitar taman."
Tidak seperti saat ia menetap di istana pertama kali, kali ini ia tidak memiliki urusan secara langsung dengan Kaisar dan kini ia yang tidak memiliki banyak kegiatan hanya dapat berjalan-jalan menyusuri taman istana yang indah.
Sejujurnya Leana sudah menduga bahwa ia akan bosan jika kegiatannya kali ini diulang untuk kesekian kalinya.
Ia lebih memilih untuk pergi ke Alphiella sekarang juga namun dengan alat teleportasinya yang disita, ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Bahkan meminta bantuan Iscan pun tidak aakn bisa karena setelah menoleransi sikap cerobohnya, Iscan lebih memilih untuk berada di sisi Forde dibandingkan membela Leana. Begitu juga dengan Adde.
Leana merasa ia akan menjadi frustasi karena terlalu bosan.
Keduanya pun menyusuri lorong panjang menuju taman istana.
Lorong yang awalnya ia kira sangat jauh kini menjadi dekat karena ia merasa terlalu familiar dengan tempat itu.
Sembari berjalan, ia sesekali menoleh keluar jendela untuk menikmati fenomena langit biru tanpa awan pada hari itu.
"Apakah anda Marchioness Leana Grandall?"
Leana perlahan membalikan tubuhnya dan mendapati seorang gadis cantik tersenyum manis ke arahnya.
Gadis itu memiliki rambut kekuningan seperti cahaya dengan matanya yang berwarna sama.
Kelopak matanya yang panjang dan pipinya yang kemerahan menambah paras cantiknya hingga tidak ada yang membantah jika mereka baru saja melihat seorang malaikat.
Dibelakangnya terdapat banyak orang yang berpakaian seperti pendeta tengah mengikuti langkahnya.
Tidak salah lagi, dia adalah…
"Salam saya kepada anda, Saintess Lumine."
Leana sedikit membungkukan tubuhnya dan memberinya salam.
Ia menggenggam gaunnya sedikit kasar karena rasa panik.
Leana tidak menduga pihak negara suci akan mengirimkan Saintess ke rapat besar sehingga ia tidak menyiapkan dirinya untuk menghadap sang Sainteas.
Apakah karena mereka memang datang karena ingin menjunjung partisipasi mereka? Ataukah karena kabar mengenai penjaga labirin.
Tergantung pada reaksi mereka nantinya, pihak negara suci bisa menjadi musuh baginya.
Sebagaimana penjaga labirin sihir bisa disalahartikan sebagai faksi dari iblis.
Leana berharap bahwa mereka hanya akan menganggap Telsia sama seperti pemilik menara sihir. Karena jika mereka menganggapnya lebih dari itu, maka terciptanya kontroversi tidak dapat mereka hindari.
Telsia bilang kepadanya bahwa apapun seputar labirin sihir akan diatasi olehnya, tapi Leana tidak percaya diri bahwa masalahnya nanti dengan kuil dapat diatasi dengan mudah.
Saintess berjalan mendekati Leana dan meraih kedua tangannya.
"Marchioness, saya sudah menantikan pertemuan dengan anda."
'Ha?'
Jika bukan karena tangannya yang sedang dipegang, ia mungkin sudah menutup matanya untuk menghadang senyum seribu kilauan itu.
Ia merasa bisa buta jika terlalu lama memandangnya.
Leana juga merasa kasihan dengan para pendeta dibelakangnya yang tengah terkejut.
"Anu, Saintess…? Apa yang anda maksud… Anda ingin bertemu dengan saya?"
Cahaya yang bertambah besar dari senyumannya membuat Leana sedikit khawatir.
"Saya harap anda bisa meluangkan waktu untuk saya sebentar."
Saintess menarik Leana. Langkah cerianya tidak menghiraukan panggilan dari pengikutnya dan juga Iscan yang berkicau tanpa henti selama perjalanan mereka.
Langkah Saintess pun terhenti pada gazebo di taman dan keduanya duduk saling berhadapan.
Leana melirik kepada Iscan yang berjaga tidak jauh darinya dengan wajah khawatir. Tidak jauh dari sana, ia mendapat dua bayangan Alphiella juga tengah mengawasinya dari kejauhan.
Para pelayan pun datang untuk menyiapkan teh dan juga makanan manis untuk mereka.
Saintess menoleh kepada para pemdeta yang mengikutinya.
"Tolong tinggalkan kami sebentar."
"Tapi Saintess–!"
"Ini hal yang harus saya sampaikan hanya kepada Marchioness seorang."
Para pendeta terhenti dengan nada berat Saintess kemudian melihat satu sama lain dengan ragu. Tidak lama mereka mengangguk dan pergi meninggalkan keduanya.
Untuk beberapa saat, keduanya terdiam tanpa membuka suara. Leana terus menatap pantulannya di permukaan teh.
Ia perlahan melirik Saintess yang masih menikmati tehnya. Dengan ragu, ia membuka mulutnya.
"Saintess, hal yang perlu anda sampaikan kepada saya, itu apa?"
Saintess menaruh cangkir teh dengan anggun dan tersenyum kepadanya. Matanya tertuju kepada Leana.
“Saya telah mendapatkan nubuat.”
“Nubuat?”
“Benar. Nubuat itu berbunyi, ‘Akan datang satu orang yang diberi kesempatan kedua oleh dunia dan ia akan menggerakkan kunci yang tidak bisa bergerak’. Kurang lebih seperti itu.”
Leana mengedipkan matanya. Ia masih kebingungan.
"Pada dasarnya Nubuat ini bersifat rahasia dan hanya pendeta tinggi dan Saintess saja yang dapat mengetahuinya. Tetapi saya hanya ingin memastikan saja."
Diselipan pikirannya, ia menyadari bahwa sikap ceria Saintess membuatnya teringat pada sikap Eclipse.
Apakah itu artinya pernyataan itu serius?
Ia harus meyakinkannya.
“Memastikan?”
“Orang yang dimaksud dalam nubuat itu adalah anda. bukan?”
Leana terdiam. Bunyi dalam nubuat itu memang mirip dengan kehidupannya, tetapi itu semua terjadi karena kekuatan dari labirin sihir dan bukan dari sang pencipta.
Terlebih Kaisar tidak pernah mengutarakan bahwa orang yang mendapatkan 'penglihatan' adalah dirinya.
Lalu bagaimana Saintess bisa mengetahui hal tersebut?
"Bagaimana anda bisa tahu itu adalah saya?"
“Sebagai Saintess saya memang memiliki kekuatan suci yang cukup besar sebagaimana Saintess pada umumnya tetapi titik letak kekuatan saya bukanlah di sana.”
Saintess meraih matanya. Menunjukan mata keemasannya yang makin berkilauan dibawah cahaya.
Ia bahkan bisa melihat bagaimana beberapa cahaya terpantulkan seperti pantulan kristal.
“Kekuatan saya adalah bagaimana saya bisa melihat jelas mana yang benar dan mana yang salah. Oleh karena itulah, saya ingin memastikan kebenaran mengenai 'penglihatan' itu.”
Leana pernah membaca buku fiksi mengenai seorang gadis yang memiliki kekuatan untuk menentukan keputusan yang benar dan yang salah.
Gadis tersebut melihat tanda diatas kepala mereka. Tanda hijau untuk benar dan tanda merah untuk salah.
Cerita ini adalah cerita yang Riana baca di dunia modern.
Eye of Judgement. Itulah nama kekuatan tersebut.
Tapi apakah kekuatan yang dimiliki Saintess sama seperti cerita tersebut?
"Apakah anda mendapatkan jawaban yang anda inginkan?"
Leana menatap serius Saintess dengan penasaran.
"Tentu saja. Saya mendapatkannya dan sangat puas dengan hasilnya."
Saintess kemudian bangkit dari tempatnya.
Leana ikut bangun namun segera dihentikan oleh Saintess.
"Marchiness, tidak, Nyonya Leana. Saya sudah menyelesaikan apa yang ingin saya sampaikan. Pertemuan kita saat ini mungkin sangat singkat tapi mari bertemu lagi saat rapat besar dimulai. Saya harap anda bisa memanggil saya dengan nama saya."
Saintess memberikan kedipan kecil kepadanya kemudian berjalan pergi meninggalkannya disusul oleh para pengikutnya.
Dalam kepergian mereka, Leana tidak melewatkan pandangan tidak suka yang diberikan pengikut Saintess kepadanya.
Ia sudah dapat menduganya dan selama mereka tidak mencoba untuk melukainya, Leana tidak punya alasan untuk menyentuh mereka.
Setelah sosok Saintess sepenuhnya menghilang, Iscan berjalan kepadanya dan mengulurkan tangannya.
"Nyonya Leana, mari kita lekas pergi. Marquis telah menunggu anda."
"Baiklah."
Leana meraih tangan Iscan dan berjalan menuju tempat Forde berada.
Ia melirik gazebo untuk terakhir kalinya dan mereka ulang percakapannya dengan Saintess.
Ia masih tidak mengerti maksud dari Saintess memberitahukannya Nubuat yang seharusnya dirahasiakan itu.
Leana masih belum bisa menentukan apakah Saintess akan berada di pihaknya atau bukan.
Leana hanya dapat berharap dipertemuan mereka nantinya, semua pertanyaannya tersebut dapat terjawab tuntas.