
“Ini sudah yang keempat kalinya, tuanku.”
Grand Duke Eclipse Volfelance menghela napas setelah mendengar laporan dari bayangannya.
“Misi yang seharusnya kalian lakukan telah diselesaikan bahkan sebelum kalian sampai disana? Memangnya ada kejadian seperti itu?”
Di Kekaisaran Solfilyan, tidak ada yang lebih cepat mendapatkan informasi dibandingkan dengan Grand Duke Volfelance.
Bahkan sang Kaisar sekalipun mempercayai sepenuhnya informasi yang diberikan olehnya.
Tetapi kali ini seseorang sudah terlebih dahulu menyelesaikan masalah yang seharusnya mereka tangani.
Ia tidak tahu apakah ia harus senang atau kesal dengan hal tersebut. Ia bahkan tidak tahu apakah seseorang itu adalah kawan atau musuh.
Semua kejadian ini mulai terjadi tidak lama setelah kembalinya perwakilan diplomatik dari kerajaan Rozen.
Saat mendengar kabar bahwa Marquis Giovanne menghilang di malan pesta perayaan, ia dengan segera menyuruh bayangan untuk mencarinya.
Meskipun telah bergerak tanpa henti, bayangannya belum menemukan Marquis hingga pada akhirnya Marquis kembali dengan sendirinya ke kastil. Tanpa terluka sedikit pun.
Dengan kembalinya Marquis Giovanne, hubungan antara Solfilyan dan Rozen tidaklah mengalami kerusakan.
Namun terdapat hal yang menjanggal untuknya. Saksi yang diberikan Marquis memgenai insiden penculikannya terlalu samar hingga membuatnya sempat curiga namun karena tidak ada kejadian yang menjadi besar, ia melepas pikiran tersebut.
Tetapi dari sana lah kejadian di mana misi yang di buat berdasarkan informasi yang didaptkan oleh bayangannya sendiri, diselesaikan oleh orang selain pihak dari Grand Duke Volfelance.
Tidak hanya sekali dua kali tetapi sampai empat kali.
Eclipse tidak mengkhawatirkan setiap musuh yang dibuatnya selama hidupnya, namun ketika ia memiliki seaeorang yang ia tidak tahu itu kawan atau lawan, ia sendiri akan merasakan kecemasan.
Ditengah kehening, Illiam membuka suara.
“Apa yang harus dilakukan, tuanku?”
Eclipse mmenyandarkan dirinya di sofa sembari memikirkan cara terbaik untuk menghadapi masalah ini. Apakah ia harus mengggunakan cara kasar atau halus.
Mengetahui identitas mereka adalah prioritas utamanya kali ini.
“Cari tahu siapa mereka. Lakukan cara halus terlebih dahulu baru gunakan cara kasar jika sudah diketahui mereka adalah musuh.”
“Saya mengerti tuanku.” Illiam pun menghilang dalam bayangan.
***
Disebuah lubung terpencing di tengah hutan, suara tawa seseorang terdengar.
“HAHAHAHA!”
“Eson, berisik! Kecilkan suaramu!” ujar Liam.
“Tidak, kau lihat wajahnya tadi?! Itu sangat lucu!” ucap Eson sambil menunjuk orang yang dimaksud.
“Haa… aku tidak mau kena karma karena perbuatanmu…” gerutu Xero dengan lemas sembari menaruh orang yang baru saja di kalahkan ke tanah.
Ia tidak perduli apakah orang tersebut jatuh dengan keras atau membentuk tanah dengan kepalanya terlebih dahulu.
Melihat tingkah laku Eson dan Liam, Dean pasrah dengan sikap rekannya itu. Ia tidak percaya akan bekerja dengan mereka yang terlihat ceroboh. Meski begitu mereka memang benar memiliki bakat sebagai bayangan.
Setelah misi penyelamat Marquis Giovanne. Misi bayangan Alphiella selanjutnya disebut ‘Operasi Memprovokasikan Organisasi Bayangan Grand Duke Volfelance’.
Sejujurnya saat mendengar rencana itu, Adde ingin sekali memukul kepala majikannya itu. Jika di tanya 'siapa bayangan bodoh yang mencoba agar keberadaannya diketahui' maka jawabannya sudah pasti 'tidak ada'.
Tentu saja dengan mengecualikan kontraktornya itu.
Adde hanya dapat menghela napas berat dan menerima rencana tersebut dengan lapang dada.
Operasi ini mengharuskan mereka untuk mencuri setiap pekerjaan yang akan dilakukan oleh bayangan Grand Duke dan meninggalkan jejak mereka. Membuat jejak seakan seseorang telah menangani urusan mereka.
Misi ini selalu diselesaikan setidaknya satu hari sebelum hari bayangan Grand Duke bergerak. Dengan berakhirnya misi yang kini sedang mereka lakukan maka sekarang mereka telah merebut lima misi dari bayangan Grand Duke.
Penyelundupan senjata dari Kerajaan Foldelier.
Jual beli illegal yang terjadi di Pelabuhan Solfilyan.
Penangkapan pembunuh berantai di kota Roan.
Pengungkapan kejahatan dari Baron Schoppet.
Pemberantasan bandit di jalan perdagangan Wezenry.
Dibandingkan dengan bayangn, bukankah mereka bisa disebut sebagai penegak keadilan?
Menurut Leana, alasan kenapa ia mengambil jalan ini adalah karena Grand Duke lebih menginginkan bukti dibanding janji palsu.
Untuk mengambil perhatian sang Grand Duke, Leana harus membuktikan dirinya. Meskipun itu artinya ia harus menjengkelkan calon rekan bisnis oentingnya itu.
Memperhatikan kembali area sekitarnya, Ilya pun datang dari belakang gudang dan berkumpul bersama mereka.
Ilya pun memberikan laporannya.
“Ketua, semua sudah diurus. Tidak ada satupun saksi mata yang tersisa.”
Dean mengangguk dan menatap Veil yang tengah berjaga.
“Bagaimana?”
“…”
Veil memberikan isyarat bahwa ada setidaknya lima orang yang tengah menuju kearah mereka. Jaraknya cukup jauh namun kecepatan mereka diatas tidaklah normal.
“Baiklah. Eson! Liam! Jaga sikap kalian! Pekerjaan kita selesai. Ayo segera—”
SRAP
Kata-kata Dean terhenti saat sebuah belati melesat dari balik pepohonan dan menancap di dekat kakinya.
Di balik topeng putihnya, ia tersenyum kecil membayangkan kedatangan calon rekan mereka.
‘Lebih cepat daripada yang kubayangkan…’
Bayangan Alphiella segera membenahi diri mereka dan pergi dari tempat tersebut.
Tidak lama kemudian bayangan Grand Duke mendatangi tempat itu dan memperhatikan area sekitar.
Seperti biasa, tugas mereka di tenoat tersebut telah diselesaikan. Terlebih oleh bayangan yang bukan bagian dari mereka.
Illiam mendekati anggotanya yang mengambil belati yang dilemparnya tadi.
“Bagaimana? Apakah mereka musuh?”
“Mereka terlihat tidak berbahaya. Yang mereka lakukan hanyalah melakukan apa yang seharusnya menjadi tugas kita.”
“Jadi mereka kemungkinan adalah kawan?”
“Saya tidak bisa meyakinkannya. Untuk seorang bayangan, meninggalkan jejak seperti ini merupakan tindakan seorang amatir. Tapi…”
Sang bayangan terhenti dan memikirkan sesuatu.
“Ada apa?”
“Saya perlu kesempatan untuk memastikan.” Ujarnya. Illiam menaikan alisnya.
“Ada sesuatu yang kau sadari?”
Sang bayangan mengangguk.
“Meskipun mereka meninggalkan jejak, cara kerja mereka sangat bersih seperti seorang ahli.”
“Maksudmu mereka melakukan semua ini dengan sengaja?”
“Itu adalah yang saya curigai.”
Organisasi bayangan tidak akan pernah menunjukan dirinya kepada orang lain tetapi bayangan ini mencoba agar keberadaanya untuk diketahui.
Apakah mereka ingin bertindak seperti seorang pahlawan ataukah mereka memiliki tujuan lain?
Organisasi bayangan masing-masing memiliki setidaknya satu keunikan meskipun dengan penampilan yang tidak menarik perhatian. Tetapi organisasi bayangan dengan menggunakan topeng putih polos itu, cukup menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.
Apa tujuan mereka sebenarnya? Semua masih berwarna abu-abu.
Sepertinya ia harus mengamati lebih jauh.
“Baiklah.Untuk saat ini kita akan terus mengamati mereka sampai mendapatkan bukti lebih lanjut." ujar Illiam.
Siapapun lawan mereka, entah itu kawan atau musuh, mereka harus mengungkap identitas mereka
Ia tidak akan membiarkan seseorang yang bermain-main dengan bayangan Grand Duke Volfelance lepas dari pengetahuan mereka.
***
“Kau bertemu dengan mereka?”
Leana terkejut dengan laporan yang diberikan Adde kepadanya. Adde mengangguk dan menaruh teh di meja kerjanya kemudian melanjutkan.
“Tidak secara langsung. Sorang anggota mereka melempar belati ke arah saya dan sepertinya mereka menyadari keberadaan kami.” Ujar Adde.
“Begitu ya…”
Leana menulis beberapa kata dan kemudian menyelesaikan sisa dari dokumen yang dikerjakannya.
Mengosongkan meja kerjanya, ia menarik cangkir teh ke dekatnya.
“Karena mereka sudah menyadari kita, sepertinya sudah saatnya kita bergerak maju.”
Leana mengesap teh dengan pelan. Menatap pantulannya dalam teh, ia melihat dirinya di kehidupan pertamanya saat menjadi bayangan.
Berbeda dengan kehidupan pertamanya, kali ini ia akan berhadapan dengan wajahnya yang lebih muda dibandingkan dengan dahulu.
Akhirnya, ia akan bertemu lagi dengan gurunya Illiam dan Grand Duke Volfelance yang menjadi penyelamat bagi dirinya.
Ia saat ini bukanlah Rein melainkan Leana Grandall. Ia bukanlah anggota bayangan dari Grand Duke Volfelance melainkan kontraktor serta pemimpin dari organisasi bayangan Alphiella.
Topeng apa yang harus ia gunakan untuk menghadap mereka. Leana sudah memutuskannya sejak awal.
Ia pun memasang senyum percaya diri di wajahnya.
“Selanjutnya kita bertemu mereka adalah saat di mana kita akan menghadapi Grand Duke.”
***
Pada malam keempat setelah laporan Adde, bayangan Alphiella seperti biasa mencuri kembali misi dari bayangan Grand Duke.
Setelah menyelesaikan misi tersebut, kali ini mereka tidak langsung pergi namun menunggu kedatangan dari bayangan Grand Duke ke tempat mereka.
Saat mereka tiba, bayangan Alphiella menuntun mereka ke dalam hutan untuk melakukan percakapan.
“Aku tidak menyangka akan berhadapan dengan kalian seperti ini.” Ucap Illiam.
Kali ini Illiam dapat dengan jelas melihat sosok dari organisasi bayangan yang beberapa kali mencuri misi mereka.
Sama seperti mereka, bayangan tersebut menggunakan pakaian serba hitam yang menutupi hingga kepala mereka namun wajah mereka ditutup oleh sebuah topeng putih polos tanpa adanya lubang atau ukiran.
Illiam tidak tahu bagaimana bisa mereka melihat sekitar dengan topeng yang menutupi seluruh wajah mereka namun sebagai seorang bayangan ia menduga bahwa mereka menggunakan salah satu teknik untuk mendeteksi area di sekitar mereka.
“Sepertinya ada seorang anggota kalian yang baru pertama kali kami lihat.”
Illiam menatap satu anggota mereka yang menggunakan sebuah gaun berwarna hijau dibalik jubah hitanya. Ia juga menggunakan topeng putih polos seperti yang lain dan berdiri di depan mereka.
Apakah dia adalah pemimpin mereka? Atau malah kontraktor?
Tetapi dibandingkan dengan kontraktor, Illiam merasakan aura familiar seorang bayangan dari dirinya.
Saat ia mengetuk dua kali topengnya, topeng putih tersebut menghilang entah kemana dan menunjukan wajah seorang wanita cantik dengan mata ungu widuri yang menatap mereka dengan tegas dan tenang.
Wanita tersebut menarik sedikit gaunnya dan menaruh tangan kanannya di dada kirinya. Memberi salam kepada mereka.
“Selamat malam, senang bertemu dengan anda sekalian wahai bayangan Grand Duke Volfelance.”
Saat mendengar kata-katanya, seketika seluruh anggota bayangan Volfelance tersentak seakan menyadari bahaya. Namun dihadapan mereka saat ini bukanlah musuh melainkan sosok yang tidak mereka ketahui identitasnya.
“Kedatangan saya menghadap kalian adalah untuk berbicara dengan Grand Duke Eclipse Volfelance.”
Illiam menaikan kewaspadaannya kepada wanita tersebut. Matanya menjadi tajam seakan dapat membelah dua lawan bicaranya tanpa siapapun ketahui.
“Bagaimana bisa kami membiarkan orang yang tidak kami ketahui identitasnya untuk menemui beliau.” ujar Illiam dengan dingin.
Anggota bayangan Grand Duke bersiap dengan memegang senjata mereka yang masih tersimpan di tempatnya tetapi bayang Alphiella masih terlihat tenang dan tidak bergeming.
Ketenangan mereka membuat Illiam sedikit risih.
“Dasarnya, seorang bayangan harus selalu menjaga kerahasiaan identitas mereka apapun yang terjadi. Tetapi mendapatkan kepercayaan anda sekalian juga merupakan salah satu hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan saya.”
Wanita tersebut menatap Illiam langsung dimatanya. Tidak ada keraguan maupun ketakutan, hanya tekad kuat yang terpancar dari kristal ungu itu.
“Perkenalkan, saya adalah Leana Grandall. Saya harap Grand Duke Volfelance dapat berbaik hati untuk berbagi waktu dengan saya.” Ucap Leana.
Berbanding terbalik dengan senyum ramah yang di pasang oleh Leana, yang dirasakan Illiam adalah kejanggalan yang tidak dapat ia ketahui dasarnya.