This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
Explosion Incident



Forde yang sampai di lokasi kejadian segera mendekati kesatria yang sedang melakukan inspeksi di tempat kejadian. Ia dapat melihat bagaimana Para kesatria dan para medis sedang sibuk ke sana kemari mengurus situasi.


Tanpa mengulur waktu, ia pun membuka suara.


“Apa yang terjadi di sini?”


“Marquis!”


Kesatria yang berada di sana mengalihkan pandangan mereka kepada Forde. Ketua penyelidikan segera mendekati Forde dan menjelaskan situasi kejadian.


“Berdasarkan saksi mata yang berada di area kejadian, sepertinya gerobak berisi kembang api kembang api tiba-tiba saja meledak saat ingin dinyalakan. Tidak ada korban jiwa namun  mereka yang berada di dekat gerobak tersebut mengalami luka bakar yang cukup serius.” Jelasnya.


“Apa yang membuat ledakan ini?”


“Kami mencurigai bahwa bahan lain dicampurkan dengan kembang api. Kami menemukan dua bahan berbeda berada di area ledakan.”


“bahan lain?”


Ketua penyelidik memberikan bungkus sampel yang mereka temukan kepada Forde.


Forde menajamkan matanya untuk memperhatikan komponen tersebut dengan seksama. Ia merasa sedikit familiar dengan serpihan kristal yang bercampur dalam sampel tersebut.


‘Serpihan berwarna merah ini… jangan-jangan krital api? Lalu bubuk apa yang bercampur bersamanya ini?’


Berbeda dengan komponen kembang api yang memiliki warna keabuan, bubuk lain yang ditemukan berwarna mendekati perak.


Forde menoleh kepada ketua penyelidikan dan mengembalikan sampel tersebut.


“Apakah pelakunya sudah di tangkap?”


Ketua penyelidik itu memasang wajah suram dan sedikit menurunkan kepalanya.


“Maafkan saya, tapi kami masih belum menemukan pelakunya.”


“Baiklah, lanjutkan penyelidikan kalian. Kita masih belum menemukan pelakunya jadi jangan sampai ada yang terlewat. Berikan laporan penyelidikan kepadaku secepatnya.”


“Saya mengerti, Marquis.”


Forde segera bergerak kembali menuju tempat istrinya berada namun matanya menangkap sosok Iscan dan Hardie yang sedang berlari ke arah yang berlawanan.


Merasakan sesuatu, Forde mengubah alur tujuannya dan pergi mengikuti keduanya.


***


Leana bergerak cepat menuju gang arah datangnya cahaya yang berkedip. Ditengah perjalanan, ia mendengar seseorang memanggilnya. Ia menoleh dan mendapati Iscan serta Hardie berlari kearahnya.


“Nyonya Leana!” seru Iscan.


“Tuan Iscan! Tuan Hardie!”


Leana sedikit berjalan mendekati keduanya. Dengan napasnya yang masih belum teratur, Hardie membuka suara duluan.


“Nyonya, anda harus kembali ke mansion secepatnya. Di sini berbahaya!” ujar Hardie.


“Kami akan segera mengawal anda kembali.” Tambah Iscan.


Leana segera menghentikan keduanya.


“Tunggu! Saya masih ada urusan di sini jadi saya tidak bisa kembali ke mansion!” ujarnya.


“Tapi, nyonya! Anda tidak bisa terus berada di sini!”


Sementara Hardie mencoba meyakinkan Leana untuk pergi dari sana. Iscan yang memperhatikan sikap majikannya pun menyadari maksud dari kata-katanya.


“Saya mengerti nyonya, saya akan mengawal anda.” Jawab Iscan dengan tenang.


Hardie terkejut dengan jawaban rekannya yang tidak biasa.


“Iscan! Apa yang kau katakan! Kita harus segera membawa nyonya kembali ke mansion Grandall! Bukankah kau pengawal pribadi nyonya?! Tugasmu sekarang adalah membawa nyonya ke tempat yang aman!” seru Hardie.


“Sekarang aku sedang menjalankan tugas itu.” Jawab Iscan.


“Aku tidak mengerti maksudmu itu!” seru Hardie dengan kesal.


Leana yang ingin bergegas menemui bayangannya segera menghentikan Hardie yang keras kepala. Ia tidak bisa membiarkan Hardie memperpanjang perdebatannya dengan Iscan.


“Tuan Hardie, berhentilah! Saya tidak punya banyak waktu jadi kita harus segera bergerak!” ujar Leana.


Hardie terdiam kehilangan kata-kata dan menatap Iscan seakan mencari jawaban.


“Tolong percayalah dengan nyonya dan ikuti saja dahulu.” Ujar Iscan dengan tenang.


Meskipun masih dalam keadaan bimbang, Hardie menyerah dan memutuskan untuk mengikuti keduanya.


“Saya mengerti.” Jawabnya dengan sedikit lesu.


Leana menatap Iscan dan dibalas dengan anggukan. Ketiganya pergi memasuki gang tempat di mana ia menemukan kedipan cahaya dan seperti dugaannya, di sana Dean dan Veil sudah menunggunya.


Melihat dua orang misterius yang menggunakan pakaian serba hitam dan topeng putih tengah menghalangi jalan mereka, Iscan dan Hardie segera maju ke depan Leana dan mengeluarkan pedang mereka. Ketiganya berhenti di hadapan kedua orang misterius tersebut.


“Siapa kalian?!” Seru Iscan.


Kedua pria misterius tersebut tidak bergeming. Iscan dan Hardie pun semakin waspada terhadap mereka.


Leana segera berjalan maju untuk menghadang Iscan dan Hardie.


“Tenang, tuan Iscan. Mereka bukanlah musuh. Mereka adalah rekan kita.” Jelas Leana.


Leana memberi isyarat kepada keduanya untuk menurunkan senjata mereka. mereka pun menuruti permintaan majikannya dan memasukan kembali senjatanya.


Ia pun mengangguk dan berjalan kearah bayangannya berada, diikuti oleh Iscan dan Hardie.


“Dean, Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Leana.


“Seseorang menyimpan sebuah bahan peledak dan menjadikannya salah satu dari kembang api sehingga ketika kembang api itu dinyalakan, ledakan besarlah yang terjadi.” Jawabnya.


“Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini namun terdapat banyak orang yang mendapatkan luka bakar serius.” Tambah Veil.


"Kami juga telah menemukan lokasi pelaku dari insiden ini."


Leana berpikir sejenak dan kemudian menoleh ke arah Oscan serta Hardie.


Veil mengangkat tangannya untuk memberitahu keberadaannya.


“Jika kami berdua pergi, siapa yang akan menjaga nyonya?!” tanya Hardie.


“Tenang saja. Seperti yang saya katakan sebelumnya, mereka bukanlah musuh dan mereka juga lah yang akan menjaga saya selama kalian pergi.” Jelas Leana.


“Dan jika ada seseorang yang mencari saya, bilang kepada mereka bahwa kalian belum menemukan saya, mengerti?”


“Saya mengerti, kami akan segera kembali.” Jawab Iscan.


“Tunggu, Iscan!? Kau serius?!” seru Hardie.


“Kita tidak punya banyak waktu!” Iscan menatap kepada Veil dan ia pun bergerak duluan dan kemudian diikuti oleh keduanya.


Tidak lama setelah kepergian ketiganya, Leana dan Dean kedatangan tamu lainnya yaitu bayangan dari Grand Duke Volfelance.


Leana mengenali sosok yang berdiri paling dekat dengan keduanya.


“Tuan Scherchet.”


“Malam, nyonya Leana. Kami datang menyampaikan informasi untuk anda.”


‘Hanya menyampaikan informasi?’


Tidak mungkin. Jika memang Eclipse hanya menyampaikan informasi kepadanya maka ia tidak akan mengirimkan lima bayangan kepadanya. 


Apakah itu artinya ada sesuatu yang membuat Eclipse harus turun tangan membantu dirinya?


“Informasi apa?”


“Saya tahu ini terlambat tapi sebelumnya tim kami telah menangkap seseorang yang mencurigakan tengah mencampurkan pecahan kristal api dengan sebuah bubuk misterius yang dapat meledak di kota Roegin dan ternyata rencana peledakan ini terjadi di beberapa kota lainnya.”


Leana menjadi pucat pasi. Mimpi buruknya menjadi kenyataan.


Ia tahu ada sesuatu yang salah dan ia selalu tidak bisa tenang saat rencananya terlalu berjalan lancar.


Ia pun teringat akan Duke Leon.


Memikirkan sifat Duke Leon, ia pasti segera menjalankan rencana tahap selanjutnya setelah mengetahui bahwa organisasi yang susah payah dibuatnya untuk membentuk panggung menuju kejayaannya telah dihancurkan.


Ia mengetahuinya, tetapi ia selalu ragu dan bertanya-tanya apakah ia hanya paranoid dengan firasatnya itu. Kini apa yang ditakutkannya malah menjadi nyata.


“Apakah ada korban jiwa?”


“Ada sedikit korban jiwa di beberapa kota namun terdapat banyak korban mengalami luka bakar yang sangat parah.”


“Kami mencurigai akan adanya ledakan kedua jadi Grand Duke mengirim kami untuk membantu anda dalam menangkap pelaku insiden ini.”


Ledakan kedua tidak pernah terjadi dahulu namun saat ini hal tersebut bisa menjadi kemungkinan yang akan terjadi. Ia juga tidak mau memakan waktu hanya untuk mempertanyakan dirinya sendiri lagi.


Seorang anggota bayangan Volfelance tiba-tiba datang dan berbisik kepada Scherchet. Ia pun mengangguk dan kembali menghadap Leana dengan tatapan serius..


“Nyonya, kota yang menjadi tempat terjadinya ledakan kebanyakan berada di wilayah kekuasaan Duke Gwertivare.”


Leana melebarkan matanya.


“Apa?”


“Dari laporan terbaru kami, korban yang mengalami luka bakar juga mengalami gejala yang aneh. Sebuah bercak hitam muncul di sekitar luka mereka dan memperburuk kondisi mereka.”


Leana segera menutup mulut dengan tangannya


Selain ledakan yang dilancarkan di kota, ia juga menggunakan sebuah virus yang diciptakan oleh salah satu peneliti gila yang dipekerjakan oleh Duke Leon.


Virus tersebut tidak hanya akan melemahkan imun tubuh tetapi juga akan memperburuk segala penyakit yang ada ditubuh seseorang.


Virus tersebut menyebar dengan sentuhan langsung dari bercak hitam yang muncul di kulit. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan menemukan penawar yang dibuat oleh peneliti gila tersebut.


Dahulu Leana menyarankan Duke Leon untuk tidak menggunakan virus tersebut karena terbatasnya obat penawar. Selain itu jika virus mulai menyebar diluar jangkauan prediksi mereka, Duke Leon juga akan mengalami kerugian.


Oleh karena itulah insiden yang melibatkan virus ini tidak pernah ada.


Ia tidak menyangka bahwa Duke Leon akan melakukan hal keji sampai sejauh ini. Duke Leon  mengorbankan rakyat yang berada dibawah perlindungannya untuk melancarkan rencana penuh keegoisannya itu.


Merasakan kepalanya yang semakin kacau, Leana seketika kehilangan kekuatan di kakinya namun Dean segera menopang tubuhnya.


“Anda baik-baik saja?”


“Aku tidak apa-apa.” Jawab Leana. Kali ini ia menutup matanya seakan ingin kabur dari kenyataan.


“Aku tidak menyangka akan menjadi seburuk ini.” Leana menghela napas berat.


Dengan bantuan Dean, Leana mencoba untuk membenarkan posisinya. Ia menatap bayangan Volfelance dengan serius.


“Sampaikan kepada Grand Duke bahwa saya menginginkan waktu untuk bicara dengannya. Sampaikan juga pesan agar tidak menyentuh korban yang memiliki bercak hitam sampai kita menemukan solusinya. Apapun yang terjadi!” ujar Leana.


“Saya mengerti nyonya.” jawab Scherchet.


Leana mencoba untuk berdiri sendiri namun sepertinya kakinya masih terlalu lemas.


“Masalah di Adreandel akan diurus oleh Alphiella. Aku juga harus segera kembali ke Grandall…” ucap Leana dengan lemas.


“Kalau begitu saya akan mengantar anda ke—”


Seketika lima bayangan Volfelance menghilang dan Dean bergerak cepat menghindari sesuatu yang melesat cepat dari belakang Leana.


Leana melihat sebuah pedang menancap dibelakang Dean. Saat ia menatap Dean yang membelalak ke arah belakangnya, ia pun menoleh ke belakangnya.


Leana terkejut.


Di sana berdiri suaminya yang mengulurkan tangannya setelah melemparkan senjatanya. Mata gioknya menyala tajam dan dari tubuhnya terpancarkan aura membunuh.


Dibelakangnya, Iscan dengan panik mencoba untuk menghentikan Forde namun ia tidak berhasil karena suaminya terlalu berfokus kepada sosok istrinya dengan seseorang misterius berpakaian hitam yang tengah memegangnya.


Dibalik geramannya, suara beratnya seakan membelenggu tubuh mereka. Baik Leana maupun Dean hanya dapat membeku di tempat. Tidak ada yang bisa bergerak.


“Apa yang mau kau lakukan dengan istriku?”


Disaat itulah Leana tahu bahwa ia sedang dalam situasi berbahaya dalam arti yang berbeda.