This Time, To The Believed Path

This Time, To The Believed Path
The Imperial Family



“Saya Windelyn Solfilyan. Senang bertemu dengan anda, Marchioness. ”


Windelyn duluan mendatangi Marchioness dan menyapanya balik. Saat ia terdiam menunggu kakaknya untuk maju, ia menjadi heran karena hanya keheningan yang mengikutinya.


Ia menoleh kepada kakaknya yang masih bengong menatap Leana dengan sipu samar di pipinya.


Merasa jengkel dengan sikap aneh kakaknya, ia menyikutnya hingga Noel tersadar karena rasa sakit.


“Ugh! Windel! Apa-apaan–?!”


“Tidak sopan terus menatap begitu. Cepat sapa balik, Marchioness!” ucapnya dengan pelan.


Noel segera membenahi dirinya dan menyapa balik Leana.


"Maafkan ketidaksopanan saya, Marchioness. Saya Noel Solfilyan. Saya harap anda dapat menikmati waktu anda selama ada di sini."


"Tidak apa-apa, Yang Mulia putra mahkota. Saya juga senang bertemu dengan anda berdua."


Melihat senyuman Leana, keduanya kembali tertegun dan membeku di tempat.


Windelyn segera mencubit tangan Noel begitu juga sebaliknya.


Permaisuri hanya tertawa pelan melihat tungkah laku kedua anaknya yang lucu itu.


"Jangan berdiri di sana dan bergabunglah dengan kami, kalian berdua."


Mata keduanya seketika berbinar kemudian bergabung dengan mereka.


Awalnya Permaisuri lah yang berbincang mencoba mengenal Leana lebih dalam namun semakin lama Windelyn pun ikut masuk hingga menggantikan Permaisuri menjadi lawan bicaranya.


Windelyn semakin penasaran dengan Leana dan terus mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Dengan perbincangan antara keduanya yang tidak ada akhirnya, Noel pun memotong pembicaraan mereka.


“Marchioness, jika boleh tahu, ada urusan apa sampai anda menetap di istana?”


“Ah, benar juga. Saya ingin mengetahuinya!”


Leana mengedipkan matanya. Permaisuri menjawab pertanyaan anaknya tersebut.


"Marchioness adalah orang yang telah membuat kontrak dengan penjaga labirin sihir."


Keduanya terkejut.


"Labirin sihir mempunyai penjaga? Saya baru dengar soal itu." ujar Noel.


"Lalu dengan kontrak, apakah itu artinya Marchioness bekerja sama dengan penjaga labirin sihir?!" ucap Windelyn yang semakin tertegun.


Untuk menghindari kesalahpahaman, Leana segera menambahkan.


"Lebih tepatnya saya bertidak sebagai perwakilan dari sang penjaga labirin sihir."


"Sang penjaga labirin meminjakan sebagian kekuatannya kepada Marchioness untuk membantu kita dalam mengatasi labirin sihir." tambah Permaisuri.


Leana dengan cepat meneguk sisa teh yang berada di cangkirnya untuk menyembunyikan perasaan kagetnya.


Bagaimana Permaisuri bisa tahu sampai sejauh itu?


Pasti Kaisar telah memberitahunya. (×2)


Saat pelayan menuangkan kembali teh di cangkirnya, Leana dengan tenang kembali menikmati teh tersebut.


Matanya kemudian menangkap sosok Windelyn yang terlihat terus menatap kearahnya dengan penuh rasa penasaran.


"Tuan putri, apakah ada sesuatu yang ingin anda sampaikan kepada saya?"


Windelyn terkejut dan ia semakin terlihat tidak nyaman.


Dengan malu-malu, Windelyn membuka mulutnya.


"Marchioness, jika anda tidak keberatan, saya akan menemani anda selama anda berada di sini."


Leana segera menggunakan kedua tangannya untum menopang cangkir di hadapannya karena ia berpikir bahwa cangkir tersebut akan lepas dari tangannya.


Leana kembali menenangkan dirinya.


"Terima kasih atas tawaran tuan putri. Tetapi saya tidak dapat merepotkan anda. Anda juga pasti memiliki kegiatan lain yang harus dilakukan, bukan?"


"Tenang saja Marchioness. Saya akan merubah jadwal saya agar dapat meluangkan waktu dengan anda!" ujarnya dengan senyum berseri. Cukup untuk membutakan pandangan Leana


'Tidak, tidak, tidak! Memangnya bisa begitu?!' seru Leana dalam hatinya.


Noel meraih pundah adiknya yang maju kedepan melewati meja diantara mereka.


"Windelyn. Jangan merepotkan Marchioness. Beliau memiliki urusan dengan Kaisar, benar bukan?"


Leana hanya tersenyum dan kembali meminum tehnya.


"Tenang saja kak! Aku akan membawa semua pertanyaaan yang kakak ingin tanyakan!"


Noel seketika tersipu malu dan mengalihkan pandangannya.


"Hah?! Siapa yang ingin--Tch! Berisik!"


"Sudah tidak perlu malu-malu, kak. Aku akan membantumu"


"Siapa yang malu-malu!? Dan aku tidak perlu bantuanmu!"


Melihat interaksi keduanya, Leana dapat membayangkan kilatan cahaya yang berhantaman diantara mereka tidak mau kalah.


Namun ia juga senang melihat interaksi kedunya yang terlihat seperti pertengkaran kecil antar saudara itu.


"Putra mahkota, putri. Tolong jaga sikap kalian."


Keduanya langsung berhenti dan terdiam di tempat masing-masing.


"Maafkan sikap saya, Ibunda Permaisuri, Marchioness."


"Maafkan saya, Ibu Permaisuri, Marchioness."


Permaisuri mendengus dan mengesap tehnya.


"Baguslah jika kalian mengerti."


Leana terpukau dengan ketegasan yang dimiliki oleh Permaisuri. Sepertinya julukannya "Permata tajam Solfilyan" bukanlah julukan biasa.


Ia menoleh kepada Windelyn dan Noel yang masih terdiam. Suasana diantara keduanya menjadi hening dan muram. Leana yang tidak tega pun mencoba menghibur mereka.


"Saya tidak masalah, putra mahkota, tuan putri. Justru saya senang melihat keakraban kalian berdua."


"Siapa yang akrab dengannya?!"


"Hah?"


Melanjutkan kembali pertikaian saudara mereka, Permaisuri pun perlahan menikmati interaksi kedua anaknya yang jarang ia lihat.


"Tuan putri, jika anda tidak masalah, saya mau menerima tawaran anda sebelumnya."


Mendengar hal tersebut, Windelyn kengalihkan perhatiannya dari Noel dan berfokus kepada Leana.


"Benarkah, Marchioness?"


"Benar, tuan putri. Jika putra mahkota juga mau, anda boleh ikut bergabung."


Noel terkejut dengan ajakannya kemudian ia dengan malu-malu memikirkan jawabannya dan mengangguk.


"Kalau begitu, saya juga ingin ikut disaat saya ada waktu. Tidak apa-apa, 'kan Marchioness?"


Permaisuri yang tidak ingin ditinggal ikut dalam tawaran tersebut.


"Tentu saja tidak apa-apa, Permaisuri.


***


Semenjak acara minum teh dengan Permaisuri, Windelyn selalu mengajak Leana bersamanya setelah ia menyelesaikan urusannya dengan Kaisar.


Awalnya ia cukup khawatir dengan sikapnya yang tidak terlalu terbuka namun ternyata mereka menjadi cukup dekat dengan cepat dan membuka berbagai topik pembicaraan dan berbagi ketertarikan.


Sementara itu, Forde yang tidak selalu rapat dengan Lima Pilar memutuskan untuk membawa pekerjaaannya dari Grandall agar dapat diselesaikan di istana.


Karena Alphiella memiliki dua butler, sesekali Leana meminta Adde untuk membantu Forde sementara Veil menjaga Alphiella menggantikannya.


Berkat alat sihir teleportasi, Adde dapat dengan mudah pulang pergi dari istana ke Alphiella. Begitu juga dengan Forde.


Satu minggu setelah acara minum teh, Forde terus menatap Leana tanpa memyembunyikan perasaannya yang sedang buruk.


Leana yang baru saja mengganti pakaiannya menoleh kepada suaminya.


"Forde? Kenapa kamu menatapku begitu? Apa ada sesuatu?"


Forde terus menatapnya hingga Leana tidak tahu harus berbuat apa.


"Forde?"


"Apa kamu harus terus mengikuti kemauan tuan putri Windelyn?"


"Eh?"


Leana menganalisa cepat kata-kata Forde dan situasi yang saat ini terjadi. Lalu hasil yang di dapatkannya adalah...


"Forde, janga bilang kamu cemburu dengan tuan putri Windelyn?"


Forde tidak menjawab dan hanya menundukan kepalanya. Sesekali mata gioknya mencuri pandang ke arahnya seakan minta sesuatu darinya.


Leana mendekati Forde dan duduk di sampingnya. Karena ia masih harus bertemu dengan Windelyn, ia tidak bisa membiarkan Forde memeluknya seperti biasa.


Terlebih karena ia merasa nantinya tidak akan bisa lepas dari Forde dengan mudah.


Ia meraih pipi Forde dan mengusapnya dengan lembut untuk menenangkannya. Jemarinya terkadang bermain dengan anting di samping kiri.


Leana yang menyadari kebiasaan kecilnya itu menjadi lucu sendiri dan tidak bisa menghentikan tawa kecil keluar dari mulutnya.


Forde menikmati kelembutan tangan Leana dan mencoba untuk memonopolinya hingga detik terakhir kepergiannya.


Sikap Forde kepadanya membuat Leana merasa seakan Forde terlalu berharga untuk ia lepas hingga ingin terus berada bersamanya.


Apakah itu adalah trik Forde untuk menahannya atau hanya perasaannya saja. Sampai akhir pun, Leana tidak menemukan jawabannya.


***


Seperti hari biasanya, Windelyn yang telah menikmati waktu dengan Leana bersenandung riang memikirkan topik apa lagi yang harus dibawanya dalam pertemuan mereka selanjutnya.


Ia memang memiliki kenalan yang jauh lebih tua darinya tetapi tidak ada satupun yang dapat memberinya kesan baru.


Mereka semua hanya ingin membicarakan apa yang ingin dibicarakan dan menutup jalan untuk menunjukan ketertarikannya.


"Tuan putri Windelyn."


Windelyn berhenti saat mendengar suara yang familiar.


Dihadapannya kini berdiri Elyn yang dihadapannya dan menyapanya seperti biasa.


Windelyn teringat akan Leana yang sosoknya masih belum banyak dikenali oleh publik.


Pada saat ini pun, Elyn terlihat berseri seakan menantikan sesuatu. Ia tahu apa itu dan tidak berani untuk mengangkat topik tersebut.


Baron Puosca yang tidak memiliki hubungan apapun dengan anggota Lima Pilar tidak dapat mengikuti pesta perayaan sehingga bisa saja Elyn tidak mendengarkan kabar mengenai Leana yang merupakan Marchioness Grandall.


"Elyn, bukankah kamu sedang dalam masa cuti karena Baron sedang sakit?"


"Memang benar, tetapi terlebih dari itu, saya dengar Marquis Grandall sedang menetap di istana. Apakah itu henar, tuan putri?!"


Entah kenapa Windelyn merasaka sesuatu yang ane dari kata-kata Elyn. Ia tidak pernah merasakan hal tersebut sebelumnya.


Apa yang dirasakannya saat ini adalah rasa bersalah? Tetapi ia merasa perasaan itu bukanlah masalahnya.


"Itu memang benar."


"Jadi benar, ya?! Uwaa, ya ampun, saya harus bagaimana tuan putri! Jantung saya berdegup kencang memikirkan!"


Perasaan aneh di benaknya semakin besar. Lebih tepatnya, perasaan tersebut tertuju kepada Elyn. Kenapa?


"Tuan putri, bisakah kita bertemu dengan Marquis? Ah atau mungkin melihatnya dari jauh saya juga tidak masalah, ya?"


Melihat tingkah Elyn, Windelyn merasa tidak ingin dekat-dekat dengannya. Seakan sesuatu yang menjengkelkan sedang berada di depan matanya.


Windelyn menahan perasaannya tersebut dan dengan tegas menjawab.


"Maaf Elyn. Tapi saat ini Marquis sedang sibuk dengan Lima Pilar lainnya. Jadi saya rasa akan tidak sopan jika datang mengagganggunya."


"Ah, iya. Benar juga... Saya tidak bisa merepotkan Marquis."


Elyn yang awalnya berseri berubah menjadi murung dengan cepat.


Sekali lihat saja Windelyn sudah tahu bahwa Elyn sangat kecewa karena tidak dapat bertemu dengan orang yang disukainya.


Windelyn seketika merasa sesak hingga hampir lupa untuk bernapas.


"Elyn--"


"Tapi tuan putri--"


Windelyn terkejut saat tiba-tiba Elyn mengangkat kepalanya dengan wajah ceria seakan kekecewaannya tadi tidak pernah ada.


"Saya tidak akan menyerah! Saya akan mencoba mengambil langkah pertama untuk menjadi dekat dengan Marquis! Tentu saja tuan putri akan membantu saya, bukan?"


Pada saat itu juga ia merasa hatinya seakan jatuh tenggelam dalam lautan yang dingin. Terus jatuh tanpa tahu dimana dasarnya.


'Aku... Harus memberitahunya... Mengenai Marchioness...'


Ujur jemarinya perlahan mendingin dan matanya tidak mampu untuk memandang Elyn lebih lama lagi.


Ia mengatupkan mulutnya untuk berbicara namun tidak ada satu kata pun yang yang keluar.


"Tuan putri, ada apa?"


Elyn sudah ia anggap sebagai sahabatnya karena ia sudah lama berada disampingnya.


Demi kebaikan Elyn. Ia harus mengatakan kenyataannya.


"Elyn..."


Tapi...


"Iya, tuan putri?"


Melihat sikap polosnya, ia melihat Elyn yang mencoba menggapai bintang yang tidak akan pernah ia dapatkan. Meskipun begitu, ia tersenyum bahagia dan terus berjuang untuk menggapainya.


Windelyn mengepalkan tangannya dengan erat. Satu tangannya menutup matanya dan ia segera melangkah melewati Elyn dengan cepat.


"Maaf, sepertinya aku tidak enak badan jadi kembalilah kepada Baron Puosca."


"Tuan putri?!"


Windelyn terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Langkah cepatnya bergema seakan sedang kabur dari sesuatu.


Meninggalkan Elyn yang kehilangan kata-katanya sendirian di koridor yang luas itu.