
Count Vivaldi. Satu dari Lima Pilar pertahanan kerajaan Solfilyan, Sayap Putih. Berperan sebagai tim supporter yang membantu keseluruhan tim dan juga merupakan bagain dari tim yang mengurus teka teki sihir labirin.
Pemimpin Sayap Putih saat ini, Count Clovis Vivaldi, adalah seorang penyihir kelas tinggi yang sangat dihormati dan diakui kekuatannya. Ia memiliki ketertarikan kuat dalam memecahkan teka-teki sihir di labirin dan memiliki hobi untuk meneliti benda yang bersemayam di dalamnya.
Count Clovis telah menjalani pendidikannya di menara sihir sejak dini dan hobinya dalam meneliti tumbuh setelah bertemu dengan seorang gadis dari keluarga Ferendum, Sylvie Ferendum, yang memiliki hobi untuk meneliti tanaman dan komponen tertentu.
Saat keduanya menikah, pasangan Vivaldi ini menjadi tim supporter yang tidak dapat dikalahkan.
“Jadi bisnis apa yang Marchioness Grandall ingin bicarakan dengan saya?”
Count Vivaldi menatap Leana dan menunggu penjelasan darinya.
Leana tanpa basa basi langsung membuka topik pembicaraan mereka.
“Count Vivaldi, apakah anda mengetahui wilayah Alphiella?”
“Wilayah Alphiella?” Count Vivaldi menatapnya dengan sedikit bingung.
Count Vivaldi seharusnya mengetahui wilayah tersebut karena dua tahun setelah bencana terjadi, sang Kaisar menyuruh bawahannya untuk mencari tahu penyebab bencana tersebut berlanjut tanpa henti.
Terutama Countess yang sangat suka meneliti tanaman. Seharusnya ia mengetahui wilayah yang menjadi bahan penelitan besar-besaran tersebut.
“Saya mengetahuinya.”
Yang menjawab pertanyaan Leana adalah Countess Vivaldi dan bukan Count Vivaldi.
“Wilayah yang sudah tidak dapat ditinggali karena kekeringan hebat berkepanjangan. Pada akhirnya sang Kaisar memutuskan untuk menghapus wilayah tersebut.” Ucap Count Vivaldi yang tengah mengingat dengan tangan di dagunya.
Leana menganggukdan melanjutkan.
“Benar. Alphiella adalah wilayah yang telah terlupakan karena sudah tidak ada lagi cara untuk memperbaiki kondisinya.”
“Lalu apa hubungannya bisnis yang anda katakan dengan wilayah tersebut?” tanya Count Vivaldi.
“Tanah Alphiella saat ini telah dipegang sepenuhnya oleh Grandall. Fakta ini terungkap belum lama ini, tapi saat ini saya lah yang tengah mengurus wilayah tersebut.” Ucap Leana.
“Anda mengurus wilayah mati? Bukankah tidak ada apapun dan siapapun di sana? Wilayah yang hanya tanah lapang kosong dengan reruntuhan saja?” Count Vivaldi semakin bingung.
Leana membenarkan hal tersebut namun diam-diam ia juga merasa sakit dengan fakta itu.
“Anda benar. Saat saya ke sana, tidak ada satupun tanaman dan hewan. Bahkan gedung di kota telah menjadi reruntuhan. Satu-satunya yang berdiri adalah mansion Alphiella yang juga sudah rusak.”
Leana menajamkan matanya dan menatap lawab bicaranya dengan serius.
“Dan saya sekarang tengah mencoba untuk mengembalikan Alphiella ke kondisi awalnya.”
Count Vivaldi dan istrinya terkejut.
“Apa yang anda maksud? Anda mau mengembalikan kondisi wilayah yang sang Kaisar saja tidak dapat menyelamatkannya?” ujar Count Vivaldi.
“Anda benar.”
Countess Vivaldi yang mengerutkan keningnya mulai membuka mulut.
“Marchioness, apakah anda tahu apa yang anda katakan sekarang?”
“Saya memahaminya.”
“Marchioness, saya… Dahulu saat sang Kaisar mencoba untuk mencari cara agar dapat menyelamatkan wilayah tersebut, saya adalah salah satu volunteernya. Kami sudah mencoba segala cara. Sihir, alkemi, penelitian. Semuanya. Tetapi tidak satupun yang berhasil.” Ujar Countess.
Entah kenapa Leana merasakan kesedihan dalam kata-katanya.
“Marchioness, Saya juga membantu istri saya dalam penelitian tersebut. Kami sudah menduga banyak hal, dari logika hingga sihir, bahkan kutukan hingga ilmu hitam. Namun semua cara tersebut masih belum bisa menyelamatkan Alphiella.” ujar Count Vivaldi.
Keputusasaan adalah yang terdengar dari ucapan mereka. Raut wajah keduanya kian menggelap seiring berjalannya percakapan tersebut.
“Count Vivaldi, Countess Vivaldi. Saya datang kepada anda bukan untuk bercanda. Saya serius dalam mengembalikan kondisi Alphiella.”
“Tapi, bagaimana…?!”
Leana mengeluarkan sebuah kantung dan mempersembahkannya di atas meja. Keduanya memperhatikan benda tersebut dengan rasa penasaran yang tinggi.
Saat Count Vivaldi mengambil dan membuka isinya, ia terheran karena di dalamnya hanya terdapat kumpulan bola putih kecil.
“Marchioness, ini…”
“Benda di tangan anda adalah kunci dalam memecahkan masalah di Alphiella.”
“Apa yang anda maksud…”
“Benda itu adalah sebuah benih. Saya menemukannya di ruang rahasia di mansion Alphiella. Benih ini memenuhi lantai ruangan tersebut seperti pasir." jelas Leana.
"Dalam ruang tersebut terdapat satu cahaya yang memancar dari langit-langit dan sebuah tanaman tumbuh dari titik yang terkena cahaya tersebut.” tambahnya.
“Ya ampun!” Countess tertegun menatap benih yang dipegang suaminya.
Ia mengambil beberapa dari kantung dan memperhatikan satu demi satu benih tersebut dengan seksama.
“Apakah anda serius? Benih ini... tumbuh di Alphiella?” Seru Count Vivaldi dengan mata berbinar.
Leana mengangguk.
“Saya sudah mencoba untuk memindahkah tanaman yang tubuh di ruangan tersebut ke area terbuka dan sepertinya tanaman tersebut tumbuh dengan baik."
“A-Apakah tanaman tersebut berbuah? Seperti apa bunganya?!” tanya Countess dengan nada semangat.
Leana segera mengangkat tangan diantara mereka seakan memberika isyarat untuk berhenti.
“Tolong tenang Countess. Saya akan menjelaskannya.”
Countess terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali duduk dan membenahi dirinya.
“Ekhm, maafkan ketidaksopanan saya. Tolong silahkan lanjutkan, Marchioness.” Ucap Countess. Leana tersenyum.
“Saat ini tanaman tersebut masih belum menumbuhkan bunga maupun buah, oleh karena itulah saya masih belum mengetahui tanaman apa yang tumbuh dari benih putih ini.” Lanjut Leana.
“Jadi bisnis yang anda maksud adalah untuk meneliti benih tanaman misterius ini?”
“Anda benar, Count. Saya ingin meminjam kekuatan dan pengetahuan anda untuk mencari tahu mengenai benih ini. Tidak hanya untuk mencari tahu, saya juga ingin membuat tanaman lain memiliki komponen dari benih ini agar dapat tumbuh di tanah Alphiella.”
“Anda ingin membuat persilangan benih ini dengan tanaman lain?!” Countess menepuk tangannya satu kali dengan girang.
Leana menatap Count Vivaldi dan istrinya yang tengah memancarkan kilatan semangat di mata mereka. Ia merasa bahwa gairah sebagai peneliti dalam diri mereka keluar.
Ia tidak tahu harus senang atau kesusahan menghadapi mereka.
“Jadi, bisnis yang saya maksud adalah saya ingin meminjam pengetahuan Pilar Sayap Putih untuk meneliti dan mengembangkan tanaman ini. Tentu saja saya akan mensponsori penelitian tersebut.” ujar Leana.
"Tentu saja, selain proposal, ini adalah permintaan saya yang ingin memghidupkan kembali Alphiella. Saya harap anda mau mempertimbangkannya." tambahnya.
Saat Count Vivaldi ingin bangun, Countess sudah terlebih dahulu menggenggam tangan Leana dengan secepat kilat. Baik Leana dan Count terkejut karenanya.
“Marchioness! Biarkan saya yang memimpin proyek ini!” Seru Countes dengan matanya yang berbinar dan senyuman setinggi langit di wajahnya.
“Tu-Tunggu dulu, Sylvie! Itu curang, aku juga mau meneliti—”
“Diam Clovis. Bukankah kau sudah memgang cukup banyak pekerjaan?” Countess menatap suaminya dengan dingin.
Count Vivaldi pun menjadi pucat dengan tangannya yang melayang di udara tanpa meraih apapun.
Leana diam-diam menarik dirinya karena tidak ingin terlibat percekcokan antara keduanya.
“Tapi—”
“Kebetulan sekali saya sedang bosan dengan pekerjaan berulang ditangan ini, jadi tentu saja saya menerima tawaran bisnis anda, Marchioness!” ucap Countess dengan cepat.
“um, Iya, Terima kasih banyak, Countess…”
Leana menahan senyuman di wajahnya dan menerima sikap Countess Vivaldi serta suaminya yang tidak pernah ia bayangakan itu.
Setidaknya tujuannya berjalan dengan sukses jadi ia akan menutup mata dengan sikap kekanak-kanakan mereka saat ini.
“Kalau begitu nanti saya akan mengirimkan undangan untuk anda. Kita akan membicarakan lebih lanjut mengenai kontrak dan hal penting yang dibutuhkan lainnya di Alphiella.”
Keduanya seketika menjadi bingung.
“Alphiella? Bukan Grandall?” tanya Count.
“Saya berpikir akan lebih baik jika Count dan Countess Vivaldi melihat tumbuhan tersebut secara langsung jadi akan lebih baik jika saya mengundang anda ke Alphiella.”
“Anda tidak perlu khawatir mengenai fasilitas di Alphiella, saya sudah memperbaiki mansion dan menyimpan suplai kebutuhan yang cukup agar tempat tersebut dapat ditinggali bahkan oleh bangsawan sekalipun.” Tambah Leana.
Keduanya tersenyum dan memahami niatan Leana.
“Saya suka dengan keputusan anda, Marchioness. Kami dengan senang hati akan menunggu undangan dari anda.”
“Terima kasih Count Vivaldi, Countess Vivaldi.”
“Ah, karena kita akan menjadi rekan bisnis anda bisa memanggil saya dengan nama saya.” Ucap Countess dengan ramah.
Leana mengedipkan matanya beberapa kali dan kemudian tersenyum lembut.
“Baiklah nyonya Sylvie. Tolong panggil saya Leana.” Jawab Leana.
“fufu, baiklah, nyonya Leana.”
Baik Sylvie maupun Leana merasa bahwa mereka dapat menjadi teman baik pada saat itu. Leana tiba-tiba saja teringat suatu hal penting.
“Ah benar juga. Saya harap anda dapat merahasiakan hal ini untuk sementara waktu.”
“Kenapa anda ingin merahasiakannya?” tanya Sylvie.
“Apakah anda mengetahui mengenai rumor yang beredar mengenai Alphiella?”
“Maksud anda rumor bagaimana pemilik Alphiella terdahulu merencanakan pengkhianatan dan wilayah Alphiella mendapatkan karmanya?” ujar Count.
“Anda benar. Saya tidak ingin memikul tuduhan tanpa dasar hanya karena sejarah yang tertera di dalamnya. Jadi saya harap anda dapat memahami hal itu.” Ujar Leana. Count Vivaldi dan Sylvie pun mengangguk.
“Baiklah, kami akan merahasiakan proyek ini.”
"Ini hanya bersifat sementara. Setidaknya sampai Alphiella dapat pulih dengan baik."
"Tidak masalah, kami percaya dengan anda, nyonya Leana."
Leana tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya. Count Vivaldi dan istrinya pun juga ikut berdiri.
“Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu. Saya tidak bisa lama-lama di sini, saya takut suami saya mencari saya.”
“Begitukah. Sayang sekali kita tidak bisa berbincang lebih lama.” Ucap Sylvie.
“Benar sekali. Saya sangat ingin mengetahui lebih banyak tentang Alphiella dari anda.” Ucap Count Vivaldi.
Count Vivaldi menutup kantung di tangannya dan mencoba untuk mengembalikannya tetapi Leana menghentikannya.
“Ah, anda bisa membawa kantung benih itu. Saya juga berencana untuk memberikan sebagian besar benih kepada anda untuk di teliti nantinya.”
Seketika mata keduanya kembali berbinar.
“Be-benarkah?!”
“Tidak apa-apa kami bawa?!” Seru keduanya.
Leana hanya dapat mengangguk menanggapinya.
“Tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi.”
“Terima kasih banyak, Marchioness!”
“Terima kasih banyak, nyonya Leana!”
Leana meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan lega dan juga lelah.
Saat seluruh ketegangannya menghilang, ia rasanya ingin kembali duduk tetapi disaat yang sama ia sudah cukup bosan karena sedaritadi duduk. Ia pun berjalan kembali ke aula pesta.
Kini urusannya selesai, pikirannya beralih kepada anggota bayangannya.
‘Bagaimana status mereka?’
Saat Leana mencoba untuk menghubungi Dean tiba-tiba saja pencahayaan di lorong tersebut padam.