
"Enka masakkin aku dong aku laper banget" ucap Ariel yang baru saja datang dari kantor
"Masak aja sendiri" ucap Enka dengan sibuk memainkan ponselnya
"Enka kamu itu istri aku harusnya kamu nurut sama apa yang aku perintahkan" ucap Ariel dengan nada tinggi
"Aku bukan babu kamu dan ya? Apa kamu selama ini bisa memberikan apa yang aku mau sehingga kamu berani mengaturku" teriak Enka
Memang benar selama ini Ariel tidak memenuhi kebutuhan Enka dan wajar sana jika Enka bersikap seperti itu
"Aku nyesel nikah sama kamu" ucap Ariel
"Nyesel nyesel aja aku gak peduli" ucap Enka
"Disini aku adalah ratunya dan kalian harus nurut pada perintahku" ucap Enka dengan nada penuh penekanan
"Karena rumah ini memanglah milikku" gumam Enka
"Lihat ma dia semakin semena mena sama aku" ucap Ariel
"Mau bagaimana lagi jika kita mengusir dia maka perusahaan kita akan hancur" ucap Erna
Enka yang menguping pembicaraan antara anak dan ibu itu tersenyum miring
"Nimati saja kehidupan neraka kalian" ucap Enka
"Kalian harus merasakan apa yang aku rasakan dua puluh tahun yang lalu" ucap Enka
"Menderita"
-
-
-
"Kamu ikut pulang ya sama kami" ucap Diana
"Ma aku masih ingin disini aku ingin hidup mandiri boleh ya" ucap Mayra
Berulang kali mereka membujuk Mayra agar pulang namun wanita itu keras kepala menolaknya dengan alasan yang sama
"Baiklah jaga diri baik baik kalau ada apa apa hubungi papa" ucap Rio
Mereka semua kembali ke kediaman Mahendra tanpa Mayra meski begitu mereka cukup lega setelah bertemu dengan Mayra dan memastikan gadis itu baik baik saja
"Tentu saja papaku sayang"
Rio terkekeh pelan dengan mengacak rambut putrinya.
"Tapi... putri papa ini akan tetep pake kacamata ini" ucap Mayra
"Kenapa" tanya Sean
"Ada deh kepo kamu" ucap Mayra
"Dasar pasti udah ada cowok yang di taksie iya kan" ucap Sean
"Kalau ada cowok yang di taksir harusnya dandan cantik bukannya kebalikannya" ucap Rena
"Nah itu dia aneh kamu May" ucap Delon
"Ck yaudah kita pulang dulu" ucap Vito
Mereka semua keluar dari apartemen Mayra dan kembali pulang
-
-
Kaysar terlihat murung di dalam kamarnya dirinya tidak makan sama sekali selama seharian kemarin
"Nyonya tuan Kaysar tidak mau makan" ucap pelayan melapor pada Rettha
Rettha menghela nafas panjang kemudian mengambil ponselnya
"Cepatlah kesini kita selesaikan secepatnya" ucap Rettha
"Apa ada masalah" tanya seseorang di balik sana
"Masalah kecil putramu terlalu kekanak kanakan" ucap Rettha
"Baiklah" Marleon Derata Antararja ayah dari Kaysar
Rettha berjalan masuk ke dalam kamar putranya yang ada di lantai tiga
"Kay" panggil Rettha dengan bersedekap dada
Wanita itu tetap memasang wajah datar dan dingin.
"Ada apa ma"
"Kamu gak ke kantor" tanya Rettha
"Gak lagi males" ucap Kaysar santai
"Sikap kamu kekanak kanakan banget" ucap Rettha
"Maksud mama" tanya Kaysar tak mengerti
Kenapa mama nya itu selalu penuh dengan teka teki yang membingungkan otak cerdasnya. Benar memang kata orang orang jika wanita itu tidak pernah mengungkapkan dengan jelas namun harus dengan kode hingga membuat pria pusing memikirkannya
"Berjuang dong" ucap Rettha dengan bersedekap dada
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Mata Kaysar berbinar seketika dan langsung meloncat masuk ke dalam kamar mandi
Rettha keluar dari dalam Kaysar dengan wajah datar
"Nyonya tuan besar sudah datang" ucap pelayan melapor dengan hormat
"Ok" ucap Rettha singkat
Para pelayan begitu segan dengan Rettha mereka takut untuk melakukan kesalahan sekecil apapun itu