
"Kamu jadi istri itu harusnya yang beberes rumah bukannya malah duduk santai" ucap Erna dengan berteriak pada Enka
"Jangan berteriak padaku ibu mertua" bentak Enka balik
"Kau disini hanya menantu jadi hormati aku sebagai pemilik rumah ini" ucap Erna marah
"Oh ya? Harus?" ucap Enka dengan menatap Erna intens
"Tapi aku tidak mau" ucap Enka santai
"Dasar menantu kurang ajar" bentak Erna dan hendak menampar Enka namun segera di tangkis oleh wanita itu
"Jangan pernah mencoba untuk menyakiti ku" Enka menghempaskan tangan Erna hingga wanita tua itu terhuyung dan terjatuh ke lantai
"Ashhh" ringis Erna
"Bersihkan semua rumah ini jangan ada yang sampai kotor kalau aku melihat sedikit debu maka kau akan tau akibatnya" ucap Enka dan masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai atas
Brak
Enka membanting pintu dengan sangat keras hingga Erna yang ada di lantai bawah terkejut
Wanita yang berstatus sebagai istri dari Ariel itu melangkah mendekati lemarinya yang tidak boleh di sentuh oleh siapapun termasuk Ariel
Enka mengambil sebuah kotak persegi yang tersimpan rapi di dalam lemarinya.
"Balas dendam ini harus sampai tuntas" ucap Enka dengan memandang sebuah bingkai foto dengan mata berkaca kaca
Sebuah foto yang berisi sebuah keluarga harmonis dengan satu anak perempuan yang masih berusia dua tahun
"Aku masih mengingat sekali bagaimana kejadian di malam itu kalian penjahat!! Kalian pembunuh!!" ucap Enka dengan marah
Mata wanita itu memerah menahan semua luka yang harus dia terima selama ini akibat perbuatan dari seseorang yang tak punya hati
"Mayra... Aku berterima kasih sekali pada kamu karena kamu kabur dari acara itu dan aku lah yang masuk ke dalam keluarga ini jika kamu yang menjadi menantu di rumah ini aku yakin sekali hidupmu seperti di neraka" gumam Enka
"Hidup dengan penjahat di sekitarmu"
"Erna dan Martin kalian akan merasakan akibatnya karena telah membunuh kedua orang tuaku" ucap Enka
Flashback
Di sebuah rumah mewah sebuah keluarga terlihat harmonis saling melempar canda tawa.
"Pa aku mau main di luar" ucap seorang gadis kecil yang tak lain adalah Enka
"Ini udah malem sayang lagian di luar juga hujan" ucap sang papa
"Iya besok aja ya" ucap sang mama Enka
"Tapi aku maunya sekarang" ucap Enka dengan menangis
"Cup cup sayang gimana kalau kita lihat hujan aja tapi gak boleh main nanti kamu sakit" sang papa menggendong putri kecilnya dan melihat hujan di teras rumah dengan istrinya mendampingi di sampingnya
Dor
Sebuah peluru melayang entah dari arah mana namun mendarat di sebuah tembok karena papa Enka berhasil mengelak
"Kita masuk sekarang" ucap sang papa Enka
Pria itu menutup semua pintu dan cendela kemudian menyerahkan Enka pada istrinya
"Bawa Enka ke atas"
"Tapi kamu.."
"Ma aku akan tangani ini semua"
Brak
Dor
Papa Enka yang belum sempat melarikan diri harus tertembak mati karena peluru dari senjata Martin
Pria itu yang merupakan asisten dari keluarga Enka serta orang kepercayaan justru menusuk mereka dari belakang karena matanya telah di butakan untuk menguasai seluruh harta yang di miliki orangtua Enka
"Martin" gumam papa Enka sebelum meregang nyawa
"Sebentar lagi kita akan menguasai harta ini pa" ucap Erna yang ikut serta dalam tragedi itu
"Dimana istrinya kita harus dia bunuh juga"
"Dia pasti di atas" Martin dan Erna menaiki satu persatu anak tangga kemudian masuk ke dalam kamar Enka dimana tempat Enka dengan mamanya bersembunyi
"Dimana kau bersembunyi Rina" teriak Erna
Enka dengan Rina bergetar ketakutan sambil tetap bersembunyi di balik almari
"Kau tetap disini ya jangan buka suara" ucap Rina dan Enka mengangguk
Wanita yang berstatus sebagai mama dari Enka itu keluar dengan membawa sebuah senjata yang terselip dalam bajunya
Dor
Peluru dari senjata Rina hanya mengenai lengan Martin
"Kau keluar juga ternyata" ucap Martin dengan tersenyum licik
Jika saja Rina tidak keluar maka mereka bisa menemukan Rina dengan Enka dan itu akan mengancam nyawa Enka
Sedangkan Enka mengintip dari balik celah almari
"Dasar kalian penghianat" teriak Rina
"Peduli kami apa asal kami bisa menguasai seluruh harta kamu" ucap Martin dengan tertawa jahat
Erna mengambil sebuah pisau dari balik jaketnya dan mendekati Rina
"Kau harus mati" ucap Erna penuh penekanan
"Jangan mendekat" ucap Rina dengan mendongkan senjata pada Erna
Dor
Rina menekan pelatuknya namun takdir tak berpihak pada dirinya senjata itu ternyata kehabisan puluru
Erna menancapkan pisau yang ia pegang ke leher Rina hingga mengeluarkan darah segar dan perlahan tubuh Rina luruh ke lantai dengan bersimbah darah
"Kita buang mereka di hutan" ucap Erna
Martin membuang mayat orang tua Enka di hutan sedangkan Erna menghapus jejak agar polisi tidak mencurigai mereka
Enka yang melihat semua itu bergetar ketakutan kedua orang tuanya terbunuh di depan mata nya
Enka mengikuti Martin saat membuang kedua orang tuanya di hutan ketika Erna pergi entah kemana untuk menghapus jejak
Gadis kecil itu menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak terdengar oleh Martin manusia yang tidak punya hati itu. Setelah Martin pergi Enka mendekati tubuh kedua orang tuanya .
Tangis gadis berusia dua tahun itu pecah di hadapan mayat kedua orangtuanya. Beberapa menit yang lalu mereka masih bisa tertawa bersama namun kini mereka telah meninggalkan dirinya
Sejak kejadian itu Enka lari entah kemana dirinya harus menghadapi betapa kerasnya dunia luar di usia nya yang masih terbilang begitu kecil. Dia menderita dia harus bekerja semampunya agar bisa makan hingga karena sebuah kejadian dimana dirinya hampir di tabrak oleh sepasang suami istri yang tidak memiliki keturunan selama bertahun tahun dirinya akhirnya di adopsi oleh orang itu yang merupakan keluarga berada