
Bab 21
Ceklek
Sean membuka pintu ruangan Mayra dan terlihat jika wanita itu sibuk bermain ponsel yang berada dalam genggamannya
"Nih sesuai permintaan tuan putri" ucap Sean dengan meletakkan bubur ayam di nakas samping ranjang Mayra
"Hehhee makasih Sean ganteng deh" puji Mayra
"Heleh muji kalau ada maunya doang" cibir Sean
"Dari pada gak sama sekali" Mayra meletakkan ponselnya dan meraih satu bungkus bubur kemudian memakannya
"Lo gak makan" tanya Mayra
"Iyalah gue laper dari tadi gak makan gara gara musingin lo doang" ucap Sean dan ikut makan
"Chatingan ma siapa sih" tanya Sean karena merasa terganggu dengan suara notifikasi ponsel Mayra yang sedari tadi berbunyi
"Sama Ariel?" tanya Sean dengan menatap Mayra
Mayra menghentikan makannya sejenak dan menatap Sean
"Enggak" jawab Mayra singkat
"Bener?" tanya Sean ragu
"IYA SEAN" ucap Mayra dengan menekan nada bicaranya
"Iya iya emang chatingan ma siapa sih" tanya Sean
"Sama temen temen tadi pagi kan aku janjian buat cari buku untuk referensi skripsi" ucap Mayra dengan malanjutkan makannya
"Oh kirain" ucap Sean
-
Semalaman Sean menjaga Mayra hingga pagi. Sinar mentari mulai menampakkan cahayanya menggantikan bulan yang perlahan menghilang
"Eughhh" Mayra perlahan membuka matanya dan menatap ke sekitar
"Gue dimana" gumam Mayra
"Lo di rumah sakit" jawa seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah segar setelah mandi
"Ahhh iya gue lupa" ucap Mayra
"Heh enak aja" Mayra melempar bantal yang ada di belakangnya ke arah Sean namun dengan sigap langsung di tangkap oleh pria itu
Bug
"Sean!!!!!" teriak Mayra karena bantal itu kembali pada dirinya dan tepat mengenai wajahnya
"Napa? Kena ya? Kasian" ledek Sean dengan wajah khas nya yaitu wajah wajah tengil
"Huh" Mayra mengangkat bantal itu hendak ia lemparkan lagi pada adik tengilnya itu namun tangannya menggantung di udara
"Mau lempar lagi? Yakin?" tanya Sean dengan nada penuh ancaman
"Gak jadi deh" Mayra meletakkan bantalnya kembali
Ceklek
"Pagi sayang" sapa Diana yang sudah datang ke rumah sakit di pagi seperti ini. Di tangannya sudah ada rantang makanan yang ia masak khusus untuk putrinya
"Mama" teriak Mayra manja dan merentangkan tangannya. Diana berjalan mendekat dan memeluk putrinya itu
"Bagaimana keadaan kamu" tanya Rio yang baru saja masuk ke ruangan itu
"Baik dong pa aku kan anak kuat" ucap Mayra kemudian terkekeh pelan mengingat kebodohan yang dia lakukan kemarin
"Kuat kuat apanya di tabrak dikit aja langsung kritis" cibir Sean dengan duduk di atas sofa sambil mengangkat kakinya dan ia letakkan di atas kaki satunya
"Aelah penting sekarang udah pulih" ucap Mayra membalas karena tak mau kalah
"Iya tapi kemarin sekarat dan inget lo punya hutang darah ma gue di tubuh lo ada darah gue tuh" ucap Sean dengan memakan buah yang di bawakan oleh sang mama
"Yaudah ambil balik aja darah lo" ucap Mayra
"Jangan deh kasian entar lo sekarat lagi gue juga yang bingung" ucap Sean
"Bingung kenapa" tanya Mayra
"Bingung nyiapin kuburannya" ucap Sean kemudian tertawa lepas
"Sean!!" ucap Rio dan Diana serempak
"Maaf ma pa" ucap Sean seketika tawanya berhenti
"Hahahaha kasian kena amuk kan" ucap Mayra gantian tertawa