
Ren Qixuan sendiri tidak terlalu banyak mengharapkan dari Kaisar yang akan menyembunyikan kejahatan besar putranya demi melindungi putranya padahal ratusan nyawa orang tidak bersalah telah dimusnahkan dalam semalam seolah olah mereka tidak pernah ada.
Sejak dia mengetahui hal ini maka dia sadar bahwa dia tidak bisa mengingat kebaikan lama Kaisar lagi dan harus bermain dengan kejam jika tidak maka yang akan menderita pada saat itu maka bukan penduduk desa itu lagi melainkan dirinya.
Kaisar adalah orang yang kejam, seharusnya Ren Qixuan sendiri mengetahui itu karena untuk duduk sampai ke tempatnya saat ini penuh dengan darah dan tulang orang orang.
Darah saudara, orang tua, semuanya membasahi tangga menuju tahkta Kekaisaran. Orang yang mampu berjalan sampai sana, sudah melihat banyak kematian, bagaimana mungkin hatinya bisa lembut ?
Ren Qixuan melepaskan pakaian luarnya lagi dan terbatuk batuk sehingga pelayan masuk untuk melihat kondisinya. Ren Qixuan duduk di tepi ranjang layaknya gadis yang lemah lembut.
"Nona, apa perlu aku panggilkan tabib ? Tuan muda memerintahkan untuk mengawasi semua pergerakan Nona. " Ucap pelayan itu.
Pelayan itu masih muda dan tidak lebih tua darinya tapi suaranya tampak jernih dan dia juga tampak terlatih. Ketika pelayan muda itu memegang tangannya, dia bisa merasakan kapalan di bagian tangan pelayan itu.
"Ya. Tolong panggilkan kakakku, aku uhukk ! uhuk !" Ren Qixuan tidak menyelesaikan kalimatnya dan pelayan muda itu langsung berlari keluar untuk mencari Ren Wang..
Tidak lama Ren Wang berjalan masuk dan mengusir pelayan itu lalu membantu memapah tubuhnya.
"Kakak, jika tidak ada kamu hari ini maka aku pasti akan mati. " Ucap Ren Qixuan dengan lembut.
"Kamu benar benar berani, kamu bahkan tidak membantah tuduhan sama sekali ! Kamu tidak bersalah tapi mereka bersalah, aku akan membuat mereka berlutut di hadapanmu sampai sampai mereka menyesal karena telah membuatmu seperti ini !" Seru Ren Wang dengan marah.
"Tidak apa apa, bagaimana dengan Ibu dan Kakak Kedua ?" Tanya Ren Qixuan.
"Ibu dan kakak kedua pergi menuju perbatasan utara untuk kembali ke kampung halaman sekaligus mengantarkan Xing untuk mengikuti ujian. Belakangan ini kamu bekerja sangat keras sampai sampai tidak mengetahui kondisi ini. "Jawab Ren Wang.
"Kakak, bantulah aku. Jangan sampai mereka tahu pada saat ini, fokus kakak kedua tidak boleh pecah karenaku. " Ucap Ren Qixuan memohon.
"Baik, kakak akan melakukan ini untukmu. Kamu harus beristirahat dengan baik, Yin akan menemanimu. " Ucap Ren Wang.
"Benar, apakah ada masalah ?" Tanya Ren Wang.
"Berhati hatilah, dia adalah seseorang yang berlatih seni bela diri. Takutnya dia adalah seorang mata mata yang ditanamkan oleh pejabat tua padamu. " Jawab Ren Qixuan.
"Darimana kamu mengetahui hal ini ?" Tanya Ren Wang mengerutkan dahinya.
"Ada banyak cara bagiku untuk mengetahuinya, pokoknya kakak hati hati saja dan gantikan pelayan ku dengan pelayan yang lain. " Balas Ren Qixuan.
"Baik kalau begitu, kakak akan memerintahkan pelayan lain untuk menemanimu. " Ucap Ren Wang dan Ren Qixuan menganggukkan kepalanya dengan lembut.
Ren Wang keluar untuk kembali ke Akademi Kekaisaran dan mengurus masalahnya sementara dia sendiri memanggil pelayan yang baru.
"Apakah ada yang bisa aku bantu, Nona ?" Tanya pelayan muda itu.
"Aku ingin kamu membelikan ku beberapa barang, aku akan mencatatnya. Berikan aku kertas dan tinta. " Jawab Ren Qixuan.
Kertas dan tinta sudah ada di mejanya dan dia menuliskan beberapa macam bahan obat yang terkenal untuk menghangatkan tubuh dan juga termasuk obat yang sering digunakan orang lain untuk mengobati luka dalam.
Ren Qixuan memberikan uang dan pelayan itu pergi, ada cara lain yang tidak disebutkan oleh tabib itu padanya yaitu dengan cara merendam diri di dalam bak obat.
Jika sedikit salep saja sudah membuat seluruh tubuh perih maka di dalam rendaman obat ini akan membuat tubuh seperti seolah olah terkelupas dan diganti dengan kulit yang baru.
Dia memahami kenapa cara ini tidak banyak disarankan lagi dan orang orang mulai meninggalkan cara lama ini karena kebanyakan orang tidak bisa menahan rasa sakitnya.
Tapi, bagi orang yang sudah pernah mengalami kematian seperti dia, apakah begitu sulit untuk menahan sedikit rasa sakit ? Dia tidak keberatan asalkan bisa sembuh lebih cepat .