The Legend Of Qixuan

The Legend Of Qixuan
33. Kuas Bulu Kuda



Guru Agung Zhou hanya mengibaskan tangannya yang menandakan bahwa dia tidak akan mempermasalahkan hal kecil semacam ini dan meminta Yan Fei untuk pergi mengurus dua pembunuh kecil ini.


"Di masa depan, tidak ada yang boleh keluar lebih dari pukul 9. Jika begitu maka akan bisa meminimalisir kejadian seperti ini. " Ucap Guru Agung Zhou.


Ren Qixuan tiba tiba melirik jam dan ini baru setengah sembilan maka seharusnya masih ada waktu bagi mereka untuk melanjutkan taruhan sebelumnya. Dia benar benar ingin mendapatkan Kuas Bulu Kuda.


Daripada jatuh ke tangan orang lain maka Ren Qixuan lebih senang untuk mendapatkan hal itu untuk dirinya sendiri.


Dia tidak ingin benda itu jatuh ke tangan orang lain, jika Lin Wuxin tidak menginginkannya maka dia akan menyimpan kuas itu kembali.


"Masih ada setengah jam, ayo melanjutkan permainan yang tertunda. " Ucap Ren Qixuan.


Semua orang menoleh padanya dan dia hanya terkekeh tanpa rasa bersalah.


"Wakil Ketua Yan, apakah setelah ini kami bisa bermain catur dengan santai dan tanpa ancaman dari pencuri lagi ?" Tanya Ren Qixuan pada Yan Fei.


"Tentu saja , dengan adanya Divisi Keamanan yang berjaga disini maka aku akan menjamin bahwa Kedua Guru Agung akan baik baik saja. " Ucap Yan Fei.


Ren Qixuan mengangguk dan tertawa lalu meninggalkan tempat itu, benar benar kata kata yang mengandung jebakan.


Di satu sisi dia mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada orang yang bisa melukai Kedua Guru Agung tapi dia tidak menjamin dengan keselamatan nyawa orang lain. Sudah jelas bahwa dia sedang merendahkan orang lain dengan sangat terang terangan tapi dengan posisinya sebagai Wakil Ketua Divisi Keamanan maka tidak ada yang berani untuk mencari masalah dengannya karena dia adalah Pejabat Kelas Dua.


Pantas saja dia tunduk dengan Guru Agung Zhou dan Lin Wuxin karena kedua orang itu adalah Pejabat Kelas Satu. Jika salah satu Guru Agung mengatakan bahwa kinerjanya buruk maka dia mungkin saja akan langsung dicabut di hari yang sama.


Orang seperti Yan Fei ini licik dan menyebalkan, benar benar tipe orang yang cocok untuk bekerja sama dengan Zhang Xiao.


Tapi, dengan adanya dua orang pembunuh yang datang ini juga baik adanya. Dengan begitu maka orang orang akan berpikir bahwa kematian Wang Yu An terkait dengan orang ini.


Sementara dia sendiri menjadi semakin jauh dari kecurigaan dan dia juga pada saat ini bersama dengan Kedua Guru Agung yang membuatnya tampak lebih tidak bersalah.


Ren Qixuan tersenyum di dalam hatinya dan berjalan ke dalam ruangan Lin Wuxin lalu duduk di kursinya.


"Siapapun yang bisa menang melawan ku , aku akan memberikan Kuas Bulu Kuda yang berharga ini. " Ucap Lin Wuxin.


"Baiklah, bagaimana jika Pangeran Kedelapan yang mulai terlebih dahulu ?" Tanya Guru Agung Zhou.


"Mohon maaf jika keterampilan ku tidak baik. " Jawab Jiu Xuanyi dan duduk di hadapan Lin Wuxin.


Permainan catur mereka sangat lama dan memakan waktu hampir dua jam. Tapi berakhir dengan kemenangan telak Lin Wuxin.


Ketika bermain catur maka orang orang akan lupa waktu, tidak terkecuali Guru Agung Zhou yang ikut seru dalam bermain ini bahkan tidak sadar kalau sekarang sudah pukul sepuluh lewat.


"Guru Agung Lin benar benar sesuai dengan reputasinya. " Ucap Jiu Xuanyi tidak marah ketika kalah.


"Pangeran hanya mengalami kurang fokus dibagian dua langkah terakhir. " Balas Lin Wuxin.


Pertahanannya dan rencananya, benar benar tidak bisa ditebak oleh orang lain. Tidak ada bentuk pasti, semuanya terus berubah.


Sehingga sejauh ini belum ada orang yang bisa mengalahkannya. Guru Agung Zhou adalah yang selanjutnya dan memainkan catur dengan perlahan lahan dan penuh dengan pertimbangan.


Ren Qixuan dengan mudah menemukan celah dalam serangan Guru Agung Zhou, jika dia bisa melihat celah ini maka Lin Wuxin juga sudah pasti bisa.


"Saudara Lin menjadi semakin ahli belakangan ini. " Ucap Guru Agung Zhou.


"Kamu terlalu memuji , aku hanya pria tua yang kesepian tanpa teman bermain. Sejak muridku meninggal, tidak ada yang menemaniku bermain lagi. " Balas Lin Wuxin.


Guru Agung Zhou tidak menjawab dan hanya menghela nafas sebelum akhirnya menyadari bahwa dia telah benar benar kalah telak dari Lin Wuxin.


"Saudara Lin, aku benar benar tidak bisa menang darimu. " Keluh Guru Agung Zhou, Zhou Ye.


"Zhou Ye, sudah lama sekali sejak kita bermain catur bersama. Kemampuanmu tampaknya telah menurun setelah melihat adanya pembunuh tadi." Ucap Lin Wuxin.


"Entahlah, aku merasa bahwa Akademi Kekaisaran tidak sama seperti dulu lagi. Ada terlalu banyak hal yang berubah termasuk keamanan dari Akademi Kekaisaran sendiri telah menurun sampai ke titik dimana penjahat dapat dengan mudah keluar dan masuk. " Balas Guru Agung Zhou dengan jujur.


"Tidak perlu terlalu dipikirkan, selanjutnya adalah Qixuan. Kamu harus menunjukkan kemajuan setelah terakhir kali bermain. " Ucap Lin Wuxin.


Ren Qixuan tidak menjawab dan menggantikan posisi Guru Agung Zhou untuk melawan Gurunya, Lin Wuxin.


Mereka bermain dengan serius dan Ren Qixuan sama sekali tidak berani untuk meremehkan gerakan demi gerakan yang dibuat oleh Lin Wuxin. Bahkan jika terkadang terlihat tidak berguna tapi sebenarnya itu adalah teknik pengalihan yang dia miliki.


Ren Qixuan tidak bisa cepat berpuas diri dan keringat mulai mengalir ketika satu jam telah berlalu, semakin lambat dia mengambil keputusan.


Matanya semakin menyipit dan dahinya semakin mengerut, dia berpikir dengan sangat keras untuk mendapatkan cara untuk mengalahkan Lin Wuxin.


Ren Qixuan mengambil bidaknya dan menaruh ke depan dengan yakin. Tidak terasa, sekarang dua jam telah berlalu dan bidak mereka telah tersisa sedikit.


Pada saat ini Lin Wuxin sendiri juga sudah tidak bisa duduk dengan santai lagi. Keringat di dahinya mulai mengalir seperti anak sungai.


Pada saat ini, bahkan untuk mengambil langkah memerlukan waktu sepuluh menit. Bahkan Zhou Ye dan Jiu Xuanyi ikut tegang dengan permainan kedua orang ahli ini.


Mereka melupakan dengan identitas Ren Qixuan yang merupakan seorang gadis dari desa yang datang kemari untuk mencari pendidikan dan jabatan.


Ren Qixuan memutar otaknya dengan keras sampai sampai matanya bahkan tidak sempat untuk berkedip, di otaknya tergambar jelas apa saja langkah yang bisa dia ambil.


Dia menarik nafas dalam dalam dan memilih untuk mengambil resiko, lalu dilanjutkan oleh Lin Wuxin yang terlihat yakin dengan langkah miliknya secara tidak sadar jatuh ke dalam jebakan Ren Qixuan.


Ren Qixuan menahan nafasnya dan melangkahkan salah satu bidaknya, ketika Lin Wuxin sadar, dia menyadari bahwa dia telah kalah.