
Lin Wuxin merasa tidak percaya dengan tembok langit yang dia bangun benar benar hancur berkeping-keping, selama ini belum ada yang bisa mengalahkannya paling paling hanya menahannya untuk imbang. Tapi sekarang, dia kalah telak dengan seorang gadis yang berusia 15 tahun.
Zhou Ye bertepuk tangan dengan meriah ketika melihat kemenangan yang dimiliki oleh Ren Qixuan.
"Benar benar seorang gadis yang berbakat, apakah ini benar benar yang pertama kalinya bagimu ?" Tanya Zhou Ye.
"Tidak, yang pertama kali adalah ketika aku tiba disini dan Guru Lin mengajakku untuk bertanding. Aku mempelajari gerakan gerakan yang dibuat oleh Guru Lin dan bertaruh. Ini juga dibantu oleh Guru Agung Zhou dan Pangeran Kedelapan yang sudah bertanding terlebih dahulu membuat tenaga Guru Agung Lin sudah terkikis. " Ucap Ren Qixuan dengan rendah hati.
"Itu memang kamu yang sangat hebat sekali, kamu masih muda dan tidak memiliki banyak pengalaman tapi kamu sangat pintar. " Puji Zhou Ye dengan berbinar binar.
"Menerima pujian dari Guru Agung seperti itu membuatku merasa sangat bangga. Tolong jangan terlalu banyak memujiku, jika tidak maka mungkin aku akan terbang dan sulit untuk mendarat lagi. " Canda Ren Qixuan.
"Gadis kecil, kamu benar benar beruntung. " Ucap Lin Wuxin akhirnya membuka suara setelah kemenangan beruntunnya.
Lin Wuxin mengambil kotak Kuas Bulu Kuda miliknya dan memberikannya kepada Ren Qixuan dengan tatapan yang rumit.
"Aku sepertinya harus belajar lebih banyak darimu, Nona Ren. " Balas Jiu Xuanyi.
"Pangeran Kedelapan terlalu memuji, takutnya kemampuan Qixuan tidak sebaik yang Pangeran kira. Pada saat ini sudah larut, Qixuan izin kembali ke kamar. " Ucap Ren Qixuan dengan sopan dan melirik ke arah jam yang sudah pukul dua.
Ketika Guru Agung Zhou tahu bahwa mereka tidak tidur sampai pukul dua membuatnya merasa panik dan meminta semua orang untuk langsung kembali ke kamar masing masing.
Ren Qixuan mengalami perasaan yang tidak pernah dia alami di kehidupan masa lalu. Ternyata, perkiraannya terhadap Zhou Ye salah, ternyata pria itu tidak sekaku yang dia bayangkan.
Dia mengira bahwa Zhou Ye adalah orang yang menyebalkan dan tidak fleksibel tapi pada saat ini dia memahami satu hal, bukan Zhou Ye yang tidak fleksibel melainkan dia yang tidak mengenal Zhou Ye dengan baik.
Ren Qixuan duduk di dalam kamarnya dan melihat Kuas Bulu Kuda yang dia dapatkan hari ini dengan penuh usaha, dia bisa melihat ketidakrelaan milik Lin Wuxin ketika memberikannya Kuas Bulu Kuda ini.
Dia sebenarnya tahu bahwa Lin Wuxin sebenarnya hanya ingin menggertak mereka dengan menawarkan Kuas Bulu Kuda ini karena dia sangat percaya diri dengan kemampuannya.
Tapi, ternyata Lin Wuxin membuat perkiraan yang salah karena pada akhirnya dia kalah dan hal ini menyebabkannya kehilangan Kuas Bulu Kuda.
Paling tidak, kuas yang indah ini telah menjadi miliknya kembali. Tapi, alih alih rasa bahagia karena mendapatkan Kuas Bulu Kuda, dia merasa lebih bahagia ketika dia berhasil memenangkan Gurunya sendiri.
"Guru, kamu benar benar berhasil dalam mendidik seorang murid. " Gumam Ren Qixuan.
Dia merasa sangat bahagia dengan kemajuan yang dia miliki, dia akhirnya menyadari bahwa dalam permainan catur, dia tidak bisa terus bertahan dan menyerang.
Ada saatnya dia harus sedikit lebih mengalah membuat musuh lengah dan dia akan mengambil kesempatan dari itu, hal yang sama juga akan berlaku di dalam medan perang.
Dia penasaran, jika menggunakan ini pada Zhang Xiao apakah akan berguna ? Orang seperti Zhang Xiao yang bahkan tidak bisa berpikir dengan baik, apakah layak untuk menjadi objek percobaan pertama miliknya ?
"Bisa dikatakan bahwa itu telah kembali ke tangan pemiliknya. " Bisik Lin Wuxin lalu menggulung kembali lukisan usang itu.
Lalu dia mendekatkan nya ke lilin dan api mulai menjalar di seluruh lukisan usang itu, membakarnya sampai tidak menyisakan apapun.
Ketika sudah sedikit, dia melempar gulungan kertas yang tersisa itu ke dalam tungku api dan membiarkannya menjalar.
Lin Wuxin menyeringai ketika lukisan usang itu dihancurkan. Setelah itu, dia memadamkan lilinnya sehingga orang orang mengetahui bahwa dia sedang tidur.
Keesokan harinya,
Ren Qixuan bangun pagi pagi sekali karena ada yang mengetuk pintunya dan dia langsung pergi untuk mandi walaupun dia sangat mengantuk.
Lalu dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang disediakan oleh Akademi Kekaisaran dan seluruh rambutnya diangkat seperti seorang pria atau seperti seorang sarjana.
Ren Qixuan keluar dari kamarnya dengan ekspresi yang masih sangat mengantuk. Dia memakan sarapan yang diantar ke kamarnya hanya sebagian dan akan dia makan lagi nanti siang.
Ketika dia melihat bahwa sekarang sudah hampir pukul tujuh, dia langsung berlari ke ruang ujian dan kali ini bukan hanya ada dia dan kedua Guru Agung melainkan ada Jiu Xuanyi juga.
Mereka duduk dibatasi dengan satu papan kayu yang membuat mereka tidak bisa saling melihat saat ujian.
"Nona Ren, kamu tampak gagah juga dengan pakaian pria. " Sindir Jiu Xuanyi.
"Terima kasih atas pujian dari Pangeran. Pangeran mengenakan pakaian itu juga tampak sangat anggun dan cantik. " Balas Ren Qixuan menyindir Jiu Xuanyi yang duduk dengan tangan yang menyangga kepalanya seolah olah dia bisa tumbang kapan saja.
"Soal yang kalian berdua kerjakan berbeda. " Ucap Zhou Ye.
Ren Qixuan menganggukkan kepalanya dan mulai mengerjakan soalnya dengan serius dan teliti, kali ini dia tidak main main bahkan dia tidak tidak menoleh sekalipun pada Jiu Xuanyi.
Ren Qixuan memperhatikan setiap kata kata, jangan sampai membuat kesalahan yang tidak diperlukan. Bahkan jika dia pernah menjadi seorang murid paling pintar tapi sudah satu tahun berlalu, sebagian besar pelajaran Hhha sudah dia lupakan.
Sehingga dia harus serius dan teliti dalam mengerjakan setiap soal yang menjebaknya ini.
Ren Qixuan kali ini menjadi lebih serius dibandingkan sebelumnya, jika sebelumnya masih bisa dikerjakan olehnya dengan mudah tapi kali ini telah berubah dan menjadi lebih sulit.
Ren Qixuan berada di ruangan yang sunyi ini selama tujuh jam tanpa makan dan minum sama sekali sebelum akhirnya dia menyatakan bahwa dirinya telah selesai.
Zhou Ye dan Lin Wuxin memeriksa lembar kerja miliknya dan menganggukkan kepala mereka sementara Jiu Xuanyi juga sudah selesai dengan pekerjaannya dan sengaja untuk menunggunya.
Ini baru hari kedua dan masih ada lima hari lain, bahkan jika seseorang pintar, masih belum tentu bisa melewati Ujian Yi ini.