
Ren Qixuan menyeringai melihat sikap pengecut milik Liu Wanye ini yang sekarang sangat waspada dengan dirinya padahal teman yang dia maksud ini sama sekali tidak ada.
Dia berpikir bahwa dia harus bertaruh, jika Liu Wanye sedikit lebih berani dan menantangnya untuk meminta bantuan dari teman fiktif nya ini maka Ren Qixuan tentu saja tidak berdaya dan menyedihkan.
Tapi salahkan diri sendiri karena Liu Wanye ini benar benar pengecut sampai sampai hal semacam ini saja bisa menakutinya, tapi yang pasti adalah Ren Qixuan tidak salah menebak.
Dia bukan orang yang impulsif, tidak akan terpancing oleh hal hal kecil jadi dia sudah mempertimbangkan bagaimana sifat dan kebiasaan Liu Wanye sebelumnya jadi hal ini tidak begitu mengejutkan.
Tapi bagaimanapun, semua hal memiliki pengecualian dan cara yang dia lakukan ini termasuk salah satu cara yang beresiko.
"Kalau begitu maka Tuan Gubernur Liu harus memberikanku peta terkait daerah yang rawan banjir dan kondisi pada saat ini. " Ucap Ren Qixuan dengan tenang tapi penuh tekanan.
"Kalian keluar dulu. " Ucap Liu Wanye kepada selir selirnya dan mereka dengan patuh langsung berjalan keluar.
Ren Qixuan duduk di depan Liu Wanye dengan tenang dan ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh pria tua ini.
Apakah sebuah kejujuran atau kebohongan. Sebenarnya, Kaisar bukannya tidak tahu dengan pejabat sepertinya ini hanya saja tidak ada yang membawa kasus ini ke atas dan tidak ada bukti yang jelas.
Jadi, jika Liu Wanye memutuskan untuk tidak bertindak dengan bijaksana maka jangan salahkan dia karena dia tidak akan segan segan untuk menyingkirkan bidak Yue Ming yang menganggu jalannya.
Jika dia membawa keluarga Han maka mungkin dia akan segan untuk bertindak semacam ini tapi sekarang dia sudah mati dan orang-orang ini masih hidup dengan baik.
Apakah dia harus tetap duduk diam dan menonton dengan tenang ? Tentu saja tidak, itu bukan gayanya. Dia tidak suka untuk menjadi sisi yang pasif.
Hanya saja semuanya memiliki tahapan masing masing , Ren Qixuan memandang ke arah Liu Wanye.
Liu Wanye mengeluarkan sebuah peta dan melingkari beberapa tempat yang penuh dengan keluhan dari masyarakat.
"Dari semuanya, ada 17 Desa yang terkena dampak banjir kali ini dan enam di antaranya adalah tempat penanaman pangan Provinsi Selatan. " Ucap Liu Wanye.
Ren Qixuan mengamati dari ketujuh belas desa ini mereka semua memiliki kondisi tanah yang berbeda beda, hanya satu kesamaannya yaitu : berada di dekat sungai Kuning.
Ini semua adalah dampak dari meluapnya Sungai Kuning dan hal ini menjadi semakin parah dan parah di setiap tahunnya dan tidak ada tanggapan dari Ibukota.
Setiap tahun dapat dilakukan pengungsian warga yang terdampak, hanya saja berapa banyak orang yang mati dan menderita ? Berapa banyak tenaga yang harus dikerahkan ?
Han Yaoling sudah mengusulkan untuk membangun sebuah bendungan yang menutupi Sungai Kuning dengan anggaran lebih dari 10 Juta Tael Emas, tentu saja hal ini membuat semua orang ketakutan.
Bahkan beberapa orang diam diam menggunjing Han Yaoling dari belakang dan mengatakan bahwa dia sangat serakah dalam melakukan korupsi.
Han Yaoling tidak maju untuk membenarkan diri sendiri, tapi Han Qixuan marah dan mengatakan semuanya di hadapan umum bahwa Ayahnya tidak melakukan itu.
Ren Qixuan memikirkan hal ini dan menahan nafasnya sejenak sebelum akhirnya menghembuskannya kembali.
Semua itu sudah menjadi masa lalu hanya saja masih sangat sulit baginya untuk menangani dendam ini.
"Tuan Gubernur Liu tenang saja mengenai hal ini, bagaimana dengan masalah peta ini ? Apakah aku boleh membawanya ?" Tanya Ren Qixuan tersenyum mengerikan.
Bagaimana mungkin ratusan orang bekerja dan masih tidak bisa melakukan apa apa ? Tentu saja Liu Wanye berbohong.
"Tentu saja, tentu saja. Peta ini adalah hal yang penting tapi ini untuk kepentingan masyarakat. " Jawab Liu Wanye.
"Tuan Gubernur Liu, aku adalah orang yang tegas maaf jika membuat bawahan mu mungkin sedikit tersinggung. Hanya saja aku mendengar bahwa mereka dilatih dengan keras ? Tentu saja tidak akan bermasalah denganku. " Ucap Ren Qixuan.
"He he he, tentu saja tidak. Mereka semua terbiasa menghadang panas dan dingin, mereka dilatih dengan sangat keras. " Balas Liu Wanye tertawa pahit.
Ren Qixuan menganggukan kepalanya dan berjalan keluar lalu wakil divisinya yang baru, Wu Zilin berjalan mendekatinya.
"Kakak, bagaimana ?" Tanya Wu Zilin.
Itu adalah dia sendiri yang memerintahkan untuk memanggilnya sebagai kakak dengan begitu maka mereka terasa lebih akrab.
"Kita harus menjadi lebih tegas, siapa yang tidak bekerja maka cambuk mereka sebagaimana aturan di Divisi Zhengyi kita !" Perintah Ren Qixuan dengan wajah dingin.
"Baik, kakak !" Balas Wu Zilin dengan tegas dan berjalan keluar.
Sekumpulan orang berdiri di halaman Liu Wanye dengan wajah yang malas malasan, mereka bahkan tampak seperti seorang Tuan Muda dari keluarga bangsawan.
"Hari ini, kalian semua akan ikut aku ke Desa Chi untuk mengevakuasi warga dan juga mengobati mereka serta membawa pasokan pangan yang terjebak dan bisa diselamatkan. " Ucap Ren Qixuan.
Tapi tidak ada balasan antusias dari mereka dan hanya menatapnya seolah olah dia adalah anak kecil yang tidak berguna.
"Kamu hanya seorang wanita, untuk apa bertindak begitu keras ? Kenapa tidak kembali dan menghangatkan ranjang ku ?" Tanya seorang pengawal kediaman gubernur.
Plakkkkk !
Sebuah cambuk melesat dan mematahkan kaki pemuda itu sampai jatuh bersujud di hadapan Ren Qixuan.
"Arghhhh ! Tidakkkk ! Kakiku !" Teriak pria itu dengan kesakitan dan memukul tanah sebelum akhirnya pingsan.
Wu Zilin kembali ke posisinya dengan wajah yang dingin dan tidak tersentuh.
"Lihat, siapapun yang bertindak dengan tidak tulus maka bisa menyusul dia. Orang yang tidak bekerja hanya orang tua, orang sakit dan anak anak. Jika kalian tidak termasuk dalam itu maka kalian harus bekerja, jika kalian tidak ingin bekerja maka itu mudah. Aku akan membuat kalian sakit. " Ucap Ren Qixuan dengan senyum dingin.
Semua orang langsung menegakkan punggung mereka dengan cepat cepat karena takut dengan ancaman yang diberikan oleh Ren Qixuan. Semua orang ini pengecut dan hanya bisa mengikuti sifat dari Tuannya yang tidak berbeda jauh jadi hal ini tidak sepenuhnya mengherankan.
Sebagaimana Tuannya maka seperti itulah sifat pelayannya, Ren Qixuan tidak heran dan sama seperti Tuannya, mereka harus dicambuk terlebih dahulu.