
Ren Wang membawa satu kotak kayu yang tergantung di punggungnya dan dia berjalan ke dalam ruangan sebelum akhirnya kembali menoleh ke belakang dengan senyum yang agak gugup.
" Semangat !" Seru mereka dengan bahagia agar memberikan kepercayaan diri pada Ren Wang.
Ren Wang menganggukkan kepalanya dengan penuh tekad dan berjalan ke dalam ruangan, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menyelesaikan ujian dengan hasil yang memuaskan.
Dia tidak boleh mengecewakan keluarganya sendiri yang sangat percaya dan bergantung padanya, apalagi Ren Wang sudah mendengar bahwa Ren Qixuan ingin memasuki pengadilan, maka dari itu dia harus bisa menjadi sandaran bagi Ren Qixuan ketika berada di dalam pengadilan.
Mereka menunggu selama beberapa waktu disana dan masing masing orang tua diberikan tempat untuk duduk dan menunggu.
"Aku ingin ke toilet. " Ucap Ren Qixuan.
"Apakah kamu bisa pergi sendiri ?" Tanya Ren Xing.
"Tentu saja bisa. " Jawab Ren Qixuan.
"Hati hati, jangan sampai tersesat. " Balas Ren Xing.
Ren Qixuan menganggukkan kepalanya dan pergi untuk ke toilet , bagaimana mungkin dia akan tersesat.
Ketika dia dihadapkan pilihan ke kanan atau ke kiri, maka dia memilih untuk ke kiri dimana toilet berada.
Dia melihat ke kanan lalu menemukan bahwa ruangan Wang Yu An masih tidak berubah sama sekali. Dia menyeringai, ketika waktunya tiba maka Wang Yu An tidak akan bisa pergi dari cengkraman nya.
Anggap saja bahwa Wang Yu An adalah peringatan pertama darinya untuk Zhang Xiao, sekarang bidak milik Zhang Xiao sudah dilumpuhkan.
Maka dari itu dia penasaran jika Zhang Xiao mendapati bahwa Wang Yu An sudah dibunuh olehnya.
Seorang bawahan yang tidak setia seperti Wang Yu An tidak pantas untuk menjadi Pengajar di Akademi Kekaisaran yang Agung.
Ren Qixuan kembali ke tempat duduknya dan menunggu sementara Ling Yu berbincang dengan orang tua sarjana lainnya.
Sebenarnya, ruang tunggu ini terlalu sempit dan ada banyak sekali orang yang menunggu. Yang tidak diketahui oleh orang orang ini adalah, ruang tunggu sendiri dibagikan menjadi tiga kelas.
Satu adalah ruang tunggu bagi para keluarga murid yang berasal dari desa seperti mereka sementara yang lain adalah ruang tunggu bagi para keluarga murid yang berasal dari Ibukota.
Yang terakhir, merupakan yang terbaik, tempat bagi keluarga bangsawan yang menunggu putranya. Tidak ada satupun murid perempuan di Akademi Kekaisaran kecuali Han Qixuan.
Sudah tiga jam tapi masih belum ada yang keluar membuatnya merasa agak bosan sehingga dia berjalan jalan sampai tanpa sadar langkah kakinya membawanya ke sebuah ruangan yang paling sepi dan dingin.
Ren Qixuan merasa bahwa langkah kakinya membeku untuk sejenak , di dalam ini adalah seseorang yang sangat dikenal olehnya.
Orang yang sakit sakitan dan tidak mencampuri urusan duniawi, orang mengajarinya membaca dan menulis selain keluarganya, itu adalah Gurunya, Lin Wuxin.
Selama dia hidup di kehidupan sebelumnya, dia hanya pernah mengangkat seseorang menjadi guru. Lin Wuxin adalah seorang pria tua yang kesepian dan sakit sakitan.
Dia adalah salah satu Guru Agung bersama dengan Zhou Ming. Semua orang hormat sekaligus segan padanya, ketika terakhir kali dia bisa melihat orang di papan penggantungan.
Dia bisa melihat Lin Wuxin menatapnya dari kejauhan dengan tatapan yang rumit. Dia sendiri tidak mengerti dengan perasaan Lin Wuxin, pria itu hidup menyendiri tanpa anak dan istri, juga tanpa keluarga.
Tidak ada yang mengetahui asal usulnya, orang orang hanya mengetahui bahwa pengetahuannya sedalam samudera. Bahkan ada beberapa orang yang mengatakan bahwa dia memiliki kemampuan untuk meramal dan mengetahui beberapa jenis sihir hitam.
"Masuklah, kamu sudah berdiri cukup lama disana. " Ucap suara dari belakang.
Ren Qixuan terhenyak dengan suara ini dan langsung menoleh ke belakang, dia melihat bahwa pria tua ini masih sama dengan yang ada di ingatannya.
"Mohon maaf, tapi aku tersesat. " Ucap Ren Qixuan tersenyum berusaha untuk menutupi rasa gugupnya.
"Karena kamu sudah disini maka bisa dianggap kita saling berjodoh, temani aku bermain catur sekali. " Ucap Lin Wuxin.
"Tapi, aku tidak pandai dalam bermain catur. " Balas Ren Qixuan.
"Ketidak pandaian mampu diubah dengan tekad, tidak ada alasan lain untuk itu. " Ucap Lin Wuxin dan membuka pintu.
"Permisi, apakah kamu guru disini ? Mohon maaf jika menyinggung , aku berasal dari Desa dan tidak memahami tata krama di Ibukota terutama di Akademi Kekaisaran. Mohon maaf jika aku menyinggung perasaan Guru. " Ucap Ren Qixuan.
"Tidak, aku bukan Guru. Aku hanya pengajar kecil disini, namaku Wuxin. Kamu bisa memanggil namaku. " Balas Lin Wuxin.
Ren Qixuan berjalan masuk dan melepaskan sandalnya lalu duduk di depan Lin Wuxin, pria itu mengambilkan cangkir dan menuangkan teh.
Ren Qixuan menerima teh itu dan menyesapnya sedikit , dia merasa bahwa seluruh tubuhnya menjadi hangat dan sangat nyaman.
"Sangat baik sekali, terima kasih. " Ucap Ren Qixuan.
"Apakah kamu tidak takut bahwa aku akan meracunimu ?" Tanya Lin Wuxin mengeluarkan meja catur nya.
"Aku merasa bahwa kamu adalah orang yang baik jadi aku tidak curiga padamu. " Jawab Ren Qixuan mulai menyusun bidak caturnya.
"Kamu datang kemari karena keluargamu sedang ujian ?" Tanya Lin Wuxin.
"Ya, kakak angkatku yang paling besar sedang ujian. " Jawab Ren Qixuan.
"Siapa nama kakakmu ?"Tanya Lin Wuxin.
"Kakakku ? Namanya adalah Ren Wang. " Jawab Ren Qixuan.
"Siapa namamu ? Kamu belum memperkenalkan diri sejak tadi. " Ucap Lin Wuxin.
"Aku memiliki marga Ren, sementara namaku adalah Qixuan yang berarti orang terpilih. Orang yang memberi namaku ini adalah kakak ku, Ren Wang. Dia mengatakan bahwa namaku terinspirasi dari nama Nona Han. " Balas Ren Qixuan.
"Hm , nama yang sama persis. Kamu juga memiliki kepribadian yang mirip dengannya, dahulu kala, dia adalah muridku. Satu satunya muridku, dia awalnya juga tidak memiliki tata krama sama sepertimu. Dia berdiri di depan pintu ku dan menunggu aku keluar. " Ucap Lin Wuxin.
"Sebenarnya, kenapa Nona Han bisa dihukum seperti itu ? Aku mendengar selama ini bahwa orang orang memiliki kesan yang baik padanya. " Ucap Ren Qixuan penasaran dengan sudut pandang gurunya.
"Tidak ada yang mengetahui dengan jelas apa yang terjadi pada saat itu. " Ucap Lin Wuxin dengan acuh tak acuh.
"Sebagai muridmu, apakah kamu percaya bahwa dia dan keluarganya melakukan pemberontakan ?" Tanya Ren Qixuan.
"Ya dan tidak, tidak ada yang pasti di dunia ini. " Jawab Lin Wuxin.
"Sebagai gurunya, kamu termasuk memiliki hati yang dingin. " Balas Ren Qixuan tertawa pahit.