The Legend Of Qixuan

The Legend Of Qixuan
32. Pembunuh



"Entahlah, kamu mirip dengan seseorang yang aku kenal. Kamu mirip dengan muridku, tiga hari lagi adalah peringatannya yang ke seratus, apakah kamu bersedia untuk menemaniku menyapu makamnya? "Tanya Lin Wuxin.


"Menyapu makam Keluarga Han? Apakah hal ini diperbolehkan? " Tanya Ren Qixuan.


"Bagaimanapun itu hanya papan peringatan, tidak akan menimbulkan ancaman bagi Yang Mulia. " Jawab Lin Wuxin.


Ren Qixuan tidak menjawab tapi juga tidak menolak, dia merasa agak rumit. Tapi, paling tidak tubuh keluarganya tidak dibuang ke hutan dan dimakan oleh hewan buas.


Mereka tiba di ruangan Lin Wuxin dan disana sudah ada orang lain, bukan hanya dirinya dan Lin Wuxin melainkan juga ada seorang pria muda yang tampak elegan.


Itu adalah Jiu Xuanyi, garis wajahnya yang tegas dan tatapan matanya yang sendu membuatnya tampak seperti porselen yang mudah hancur. Membuat orang orang yang melihatnya akan mendapatkan kesan rapuh dan ingin menjaganya.


Selain itu juga ada Guru Agung Zhou yang datang juga untuk bermain catur. Ren Qixuan tidak menyangka bahwa pria tua ini, Lin Wuxin, benar benar gila!


"Karena sudah disini maka ayo bertaruh. Siapapun yang berhasil menang dariku dua kali maka aku akan memberikan ini. " Ucap Lin Wuxin mengeluarkan sebuah kuas yang sangat indah dengan ukiran phoenix.


Pada saat yang sama, Ren Qixuan langsung mengenang masa lalunya bersama dengan Lin Wuxin.


Flashback


"Guru! Aku mendengar bahwa guru akan memberi muridnya hadiah, kenapa aku tidak pernah mendapatkan hadiah dari guru? Apakah itu karena aku tidak bisa diam?" Tanya Han Qixuan muda dengan bingung.


"Itu semua karena gurumu ini miskin , jika kamu sudah dewasa maka takutnya kamu yang harus memberikan hadiah kepadaku. " Jawab Lin Wuxin.


"Baik, kalau begitu maka aku akan memberikan hadiah kepada guru setelah aku dewasa dan mampu untuk mencari uang! " Seru Han Qixuan dengan senang.


Tidak lama berselang, Han Qixuan berhasil mengumpulkan uang dengan bertaruh di rumah judi yang mengejutkan semua orang dan membeli sebuah kuas terbaik dari pelelangan.


Ternyata semua itu untuk gurunya, Lin Wuxin. Han Qixuan mungkin adalah murid pertama yang memberikan hadiah kepada gurunya alih alih guru yang memberi hadiah kepada muridnya.


Flashback end


Ren Qixuan menatap kuas itu yang membangkitkan kembali kenangan yang sudah lama dia kubur dalam dalam. Dia mengingat saat saat dimana dia menakuti orang orang di rumah judi dengan pedangnya.


"Kalau begitu maka aku tidak akan sungkan, aku mendengar bahwa kuas itu berasal dari bulu kuda terbang yang ajaib. " Ucap Guru Agung Zhou dan Lin Wuxin menganggukkan kepalanya setuju.


Tepat ketika mereka akan menentukan siapa yang melawan siapa, tiba tiba mereka mendengarkan teriakan dari depan. Mereka berempat langsung berdiri dan Ren Qixuan berjalan ke depan untuk memeriksa.


"Ada apa? " Tanya Ren Qixuan pada seorang pelayan.


"Nona Ren! Untuk saat ini tetap diam di ruangan mu, ada seorang pembunuh. Seorang pelayan di halaman belakang tiba tiba terbunuh. Kami sedang menghubungi Divisi Keamanan dengan segera. " Ucap pelayan itu dengan panik.


"Baik, hubungi Divisi Keamanan dengan segera. Jangan sampai menunda dan menyebabkan para pengajar dalam bahaya!" Perintah Ren Qixuan.


Pelayan itu menganggukkan kepalanya dan pergi dari sana dengan panik. Ren Qixuan berdiri di depan pintu dan menutup pintu dengan perlahan.


"Jika mengatakan seperti itu, bukankah kita adalah tempat yang paling beresiko? " Tanya Lin Wuxin dengan santai sekali.


"Aku tidak termasuk, bagaimanapun aku hanya seorang murid miskin dari Desa. " Jawab Ren Qixuan.


"Aku juga tidak termasuk, bagaimanapun aku hanya seorang pangeran penyakitan yang baru saja tiba. " Balas Jiu Xuanyi dengan santai menyeka rambutnya.


"Aku juga tidak mungkin, aku hanya seorang pria tanpa pekerjaan tetap yang tidak mempunyai keluarga. " Ucap Lin Wuxin tanpa tahu malu.


Melihat sekelompok orang tidak tahu malu ini membuat Guru Agung Zhou tidak mampu untuk berkata kata lagi.


Tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu dan Ren Qixuan berniat untuk mengerjai orang orang tua ini.


"Jangan jangan itu adalah pembunuhnya? " Tanya Ren Qixuan menakut nakuti.


"Tidak mungkin, pembunuh yang begitu sopan. " Jawab Jiu Xuanyi.


"Jangan jangan dia lulusan dari Akademi Kekaisaran sehingga sopan santunnya sangat tinggi? " Tanya Lin Wuxin.


Guru Agung Zhou merasa sangat putus asa dengan ketiga orang yang ada di sekitarnya ini, tapi pada akhirnya Ren Qixuan berjalan ke depan dan membuka pintu.


Dua di antara mereka adalah orang tua yang sudah renta sementara yang lain adalah pria muda yang penyakitan dan akan tumbang setelah diterpa angin malam. Dibandingkan mereka semua , yang paling baik adalah Ren Qixuan.


Ketika dia membuka pintu ternyata itu adalah pelayan yang tadi.


"Nona Ren dan Guru Agung bisa tenang, pada saat ini pembunuhnya sudah tertangkap. " Ucap pelayan itu.


"Minta semua pengajar dan yang lainnya untuk berkumpul di ruang tengah. " Balas Guru Agung Zhou akhirnya bisa bernafas lega.


Mereka semua keluar dan berkumpul di ruang tengah dan semua pengajar lain tampak berkeringat dan ketakutan, hanya mereka berempat yang tidak terlalu tegang. Tambah lagi mereka bahkan sempat saling bercanda terlebih dahulu.


Wakil Kepala Divisi Keamanan , Yan Fei bahkan datang secara pribadi untuk melihat kondisi mereka dan menangkap pencuri.


"Guru Agung tenang saja, pada saat ini semua dalam kondisi yang aman. Kedua pembunuh ini ditangkap di kamar Pangeran Kedelapan dan Guru Agung Zhou. " Ucap Yan Fei menjilat di hadapan Guru Agung Zhou.


"Sudah ku kira , seorang pria tua tanpa istri dan anak sepertiku tidak akan menjadi sasaran. " Balas Lin Wuxin dengan menyebalkan.


"Tidak sia sia Guru Agung Lin mengajakku untuk bermain catur. " Ucap Jiu Xuanyi sambil mengelus dadanya dengan senyum palsu.


Ren Qixuan melihat sekelompok orang aneh ini yang tidak akan bisa ditebak bagaimana cara mereka untuk berpikir.


"Wakil Ketua Yan, bagaimana dengan di masa depan ? Apakah kamu sudah mengetahui apa motifnya ?" Tanya Guru Agung Zhou mengabaikan dua orang aneh ini.


"Terkait dengan apa yang aku dapatkan dari kedua orang ini, mereka mengatakan bahwa mereka mendapatkan tugas untuk membunuh Pangeran Tawanan dan ingin menyandera Guru Agung tapi mereka tidak sengaja diketahui oleh pelayan di halaman belakang sehingga dibunuh. Untungnya Guru Agung dan Pangeran Kedelapan berada di ruangan Guru Agung Lin sehingga pembunuh tidak berhasil menemukan kalian. Ini memang merupakan kesalahan dari pihak kami, aku akan mewakili kelalaian bawahan ku untuk meminta maaf kepada Guru Agung dan Pangeran. " Ucap Yan Fei ingin berlutut tapi dengan cepat di tahan oleh Guru Agung Zhou.