
"Tenangkan dirimu, bangun cepat !" Seru Zhou Ye dengan panik ketika melihat seluruh tubuhnya penuh dengan luka. Sementara Pangeran Kedelapan juga sama halnya dengan Ren Qixuan.
Kondisinya bahkan tidak lebih baik dibandingkan oleh Ren Qixuan sehingga dua orang pengawal membawanya turun dari kereta kuda dan Zhou Ye memapahnya untuk masuk ke dalam Akademi Kekaisaran.
"Apakah kamu tidak bertemu dengan Putra Mahkota ?" Tanya Zhou Ye dengan bingung.
"Putra Mahkota datang untuk mencari kami ? Kami benar benar tidak bertemu dengannya , kami hidup kelaparan dan kedinginan selama empat hari di dalam hutan. Kondisinya sangat mengerikan sampai sampai kami berpikir bagaimana jika suatu hari kami meninggal di dalam hutan. Apakah ada yang mengetahui posisi kami ?" Tanya Ren Qixuan sembari menangis yang dibuat buat.
Zhou Ye yang melihat ini menjadi semakin iba dengan anak ini. Di mata Zhou Ye, Ren Qixuan tidak lebih dari anak berusia 16 tahun yang terpaksa untuk mendapatkan posisi yang mengerikan ini.
Anak manapun pasti akan ketakutan dan menangis ketika bertemu dengan orang yang dia percayai.
"Aku akan membawa kalian berdua untuk menemui Kaisar, ketik matahari terbit maka Kaisar pasti sudah akan tiba kembali di Istana. " Ucap Zhou Ye.
"Ya, yang paling penting adalah saat ini aku sudah aman. Aku benar benar sangat ketakutan guru, mereka mengikat dan mengancam ingin membunuh kami. Tapi, kami bisa kabur berkat penduduk desa yang baik hati pada kami. Orang ini jahat dan berhati hitam, dia menyewa sebuah desa yang tidak bersalah untuk menyekap kami berdua tapi karena mereka sudah tahu maka mereka diam diam membebaskan kami. " Ucap Ren Qixuan.
"Kalau begitu maka Desa ini akan diberikan penghargaan atas kejujuran, mereka tidak tahu akan niat jahat orang ini tentu saja bukan hal yang harus disalahkan pada mereka dan mereka sudah menebus kejahatan mereka. Aku akan mengatakan hal ini kepada Yang Mulia terutama ketika Yang Mulia sudah kembali dan melihat bahwa kamu bekerja dengan sangat baik. " Ucap Zhou Ye dengan bangga.
"Qixuan, istirahatkan dirimu dan buat dirimu nyaman. Ketika pagi hari tiba, Guru akan memanggilmu. " Ucap Lin Wuxin.
"Aku pamit dulu, Guru Agung. " Balas Ren Qixuan setuju dan melarikan diri dari tempatnya.
Dia tahu bahwa Lin Wuxin adalah orang yang berhati dingin tapi anehnya bahkan dengan cerita yang begitu sedih tidak mampu untuk membuat hatinya tergerak.
"Guru, sedingin apa hati yang kamu miliki ? Mungkin ketika aku mengangkatmu menjadi guru, itu adalah kesalahanku. " Gumam Ren Qixuan sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian menjadi lebih baik.
Lalu dia berjalan ke kamar perawatan dan melihat bahwa dua orang tabib sedang memeriksa Jiu Xuanyi.
"Nona, ini.... " tabib itu ingin mengusirnya tapi tidak enak hati terutama ketika melihat Zhou Ye bertindak sangat baik padanya.
"Aku hanya ingin menonton dari samping, jangan khawatir. " Ucap Ren Qixuan dan tabib itu tidak memiliki cara untuk mengusirnya lagi sehingga hanya bisa membiarkan Ren Qixuan menonton dari samping.
Ren Qixuan benar benar duduk di samping tanpa suara atau sekalipun bertanya sampai sampai kedua tabib itu melupakan Ren Qixuan yang duduk di ujung ruangan sementara disisi lain, Lin Wuxin membuka sebuah surat merpati.
"Desa yang dimaksud oleh Qixuan, sudah musnah. " Bisik Lin Wuxin dengan wajah pucat.
"Apakah karena Putra Surga ?" Tanya Zhou Ye dengan agak pucat.
Lin Wuxin menganggukkan kepala dan Zhou Ye mengerti bahkan tanpa perlu penjelasan dari Lin Wuxin.
"Membunuh begitu banyak orang dalam sekejap adalah kejahatan besar dan harus dihukum tidak perduli apa posisinya. " Ucap Zhou Ye.
"Hanya mengandalkan kita berdua maka takutnya tidak akan cukup. " Balas Lin Wuxin.
"Apakah kamu berpikir bahwa ingin memberontak ?" Tanya Zhou Ye dengan tatapan tajam.
"Kamu memiliki pemikiran yang lurus tidak tahu bahwa orang orang itu sudah mengincarmu untuk waktu yang lama. Kamu menganggap dia sebagai rekan kerja tapi mereka menganggapmu sebagai musuh. " Jawab Lin Wuxin.
Zhou Ye tidak bisa mengelak dari ini lagi, dia memang selalu jujur dan tidak bisa diajak berkerja sama sehingga dia memiliki banyak musuh.
"Menurutmu, kepada siapa harus mengatakan ini ?" Tanya Zhou Ye.
"Tidak perlu bersikeras, harus melihat bagaimana sikap Kaisar mengetahui hal ini. Jika Kaisar bersikeras tutup mulut maka tidak ada gunanya tapi jika Kaisar mengungkit hal ini maka ada baiknya untuk menunjukkan diri. " Jawab Lin Wuxin dengan bijaksana.
"Tapi, nyawa ratusan orang itu sudah pergi dan kita membiarkan saja ?" Tanya Zhou Ye tidak terima.
"Lalu..... apa yang kamu ingin lakukan ? Kaisar tidak suka ditentang oleh orang lain, apakah kamu ingin bernasib sama dengan Keluarga Han ? Rencana besar membutuhkan waktu untuk berjalan. " Jawab Lin Wuxin.
Zhou Ye menghela nafas dengan kasar sementara disisi lain Kaisar yang sedang dalam perjalanan pulang dari kediaman di Kota Wu menuju Ibukota tiba tiba bertemu dengan tiga orang yang asal usulnya tidak di ketahui.
"Yang Mulia ! Tolong beri kami keadilan !" Teriak mereka bertiga.
"Apa yang kalian teriakkan ?!" Bentak Kasim Zhao.
"Yang Mulia ! Putra Mahkota membunuh seluruh penduduk Desa kami yang tidak berdosa, baik tua muda, pria ataupun wanita, semuanya tewas mengenaskan ! Tolong beri kami keadilan !" Teriak mereka.