The Art of Female Death (Psychopath)

The Art of Female Death (Psychopath)
Melakukan uji coba



"Kenapa kita ke tempat jelek seperti ini?" tanya Irina merasa tidak yakin saat menatap bangunan tersebut.


"Iya, bukankah kita mau melakukan uji coba project penelitian? Kami kira kalian mau mengajak kami ke laboratorium." Cika juga menyetujuinya.


"Tentu. Kita akan melakukan uji coba disini. Melakukan penelitian tidak harus di laboratorium juga."


Mereka berempat memasuki bangunan tersebut. Bagian dalamnya tak jauh berbeda dengan penampakannya diluar sana. Ruangan tidak terlalu luas penuh debu dan jaring laba-laba. Irina dan Cika cukup dibuat merinding kalau-kalau ada hewan-hewan yang tidak diinginkan melintas di depan mereka.


"Iiih... Apa tidak ada tempat lain? Tempat ini kotor sekali."


"Jangan khawatir, kita tidak akan lama berada disini. Setelah uji coba selesai, kami akan mengantar kalian pulang."


"Tapi aku tidak melihat ada perlengkapan apapun disini. Memangnya project penelitian apa yang sedang kau kembangkan?" tanya Cika sambil menoleh pada Hedrick dan Veeno yang telah menutup rapat pintu.


"Tenang. Hasil penelitiannya ada disini."


Veeno menunjukan tabung kaca kecil berisi cairan berwarna hijau. Ia lalu mengeluarkan jarum suntik dan memasukan jarum tersebut ke dalam tabung kaca sampai cairan hijau itu berpindah masuk ke jarum suntik. Veeno membuang tabung kosong tersebut ke sisi lain ruangan. Irina dan Cika dibuat merinding saat Veeno mulai berjalan mendekat ke arah mereka.


"Apa yang kau lakukan?" tanya keduanya tanpa sadar mundur perlahan.


"Melakukan uji coba. Kalian akan menjadi kelinci percobaan kami."


Sambil menyeringai Veeno seketika menyerang kedua gadis tersebut. Irina dan Cika berusaha menghindar. Mereka belari menuju pintu keluar. Namun belum sempat mereka menyentuh gagang pintu, Hedrick telah meluncurkan tembakan yang tepat mengenai kaki kedua gadis tersebut. Irina dan Cika tersengkur keras ke lantai berdebu dengan darah sudah mengalir keluar dari luka tembakan di kaki mereka.


"Argh!!" teriak keduanya kesakitan.


"Kalian tak akan bisa kabur."


Veeno mengambil kesempatan ini menyuntikkan cairan tersebut ke Irina dan Cika. Tidak timbul gejala apapun untuk sesaat. Namun lima menit kemudian mereka berdua merasakan sekujur tubuh mereka mati rasa. Muncul ruam kemerahan serta kulit mereka seketika melepuh seperti disiram air panas. Hedrick dan Veeno mengangkat tubuh Irina dan Cika lalu mengikat mereka dan kemudian digantung.


"Apa yang kau berikan pada kami?!!" bentak Irina.


"Sudah aku bilang itu adalah objek penelitian ku. Sebuah serum yang dapat membuat kulit seseorang menjadi begitu sensitif," Veeno mengelus lembut kulit Irina.


"AAAH!! Sakit! Hentikan...!" teriak Irina mengisi bangunan itu.


Biarpun Veeno cuman mengelus pelan kulitnya namun yang Irina rasakan malah seperti sengatan tajam dari ribuan semut menggigitnya secara bersamaan.


"Ooh, baru sentuhan lembut. Bagaimana jadinya kalau kita menggunakan sentuhan kasar?" Hedrick mencoba hal tersebut pada Cika.


"AAAHHH!!!" tak ayal Cika pun berteriak sejadi-jadinya. "Aku mohon hentikan! Sakit sekali... Hiks... Hiks..."


Hedrick dan Veeno berhenti sejenak untuk membiarkan Irina dan Cika menarik nafas.


"Ha... Hah... Dasar kalian ilmuan gila! Lepaskan kami!" bentak Irina menatap benci pada Veeno.


"Diam kau anak tangsi!"


"Anak tangsi? Tunggu, aku ingat kau juga mengatakan itu padaku sewaktu di taman hiburan dan... Arti dari kode kesepuluh juga “Anak tangsi“," Irina tersentak saat mengingat hal tersebut.


"Darimana kau tahu arti kode itu? Bukankah seharusnya kode tersebut cuman diketahui para polisi?" tanya Hedrick.


"Karna dia adalah tunangan dari detektif yang berusaha memecahkan kode tersebut. Tidak aku sangka kalian rupanya telah berhasil menemukan kunci untuk mengartikan kode yang aku tinggalkan."


"Kode apa yang kalian maksudkan ini?" tanya Cika sedikit penasaran.


"Haha... Jika tidak tahu, kau tidak perlu ikut campur," sambil menyeringai Hedrick menampar pipi Cika sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"AH!"


"Cika! Kalian berdua ternyata psychopath yang sedang dicari polisi itu."


"Kenapa? Kenapa kalian melakukan hal kejam seperti ini? Apa salah mereka sampai kalian berdua harus membunuh mereka dengan sangat sadis?!!"


"Sama seperti kalian? Mereka memiliki kesalahan tersendiri," jawab Hedrick


"Kami cuman tidak sengaja merusak hasil penelitian mu dan kami sudah minta maaf, bahkan kami rela melakukan apa saja agar kau mau memaafkan kami. Tidak cukupkah semua itu?" ujar Cika. Air matanya benar-benar telah membanjiri pipinya.


"Kau sendiri yang bilang rela melakukan apa saja. Kalau begitu aku mau kalian mati untuk menebus kesalahan ini."


Veeno mengeluarkan senjata andalannya, pisau lipat. Ia lalu membuat sayatan disekujur tubuh Irina. Darah kini menodai dress putih yang Irina kenakan.


"ARGH!!"


Teriakan kesakitan benar-benar menggema dalam bangunan tersebut. Hedrick tidak mau ketinggalan. Ia itu menggunakan pisau lipat untuk melukai tubuh gadis dihadapannya. Tapi sepertinya Hedrick terlalu bersemangat. Ia tidak sengaja melukai tubuh Cika terlalu dalam. Sehingga darah yang dihasilkan lebih banyak keluar. Tubuh Cika melemah dengan cepat akibat kehilangan banyak darah.


"Bagaimana? Masih bisa bertahan?" tanya Veeno.


"Hiks... Hiks... Aku mohon maaf. Cukup. Aku tidak kuat lagi. Hiks... Hiks..." tangis Irina sambil menahan sakit disekujur tubuhnya.


"Tolonglah bebaskan kami. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi. Hiks... Hiks... Aku mengaku salah," kata Cika dengan lemahnya.


"Teruslah memohon dan menangislah. Mungkin dengan begitu kami akan berbaik hati membebaskan kalian," ujar Hedrick.


"Benarkah?"


"Membebaskan kalian dari dunia ini tepatnya," Hedrick menancapkan pisaunya menemus bola mata Cika sampai hancur.


"Argh!"


"Eeh.... Sebaiknya kalian bebaskan kami atau aku akan melaporkan hal ini pada ayahku! Kalian akan ditangkap dan dihukum mati!!" teriak Irina dengan nada tinggi. Merasa memohon tidak berhasil, kini dengan kesal ia melontarkan kalimat ancaman.


"Iya, iya. Kami sudah sering mendengar ancaman tersebut," jawab Veeno yang sebenarnya tidak peduli.


"Biarpun suatu hari nanti kami sungguh akan tertangkap, itu juga tidak akan membuat kalian selamat," sambung Hedrick. Pakaiannya saat ini sungguh telah berlumuran darah sampai ke wajah.


"Tidak aku sangka kau ternyata lebih bersemangat dariku, Hedrick," kata Veeno saat melihat Hedrick.


"Benarkah? Aku cuman tidak suka saat ia berbicara padaku di restoran tadi."


"Kau... Kau membunuhnya. Kau telah membunuh temanku! Hiks... Hiks..." tangkis Irina pecah begitu melihat temannya telah terkulai lemas.


"Tidak. Temanmu ini masih hidup. Mau bukti?"


Hedrick memotong satu buah jeruk nipis menjadi dua bagian. Kemudian ia meneteskan cairan jeruk nipis itu ke luka-luka Cika. Tubuh Cika seketika mengeliat menahan perih saat cairan asam tersebut membasahi lukanya. Dia tidak mampu lagi berteriak karna lidahnya telah Hedrick potong.


"Benar kataku, bukan? Dia masih hidup. Eh... Tapi sepertinya tidak akan lama lagi."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε