
"Begini kan caranya seorang pria terhormat bermain? Kau sudah kalah lantas tidak terima. Bukankah ini sama saja dengan semakin mempermalukan dirimu sendiri?" kata Veeno yang telah berdiri di belakang Mr. Geraldo.
"Akhirnya kau datang juga Veeno. Kemana saja kau?" tanya Hedrick yang masih terlihat begitu santai.
"Maafkan aku sobat, aku sedikit minum terlalu banyak. Ciguk! Sebab itu aku datang terlambat."
Mendengar itu sedikit membuat Hedrick tersentak. Ia melirik wajah Veeno yang merah, mata terkulai dan dengan senyum bodoh di wajahnya. Veeno sungguh telah mabuk. Ini akan sangat merepotkan bagi Hedrick. Ia lebih memilih kalah berjudi dari pada menghadapi Veeno yang mabuk. Terkadang Veeno suka lepas kendali saat mabuk berat. Sepertinya nanti Hedrick terpaksa harus melumpuhkan Veeno sebelum ia membuat kekacauan.
"Kau mabuk? Berapa banyak yang kau minum?"
"Eh... Satu, dua... Setelah dua? Ah, lima," dengan tingkah bodohnya Veeno menghitung mengunakan jarinya namun tetap saja salah.
Mr. Geraldo semakin jengkel melihat itu. "Kenapa kalian malah ngobrol disini?!! Apa kalian benar-benar sungguh meremehkan ku?!!" Mr. Geraldo menepis tangan Veeno sampai terlepas.
"Aku peringatkan kau lebih baik berhati-hati. Veeno yang dalam keadaan mabuk bisa sangat berbahaya," ujar Hedrick memberitahu.
"Apa peduli ku? Kalian berdua hanya semut yang akan segera binasa! Hajar mereka!" perintah Mr. Geraldo pada seluruh anak buahnya.
Ternyata ia memiliki lebih dari dua anak buah di casino itu. Mereka berbondong-bondong datang mengepung Hedrick, Monica, Poppy dan Veeno. Semua orang berlari berhamburan menjauh. Orang-orang tersebut tahu akan terjadi perkelahian disana.
"Harap tenang Mr. Geraldo! Anda tidak diperkenankan membuat keributan disini!" lerai dealer casino itu namu ia seketika di dorong sampai terjatuh.
"AAH!! Tidak ada yang bisa menghentikan ku! Kalian semua, tangkap mereka! Aku ingin mereka dibuat cacat! Kecuali dua wanita itu. Seret mereka berdua ke kamarku."
"Baik, bos," jawab para anak buah Mr. Geraldo bersamaan. Mereka seketika mulai menyerang.
"Ha! Ingin membuat kami lumpuh? Bermimpilah! Kalian lah yang akan kubuat tidak dapat bangun lagi dari tempat tidur kalian!"
Dengan beringasnya Veeno balik menghajar orang-orang yang berani mencari masalah dengannya maupun temannya. Dalam keadaan mabuk itu Veeno sama sekali tidak bisa menahan diri. Melawan belasan orang bukan apa-apa baginya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, ia masih sempat-sempatnya bertingkah bodoh. Hedrick tentu tidak tinggal diam. Di satu sisi ia harus melawan bawahan Mr. Geraldo, disisi lain dia juga harus mencegah Veeno membunuh seseorang. Akan gawat jika hal itu sampai terjadi. Mereka bisa tertangkap dengan bukti dan saksi yang kuat.
"He, berjudi mungkin keahlianmu Mr. Geraldo tapi menghajar seseorang itu keahlian kami."
"Jangan sombong! Jumlah kami lebih banyak dari pada kalian. Kau tidak akan mungkin bisa menang melawan kami!"
"Kita lihat saja. Monica, Poppy, pergilah dari tempat ini," perintah Hedrick pada kedua wanita itu disela-sela ia melawan Mr. Geraldo.
"Tapi, bagaimana dengan kalian?"
"Tidak akan terjadi apa-apa pada kami. Seharusnya yang kalian khawatirkan adalah mereka."
"Benar kata Hedrick, jika dia sudah yakin akan baik-baik saja maka mereka berdua akan baik-baik saja. Kita harus percaya padanya. Malahan kita yang akan merepotkan mereka jika terus ada disini," nasehat Poppy mengajak Monica.
"Baiklah. Tapi kalian berhati-hatilah."
Monica dan Poppy bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun hal itu bukan perkara yang mudah. Masih ada beberapa bawahan Mr. Geraldo yang mencegat mereka pergi. Monica maupun Poppy sama sekali tidak memiliki kemampuan bela diri untuk melindungi mereka tapi mereka tidak mungkin meminta bantuan Hedrick atau Veeno. Kedua orang itu masih disibukkan menghajar Mr. Geraldo berserta anak buahnya.
"Mau kemana kalian? Kalian berdua tidak akan bisa lolos dari sini," kata salah satu dari pria yang mencegat mereka.
"Bagaimana ini Monica? Aku takut sekali," ujar Poppy ketakutan.
"Kalian dua gadis lemah bisa apa? Lebih baik ikut dengan kami secara patuh. Kami Janti akan bersikap lembut."
"Jangan ganggu mereka!"
Tiba-tiba muncul seorang wanita yang seketika menghajar ketiga pria itu. Dalam kurun waktu dua lima menit saja semuanya berhasil di kalahkan.
"Hazel!" panggil Poppy dan Monica berbarengan begitu mengenali wanita tersebut.
"Ayok pergi," ajak Hazel.
"Kau hebat sekali Hazel," puji Monica.
"Ah, tidak juga. Gini-gini aku adalah juara karate. Walau cuman menempati peringkat kedua. Hihi..."
Sementara itu Hedrick dan Veeno masih terlibat perkelahian. Ruang casino yang mewah kini porak poranda karna ulah mereka. Ketidak hadiran Monica, Poppy dan yang lain membuat Hedrick dan Veeno semakin leluasa bertindak. Mereka tidak perlu khawatir kalau-kalau para wanita itu takut akibat menyaksikan kekejaman mereka berdua. Biarpun mereka tidak membunuh seseorang disini tapi tetap saja aura yang diperlihatkan membuat ngeri, terutama Veeno. Ia bahkan tidak segan-segan menyerang siapa saja termaksu temanya sendiri, Hedrick. Sesekali Hedrick kaget dengan serangan yang tidak sengaja diarahkan Veeno pada nya. Akibat mabuk berat Veeno kesulitan membedakan mana kawan atau lawan.
Setengah jam lebih membuat kekacauan petugas dari keamanan datang melerai mereka semua. Namun hampir sebagian besar anak buah Mr. Geraldo terkapar di lantai dengan beberapa luka disekujur tubuh mereka dan ada diantara mereka yang sampai melarikan diri. Disaat bersamaan Hedrick mengambil kesempatan memukul bagian belakang Veeno sampai membuatnya pingsan. Ia terpaksa melakukannya. Tidak ada cara lain untuk menenangkan Veeno yang mengamuk. Semuanya diminta bubar oleh petugas keamanan tersebut. Tapi sebelum itu Mr. Geraldo diminta ganti rugi atas semua kerusakan yang ada karna dia telah memulai perkelahian. Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah kalah berjudi diminta ganti rugi pula. Malam itu menjadi malam yang paling apes bagi Mr. Geraldo.
...⚛⚛⚛⚛...
Keesoka siangnya Veeno terbangun dengan rasa sakit di kepalanya. Ia bangkit dari tempat tidur sambil mencengkram kepalanya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi tapi belum ada satupun ingatan yang terlintas tentang kejadian setelah ia mabuk.
"Aduuuh.... Kepalaku sakit sekali. Apa yang yang terjadi? Aku merasa ada seseorang yang memukulku dari belakang."
"Aku yang melakukannya. Akhirnya kau bangun juga. Aku pikir aku telah membunuhmu," kata Hedrick yang tengah duduk di sofa sambil membaca buku.
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Apa kau lupa? Siapa suruh kau mabuk semalam? Aku juga terpaksa melakukannya."
"Hehehe... Maaf, maaf. Oh, iya. Ada apa dengan pergelangan tanganmu?" tanya Veeno begitu melirik tangan pergelangan tangan Hendrick yang diperban.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε